Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah meninggalkan rumah Maria dengan tekad yang bulat, Onur memacu mobilnya langsung menuju rumah sakit.
Langkah kakinya yang berat bergema di lorong sunyi lantai VVIP. Saat ia sampai di depan kamar Aliya, ia berhenti sejenak melalui kaca pintu, menatap gadis itu yang masih terbaring lemah namun tampak tenang dalam tidurnya.
Onur menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada Emirhan yang berada di dalam.
Menyadari kehadiran ayahnya, Emirhan perlahan melepaskan tangan Aliya dan keluar dari ruangan dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Ada apa, Ayah?" tanya Emirhan begitu mereka berdiri di koridor yang sepi.
Matanya menyelidik, menyadari wajah ayahnya yang tampak jauh lebih kuyu dan tertekan dibanding semalam.
Onur terdiam beberapa saat, menatap lantai sebelum akhirnya bersuara.
"Emir, Zartan pergi dari rumah. Dia lari setelah mendengar semuanya."
Emirhan tidak menunjukkan reaksi terkejut yang berlebihan.
Ia hanya memejamkan mata sejenak, seolah sudah menduga badai ini pasti akan datang.
"Ayah sudah tahu? Maria memberitahu Ayah?"
Onur menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Ya. Aku baru saja dari sana. Rahasia itu sudah terbuka, Emir. Zartan tahu aku adalah ayahnya, dan dia menolak kenyataan itu dengan penuh kebencian."
Emirhan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin. Rasa lelah yang luar biasa menyergapnya.
"Aku sudah tahu sejak semalam, Ayah. Maria yang mengatakannya padaku saat aku mendatangi rumahnya sebelum kembali ke sini."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku semalam?" tanya Onur.
"Karena Aliya sedang kritis, Ayah! Dan aku tidak ingin melihat Ayah hancur sebelum memastikan siapa yang meracuni Aliya," jawab Emirhan dengan suara rendah namun tajam.
"Tapi sekarang semuanya sudah berantakan. Zartan adalah orang yang sangat keras kepala. Dia tidak akan mudah menerima Karadağ setelah seumur hidupnya dia menganggap kita sebagai musuh."
Onur menepuk bahu putra sulungnya itu, sebuah gestur yang jarang ia lakukan.
"Aku sudah berjanji pada Maria untuk membawanya pulang. Aku ingin dia diakui sebagai adikmu, Emir. Aku ingin menebus semua tahun-tahun yang hilang itu."
Emirhan menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dia tidak butuh harta Karadağ, Ayah. Dia butuh kejujuran. Biarkan aku yang mencarinya. Aku tahu ke mana biasanya orang seperti dia pergi saat sedang marah."
"Carilah dia, Emir. Bawa adikmu kembali," ucap Onur parau.
"Sementara itu, aku akan tetap di sini menjaga Aliya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekatinya, termasuk ibumu atau Laura."
Emirhan mengangguk, ia merapikan kemejanya dan segera melangkah pergi, meninggalkan ayahnya yang kini berdiri sendirian di depan pintu kamar gadis yang menjadi pusat dari segala kerumitan keluarga mereka.
Konflik ini baru saja dimulai, dan Emirhan tahu, menyatukan Zartan ke dalam keluarga mereka akan menjadi ujian yang jauh lebih berat daripada ujian sekolah mana pun.
Onur melangkah masuk ke dalam kamar rawat dengan sangat pelan.
Ia menarik kursi di samping ranjang Aliya, menatap wajah gadis itu yang tampak begitu tulus dalam tidurnya.
Onur merasa sesak; di satu sisi ia melihat putri dari wanita yang pernah dicintainya, dan di sisi lain ia menyadari bahwa ia telah mengabaikan putranya sendiri selama bertahun-tahun.
"Maafkan aku, Nak," bisiknya lirih sambil memperbaiki letak selimut Aliya.
Sementara itu, Emirhan mengendarai mobilnya menuju sebuah area dermaga tua yang sepi, tempat yang sering menjadi pelarian bagi mereka yang ingin membuang amarah.
Benar saja, di sana ia melihat siluet Zartan yang sedang duduk di atas beton, menatap laut lepas dengan bahu yang tegang.
