NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PENGORBANAN DI BALIK TIRAI

Suara hantaman kapak pemadam api ke pintu kayu jati itu bergema di ruangan sempit yang kedap suara. Arumi tidak peduli jika tangannya yang halus kini lecet atau jika gaun sutra mahalnya sobek terkena serpihan kayu. Di layar monitor, Bram masih berdiri tenang di samping boks bayi Leon, jemarinya mempermainkan pisau bedah yang berkilau dingin di bawah lampu redup penthouse.

​"Satu... dua..." Bram menghitung dengan nada yang menyayat nyali.

​"Jangan! Aku sedang berusaha keluar!" teriak Arumi, suaranya parau karena histeria.

​Dengan satu ayunan terakhir yang didorong oleh seluruh sisa tenaganya, engsel pintu itu menyerah. Arumi melempar kapak itu dan berlari keluar menuju lorong belakang hotel yang sepi. Ia tidak bisa kembali ke ballroom. Jika ia memanggil Arlan, Bram akan melihatnya melalui kamera pengawas yang pasti telah ia retas, dan itu akan menjadi akhir bagi Leon.

​Arumi berlari menuruni tangga darurat, napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Begitu sampai di pintu belakang hotel yang menghadap ke gang sempit, sebuah mobil van hitam sudah menunggu dengan pintu terbuka.

​"Masuk," perintah sebuah suara dari interkom mobil.

Tanpa ragu, Arumi melompat masuk. Di dalam, ia tidak menemukan Bram, melainkan dua orang pria bertopeng yang langsung mengikat tangannya dan menutup matanya dengan kain hitam. Mobil itu melesat membelah malam Jakarta, meninggalkan kemewahan Hotel Arkananta dan lelaki yang baru saja menyematkan cincin di jarinya.

Setelah perjalanan yang terasa seperti selamanya, Arumi diseret turun. Saat penutup matanya dibuka, ia berada di sebuah gudang tua di pinggiran dermaga. Bau garam dan karat menyengat indra penciumannya. Di depannya, duduk Bram dengan santai di atas kursi lipat, sementara di sebuah layar proyektor besar di belakangnya, masih terpampang siaran langsung dari boks bayi Leon.

​"Kau datang tepat waktu, Arumi," ucap Bram. Ia mematikan pisaunya dan menyimpannya di saku.

"Ternyata naluri ibu susu jauh lebih kuat daripada logika seorang calon nyonya konglomerat."

​"Di mana Leon? Kau tidak benar-benar di sana, kan?" Arumi mencoba mencari celah.

​Bram tertawa kecil. "Aku tidak sebodoh itu untuk tetap berada di lokasi yang sudah diketahui Raka. Video itu direkam sepuluh menit lalu oleh anak buahku yang berhasil menyusup. Tapi, jika kau tidak melakukan apa yang kuperintahkan sekarang, anak buahku yang asli—yang benar-benar ada di penthouse—akan menyuntikkan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan ke dalam botol susu Leon."

​Arumi jatuh berlutut. "Apa maumu, Bram? Uang? Arlan akan memberimu berapapun jika kau memintanya. Kenapa kau berkhianat?"

​Wajah Bram berubah menjadi sangat benci. "Uang? Aku sudah punya banyak uang dari Victoria. Tapi aku menginginkan kehancuran Arlan. Dia selalu merasa paling suci, paling hebat. Dia menyelamatkanku dari jalanan hanya untuk menjadikanku bayangannya selama sepuluh tahun! Aku bosan menjadi bayangan!"

​Bram menyodorkan sebuah dokumen dan sebuah kamera video. "Aku ingin kau membuat pernyataan. Katakan di depan kamera bahwa Arlan Arkananta telah menculikmu, memaksamu menjadi ibu susu bagi anak haramnya, dan mengancam nyawa ibumu jika kau tidak mau berpura-pura menjadi tunangannya untuk menutupi skandal ini."

​Arumi tertegun. Jika ia melakukan itu, reputasi Arlan akan hancur seketika. Saham Arkananta Group akan anjlok, dan Victoria akan memiliki alasan hukum untuk mendepak Arlan dari posisi CEO.

​"Jika aku melakukannya... kau janji tidak akan menyentuh Leon?"

​"Aku bukan pembunuh bayi, Arumi. Aku hanya pembunuh karier. Setelah video ini viral, kau bisa mengambil bayimu dan pergi jauh. Aku akan memberimu paspor baru."

Sementara itu, di Hotel Arkananta, Arlan menyadari ada yang tidak beres. Pidatonya baru saja selesai, namun Arumi tidak kembali dari kamar kecil. Raka mendekat dengan wajah cemas, membisikkan sesuatu di telinganya.

​"Tuan, sistem keamanan di penthouse sempat mati selama tiga menit. Dan Arumi... dia terlihat di kamera CCTV pintu belakang naik ke van hitam."

​Rahang Arlan mengeras. Ia tidak memedulikan tatapan heran para tamu undangan. Ia segera melangkah keluar, diikuti oleh tim keamanannya.

​"Cari mobil itu. Lacak setiap koordinat GPS yang mencurigakan di sekitar hotel!" perintah Arlan, suaranya menggelegar di dalam mobil komando.

​"Tuan, Nyonya Victoria bertanya kenapa Anda pergi begitu saja—"

​"Persetan dengan Ibu!" bentak Arlan. "Jika terjadi sesuatu pada Arumi atau Leon, aku sendiri yang akan menghancurkan keluarga ini!"

​Di dalam mobil, Arlan membuka ponselnya. Ia melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Sebuah foto: Arumi yang terikat di sebuah kursi di gudang tua. Arlan memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang meledak-ledak. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia coba sangkal; ia tidak hanya membutuhkan Arumi untuk menyusui Leon. Ia membutuhkan wanita itu untuk tetap hidup.

Kembali di gudang, Arumi berdiri di depan kamera. Lampu merah tanda merekam mulai menyala. Bram berdiri di belakang kamera dengan senyum kemenangan.

​"Ayo, Arumi. Mulailah bicara," perintah Bram.

​Arumi menatap lensa kamera. Ia teringat bagaimana Arlan melindunginya di dalam gua. Bagaimana Arlan mengakui kerapuhannya di depannya. Dan bagaimana Leon tertawa untuk pertama kalinya dalam dekapannya.

​"Nama saya Arumi," ia memulai dengan suara bergetar. "Dan saya di sini untuk mengatakan yang sebenarnya..."

​Bram mengangguk puas.

​"...yang sebenarnya adalah bahwa Arlan Arkananta adalah pria terbaik yang pernah saya temui. Dia melindungi anaknya dari orang-orang serakah seperti kalian. Dan pria yang ada di balik kamera ini, Bram, adalah pengkhianat yang mencoba membunuh bayi tak berdosa!"

​"Diam!" Bram menerjang maju dan menampar Arumi hingga wanita itu tersungkur. "Kau ingin bermain pahlawan? Baik! Katakan selamat tinggal pada Leon!"

​Bram meraih ponselnya untuk memberi perintah pada anak buahnya di penthouse. Namun, tepat saat jemarinya hendak menyentuh layar, suara ledakan terdengar dari atap gudang.

BRAKK!

​Beberapa bom asap dilemparkan ke dalam, membutakan pandangan semua orang. Arumi terbatuk-batuk, matanya perih. Di tengah kabut putih itu, ia mendengar suara tembakan dan teriakan kesakitan.

​Sebuah tangan yang sangat ia kenali menariknya dari lantai. "Arumi! Kau tidak apa-apa?"

​Arlan. Pria itu datang mengenakan rompi antipeluru di atas tuxedo-nya yang kini kotor. Matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa. Tanpa berkata apa-apa, ia segera memotong ikatan tali di tangan Arumi.

​"Leon! Bagaimana dengan Leon?!" teriak Arumi.

​"Raka sudah di sana. Anak buah Bram sudah diringkus sebelum mereka sempat menyentuh Leon. Video yang kau lihat itu hanya manipulasi sinyal," Arlan mendekap kepala Arumi ke dadanya. "Maafkan aku... aku terlambat."

Bram mencoba melarikan diri melalui pintu samping, namun ia langsung dihadang oleh moncong senjata tim khusus Arlan. Ia jatuh terduduk, menyadari bahwa permainannya telah berakhir.

​Arlan berjalan mendekati Bram. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang mematikan.

"Aku menyelamatkanmu dari selokan sepuluh tahun lalu, Bram. Dan hari ini, aku akan mengembalikanmu ke tempat yang lebih buruk dari selokan."

​"Arlan, tolong... Victoria yang memaksaku!" rengek Bram.

​"Jangan sebut nama ibuku dengan mulut kotor itu," Arlan memberi isyarat pada timnya untuk membawa Bram pergi.

​Setelah gudang itu diamankan, Arlan kembali pada Arumi. Ia melihat Arumi yang menggigil, memegangi pipinya yang memar akibat tamparan Bram. Hati Arlan berdenyut perih. Ia melepas tuxedo-nya dan menyampirkannya ke bahu Arumi.

​"Kita pulang," bisik Arlan.

​"Ke mana? Mansion itu sudah tidak aman, apartemen itu juga..."

​"Ke rumah yang sebenarnya. Tempat di mana tidak ada kontrak, tidak ada rahasia," Arlan menangkup wajah Arumi. "Malam ini, kau telah membuktikan bahwa kau adalah ibu yang paling nyata bagi Leon. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."

​Arumi menatap mata Arlan. Di tengah reruntuhan gudang yang tua dan kotor itu, ia merasa menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan seratus juta rupiah: sebuah tempat untuk pulang.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!