NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 13

PERHATIAN DAN PERINGATAN KECIL

Lorong samping mansion itu kembali lengang ketika Teresa melangkah pelan, kedua tangannya terlipat rapi di depan perutnya. Ia berhenti beberapa langkah di belakang sosok pria yang berdiri tegak di dekat pilar besar.

Lorenzo.

Pria itu tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, seolah seluruh isi rumah ini hanyalah latar yang tidak penting baginya.

“Maaf, Tuan…” suara Teresa pelan, nyaris seperti bisikan, namun cukup untuk membuat Lorenzo menyadari kehadirannya.

“Dia sudah di kamarnya?” ucap Lorenzo tanpa berbalik.

Teresa menelan ludah kecil. “Nyonya Aria sudah berada di kamar samping, seperti yang diperintahkan.”

Hening sejenak.

Angin malam berembus pelan, menggesek tirai tipis di lorong itu.

“Dengarkan aku baik-baik,” ujar Lorenzo akhirnya, suaranya rendah namun tajam. “Apa pun yang terjadi di rumah ini… kau tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengatakan apa-apa.”

Teresa menunduk lebih dalam. “Baik, Tuan.”

“Terutama,” lanjutnya, kini sedikit memiringkan kepala, “tentang kehamilan itu.”

Jantung Teresa berdegup lebih cepat, namun ia tetap menjaga ekspresinya. Para pekerja di sana juga sudah tahu rumor itu.

“Saya mengerti.”

Baru setelah itu Lorenzo menoleh sekilas. Tatapannya dingin, memastikan tidak ada keraguan dalam jawaban wanita itu.

Teresa mengangguk sekali lagi, lalu mundur perlahan sebelum berbalik dan pergi.

Sepeninggalnya, Lorenzo tetap diam di tempatnya. Pandangan matanya bergeser ke arah lorong panjang—arah kamar yang kini ditempati Aria.

Tidak ada perubahan di wajahnya.

Namun rahangnya mengeras sesaat, sebelum akhirnya ia memalingkan wajah dan melangkah pergi, meninggalkan rumah itu dengan langkah tenang namun pasti.

Selang beberapa jam berlalu. Di dalam mansion kedua. Aria tidak benar-benar sendirian.

Para penjaga berdiri di titik-titik tertentu, sementara beberapa pelayan lalu-lalang dengan jarak yang teratur. Semua bergerak tanpa suara, namun kehadiran mereka jelas terasa.

Ia dijaga.

Aria berdiri di dekat jendela, satu tangannya bertumpu di perutnya. Rasa tidak nyaman kembali datang—bukan sakit yang tajam, tapi cukup untuk membuatnya gelisah.

“Apa aku harus makan sesuatu… Kau sebenarnya ingin apa?” gumamnya pelan.

Hingga akhirnya dia pasrah dan hendak keluar menuju dapur. Namun saat pintu dibuka, dia terkejut.

Seorang wanita paruh baya berdiri rapi di sana, membawa tas medis. “Saya hampir mengetuk,” ujarnya sopan. “Apakah Anda Nyonya Aria?”

Aria mengangguk pelan, masih bingung. “Ya… ada apa?”

“Saya seorang dokter, Tuan Lorenzo meminta saya datang untuk memeriksa istrinya.” jelasnya

Aria terdiam sesaat. Seolah kalimat itu membutuhkan waktu untuk ia pahami. Lorenzo benar-benar memperhatikannya.

“…Dia yang menyuruh?” ulangnya pelan.

“Benar.”

Ada sesuatu yang aneh merambat di dalam dadanya. Bukan hangat sepenuhnya… tapi juga bukan dingin.

Tanpa banyak protes, ia memberi jalan.

“Masuklah.”

Dokter itu tersenyum kecil, lalu masuk dengan langkah tenang.

“Silakan duduk,” ujarnya, mulai membuka tasnya. “Saya hanya perlu memeriksa kondisi Anda dan mendengar keluhan yang Anda rasakan.”

Aria duduk di tepi ranjang, tangannya bertaut di pangkuan.

Awalnya ia ragu. Namun akhirnya— “Aku… sering merasa tidak nyaman di bagian perut,” katanya pelan. “Bukan sakit… tapi seperti ditekan dari dalam.”

Dokter itu mengangguk, mencatat sesuatu.