Emirhan mematikan mesin dan turun dari mobil. Suara langkah sepatunya di atas kerikil membuat Zartan menoleh dengan tatapan tajam.
"Mau apa kamu? Apa pria tua itu yang memintamu ke sini?" tanya Zartan sinis. Ia berdiri, bersiap untuk pergi atau mungkin untuk berkelahi.
Emirhan menggelengkan kepalanya dengan tenang, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Ayah tidak memintaku. Aku datang atas kemauanku sendiri."
"Pergi, Emir. Aku tidak ada urusan dengan kalian lagi," desis Zartan.
"Sebagai kakak, wajar jika aku mencari adikku saat dia sedang kacau seperti ini," ucap Emirhan dengan nada yang sangat datar namun mengandung ketegasan.
Zartan tertawa getir, tawa yang penuh dengan luka. "Adik? Jangan mimpi, Emir! Kita tidak punya hubungan apa-apa. Kamu adalah pewaris klan Karadağ yang sombong, dan aku hanya sampah jalanan yang kalian injak-injak selama ini."
Emirhan melangkah maju satu langkah, tidak gentar dengan gertakan Zartan.
"Darah yang mengalir di tubuh kita tidak bisa kamu bantah dengan teriakan, Zartan. Kamu boleh membenci Ayah, aku pun sering melakukannya. Tapi mengabaikan kenyataan bahwa kita bersaudara hanya akan membuatmu semakin tersiksa."
"Aku tidak butuh saudara seperti kamu! Dan aku tidak butuh pengakuan dari ayahmu!"
Zartan mencengkeram kerah baju Emirhan dengan emosi yang meledak.
"Setelah semua yang ibumu lakukan pada Aliya, kamu masih berani bicara soal keluarga padaku?"
Emirhan menatap mata Zartan dalam-dalam, tanpa perlawanan.
"Itulah kenapa aku di sini. Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin melindungi Aliya, dan aku ingin membawa adikku pulang ke tempat yang seharusnya."
Zartan mencengkeram kerah kemeja Emirhan dengan kuat, namun tangannya mulai gemetar.
Amarah yang meledak-ledak tadi perlahan runtuh saat ia menatap mata Emirhan yang tidak menunjukkan sedikit pun kebencian atau keangkuhan. Hanya ada ketulusan dan luka yang sama di sana.
"Tolong, demi Aliya," ucap Emirhan dengan suara yang rendah dan emosional.
"Kita lupakan semua permusuhan ini. Kita harus bersatu untuk menjaganya. Aku membutuhkanmu, adikku."
Mendengar kata "adikku" yang diucapkan dengan begitu tulus, pertahanan Zartan hancur seketika.
Tembok kebencian yang ia bangun selama bertahun-tahun untuk melindungi dirinya sendiri kini runtuh.
Cengkeramannya di kerah baju Emirhan melonggar, dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang keras.
Zartan menunduk, bahunya berguncang hebat. Segala rasa sakit karena tumbuh tanpa ayah, rasa hina karena dianggap rendah, dan ketakutan akan nasib Aliya tumpah dalam tangis yang terisak.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Emirhan menarik tubuh Zartan ke dalam pelukannya.
Ia memeluk adiknya dengan erat, sebuah pelukan yang seharusnya terjadi belasan tahun yang lalu.
Di dermaga yang sunyi itu, dua pria yang selama ini menjadi musuh bebuyutan akhirnya saling mengakui ikatan darah yang mengikat mereka.
"Aku membencinya, Emir. Aku sangat membenci kenyataan ini," isak Zartan di bahu kakaknya.
"Aku tahu," bisik Emirhan sambil menepuk punggung Zartan.
"Aku juga merasakannya. Tapi kamu tidak sendirian lagi. Kita akan menghadapi mereka bersama. Aku janji, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh Aliya atau menyakiti Maria."
Dalam pelukan itu, dendam lama klan Karadağ mulai memudar, digantikan oleh aliansi baru yang jauh lebih kuat.
Emirhan menyadari bahwa untuk melindungi masa depan mereka, ia tidak hanya butuh kekuasaan, tapi ia juga butuh saudara di sampingnya. Dan bagi Zartan, untuk pertama kalinya, ia merasa beban dunia yang ia pikul sendiri kini terasa sedikit lebih ringan karena ada sosok kakak yang berdiri di depannya sebagai pelindung.