Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Di Studio
Jauh di bawah tanah, di sebuah lorong pembuangan yang berbau busuk, Aris Wicaksana berjalan dengan tertatih. Bahunya terluka terkena serpihan beton, dan pakaiannya kini compang-camping. Ia duduk bersandar di dinding yang lembap, memegang pistolnya yang kini hanya menyisakan beberapa peluru.
Ia menatap ke arah cahaya samar di ujung terowongan. Seringai tajam kembali muncul di wajahnya yang kini nampak seperti tengkorak hidup.
"Kalian pikir ini kemenangan?" Aris berbisik pada kegelapan. Suaranya bergema dingin. "Kalian menyelamatkan mereka hari ini, tapi kalian tidak bisa menjaga mereka selamanya."
Dendam itu kini telah menjadi bahan bakar tunggal bagi jantungnya untuk terus berdetak. Aris tidak lagi peduli pada uang, bisnis, atau reputasi. Ia hanya ingin melihat dunia Devina dan Gavin terbakar habis.
"Belum selesai... ini belum usai," sumpahnya sebelum ia menghilang kembali ke dalam labirin kota, bersiap untuk serangan yang lebih mematikan dari sebelumnya.
****
Riuh rendah suara tepuk tangan penonton di studio Stasiun TV Nasional sore itu seolah menjadi simfoni penyambutan bagi sang ratu dapur yang telah lama menghilang. Lampu-lampu spotlight berkekuatan ribuan watt menyala serentak, menyinari panggung megah yang didominasi warna emas dan putih. Di tengah panggung itu, Devina Maharani berdiri dengan balutan baju koki putih bersih, rambutnya diikat rapi ke belakang, menampakkan wajah yang nampak lebih tirus namun tetap memancarkan pesona profesionalisme yang tak tergoyahkan.
"Selamat datang kembali, Chef Devina!" seru sang pembawa acara dengan penuh semangat.
Devina tersenyum tipis ke arah kamera utama. Di balik senyum itu, jantungnya berdegup kencang, bukan karena demam panggung, melainkan karena trauma yang masih membekas seperti luka bakar di jiwanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma pasta segar dan herba Italia yang sudah tersaji di meja depannya.
"Terima kasih. Hari ini, saya akan menyajikan Osso Buco dengan sentuhan bumbu rahasia," ucap Devina, suaranya terdengar stabil meskipun tangannya sedikit bergetar saat mengambil pisau pemotong.
Di kursi penonton barisan terdepan, Gavin duduk dengan setelan jas hitam yang elegan. Matanya tak lepas dari sosok Devina, bukan hanya untuk mengagumi kecantikannya, tetapi untuk memantau setiap pergerakan di sekeliling studio. Sepuluh personel keamanan berpakaian preman tersebar di antara penonton, siap beraksi dalam hitungan detik. Gavin tahu, kembalinya Devina ke layar kaca adalah umpan yang sangat manis bagi seorang predator yang sedang lapar.
****
Di balik kemegahan studio yang benderang, sebuah bayangan bergerak lincah di area teknis belakang gedung. Aris Wicaksana kini nampak seperti hantu; pakaiannya kusam, wajahnya yang dulu perlente kini ditumbuhi janggut kasar yang tak terawat. Namun, matanya berkilat dengan kegilaan yang murni.
Ia tidak lagi mengejar cinta; ia mengejar kehancuran.
Aris menyelinap masuk ke ruang genset raksasa yang menyokong seluruh kelistrikan stasiun televisi tersebut. Ia menatap deretan kabel besar dan tangki bahan bakar cadangan dengan seringai tajam. Baginya, melihat Devina tersenyum di layar kaca adalah sebuah penghinaan.
"Kamu ingin memasak, Devina? Mari kita buat apinya sedikit lebih besar," bisik Aris.
Ia mengeluarkan sebuah botol berisi cairan akseleran dan korek api gas. Dengan gerakan yang terencana, ia menyiramkan cairan itu ke panel listrik utama dan tumpukan kain berminyak di pojok ruangan. Begitu api kecil menyentuh cairan itu, si jago merah langsung melahap oksigen, merambat naik ke kabel-kabel plastik yang segera meleleh dan mengeluarkan asap hitam beracun.
****
Di dalam studio, Devina sedang menjelaskan teknik menumis sayuran aromatik. Tiba-tiba, lampu studio berkedip-kedip tidak beraturan. Suara denging keras keluar dari sound system, memekakkan telinga semua orang.
BZZZZZT! BLARR!