“Itu cukup normal untuk kondisi Anda. Namun kita tetap harus memastikan semuanya baik-baik saja.”

Pemeriksaan berlangsung dengan tenang. Dan untuk pertama kalinya sejak ia berada di rumah ini— Aria merasa… diperhatikan. Entah kenapa Lorenzo sangat sulit ditebak.

.

.

.

Di mansion utama.

Monica duduk anggun di kursi rotan, secangkir teh hangat berada di tangannya. Majalah terbuka di pangkuannya, namun matanya tidak benar-benar membaca.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Vitorio. Pria itu datang tanpa tergesa, lalu duduk santai di seberangnya dengan kemeja putih dan jas abu-abu seraya membuka topi bundarnya dan ia letakkan di atas meja.

“Masih menikmati pagi yang damai?” tanyanya ringan.

Monica menyesap tehnya perlahan. “Selama tidak ada yang mengganggu, ya.”

Vitorio tersenyum tipis. “Sayangnya, di keluarga ini… kedamaian tidak pernah bertahan lama. Karena kau masih di sini.”

Monica tidak menjawab, hanya meletakkan cangkirnya dengan pelan. “Kau juga.” balasnya menohok.

Langkah lain terdengar. Kali ini lebih ringan, dan seorang wanita cantik berambut sebahu nan lurus datang menghampiri Vitorio.

“Ayah.”

Suara itu membuat Vitorio langsung menoleh. Wajahnya melembut. “Adriana.”

Wanita itu mendekat, lalu mencium kedua pipi ayahnya dengan ringan. “Aku baru saja tiba.” kata Vitorio.

“Seperti biasa,” gumam Monica, nadanya datar. “Datang dan pergi tanpa jejak.”

Adriana hanya melirik sekilas, tidak tertarik membalas.

“Kau mau ke mana?” tanya Monica akhirnya.

“Aku akan menemui Aria.” Jawaban Adriana membuat Monica terdiam sesaat. Terlihat jelas kalau dia tidak suka mendengarnya.

“Untuk apa?” tanyanya dingin.

“Sekadar berkunjung, Bibi.”

Tanpa menunggu tanggapan, Adriana berbalik dan pergi. Dia tak ingin berdebat dengan wanita itu.

Begitu sosok putrinya menghilang— Vitorio menyeringai kecil. “Wanita itu sedang mengandung anak Matteo, Monica. Bersikap lembut lah, karena mungkin suatu hari nanti dia bisa mewarisi de Santos.” kata Vitorio dengan entengnya.

Monica mendengus pelan. “Bersyukurlah.” tatapan tajam dan tegas. “Andai anak itu milik Lorenzo…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin, “Mungkin aku sendiri yang akan membunuhnya.”

Vitorio hanya tersenyum tipis, seolah itu bukan hal yang mengejutkan mendengar itu dari Monica. Seolah-olah mereka berdua sudah mengetahui tabiat masing-masing.

Sementara itu. Di dalam mobil hitam yang melaju tenang, Lorenzo duduk di kursi belakang, satu tangannya bertumpu di sandaran, sambil merokok santai sebelum menghadapi masalah para bajingan.

Di sampingnya, Fabio menyetir dengan fokus.

“Cari seseorang untuk mengelola toko roti milik Aria.” pinta Lorenzo tiba-tiba.

Fabio sedikit mengernyit. “Anda serius?”

“Pastikan orang itu bisa dipercaya.”

“Saya mengerti.”

Hening sejenak.

“Bagaimana soal Kasino kemarin malam?” lanjut Lorenzo. “Aku ingin melihat sendiri kondisi di sana setelah kekacauan semalam.”

Fabio mengangguk. “Para pelaku sudah diamankan.”

“Bagus,” gumam Lorenzo. “Pastikan mereka tidak berbicara.”

“Tapi mereka memiliki ketua geng, tuan.”

“Mereka hanya bocah ingusan, aku ingin melampiaskan amarahku. Mungkin membunuh mereka adalah satu-satunya.” ucap Loren begitu tenang dan dingin, seolah hatinya benar-benar mati.

Mobil melaju lebih cepat, menyusuri jalanan yang tak begitu ramai.

Sementara di kamar Aria. Pemeriksaan baru saja selesai dan kini Aria menemaninya sampai di depan pintu keluar. Namun pandangannya tertuju pada sosok Adriana yang baru tiba.

