IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Nggak usah sok tau deh."
Anin cemberut dengan pria yang kini malah berani berdiri menjejerinya.
"Depresi itu kalau di biarin nanti akan berdampak bahaya. Jadi tidak bisa di anggap remeh." lanjut pria itu sengaja menyindir Anin.
Kalau saja di sana tidak ramai orang, terlebih keluarga Naufal, ingin sekali Anin memberinya pelajaran. Tapi karna memikirkan banyak hal, Anin memilih untuk mengabaikan saja dan kembali lagi ke tempatnya semula.
Anin kembali ke meja tadi, lantas menatap Naufal dengan tajam. Karna melihat Elena yang masih saja gatal menggoda Naufal dengan tertawa kecil dan memukul pelan bahu kekasihnya itu.
Menyadari kedatangan Anin dengan sorot mata yang tajamnya menembus kepala, Naufal berfikir apa ada yang salah dengan dirinya? Kenapa Anin begitu terlihat murka?
Lantas Naufal menyadari, bahu Elena yang kini sudah berani menyenggol bahunya. Bahkan dengan nyaman menyender padanya. Seketika Naufal berdiri, lantas pura-pura mengambil Snack dan kembali lagi dengan sengaja menarik kursi menjauh dari Elena. Dari pada jadi gara-gara, pikir Naufal.
Orang-orang kembali berbincang-bincang, tapi Anin mendadak budek. Ia sama sekali tidak mendengar apa yang sedang di bicarakan. Fokusnya beralih pada khayalan nya.
Ia membayangkan, bagaimana kalau seandainya sekarang ini ia mengumumkan hubungannya dengan Naufal. Didepan Frans dan Regina. Dan juga di depan Paulina sebagai Bos barunya.
"Saya ingin memberi tahu semuanya" ucap Anin memulai, dan semua mata tertuju padanya.
"Bahwa saya dan Naufal sebenarnya sudah memiliki hubungan." lanjutnya tanpa ragu.
Naufal yang terperanjat, "Anin, itu kamu di panggil Qistina."
"Ngarang! Qistina lagi di pelaminan mana mungkin dia panggil saya." Sahut Anin, kemudian mengabaikannya.
"Jadi antara saya dan Naufal, kami saling menc..."
"Eh itu, ponsel kamu bunyi. Angkat dulu!" seru Naufal, mencegah Anin untuk membicarakan semuanya.
Anin tersenyum licik ke arahnya, lantas mengangkat ponsel menunjukkan pada semua orang kalau ponselnya dalam keadaan mati.
Lantas dengan suara kencang, Anin meneriakkan
"Kami saling mencintai!!!"
Anin bicara sambil menutup mata dengan tangan yang mengepal di udara.
Lantas semua orang menatap aneh padanya.
"Anin, kamu kenapa?" tanya Paulina menyadarkan hayalannya.
"Siapa yang kamu cintai?" tanya Regina.
Anin membuka mata, lantas menurunkan tangannya yang mengepal. Ia baru sadar kalau khayalannya tadi membuatnya bersikap konyol. Bisa-bisanya ia malah berteriak seperti itu.
Naufal menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Namun Anin tidak menggubris, ia sibuk menata dirinya sendiri yang terserang rasa malu yang amat sangat ini.
"Anin kamu kenapa sih?" Paulina kembali bertanya.
Anin menggeleng, "Nggak Bu, saya...itu saya lagi inget lirik lagu." jawab Anin asal-asalan.
"Jadi kamu mengingat lirik lagu." Paulina menepuk pelan telapak tangan Anin. "Anin, kamu suka bernyanyi?" tanyanya.
"Jadi nama cewek ini Anin?" kalimat tiba-tiba dari pria yang tadi dengan berani menyindir Anin saat keluar dari toilet.
"Bryan, kamu tuh dari mana aja?" Paulina bertanya, sambil menarik lengan anak laki-lakinya supaya mendekat.
"Nggak kemana-mana, Bryan ketemu sama Viola, Ale , sama Gerald di sana." tunjuknya mengarah pada orang-orang yang tadi ia sebutkan.
Lantas ia menoleh, pada Naufal.
"Bang Naff, udah lama?" sapanya pada Naufal, dan berjalan mendekatinya.
"Wei, makin ganteng aja nih. Apa kabar?" sambut Naufal.
Anin yang melihat dua orang yang berdekatan itu, mendadak kerongkongannya jadi kering. Tatapannya tak lepas dari kedua orang tersebut. 'Kok ada orang yang berdekatan begitu, malah kelihatan seperti model yang lagi photo shoot.' batinnya.
"Dia itu Bryan, anak Ibu. Dia baru di Indonesia, baru menyelesaikan S 2 -nya di Harvard." terang Paulina pada Anin.