Sebuah ledakan kecil terdengar dari arah belakang gedung, diikuti dengan padamnya seluruh lampu studio secara total. Kegelapan pekat menyergap dalam sekejap.
"Semuanya tenang! Harap tetap di kursi masing-masing!" teriak sutradara melalui megafon bertenaga baterai, namun perintah itu sia-sia.
Bau sangit plastik terbakar mulai menyusup masuk lewat ventilasi udara. Alarm kebakaran mulai meraung-raung, kali ini bukan alarm palsu seperti di apartemen. Kepanikan pecah. Penonton mulai berhamburan, saling dorong untuk mencapai pintu keluar darurat.
"Devina! Ke sini!" Gavin melompat ke atas panggung dalam kegelapan, mengandalkan instingnya. Ia menarik tangan Devina tepat saat sebuah lampu gantung yang korsleting meledak dan menjatuhkan percikan api ke atas meja masak.
"Gavin! Orang tuaku!" jerit Devina, teringat Bu Ines dan Pak Pamuji yang ia tinggalkan di ruang tunggu VIP.
"Mereka sudah dievakuasi oleh timku, Dev! Kita harus keluar sekarang!" Gavin mendekap bahu Devina, melindunginya dari arus manusia yang berlarian kalap.
Asap mulai memenuhi studio, membuat mata perih dan napas sesak. Di tengah kekacauan itu, Devina sempat melihat sebuah siluet pria di ujung lorong keluar yang nampak tenang di tengah badai kepanikan. Pria itu menatapnya, lalu menghilang ke arah tangga darurat. Devina tahu itu Aris. Aris tidak ingin membunuhnya di sini; ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia bisa menjangkau Devina kapan saja, di mana saja.
****
Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, di bangsal RSUD Sumedang yang sunyi, Bu Imroh sedang bersandar di bantalnya. Kondisinya telah membaik secara ajaib; dokter menyebutnya sebagai keajaiban medis, namun Bu Imroh tahu ini adalah jawaban atas doa-doanya.
Tangannya yang dibalut gips masih setia memegang tasbih kayu pemberian mendiang suaminya. Meski tubuhnya terasa nyeri di setiap gerakan, jiwanya terasa sangat ringan.
"Pak Gavin belum datang, ya?" tanya Bu Imroh pada perawat yang sedang mengganti infusnya.
"Pak Gavin sudah dikabari, Bu. Beliau bilang akan segera ke sini setelah urusan di Jakarta selesai," jawab perawat itu lembut.
Bu Imroh mengangguk kecil. Ia tidak kecewa. Ia tahu pria muda itu sedang berjuang melindungi Devina. Bu Imroh kemudian memejamkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara, melantunkan zikir demi zikir.
"Ya Allah... Engkau yang menghidupkan dan mematikan. Hamba hanyalah saksi atas kebesaran-Mu. Berikanlah petunjuk-Mu untuk menghukum yang zalim..."
Di dalam kepalanya, bayangan wajah Salsa nampak tersenyum. Bu Imroh merasa waktunya untuk memberikan kesaksian terakhir di depan hukum sudah semakin dekat. Ia bukan lagi wanita tua yang lemah; ia adalah bukti nyata dari kejahatan Aris yang menolak untuk mati.
****
Di luar gedung televisi, pemadam kebakaran berjuang menjinakkan api di ruang genset. Devina berdiri di samping Gavin, menatap gedung itu dengan air mata yang mengalir di pipinya yang kotor oleh abu.
Segalanya hancur lagi. Kariernya yang baru saja ingin ia bangun kembali, kini ternoda oleh asap dan ketakutan.
Gavin memegang tangan Devina dengan sangat erat. Matanya menatap ke arah kerumunan orang, mencari sosok yang mungkin sedang menonton kehancuran ini dari kejauhan.
"Dia tidak akan berhenti, Gavin," bisik Devina dengan suara yang pecah.
"Aku juga tidak akan berhenti, Devina," jawab Gavin dengan nada yang sangat dingin dan penuh penekanan. "Dia sudah menyentuh bisnisku, keluargamu, dan sekarang ketenanganmu. Pertunjukan ini harus berakhir, dan aku yang akan menulis ending-nya."
Di sebuah gang gelap tak jauh dari sana, Aris membuang korek apinya ke genangan air. Ia menyeringai melihat asap hitam yang membumbung tinggi ke langit Jakarta. Baginya, api ini adalah undangan resmi untuk pesta terakhir yang akan ia gelar untuk Devina dan Gavin.