“Sudah diperiksa?” tanya Adriana bak wanita ramah.

“Ya.” Jawab singkat Aria yang ia pikir semua di mansion de Santos sama seperti Monica dan Lorenzo.

Wanita berkaos putih polos dengan jas merah serta celana senada itu, memberikan sekeranjang kecil berisi camilan. Tentu saja Aria menatap keranjang itu.

“Jangan cemas. Aku tidak meracuni mu, ini camilan tradisional untuk wanita hamil!” ucapnya yang pastinya diterima oleh Aria.

“Terima kasih.” kata Aria yang masih tersenyum tipis hampir tak terlihat.

Adriana mengamatinya hingga dia melupakan sesuatu. “Jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku. Namaku Adriana!” ucapnya tenang dan tersenyum.

“Aku tahu.” balas Aria juga tersenyum. “Kau mau masuk dan duduk?”

“Tidak hari ini, aku harus pergi ke butik, mungkin lain kali!” kata wanita itu yang hanya dibalas anggukan kecil.

Saat Adriana berbalik hendak pergi, ia kembali menoleh ke Aria. “Aku lupa mengatakan sesuatu.” kata Adriana yang membuat Aria berkerut alis heran.

“Jika bisa... Jagalah jarak dari bibi Monica. ” ucap Adriana yang malah membuat Aria terheran-heran.

“See ya!” pamitnya yang akhirnya benar-benar pergi dari hadapan Aria.

1
vnablu
ehhh lu tu yang benalu dasarr tidak tahu malu ...apa ya yang sedang direncanakan don vito 😌
Tiara Bella
monica bener² licik...
Tiara Bella
akhirnya ngobrol dr hati ke hati ini Aria sm Lorenzo... curhat soal ibu mereka berdua
Four.: iya juga 😁
total 1 replies
Kinara Widya
sebenarnya yg membunuh ibunya Loren... Emilio apa lorenzo,..atau jgn2 Monica...
Kinara Widya: lanjut kak...
total 2 replies
vnablu
sabarrr Lorenzo semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu 😌😌
Four.: ho, oh
total 1 replies
vnablu
udah bener kata Lorenzo di rumah aja duduk maniss😄
Four.: membosankan tau
total 1 replies
Tiara Bella
aku suka ceritanya bagus....Dar der dor....
Four.: tancuuuu 😘
total 1 replies
Tiara Bella
makanya Aria km gk ush keluar dr rmh ya itu diincer orang untuk dibunuh.....
Four.: enggak kok, GK sengaja
total 1 replies
Kinara Widya
habis tegang....eee lapar mereka.
Four.: biar GK tegang Mulu 😁
total 1 replies
Tiara Bella
vittorio ember bocor bngt ya.....
Four.: sangat berhati-hati harusnya
total 1 replies
vnablu
kamu salah tuan kan itu memang anak nya Lorenzo sebelum kalian semua punya rencana tersembunyi tapi Lorenzo sudah beberapa langkah di depan kalian semua 😌😌
Kinara Widya: selalu bikin penasaran ni kak four...❤️
total 4 replies
sleepyhead
Baru mendengar Namannya saja kalian sdh begitu khawatir, bagaimana jika dia ada dihadapan kalian 😁
Four.: auto 😱😱😱
total 1 replies
sleepyhead
Karena kau akan selalu aman jika pergi dengannya
sleepyhead: Teh celup lagi 😂
total 2 replies
sleepyhead
🤣🤣🤣🤣 kucing nakal
Four.: nakal banget 🤭
total 1 replies
sleepyhead
Terlalu lama dia dimanfaatkan oleh Papa nya dan Ibu gundiknya
Four.: ho,oh cuman menunggu 20 aja kurang 5 tahun lagi kok😁
total 1 replies
vnablu
semangat terus up nya thorr...aduh Lorenzo bilang aja kamu mau Deket" Aria 🤭🤭
Tiara Bella
Aria percaya deh sm suami km🤭
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
makin seru ceritanya...lanjut kak
Four.: wokehhhh
total 1 replies
sleepyhead
wakakakakkk...
Four.: wahhh bahaya nihh orang😌
total 5 replies
sleepyhead
Pintar, gass...
Four.: harus donggg uyyy 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!