"Menikahlah dengan saya, Aira."
"A-apa?!"
***
"Saya bukan perempuan solehah."
"Saya pun. Kita akan belajar bersama."
"Saya tidak sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Allah."
"Saya tidak cantik."
"Bagi saya cantik."
"Saya tidak yakin bisa jadi istri yang baik."
"Saya akan bimbing kamu."
"Saya ingin childfree."
"Tidak masalah."
"Saya anak haram."
"Lalu kenapa? Status “anak haram” itu bukanlah identitasmu di hadapan Allah. Itu hanya label dari manusia. Kamu bukan kesalahan. Kamu bukan aib. Kamu adalah manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Allah tidak pernah salah menciptakanmu.
Aira mendongak, menatap Azzam. "Kata-kata itu..."
***
Aira yang hidupnya penuh dengan kehilangan, dianggap anak haram hingga ia memutuskan untuk tidak menikah. Namun Azzam datang menjadi penawar luka untuk Aira.
Apakah Aira bisa jatuh cinta dengan Azzam?
Tanpa mereka sadari bahwa cinta pertama mereka adalah orang yang sama.
Cerita ini spin off dari Cinta Masa Kecil Ustadz Athar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azzam: Menunggu atau Menjemput jodoh?
Pintu kayu itu berderit pelan saat Aira mendorongnya. Aroma rumah sederhana yang selalu ia rindukan langsung menyambutnya. Hangat. Tenang. Berbeda jauh dari rumah yang seharusnya ia sebut “rumah”.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumussalam…” jawab suara lirih dari dalam.
Bik Lastri muncul dari arah dapur, wajahnya terlihat lelah namun tetap tersenyum saat melihat Aira.
“Kamu dari mana aja, nak? Sudah makan belum?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi selalu berhasil membuat dada Aira menghangat dan sesak di saat bersamaan. Karena ia tau… orang yang bertanya itu seringkali justru belum makan.
Aira tersenyum kecil, mencoba terlihat biasa saja. “Aku udah kok, Bi. Tenang aja ya, jangan khawatir. Bibi udah makan?”
“Sudah,” jawab Bik Lastri cepat.
Aira langsung mengerucutkan bibir, menatap lekat wajah wanita itu. “Jangan bohong, Bi, sama aku. Aku tau Bibi bohong, kan?”
“Bibi nggak bohong, nak—”
Belum selesai kalimat itu, Aira sudah berjalan menuju meja makan. Langkahnya pelan, tapi pasti. Dan benar saja… di atas meja hanya ada sepiring kecil dengan sebutir telur balado dan semangkuk sayur bening yang hampir dingin.
Hati Aira mencelos.
Ia menutup mata sebentar, menahan sesuatu yang ingin keluar dari dadanya. “Aku tau Bibi belum makan,” ucapnya pelan. Lalu ia menoleh, memaksakan senyum. “Jadi Aira suapin ya, Bi?”
Tanpa menunggu jawaban, Aira mengambil piring, menyiapkan nasi, lalu duduk di samping Bik Lastri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menyuapi wanita itu.
“Kita makan bareng ya,” lanjutnya lembut. “Bibi tau Aira juga belum makan.”
Aira menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi—”
“Demi Bibi yaaa…” Bik Lastri memotong, nada suaranya seperti memohon.
Hening sesaat.
Lalu akhirnya Aira mengangguk pelan. “Yaudah… Aira juga makan.”
Mereka pun makan berdua.
Dengan lauk seadanya.
Dengan perasaan yang sama-sama berusaha kuat.
Suapan demi suapan masuk ke mulut, tapi bukan hanya rasa makanan yang mereka telan—melainkan juga air mata yang tertahan. Tak ada yang benar-benar menangis, tapi mata keduanya basah.
Hingga akhirnya makanan itu tandas. “Alhamdulillah…” ucap mereka hampir bersamaan.
Hening kembali mengisi ruangan kecil itu.
“Aira…” panggil Bik Lastri pelan. “Kenapa nggak tinggal lagi dengan ayah kamu, nak? Tadi siang beliau ke sini… jemput kamu.”
