"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA BELAS
Pipi Althaf memanas. Dia tidak menyangka Intan masih mengingat sedikit tentang dirinya-meski mungkin samar.
Namun, Intan juga wanita yang terlalu terbiasa memberi sesuatu sebagai balasan. Ia melipat tangan di dada, lalu berkata dengan nada tegas namun hangat.
"Oke, kalau kamu nolak uang dari aku... aku traktir kamu makan siang aja. Itu udah tawaran final, Althaf!" ujar Intan.
"Tapi, Kak..."
"Nggak ada tapi-tapian." Intan mengedip menggoda.
"Diajak makan sama cewek cantik masa nolak?"
Althaf langsung terdiam. Kata-kata itu saja sudah cukup membuatnya kalah telak. Ia mengangguk kecil.
"Oke... makan siang," ucapnya sambil tersenyum malu.
"Nah, gitu dong. Ayo naik, aku yang nyetir!" seru Intan.
Mereka pun masuk ke mobil. Intan duduk di posisi supir, sementara Althaf yang masih kikuk duduk di kursi penumpang.
Mobil melaju dengan nyaman.
Di awal perjalanan, mereka hanya diam sambil mendengarkan lagu pop pelan dari radio. Namun perlahan, suasana mencair ketika Intan menyenggol lengan Althaf ringan.
"Eh, gimana Patrick College sekarang? Masih rame?"
Tanya Intan memulai obrolan.
"Oh iya, rame banget, Kak!" jawab Althaf semangat.
"Masih ada festival tahunan juga. Kakak dulu selalu dateng ke acara-acara besar itu kan?"
Intan tertawa. "Iya... aku dulu aktif banget. Terlalu aktif malah. Dulu waktu aku masih kuliah, kayaknya seluruh kampus tahu aku."
Althaf mengangguk. "Iya, Kak. Sampai sekarang juga namamu masih disebut-sebut beberapa dosen. Katanya Kak Intan itu mahasiswi paling ambisius dan paling cantik yang pernah ada."
Intan langsung mengangkat alis sambil tersenyum. "Wah, promosi yang menarik."
"Serius, Kak..." Althaf melihat ke depan, tapi matanya berkilat. "Dulu aku sering lihat Kakak. Tapi..." Ia berdeham sebentar. "Aku nggak berani nyapa."
Intan menoleh, tertarik. "Kenapa?"
"Soalnya Kakak itu... jauh banget levelnya dari aku," jawab Althaf jujur.
Intan wajahnya melunak. "Jangan ngomong kayak gitu! Kamu sekarang udah dewasa, pinter, bisa benerin mobil juga. Bukan anak kuliahan gugup lagi."
Althaf tertawa kecil, tapi jelas ia tersipu.
"Jadi, apa aja yang masih sama dari kampus itu, Thaf?" tanya Intan lagi.
"Oh, banyak Kak. Kantin masih sama. Dosen killer masih sama. Lapangan basket juga masih jadi tempat nongkrong. Oh iya..." Ia mengangguk. "Sekarang tempat favorit alumni buat buka usaha kecil juga makin banyak."
Intan hanya mendengarkan sambil memainkan setir.
Tapi, ada satu hal yang belum ia ketahui.
Bahwa pria yang sangat ia coba rebut kembali-Lukas Ivander-kini adalah kakak ipar dari laki-laki yang duduk di sebelahnya, Althaf.
Dan Althaf pun sama sekali tidak tahu bahwa wanita di sampingnya ini adalah mantan kekasih suami dari kakaknya sendiri-Adelia.
Kejahilan takdir terasa begitu dekat, namun tetap tersembunyi di balik percakapan ringan mereka.
Intan menoleh sambil tersenyum. "Kamu cocok, tahu?
Jadi mekanik profesional. Atau... jadi pacar seseorang yang butuh supir pribadi."
Althaf hampir tersedak udara sendiri. "Ka-Kak Intan... jangan bercanda gitu ah!"
Intan terkekeh. "Ya siapa tahu kan, semua bisa terjadi."
Mobil melaju menuju restoran kecil yang Intan pilih. Dan tanpa mereka sadari, benang yang menghubungkan hidup masing-masing semakin mengikat erat... walaupun kebenarannya belum terungkap.
÷÷÷
Adelia turun ke teras dengan langkah cepat, hampir setengah berlari saat menuju mobil. Angin tidak terlalu kencang, tetapi jantungnya berdetak seolah ia sedang dikejar sesuatu yang tidak terlihat.
Ia membuka pintu mobil sambil menahan napas. Tasnya tergeletak di kursi penumpang depan, seolah menunggu untuk diambil.
"Ambil... lalu kembali ke kamar. Jangan bilang apa pun. Jangan lihat Papa. Jangan bicara!"
Tangannya gemetar ketika meraih tas. Ia memeluk tas itu ke dadanya, lalu menutup pintu mobil sambil mundur beberapa langkah.
Sebentar saja ia memejamkan mata, ingin memberi jeda pada detak jantungnya yang seperti memukul-mukul dari dalam. Namun, suara langkah kaki membuat tubuhnya refleks menegang.
Bastian muncul dari samping rumah.
"Del?" panggilnya hangat, seolah tidak menyadari bahwa keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat Adelia merasa seperti terjebak.
Adelia tersentak kecil. "Pa... saya cuma ambil tas."
Bastian mendekat dua langkah, tidak terlalu dekat tetapi cukup membuat Adelia ingin mundur. "Oh, bagus.
Papa kira kamu butuh bantuan."
Adelia meneguk ludah. "Saya... saya sudah ambil sendiri tasnya, Pa. Saya mau ke kamar dulu."
Ia ingin segera pergi, tapi tatapan Bastian membuatnya berhenti sejenak. Tatapan itu... sulit dijelaskan. Seolah Bastian ingin mengatakan sesuatu, menawarkan sesuatu, melakukan sesuatu-namun ia menahannya.
Pada akhirnya, Bastian hanya tersenyum tipis. "Sana
istirahat! Kamu kelihatan masih capek."
"Terima kasih, Pa."
Adelia menunduk dan berjalan cepat masuk rumah.
Namun, langkahnya tidak stabil. Pikiran kacau membuatnya tidak fokus. Saat ia menaiki tangga...
Kakinya terselip.
"Ah-!"
Dalam sekejap, tubuhnya condong ke belakang.
Tasnya hampir terlepas dari tangan. Adelia menutup mata, siap menabrak lantai marmer keras yang menunggu di bawah.
Namun, sebelum itu terjadi...
"ADELIA!"
Suara laki-laki keras membelah udara.
Bastian bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan apa pun yang pernah Adelia bayangkan. Dalam hitungan detik, tangannya meraih lengan Adelia dan menarik tubuh wanita itu ke arah dirinya.
Adelia jatuh-bukan ke lantai-tetapi ke dada Bastian.
Suasana menjadi sunyi dan aneh. Hanya ada napas mereka berdua yang terdengar, dan detak jantung Adelia yang membabi buta.
Tubuhnya masih tegang, syok karena hampir celaka.
Sementara Bastian memegang kedua lengannya kuat-kuat untuk memastikan ia tidak jatuh lagi.
"Del... kamu nggak apa-apa?" suara Bastian rendah,
penuh kekhawatiran.
Adelia membuka mata perlahan. Ia masih dalam posisi dekat dengan papa mertuanya itu, terlalu dekat. Tapi bukan karena ia ingin, melainkan karena kejadian tadi benar-benar membuatnya hampir celaka.
Ia langsung memalingkan wajah, berusaha melepaskan diri. "A-aku... aku nggak apa-apa. Pa, maaf..."
Bastian tidak langsung melepaskannya. Ia masih memastikan kondisi Adelia, matanya menelusuri apakah ada yang luka.
"Kamu bisa patah tulang kalau Papa terlambat satu detik tadi," ucapnya serius.
Adelia mengangguk cepat, merasa napasnya semakin sesak karena kedekatan yang tidak ia inginkan ini.
"Pa... tolong lepaskan! Saya nggak apa-apa, benar!"
pinta Adelia.
Setelah beberapa detik, Bastian akhirnya melepaskan genggaman di kedua lengan Adelia.
Tapi ia tetap berdiri dekat, terlalu dekat bagi Adelia.
"Saya... terima kasih, Pa," kata Adelia dengan suara hampir bergetar. "Saya cuma... kurang hati-hati tadi."
Bastian menatapnya lama-bukan tatapan romantis,
tapi tatapan pria yang sedang berusaha membaca pikiran seseorang yang terus menghindar. Ada campuran khawatir, ego, dan sesuatu yang tidak Adelia bisa jelaskan.
"Kamu gemetar," ucap Bastian lirih.
Adelia langsung menunduk. "Saya kaget, Pa. Cuma
itu."
Bastian hendak mengangkat tangan untuk memastikan Adelia tidak terluka di bahu, tetapi ia menahan gerakan itu di tengah jalan-seolah ia sadar tindakannya akan membuat Adelia makin tertekan.
"Saya mau ke kamar dulu," ujar Adelia cepat. "Saya butuh istirahat."
Bastian akhirnya mengangguk pelan. "Kalau butuh apa pun... panggil Papa! Papa ada di sini."
Nada suaranya seolah ingin terdengar lembut, namun justru semakin membuat bulu kuduk Adelia berdiri.
Adelia berjalan naik tangga lagi, kali ini lebih pelan dan hati-hati. Namun sebelum ia sampai di atas, ia merasa seolah seseorang masih menatapnya.
Ia menoleh perlahan ,Benar ,Bastian masih berdiri di bawah, menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Wajah Bastian tidak menunjukkan marah, tidak menunjukkan senyum. Hanya... diam. Mengamati. Menghitung.
Adelia buru-buru masuk kamar dan menutup pintu, dadanya kembali berdebar kencang-kali ini bukan karena hampir jatuh, melainkan karena tatapan papa mertuanya itu terasa seperti bayangan yang terus mengejarnya.