Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 - Bayangan yang Kembali
Gwen berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Ia menatap pria di depannya, masih mencoba memproses situasi yang baru saja terjadi—bahwa ia, dalam keadaan kesal, menendang kaleng… dan kaleng itu berhasil mengenai kepala seseorang yang ternyata mengenalnya.
Hatinya tiba-tiba berdebar kencang, seperti ada alarm darurat yang menyala di seluruh tubuhnya. Pikiran Gwen berputar cepat, Rama? Ini benar-benar Rama? Cinta pertama gue? Dan kenapa dia… masih sama tenangnya seperti dulu?
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Kenangan lama tentang masa-masa mereka berdua dulu—tawa yang ringan, janji-janji tak terucap, dan rasa sakit ketika Rama memilih menikahi sepupunya—muncul seketika. Semua perasaan yang sudah ia kubur rapat di kota lama itu kini menyeruak tanpa permisi.
“...Maaf,” ulang Gwen, kali ini lebih pelan, suaranya sedikit bergetar.
Pria itu menurunkan tangannya dari kepalanya. Wajahnya masih tenang, hanya ada sedikit ekspresi heran yang tertinggal di matanya.
Kaleng itu masih menggelinding pelan beberapa meter dari mereka.
Ada jeda canggung beberapa detik. Gwen merasa seluruh tubuhnya tegang, setiap detik seperti menunggu letupan api kecil dari masa lalu. Ia menatap Rama, mencoba membaca ekspresi pria itu—apakah ada kemarahan? Kekesalan? Atau hanya ketidakpercayaan terhadap absurditas yang baru saja terjadi?
Pria itu menatap Gwen lebih lama sekarang, seolah memastikan sesuatu.
“Lama tidak berjumpa,” katanya akhirnya.
Gwen menelan ludah lagi. Hatinya berdetak terlalu cepat, dan di antara rasa kesal pada dirinya sendiri, ada sedikit rasa heran—dan, entah kenapa, sedikit rindu yang tiba-tiba muncul di sudut hatinya.
“Mas baik-baik saja?” Gwen akhirnya bersuara, nada setengah marah, setengah tidak percaya. “Mau kerumah sakit?”
Rama mengangkat bahu, santai seperti tidak terjadi apa-apa. “Aku gak apa - apa kok.”
Gwen mengerutkan alis. “Gila… padahal kepala mas kena kaleng tapi bisa tetap tenang. Mas manusia atau patung, sih?”
Rama tersenyum tipis. “Tergantung siapa yang nendang.”
Mata Gwen melebar sedikit. “Tergantung siapa yang nendang? Maksudmu… aku?”
Rama mengangguk, matanya tetap menatap Gwen dengan tenang, seolah menyimpan kenangan lama di balik senyumnya. “Ya. Kamu selalu punya cara unik bikin aku terkejut.”
Gwen menahan napas, menatap kaleng di lantai, lalu kembali menatap Rama. Campuran rasa kesal dan geli membuatnya ingin menampar kepalanya sendiri. “Unik, ya? Aku nyaris bikin kamu pingsan cuma karena aku kesal… dan kamu malah bilang unik?”
Rama mengangkat alis, ekspresinya seolah berkata, ya, aku sudah hafal sama kamu dari dulu.
Gwen menggigit bibirnya, menahan senyum yang nyaris muncul. Ia sadar, seberapa pun ia berusaha keras bersikap tegas, hatinya masih terikat pada masa lalu—dan tentu saja pada Rama.
“Baiklah,” Gwen akhirnya bersuara, nada setengah serius, setengah sinis. “Kamu beruntung… kali ini kaleng cuma kena kepala, bukan… eh… bagian tubuh yang lain.”
Rama terkekeh pelan. “Kalau begitu, aku berterima kasih. Kaleng itu cukup tepat sasaran.”
Gwen mendesah panjang, menatap Rama sambil berjalan menjauh, kakinya tanpa sadar masih menendang-nendang kaleng yang berserakan di lantai. “Di mana Tiara?” tanyanya, penasaran. Ia belum melihat batang hidung sepupunya yang sok cantik itu sejak akad nikah pagi tadi.
Rama menunduk sebentar, wajahnya tetap tenang, tapi ada ketegangan halus yang tak bisa disembunyikan. “Dia… sudah meninggal, Gwen,” jawabnya pelan.
Gwen terhenti. Napasnya tercekat, kaleng terakhir yang ia tendang berguling, seolah menandai hening yang tiba-tiba menyesakkan. Selama ini, semenjak Tiara menikungnya, ia memang sudah memutus segala hal yang berhubungan dengan sepupunya itu.
“Maaf… aku gak tahu, Mas,” gumam Gwen, suaranya serak. Perasaan bersalah membanjiri dadanya, campur aduk dengan rasa kehilangan dan kaget. Ia menunduk, menahan agar air mata tak jatuh.
“Gak masalah… udah lama juga,” ucap Rama, suaranya berat, seolah menahan sakit yang tak bisa ia ungkapkan. “Tiara… meninggal bersama bayi kami, dua tahun yang lalu.”
Gwen membeku. Dua tahun. Bayi mereka…? Dunia di sekelilingnya terasa runtuh seketika, hampa, seperti semua yang ia kira benar selama ini hanyalah ilusi. Ia menatap Rama, matanya berkaca-kaca, tapi suara tak keluar dari bibirnya.