Aira terdiam. Wajahnya berubah. Senyum tipis itu menghilang.
“Untuk apa Aira balik, Bi?” jawabnya datar. “Hanya buat denger hinaan lagi? Ayah lebih percaya sama kata Tante Yessi… bukan kata aku. Yang anak kandungnya sendiri.”
Bik Lastri menarik napas pelan. “Tapi beliau—”
“Bi, udah…” Aira memotong, suaranya mulai melemah. “Aku lebih nyaman di sini. Apa Bibi keberatan?”
Wajah Bik Lastri langsung berubah lembut. Ia menggeleng cepat. "Sungguh tidak. Bibi sayang sama non Aira. Bibi justru senang non di sini. Tapi bagaimanapun juga… non masih punya ayah.”
Terkadang Bi Lastri masih memanggilnya 'non' karena bagaimanapun Aira adalah anak dari mantan majikannya. Aira sudah sering mengingatkan untuk jangan panggil dirinya 'non' lagi.
Aira mendengus pelan, sedikit kesal. “Ck… jangan panggil aku ‘non’ terus dong Bi.” Ia menunduk sebentar. “Aku tetap bakal balik ke sana… tapi gak sekarang. Aku lagi gak mau denger hinaan mereka lagi. Aku masih mau disini. Disana juga percuma Bi. Aku cuma dijadikan budak mereka aja. Lagian... Ayah sudah menganggap aku mati, untuk apa lagi?"
Bik Lastri terdiam. Ia sebenarnya juga tak ingin berjauhan dengan Aira namun ia sadar Aira bukanlah darah dagingnya, Aira masih memiliki keluarga kandung.
Bik Pasti mengangguk mengerti cerita anak yang sudah ia anggap putrinya sendiri. “Yaudah… lebih baik kamu istirahat ya."
“Iya…” jawab Aira pelan. Lalu ia teringat sesuatu. “Gimana kabar Mang Arif?”
“Sudah tidur. Besok baru berobat lagi.”
Kalimat itu membuat hati Aira kembali berat. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam.
“Maaf ya, Bi…” suaranya lirih. “Aku belum bisa bantu apa-apa.”
Bik Lastri langsung menggenggam tangan Aira, hangat, penuh kasih. “Jangan bicara seperti itu…” katanya lembut. “Insya Allah nanti ada rezeki… ada jalannya.”
Aira menatap tangan itu. Hangat. Tulus.
Perlahan ia mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tau—Ia tidak bisa hanya menunggu “jalan” itu datang.
Ia harus mencarinya sendiri.
Dengan cara apa pun.
***
Pagi datang tanpa banyak suara. Hanya cahaya matahari yang menyelinap pelan lewat celah jendela, jatuh di lantai rumah sederhana itu.
Aira sudah bangun lebih dulu.
Ia berdiri di dapur, menuangkan air panas ke dalam gelas, lalu menyiapkan sarapan seadanya. Tangannya bergerak terbiasa, seperti sudah menghafal ritme kehidupan di rumah itu.
Di ruang tengah, Bik Lastri terlihat sibuk membantu Mang Arif bersiap. Wajah pria itu pucat, langkahnya lemah, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Pelan-pelan, Mas…” ujar Bik Lastri lembut, menopang lengan suaminya.
Aira keluar dari dapur, menatap mereka dengan perasaan campur aduk. “Udah siap, Bi?”
Bik Lastri mengangguk. “Iya, nak. Ini mau berangkat sekarang.”
Aira mendekat, lalu membantu merapikan jaket tipis yang dipakai Mang Arif. “Hati-hati di jalan ya, Mang. Nanti Aira baru kesana ya."
Mang Arif tersenyum lemah. “Iya, Aira. Kamu juga jaga rumah. Baik-baik ya, nak."
Aira mengangguk, meski hatinya terasa berat.
Ia tau… hari ini bukan pertama kalinya Bik Lastri harus izin kerja lagi. Sudah entah berapa kali wanita itu meminta izin pada bosnya karena harus mengantar suaminya berobat.
Beruntung, bos Bik Lastri adalah orang yang baik. Sangat baik, bahkan bukan tipe yang mudah marah atau mempersulit. Justru sebaliknya—ia memuliakan pekerjanya.
Tapi tetap saja… Aira tau Bik Lastri tidak enak hati.
Orang baik seperti itu justru sering merasa bersalah, meski tidak melakukan kesalahan.
“Bibi udah pamit sama bos?” tanya Aira pelan.
“Sudah… beliau ngizinin,” jawab Bik Lastri, meski nada suaranya terdengar ragu.
Aira hanya mengangguk.
Setelah berpamitan, Bik Lastri dan Mang Arif pun berangkat. Suara langkah mereka perlahan menjauh, meninggalkan Aira sendiri di rumah itu.
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang asing.
Aira menarik napas panjang, lalu mulai bergerak. Ia menyapu lantai, mencuci piring, merapikan tempat tidur, hingga memastikan semuanya bersih dan rapi.
Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Hal kecil, mungkin.
Tapi bagi Aira… itu adalah bentuk terima kasih.
Rumah ini telah menerimanya saat ia tidak punya tempat untuk pulang. Bik Lastri dan Mang Arif telah merawatnya sejak kecil, bahkan saat mereka sendiri tidak punya banyak.
Aira berhenti sejenak, menatap sekeliling rumah. “Setidaknya… aku bisa bantu sedikit,” gumamnya.
Setelah selesai, ia duduk di kursi kayu dekat jendela. Pandangannya kosong, pikirannya mulai berjalan ke arah yang sama seperti biasanya.
Tentang masa depan.
Sudah satu tahun sejak ia lulus sekolah.
Satu tahun… tanpa kepastian.
Ia ingin kuliah.
Sangat ingin.
Bahkan ia sudah mendapatkan beasiswa. Sesuatu yang seharusnya membuatnya melangkah lebih dekat ke mimpinya.
Tapi kenyataan tidak sesederhana itu.
Biaya hidup. Ongkos. Kebutuhan sehari-hari.
Semua itu tetap membutuhkan uang.
Aira menunduk, menatap tangannya sendiri. “Aku nggak bisa egois…” bisiknya pelan.
Ia tau, jika ia memilih kuliah sekarang, ia tidak akan bisa membantu Bik Lastri dan Mang Arif. Padahal mereka sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan.
Dan Aira… tidak tega.
Ia lebih memilih menunda mimpinya, daripada menutup mata terhadap orang-orang yang sudah menjaganya.
Ayahnya sebenarnya sudah menawarkan untuk membiayai kuliahnya.
Tapi Aira menolak.
Bukan tanpa alasan.
Ia tidak ingin berhutang.
Bukan hutang uang—melainkan hutang budi yang suatu hari bisa diungkit kembali.
Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat yang menyakitkan.
“Kami sudah melakukan ini untuk kamu…”
“Tanpa kami, kamu bukan siapa-siapa…”
Aira menggeleng pelan, menahan pikirannya sendiri. “Cukup…”
Tentang ayahnya…
Perasaannya selalu rumit.
Ia membenci pria itu.
Tapi di saat yang sama… ia juga menyayanginya.
Kadang, ayahnya bisa begitu lembut. Begitu peduli. Membuat Aira merasa… dicintai.
Namun di waktu lain, pria itu berubah. Dingin. Acuh. Bahkan ikut melontarkan hinaan yang sama seperti yang dilakukan Tante Yessi dan Jessica-saudara tirinya.
Perubahan yang tidak pernah bisa Aira tebak.
Dan yang paling menyakitkan—Ayahnya selalu lebih percaya pada mereka.
Pada istri keduanya.
Pada anak dari wanita itu.
Bukan pada Aira… anak kandungnya sendiri.
Aira menatap keluar jendela. Cahaya matahari semakin terang, tapi tidak cukup untuk menghangatkan hatinya.
Ia menghela napas panjang.
“Kalau aku nggak bergerak…” gumamnya pelan, “nggak akan ada yang berubah.”
Matanya perlahan berubah tegas.
Balapan liar semalam memang gagal.
Tapi itu bukan akhir.
Aira bukan tipe yang mudah menyerah.
Ia akan mencari cara lain. Cara apa pun.
Demi membantu mereka. Demi membuktikan dirinya.
Dan mungkin… Demi melarikan diri dari rasa sakit yang terus menghantuinya.
***
Di tempat lain, pagi datang dengan suasana yang sangat berbeda.
Gedung tinggi menjulang, kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari yang terang. Di salah satu kamar luas dengan desain elegan, seorang laki-laki berdiri tegak di depan cermin.
Setelan jas hitam melekat sempurna di tubuhnya. Rapi. Tegas. Berwibawa.
Namun sorot matanya… tidak sepenuhnya fokus pada bayangannya sendiri.
Pikirannya melayang.
Kembali pada malam sebelumnya.
Sosok seorang gadis.
Sederhana.
Keras kepala.
Namun… memiliki hati yang terlalu lembut.
“Aku pikir… aku gak akan pernah ketemu dia lagi,” gumamnya pelan.
Tangannya berhenti membenahi dasi. “Ternyata… dia masih sama.”
Bayangan itu kembali jelas dalam ingatannya. Gadis dengan wajah polos, yang tanpa ragu turun ke jalan hanya untuk menolong seekor kucing terluka. Tanpa peduli suara klakson. Tanpa peduli risiko.
Seolah dunia hanya berisi dirinya… dan makhluk kecil yang butuh pertolongan itu.
Seketika, senyum tipis terukir di wajahnya. “Masih sebaik itu…” lanjutnya lirih.
Ada sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang ia kira sudah hilang sejak lama.
Lima tahun.
Waktu yang tidak sebentar.
Namun anehnya… perasaan itu tidak benar-benar pergi.
Ia terkekeh kecil, menggeleng pelan seolah menertawakan dirinya sendiri. “Ini yang kedua kalinya…” katanya pelan, namun penuh keyakinan.
Matanya menatap lurus ke cermin, tajam. “Kalau kita dipertemukan lagi… dan lagi…” jedanya singkat. Senyum itu berubah sedikit lebih dalam. “Aku pastikan… kali ini aku gak akan diam.”
Nada suaranya rendah, tapi tegas. “Aku akan mengejar kamu… sampai kita benar-benar berjodoh.” Ia pun terkekeh.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu memecah lamunannya.
“Azzam… sarapan yuk, nak!” suara lembut dari balik pintu terdengar.
Azzam mengalihkan pandangannya, kembali pada kenyataan. “Iya, Umma. Nanti aku turun ya… sebentar lagi.”
“Jangan lama-lama,” sahut suara itu hangat.
“Siap.”
Langkah kaki menjauh dari pintu.
Azzam kembali menatap cermin untuk terakhir kalinya.
Ya. Laki-laki itu adalah Azzam Syauqillah Ahnavi Malik—pewaris tunggal dari Malik Group, sebuah perusahaan besar yang namanya semakin dikenal luas.
Sudah enam bulan sejak ia resmi menggantikan posisi sang Abi.
Dan dalam waktu singkat, ia berhasil membuktikan dirinya.
Perusahaan tetap berdiri kokoh.
Bahkan berkembang lebih pesat.
Semua targetnya… perlahan tercapai.
Azzam menarik napas panjang, lalu merapikan jam tangannya. “Semua tujuan aku… hampir selesai,” gumamnya.
Ia terdiam sejenak.
Namun kali ini, bukan tentang bisnis yang memenuhi pikirannya. Melainkan… seorang gadis di tengah jalan, dengan tangan berlumur darah kucing.
Senyumnya kembali muncul, tipis namun penuh arti. “Tinggal satu hal lagi…” lanjutnya pelan.
Matanya menyipit, seolah menantang takdir itu sendiri. “Menunggu… atau mungkin menjemput… jodohku.”
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/