Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Nazar tau kemana dia harus datang. Jadi setelah tiba di Jakarta, menjelang sore dia menginjakan kakinya di lobi perusahaan milik Herdin-suaminya Puspa.
Resepsionis di lobby mempersilakannya menemui bosnya setelah beberapa saat tadi menunggu persetujuan Herdin.
Dia tersenyum miring ketika Herdin tanpa.ragu mau menemuinya.
Nazar tau, Herdin mungkin menyangkal sudah membantu istrinya menyembunyikan Rhea. Dia.ngga akan memaksa. Kedatangannya hanya ingin memberi peringatan pada relasinya.
Setelah melewati banyak lantai, akhirnya dia sampai juga di ruang kerja Herdin.
Herdin cukup tenang menyambut kedatangannya.
"Aku ke sini bukan mau menawarkan kerja sama." Nazar membuang nafasnya perlahan.
Herdin tidak memotong, dia menunggu dengan sabar kelanjutan omongan Nazar.
"Aku tau kalian sudah membatu Arsati istriku menyembunyikan Rhea," lanjutnya tanpa basa basi.
Herdin tersenyum tipis.
"Aku tidak akan meminta kamu menyerahkan putriku sekarang. Aku yang akan membawa pulang setelah berhasil menemukan keberadaannya. Aku berterimakasih karena kalian pasti sudah memperlakukan putriku dengan sangat baik," tukasnya panjang lebar.
"Tolong sampaikan pada Rhea, sekali papanya menemukannya, dia tidak akan bisa menghindar lagi. Dia harus pulang ke Surabaya." Nazar mengakhiri ucapannya dengan seringai tipis.
Bibir Herdin masih tetap menyunggingkan senyum. Tapi dalam hati dia akan meminta Puspa lebih hati hati lagi menyembunyikan Rhea hingga waktunya tiba untuk menyerahkan Rhea kembali pada Nazar dan Arsati.
Saat mereka berhasil menjodohkan Dave dengan Rhea.
*
*
*
Rhea sudah berada di mall yang berbeda dari kemarin. Tapi tetap mall yang eksklusif hingga dia tidak perlu bertemu dengan banyak orang.
Dia sedang menikmati saladnya malam ini.
Rhea mulai merasa ngga nyaman bekerja di kindergarten, karena kini hampir sebagian guru guru di sana mulai menatapnya dengan tatapan ngga suka.
Gosip tentang Opa Rangga yang menaruh perhatian dengannya semakin berkembang. Edwin yang menghampirinya tadi, juga Baim yang tadi mengenalkan diri padanya. Ditambah selama beberapa hari ini dia diperlakukan dengan istimewa.
Padahal Ibu kepala sekolah sudah menjelaskan kalo Rhea diperlakukan istimewa karena dia memiliki ijazah master, sama seperti dirinya. Sebagian memang percaya, tapi sebagian yang lain yang sudah terkontaminasi rasa iri dan dengki, sudah tidak mau mempercayainya lagi.
Sekarang saja saat supir Tante Puspa menjemputnya, pandangan sebagian teman mengajarnya terasa meremehkannya. Rhea mencoba tetap sabar, dia tidak mau membuat masalah yang menyebabkan dia malah ditemukan dengan mudah oleh papanya.
Tapi dia mulai muak karena harus tetap bersabar dengan orang orang yang tidak tau siapa dia sebenarnya.
Setelah meneguk minuman dinginnya dengan salad yang tinggal separuh di piring, ponselnya bergetar.
Tante Puspa memanggil.
Ada apa Tante Puspa menelpon? batinnya heran sambil menerima telpon dari sahabat mamanya.
"Rhea sayang, kamu sekarang di apart?"
Rhea menggeleng, tapi cepat meralat ucapannya karena Tante Puspa bukan melakukan vcall.
"Lagi di mall, tante."
"Di mall mana?" Suara Tante Puspa terdengar panik membuat kening Rhea berkerut.
Agar sahabat mamanya tidak merasa khawatir, Rhea menyebutkan nama mall yang dia singgahi.
Hening beberapa saat. Rhea menunggu respon dari Tante Puspa dengan sabar.
Terdengar helaan nafas Tante Puspa.
"Papa kamu sudah tau kalo kamu bersama tante."
DEG
Rhea langsung panik. Hampir saja dia menyenggol gelas yang ada di dekatnya.
