NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik balik

“Saya Nathan. Kakak dari Naura, gadis yang kamu tolong tadi.”

Nathan mengulurkan tangannya kepada Xavero.

Xavero menyambut uluran tangan itu. “Saya Xavero, Tuan,” jawabnya sopan.

Nathan tersenyum tipis. “Kamu nggak usah pakai ‘Tuan’. Terlalu formal. Panggil saya Nathan saja.”

Xavero terdiam sejenak, menatap Nathan, lalu mengangguk. “Baiklah.”

Krek!

Pintu UGD terbuka, dan seorang dokter keluar dengan langkah cepat. Nathan segera menghampirinya, raut wajahnya menegang.

“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanyanya tanpa menunggu.

Dokter itu melepas masker dari wajahnya, lalu menghela napas lega. “Syukurlah, adik Anda cepat dibawa ke sini. Kalau tidak, kami tidak tahu apa yang bisa terjadi,” jawabnya.

Nathan yang sejak tadi tegang langsung menghembuskan napas panjang. Bahunya yang semula kaku perlahan mengendur.

“Benar, Dok?” tanyanya memastikan.

Dokter itu mengangguk.

“Ya. Kami sudah melakukan penanganan awal. Saat ini dia hanya perlu observasi untuk memastikan tidak ada cedera dalam yang terlewatkan.”

Nathan menutup matanya sejenak, jelas menahan rasa lega yang akhirnya datang.

“Terima kasih, Dok,” ucapnya tulus.

Dokter itu tersenyum tipis. “Anda bisa menemuinya nanti setelah dipindahkan ke ruang perawatan.”

“Pastikan dia mendapat penanganan terbaik,” ucap Nathan datar. “Apa pun yang dibutuhkan, siapkan.”

Dokter mengangguk mantap. “Itu sudah pasti, Tuan,” balasnya.

Tak lama kemudian, beberapa perawat mendorong ranjang keluar dari ruang UGD.

Tubuh Naura terbaring lemah. Wajahnya pucat, dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.

Xavero, yang berdiri tidak jauh dari sana, tanpa sadar menatapnya.

“Naura…” gumam Nathan pelan.

Nathan berjalan di samping ranjang itu, langkahnya cepat namun tetap terkontrol. Di balik ketenangannya, ada rasa lega yang perlahan muncul, setidaknya adiknya selamat dari kecelakaan itu.

Sementara itu, Xavero mengikuti dari belakang, menjaga jarak tanpa banyak bicara.

Langkah para perawat terhenti sejenak saat pintu lift terbuka. Ranjang itu segera didorong masuk, diikuti Nathan yang berdiri di sisi kepala Naura, matanya tak lepas dari wajah adiknya.

“Pelan,” ucapnya rendah, seolah takut suara sedikit saja bisa mengganggu.

Pintu lift tertutup.

Xavero tetap di luar, menunggu lift berikutnya. Tatapannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja tertutup itu.

Entah kenapa, bayangan wajah pucat Naura terus terlintas di kepalanya.

Beberapa detik kemudian, pintu lift kembali terbuka.

Xavero masuk.

°°

Di lantai ruang perawatan, suasana lebih tenang. Tidak seramai UGD, justru terasa lebih dingin.

Ranjang Naura didorong masuk ke sebuah ruang VIP.

Nathan berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan setiap gerakan perawat yang mulai memindahkan alat-alat medis.

“Kalau ada perubahan kondisi, segera laporkan ke saya,” ucap Nathan tegas.

“Baik, Tuan,” jawab salah satu perawat sopan.

Setelah semuanya selesai, satu per satu perawat keluar dari ruangan, menyisakan Nathan. Beberapa detik kemudian—

Xavero berdiri di ambang pintu.

Nathan menoleh.

Tatapannya jatuh pada Xavero yang sejak tadi diam saja.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Xavero sempat terdiam, lalu melangkah masuk perlahan.

Ia berdiri tidak terlalu dekat, seolah menjaga jarak.

Matanya kembali menatap Naura yang kini terbaring tenang, napasnya teratur meski masih lemah.

Keheningan menyelimuti ruangan sejenak.

Lalu—

“Terima kasih.”

Suara Nathan memecah keheningan.

Xavero menoleh.

Nathan menatapnya lurus, kali ini tanpa jarak dingin seperti sebelumnya.

“Kalau kamu terlambat sedikit saja…” ia berhenti sejenak, menatap adiknya, "saya mungkin sudah kehilangannya.”

Xavero menggeleng pelan.

“Saya hanya kebetulan lewat,” jawabnya rendah.

Nathan tersenyum tipis.

“Tidak semua orang akan berhenti di situasi seperti itu.”

Hening lagi.

“Ugh…”

Nathan langsung melirik ke arah adiknya. Perlahan, mata Naura terbuka.

“Naura…” gumamnya sambil mendekat.

Naura berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu. Pandangan pertamanya jatuh pada wajah kakaknya yang tampak penuh kekhawatiran.

“Kakak…”

“Iya, Dek. Kakak di sini,” ucap Nathan sambil menggenggam tangan Naura dengan erat. “Syukurlah kamu sudah sadar.”

Naura mengangguk pelan, napasnya masih terdengar lemah. Lalu, tanpa sengaja, ia melirik ke arah Xavero yang berdiri tidak jauh dari ranjangnya.

Nathan mengikuti arah pandangan itu. “Dia yang menolong kamu, Nau,” ucapnya.

“Terima kasih,” ucap Naura dengan suara lirih.

Xavero mengangguk pelan, tatapannya tetap tenang.

“Tidak perlu,” jawabnya singkat. “Yang penting kamu selamat.” Ia kemudian menatap Nathan. “Kalau begitu, saya pamit."

Xavero baru saja berbalik, langkahnya belum sempat menjauh.

“Tunggu.”

Suara Nathan terdengar tegas, membuat langkah Xavero langsung terhenti.

Ia menoleh perlahan.

Nathan berdiri tegak di samping tempat tidur, tatapannya lurus ke arah Xavero.

“Ada yang ingin saya bicarakan,” ucapnya tenang, tapi jelas tidak bisa ditolak.

Xavero diam sejenak, lalu mengangguk kecil.

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!