NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 27)

Beberapa jam mereka terdiam setelah kejadian makanan di lemari. Adapun suasana di dalam gubuk kini terasa kian hening.

Dari balik dinding bambu yang rapat, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang jauh. Awalnya samar, seperti guntur di kejauhan. Namun dalam sekejap, suara itu membesar, berubah menjadi raungan yang menakutkan.

Angin mulai bertiup kencang.

WUUUUUUUUUUUUUUUSSS!!!

Hembusan angin kencang menerpa seluruh bangunan gubuk, membuat kayu-kayu penyangga berderit nyaring, bangunan itu bergoyang-goyang liar seperti diguncang gempa. Hawa dingin menusuk menerobos kulit, meski sebenarnya di dinding tidak ada celah angin yang bisa membuatnya masuk.

Dan kemudian... air mulai jatuh.

Bukan turun perlahan, tapi meluap-luap seolah langit pecah. Hujan deras turun dengan volume yang tidak masuk akal. Air menghantam atap rumbia dengan suara DRAT! DRAT! DRAT! yang sangat keras, mirip seperti ribuan butiran batu yang dilemparkan ke atas sana.

"Ayah... lihat!" tunjuk Umar ke arah celah-celah dinding.

Di luar sana, dunia telah berubah menjadi lautan kegelapan yang ganas. Pagi hilang berganti badai muram. Pohon-pohon raksasa terlihat melambai-lambai ganas tertiup angin, cabang-cabangnya patah berterbangan. Namun yang paling mengerikan adalah langit.

Langit tidak hanya gelap. Langit itu berwarna kelabu tua bercampur ungu pekat, seolah dunia sedang mengalami bencana terburuk.

SREET!!! KRAKAAAAAAABUUUUUUUMMMMM!!!

Petir menyambar. Sangat dekat. Sangat terang. Sangat keras.

Cahaya biru putih yang menyilaukan menerangi seluruh ruangan dalam sekejap, memantulkan bayangan-bayangan panjang dan mengerikan dari perabotan kayu di dinding. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga membuat lantai gubuk bergetar, membuat gigi mereka pun turut bergemeretak.

"Badainya sangat besar..." lirih Deri sambil memeluk lututnya, wajahnya pucat ketakutan.

Setiap kali petir menyambar, dunia di luar menjadi terang benderang selama sepersekian detik, cukup bagi mata mereka untuk melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Di balik kaca jendela yang buram, saat cahaya petir menyala... mereka melihatnya.

Bayangan-bayangan hitam yang besar dan tinggi berdiri di luar sana, berdiri diam mematung di tengah hujan badai yang mengamuk. Jumlahnya banyak. Sangat banyak. Mereka tidak berlari mencari tempat berteduh, mereka tidak bergerak menahan angin. Mereka hanya berdiri tegak, menghadap lurus ke arah gubuk, seakan sedang mengawasi setiap gerak-gerik di dalam.

"Ayah... di luar... di luar ada orang!" bisik Umar ketakutan, matanya tak berkedip menatap jendela.

"Bukan orang, nak..." jawab Sulaiman pelan, keningnya berkerut, tangannya mencengkeram gagang parang yang diletakkan di samping pinggang. "Itu mereka. Seperti biasa. Abaikan saja."

SREET!!! SSRAAAKKKKGGHH!!!

Lagi. Cahaya itu menyala lagi. Kali ini lebih jelas. Gelegar petir pun mengiringinya.

Mereka melihat wajah-wajah yang menempel di kaca jendela. Wajah pucat, mata putih, mulut menganga lebar seakan sedang menjerit namun suaranya tertutup oleh raungan badai. Sulaiman benar-benar melihat tangan-tangan panjang yang sedang mencoba meraba-raba dinding bambu, mencari celah, mencari cara untuk masuk.

Gubuk ini aman. Gubuk ini kokoh. Tapi rasa takut bahwa ada ribuan makhluk yang menatap mereka dari kegelapan di luar membuat suasana di dalam menjadi sangat sesak dan tidak nyaman.

Di tengah ketakutan akan badai dan makhluk-makhluk di luar sana, godaan lain datang menyerang.

Dari arah lemari kayu di sudut dapur, kembali tercium aroma yang sangat kuat. Aroma makanan hangat. Aroma ikan asin yang baru goreng, aroma nasi panas, dan aroma kuah santan yang gurih.

Bau itu sangat nyata. Sangat menggoda. Seolah-olah di dalam lemari itu seseorang sedang memasak makanan lezat tepat di saat mereka kelaparan.

Perut Deri berbunyi keras. Kruuuukkk... Suaranya terdengar jelas di tengah suara hujan.

Matanya tak sengaja melirik ke arah pintu lemari yang tertutup rapat itu. Bayang-bayang ilusi mulai bermain di kepalanya. Dia membayangkan betapa nikmatnya makan ikan asin yang renyah dengan nasi panas dan kuah santan, minum air yang dingin, dan mengisi perut yang kosong melompong ini.

"Ke sini, mendekat, mari makan... jangan sungkan..." bisik suara halus di dalam kepalanya. "Di luar begitu bahaya, di sini hangat. Makan saja, siapa yang tahu? Mungkin ini rezeki. Siapa tahu Bapak yang negur tadi salah..."

"Jangan mikir aneh-aneh, Der!" tegur Sulaiman tajam, seakan bisa membaca pikiran anak buahnya. Sulaiman tahu, di saat mental paling lemah seperti ini, ilusi paling kuat akan menyerang.

"Saya... saya cuma lapar, Bos..." jawab Deri pelan, matanya berkaca-kaca. "Bau itu enak sekali. Rasanya... rasanya kalau saya tidak makan, saya akan mati."

"MATI LEBIH BAIK DARIPADA MAKAN ITU!" bentak Sulaiman. Suaranya bergema menandingi suara petir. "Kau mau jadi seperti mereka? Kau mau jadi mayat berjalan yang menjaga kebun itu? Kau mau tidur di kuburan? Kalau kau makan itu, jiwamu hilang! Hilang selamanya!"

Herman menunduk, dia juga merasakan hal yang sama. Rasa lapar itu disiksa oleh bau harum, sementara di luar hujan dan petir seakan ingin menghancurkan dunia. Mereka terjepit di antara dua neraka: neraka dingin dan mengerikan di luar, dan neraka godaan yang manis di dalam.

Sementara badai semakin menjadi-jadi. Hujan turun seperti tirai air yang tak tembus pandang. Dan angin meraung seperti suara wanita yang berteriak pilu di kejauhan. Langit pun bertambah gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda badai akan reda. Petir terus menyambar meneror bumi yang penuh dosa ini, kilatannya menerangi wajah-wajah jin di luar sana, selain menerangi wajah empat orang yang bertahan di dalam gubuk.

Gubuk kecil ini adalah satu-satunya benteng tersisa di tengah rimba kecamuk.

Dan mereka berjanji... tidak akan membiarkan apa pun masuk. Tidak akan menyentuh apa pun.

Selama... mereka masih bernapas.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!