"Kamu tunggu aja di sana, ya. Tante akan suruh Dave jemput kamu."
Rhea bukannya merasa tenang mendengar solusi dari tantenya, tapi Jantungnya malah tantrum.
"Eng.... enggak usah, tante. Nanti aku akan hati hati," tolaknya cepat.
"Rhea, kamu akan sulit kabur dari papa kamu kalo dia udah lihat. Kamu tunggu di sana, ya, sampai Dave datang. Tante udah telanjur janji sama mama kamu untuk sembunyiin kamu lebih lama," bujuk Puspa, meminta pengertian Rhea.
Rhea terdiam. Dia paham maksud Tante Puspa. Dia juga tau, sekalinya terciduk papanya, dia langsung dibawa pulang ke Surabaya, langsung dinikahkan. Kalo menolak, dia akan jadi pekerja tanpa bayaran di kebun apel tantenya.
Tapi kenapa harus Dave?
"Rhea?"
Panggilan Tante Puspa menyadarkannya.
"I iya, tante....."
"Tunggu di situ, ya, sayang. Tante hubungi Dave dulu."
Belum sempat Rhea mengajukan protes, Tante Puspa sudah memutuskan komunikasi mereka.
Dia mengerti, sih, pasti saat ini Tante Puspa sesang panik paniknya karena dia tidak berada di apartnya. Tapi malah berkeliaran di luar. Di mall lagi. Mungkin saja orang orang papanya sudah menyebar kemana mana.
Rhea membuang nafas panjangnya berkali kali.
Jantung masih tantrum, karena membayangkan lagi pertemuannya dengan Dave.
Tiga kali pertemuan mereka tidak pernah baik baik saja. Terakhir malah laki laki kurang ajar itu mengusirnya dengan ngga sopan.
Rhea menatap saladnya yang masih cukup banyak tersisa di piringnya. Seleranya sudah hilang.
Dia pergi saja atau menunggu si jomblo itu? Batinnya mulai menimbang nimbang.
Dua pilihan yang tidak ada satu pun yang akan bisa menyelamatkannya.
*
*
*
Dave yang baru saja akan membuka pintu mobilnya, langsung menerima telpon dari tantenya begitu ponselnya bergetar.
"Ada apa, tante?" Dave sudah membuka pintu mobil, bermaksud masuk ke dalam.
"Dave, kamu tolong tante jemput Rhea sekarang, ya." Tante Puspa menyebutkan nama mallnya tempat keberadaan Rhea sekarang.
Belum lagi Dave sempat menolak, satu notif pesan dari tantenya muncul di ponselnya. Tentang lokasi Rhea berada di mall itu saat dia buka pesannya.
"Tante, Rhea, kan, bisa naek taksi online. Kemarin malam juga pulang sendiri, tan," lapor Dave agar tantenya tidak perlu merasa cemas.
"Haa.... Kemarin malam? Aduh.... bagaimana ini......" Suara Puspa terdengar panik.
"Sebenarnya ada apa, tante?" Dave jadi merasa curiga. Gadis itu kelihatannya sedang dalam bahaya.
Tapi..... Dave menggelengkan kepalanya.
Seingatnya, tidak begitu juga, bantahnya dalam hati mengingat kesantaian Rhea kemarin malam.
"Papanya Rhea sudah tau kalo Tante yang ngelindungi anaknya karena permintaan mamanya Rhea. Sekarang papanya sedang mencari Rhea di Jakarta."
Dave merasa heran mendengar penjelasan tantenya.
Kenapa orang tuanya berbeda sikap?
"Kalo Rhea ditemukan, dia akan langsung dibawa pulang dan dinikahkan dengan calon dari papanya."
Dave terkejut mendengarnya.
Dia sudah dijodohkan?
"Mamanya Rhea ngga setuju, jadi dia dikirim diam diam ke tante," lanjut Puspa lagi, masih dengan nada khawatir dan panik.
"Papanya Rhea tadi bahkan sudah menemui Om Herdin."
Dave menutup pintu mobilnya yang sedari tadi sudah dia buka.
"Kamu.mau, kan, nolong tante, Dave?"
Dave berusaha meredakan gemuruh hebat di rongga dadanya sebelum menjawab permintaan tantenya.
"Ya, tante. Aku berangkat sekarang."
Terdengar helaan nafas lega Tante Puspa.
"Thank's, Dave. Tante tau, kamu pasti bisa diandalkan."
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk