Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Auditor Elora
"Bapak bercanda?" tanya Aluna. Matanya menyipit, menatap pria berjas rapi di depannya dengan pandangan menyelidik.
"Wajahku terlihat seperti sedang bercanda?" Elvano bersedekap dan bersandar santai di kursi kebesarannya. Senyum tipis masih tersisa di wajah tampannya.
Aluna menelan ludah. Tentu saja tidak. Pria ini adalah wujud nyata dari kulkas dua pintu. Dingin, kaku, dan punya banyak aset berharga di dalamnya. Tapi tawaran barusan terasa terlalu tidak masuk akal setelah adegan pemerasan pulpen tadi.
"Jadi, aku diterima?" desak Aluna. Dia sengaja menanggalkan sapaan kaku yang biasa dipakai pelamar kerja. Orang licik tidak perlu berpura-pura terlalu sopan.
"Diterima," jawab Elvano singkat.
Aluna nyaris melompat kegirangan. Hutang kontrakan, tagihan air, dan mie instan sisa akhir bulan langsung terbayang akan segera tergantikan dengan nasi padang lauk rendang dua porsi.
"Bapak mau tempatkan aku di divisi apa? Marketing? Penjualan? Atau strategi bisnis?" tanya Aluna antusias. Kepalanya sudah penuh dengan rencana memonopoli proyek miliaran rupiah.
"Tidak satupun dari itu." Elvano menggeleng pelan. Jari telunjuknya mengetuk meja kayu jati di depannya. "Kamu tidak akan duduk di meja kantor bersama karyawan lain."
Senyum di bibir Aluna perlahan luntur. "Maksud Bapak? Bapak mau jadikan aku OB? Pegang sapu dan kain pel?" Aluna mulai waspada. Perempuan realistis seperti dirinya tahu betul kalau tawaran manis dari bos pelit pasti ada jebakan.
"Lebih sulit dari itu," sahut Elvano. Dia menarik sebuah map merah jambu yang sedari tadi tertutup tumpukan dokumen, lalu mendorongnya ke hadapan Aluna. "Buka."
Aluna membuka map itu dengan kening berkerut. Matanya langsung disuguhi deretan angka tagihan kartu kredit yang membuat napasnya seakan berhenti.
"Pesta ulang tahun anjing pudel di hotel bintang lima lima puluh juta? Ini anjingnya makan emas batangan, Pak?" Aluna melotot ngeri membaca salah satu baris rincian. Matanya turun ke baris bawah. "Belanja tas Vuttoni edisi terbatas seratus juta? Sepatu kaca dari ChooChoo seharga DP rumah subsidi?"
"Itu tagihan adikku, Elora," jawab Elvano dengan nada lelah yang kentara. "Dia penyakit paling menguras dompet di hidupku. Kartu kreditnya jebol setiap bulan. Aku potong limitnya, dia meminjam ke teman-temannya lalu menagih hutang itu padaku."
Aluna manggut-manggut. "Jadi, Bapak mau aku jadi asisten belanja adik Bapak? Jadi tukang bawakan tas belanjaannya begitu?"
"Bukan," potong Elvano tajam. "Tugasmu adalah menjadi Auditor Pengeluaran Pribadi Elora."
"Auditor apa?" Aluna mengernyit bingung. "Bahasa manusianya apa, Pak?"
"Babysitter keuangan," jelas Elvano. Matanya menatap lurus ke dalam mata Aluna. "Tugasmu memastikan dia tidak menghabiskan uang untuk barang sialan yang tidak berguna. Kamu harus mengaudit, memblokir, dan mencegah setiap transaksi bodoh yang dia lakukan."
Aluna mendengus pelan. "Bapak ini CEO perusahaan raksasa. Menghadapi kompetitor bisnis yang ganas saja Bapak bisa. Masa mengurus satu bocah perempuan saja butuh orang luar?"
"Karena dia adikku, aku tidak bisa membuangnya ke laut," balas Elvano sinis. "Lagi pula, aku butuh orang yang cukup licik, gila uang, dan berwajah tebal untuk menahan amukannya. Dan kamu baru saja membuktikan kalau kamu punya semua kualifikasi itu."
Aluna tersenyum miring. Dia tidak tersinggung sama sekali. Bagi perempuan tangguh sepertinya, pujian atas kelicikan demi bertahan hidup adalah sebuah medali kehormatan.
"Oke. Pekerjaan berisiko tinggi. Adik Bapak pasti akan membenciku, memakiku, atau bahkan menyiramku dengan kopi panas," kata Aluna santai sambil menutup map merah jambu itu. "Pertanyaan terpentingnya, berapa bayarannya?"
Elvano menyeringai puas. "Gaji pokok sebatas UMR."
"UMR?!" Aluna spontan memukul meja. "Bapak nyuruh aku jadi tameng hidup buat adik Bapak yang gila belanja itu cuma dibayar UMR? Di info lowongan kerjanya jelas-jelas ada tulisan bonus harian lho, Pak! Kalau ujung-ujungnya disunat jadi UMR tok, mending aku jualan gorengan di depan lobi kantor Bapak!"
"Dengarkan dulu," tegur Elvano, menghentikan protes keras Aluna. "Gaji pokok UMR. Bonus harian seratus ribu untuk uang makan dan transportasi tetap cair setiap hari sesuai info lowongan. Tapi, itu cuma receh. Penghasilan utamamu bukan dari situ. Kamu akan mendapat bonus sepuluh persen dari setiap nominal penghematan yang berhasil kamu lakukan setiap bulannya."
Mata Aluna seketika melebar. Otak kalkulatornya langsung bekerja kilat. Gaji UMR ditambah bonus uang makan seratus ribu per hari. Lalu, jika pengeluaran Elora sebulan bisa mencapai lima ratus juta, dan Aluna berhasil memangkasnya jadi seratus juta, berarti ada penghematan empat ratus juta. Sepuluh persen dari empat ratus juta adalah empat puluh juta!
Seketika, aura Aluna berubah drastis. Wajahnya yang tadi kuyu kini bersinar terang layaknya melihat tumpukan berlian di depan mata.
"Setiap penghematan?" ulang Aluna, memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Ya. Semakin pelit kamu kepada Elora, semakin tebal dompetmu," tegas Elvano. "Buktikan padaku kalau kamu bisa menciptakan krisis untuk adikku, sama seperti kamu menciptakan krisis pulpen tadi."
Aluna tidak perlu berpikir dua kali. Gengsi dan rasa takut tidak ada dalam kamusnya. Ini adalah ladang uang yang sangat basah. Mau adik bosnya itu mengamuk sampai guling-guling di lantai mal, Aluna tidak peduli. Dia akan menjaga saldo rekening Elvano sekuat tenaga demi komisi bulanannya.
Dengan gerakan mantap, Aluna mengulurkan tangan kanannya ke seberang meja, menembus jarak antara dirinya dan sang CEO.
"Deal (Sepakat), Pak."
Elvano menatap tangan kecil namun kapalan itu sejenak, lalu menyambutnya dengan jabat tangan yang erat.
Aluna tersenyum penuh tekad, matanya berkilat nakal. "Siapkan bonus Bapak. Aku akan bikin adik Bapak puasa belanja."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