'Pantesan. Kelihatan mahal banget begitu, jadi dia anaknya Bu Paulina, jebolan Harvard pula?' batin Anin, sambil mengangguk pelan.
"Bryan, kamu main piano dong, Tante sudah lama nggak liat kamu main Piano." Seru Megan.
"Wah iya nih, ayolah hitung-hitung menghibur kami yang tua-tua ini." timpal Regina.
"Anin, kamu yang nyanyi. Kebetulan kan kamu bilang suka nyanyi tadi?" Ujar Paulina, yang membuat Anin mendadak berubah jadi patung.
Bryan melirik Anin, lantas berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Anin, demi menuruti kemauan para orangtuanya.
Anin masih mematung, tak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Naufal. Melihat pria itu melotot, seketika ia meremang. Mana berani ia menerima uluran tangan Bryan, sedang Naufal masih menatapnya penuh peringatan begitu.
"Udah, jangan terlalu banyak di pikir. Sana kamu nyanyi, biar Bryan yang mengiringi kamu dengan pianonya." Paulina serta merta mengambil tangan Anin, kemudian menaruhnya di telapak tangan Bryan.
Tentu ini tidak baik bagi Naufal, yang lebih parahnya lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa, untuk sekedar mencegah saja tidak bisa. Ingin rasanya Naufal cosplay jadi Iron Man segera. Menggunakan thruster di tangan dan kaki, meraih tubuh Anin dan terbang menjauh sejauh-jauhnya. Tapi apa daya, tidak bisa. Dan Naufal seketika merasa sudah sangat gagal.
Bryan membawa Anin ke area panggung. Lantas ia bicara sebentar pada MC, untuk mengambil alih acara. MC dengan senang hati mempersilahkan.
Bryan duduk di depan Piano, jari jemarinya sudah berada di atas tuts. Lantas ia menoleh pada Anin. "Kamu mau nyanyi lagu apa?" tanyanya.
Anin menelan ludah. Jantungnya berisik sekali, bahkan rasanya mau melompat-lompat. Ia melirik sekilas ke arah Naufal, dan tatapan Naufal masih sama. Bahkan sekarang wajahnya nampak memerah.
"Secret Love Song" jawab Anin akhirnya.
Bryan tersenyum tipis, lalu membenarkan duduknya. Jemarinya menyentuh tuts dengan santai, tapi begitu nada pertama keluar, suasana langsung berubah. Lembut. Dalam. Seolah semua percakapan di ruangan itu meredup dengan sendirinya.
Anin berdiri kaku beberapa detik. Nada pembuka itu terasa familiar untuknya yang akhir-akhir ini sudah ia simpan di kepala.
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mulai bernyanyi.
Suara Anin keluar pelan di awal, sedikit gemetar, tapi jujur. Semakin lama, semakin stabil. Semakin dalam. Lirik demi lirik mengalir seperti ia benar-benar sedang bercerita, bukan sekadar menyanyi.
Di tengah lagu, tanpa sadar tatapannya kembali bertemu dengan tatapan Naufal. Ia menangkap kepedihan yang sama dengan hatinya saat menyanyikan lagu itu.
Tatapan Naufal yang di liputi amarah, kini berganti dengan tatapan menyimpan rasa kalah dan gagal.
Tidak sedetik pun ia berpaling. Ia hanya diam, menatap Anin dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tapi justru itu yang membuat dada Anin makin sesak.
Seolah semua yang tak bisa mereka katakan… sedang terdengar jelas lewat lagu itu.
Bryan sempat melirik sekilas ke arah Anin. Ada sesuatu yang berubah dari cara gadis itu menyanyi. Lebih emosional. Lebih… personal. Menarik.
Lagu selesai dengan nada panjang yang perlahan memudar. Hening. Lalu tepuk tangan pecah memenuhi ruangan.
"Bagus banget!" seru Megan antusias.
"Suaranya indah banget, kolaborasi yang sangat bagus dengan permainan piano Bryan" tambah Regina sambil tersenyum.
Paulina terlihat puas, bahkan bangga.
Tapi Anin tidak langsung bereaksi. Ia masih berdiri di sana, seperti belum sepenuhnya kembali dari tempat yang tadi ia datangi lewat lagu.
Bryan berdiri, lalu sedikit mendekat. "Kamu lagi curhat ya?" tanyanya.
Anin menoleh cepat, sedikit kaget. "Sok tahu!" ujarnya sewot.
Naufal akhirnya berdiri dari kursinya.
Langkahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Ia mendekat ke arah panggung, menatap lurus ke arah Anin… dan juga Bryan.
Apa yang ingin di lakukan Naufal?
*
*
*
~ Salam hangat dari Penulis🤍