Rama menunduk, menatap lantai, seakan lebih mudah menanggung kaleng-kaleng yang berserakan daripada kenyataan pahit ini. “Dia sakit, Gwen… Saat tahu hamil, dia berusaha mempertahankan bayinya. Tapi Tuhan berkehendak lain,” ucapnya pelan, suara serak, seakan setiap kata menelan sedikit dari hatinya sendiri.
Gwen terdiam, Air mata mulai menggenang di matanya, tapi ia menahannya, menatap Rama dengan campuran kesedihan, penyesalan, dan kebingungan. “Maaf… aku nggak pernah… tahu,” bisiknya hampir tak terdengar, suaranya pecah.
Rama menatapnya diam, lalu tanpa sadar—seperti kebiasaan lama yang tak pernah hilang—ia mengacak-acak rambut Gwen perlahan. “Udahlah… semua udah berlalu,” ucapnya pelan, nada hangat tapi berat, seakan ingin menenangkan Gwen sekaligus dirinya sendiri.
Gwen menunduk, membiarkan gerakan itu menenangkan sebagian hatinya yang kacau. Meski rasa sakit dan kehilangan masih menghantui, sentuhan kecil itu mengingatkannya pada masa-masa mereka dulu, ketika semua terasa lebih ringan, lebih aman, meski dunia di luar selalu penuh luka.
“Aku dengar kamu pindah lagi ke Bali?” tanya Rama, mencoba mengubah topik agar suasana sedikit ringan.
“Iya, Mas,” jawab Gwen singkat, tersenyum tipis. Ada rasa malu yang terselip di balik senyumnya, tapi ia berusaha tetap santai.
Rama mengangguk, menatapnya sekilas.
“Setahun lalu aku nggak sengaja ketemu kamu sama pacarmu di Jakarta. Mau nyapa tapi takut ganggu. Pacarmu nggak keberatan kalau kamu pindah? Bukannya kamu nggak suka LDR?”
Gwen menggeleng, napasnya pelan. “Kami udah putus, Mas.”
Rama mengangkat alis, menatapnya sedikit prihatin. “Sayang banget… kalian terlihat serasi.”
Gwen menunduk sebentar, menelan ludah. Senyum tipisnya memudar, digantikan rasa pahit. Banyak orang memang bilang dirinya dan Ben seperti couple goals—satu cantik, satu tampan. Di mata orang lain, mereka sempurna. Tapi kenyataannya? Ketampanan Ben lama-lama membuatnya muak. Ia ingat betapa seringnya Ben selingkuh, betapa bodohnya dirinya yang selalu memaafkan.
Saat itu, Gwen takut. Takut ia tak akan bisa mendapatkan pacar lain, apalagi usianya sudah hampir memasuki kepala tiga. Ia menahan diri, tetap bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas menyakitkan, hanya karena takut kesepian. Kenyataan itu membuatnya sadar, bahwa meski mereka tampak serasi di mata orang lain, hubungan itu penuh kepalsuan, luka, dan penyesalan yang ia simpan sendiri.
Gwen menghela napas, menatap Rama sebentar. "Belum jodohnya, Mas."
“Sekarang udah dapat jodohnya?” tanya Rama santai.
Belum sempat Gwen menjawab, teriakan Pandji menggema “MBA! Dipanggil ibu! Mau foto keluarga!” teriak Pandji sambil menatap tajam ke arah Rama. Ia membenci Rama karena pria itu pernah membuat kakaknya patah hati dan pergi meninggalkannya. Setelah kakaknya pergi, sahabatnya juga memutuskan kuliah ke luar negeri, membuat Pandji kesepian.
Di samping Pandji, Aga menatap Rama penuh kebencian, lalu dengan sigap menarik Gwen lebih dekat ke arahnya.
“Kamu kenapa sih, Ga?” teriak Gwen, tapi Aga tetap diam, tak bergeming.
“Dasar bocah, lepas gak!” teriak Gwen, menendang-nendang kaki Aga dengan panik.
“Diam… atau aku cium,” ucap Aga dengan tenang tapi penuh tantangan.
“DASAR GILA! PANDJI SURUH TEMANMU YANG GI—” Belum selesai kalimatnya terucap, tangan Aga menarik pinggang Gwen, membuatnya berputar 180 derajat. Seketika ia menghadap pada pemilik tangan, matanya membelalak kaget.
Satu kecupan lembut mendarat si bibirnya. Tak menunggu Gwen sadar dari kekagetannya, pria itu kembali mencium Gwen, lebih dalam, lebih nikmat, lebih memabukkan. Gwen bahkan tanpa sadar menutup matanya, meresapi sentuhan di bibirnya, Oh God, his lips is fucking delicious.
"Sorry, cant handle it," ucapnya dengan aksen britishnya, setelah melepas bibirnya karena Gwen tak membalasnya.
Otot - Otot disekitar bibir pria itu tertarik keatas membentuk senyum tampan, yang entah demi apapun itu, membuat Gwen yang baru saja membuka matanya, merasakan dekat tak normal pada jantungnya. "Senang jika kamu menikmatinya," ucap Aga sambil mengerling. "By the way, ini ciuman pertamaku." Bisiknya pada telinga kiri Gwen melanjutkan Info tak.berguna.
Kenapa sekarang padangan matanya berubah. Aga tak terlihat seperti Pandji sekarang. Di mata Gwen, bocah itu mendadak berubah jadi pria seksi dengan aksen Britisnya, tampan dengan rambut berantakannya tanpa pome dan sepasang mata berwarna hijau, serta dada bidang yang mengundang.
Dan seperti palu yang mendadak menghantam kepala, Gwen mundur selangkah setelah mendengar deheman Rama. Oh my god! Damn! He screwed me up!
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....