Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangkar Kewarasan & Luka yang Nyata
Adegan ini diselipkan setelah Dimas dan Sarah di tarik keluar dari lubang sinkhole, dan sebelum di mana Dimas melihat jejak asap hitam ke arah Jakarta.
Tenda Medis Darurat, Teras Kedua Gunung Padang.
Waktu: 17.20 WIB (Sesaat Setelah Dievakuasi).
Bau antiseptik cair dan alkohol medis terasa sangat tajam, menutupi sisa aroma kemenyan yang masih menempel di pakaian Dimas dan Sarah.
Di dalam tenda yang diterangi lampu neon darurat itu, suara hujan yang mulai mereda di luar terdengar seperti rintik taktis.
Seorang dokter militer muda sedang menjahit telapak tangan kiri Sarah dengan hati-hati. Sarah duduk tegak di atas ranjang lipat (velbed), wajahnya pucat karena kehilangan darah, tapi ia tidak meringis sedikit pun saat jarum jahit menembus kulitnya.
Di ranjang seberang, Dimas duduk membungkuk. Bahunya turun. Matanya menatap kosong ke arah lantai tanah yang berlumpur. Lehernya dipenuhi memar ungu kehitaman berbentuk cetakan tangan berukuran raksasa—bekas cekikan sulur bayangan tadi.
“Sudah selesai, Dokter. Tolong tinggalkan kami berdua sebentar,” kata Sarah dengan nada datar namun penuh otoritas.
Dokter militer itu mengangguk, membereskan peralatannya, dan bergegas keluar tenda.
Kini hanya tinggal mereka berdua. Keheningan terasa sangat berat.
Sarah turun dari ranjangnya. Ia berjalan pelan menghampiri suaminya. Ia melihat tangan Dimas masih gemetar hebat. Bukan gemetar karena kedinginan atau kelelahan otot, melainkan tremor akibat guncangan saraf simpatik (Trauma Response).
Sarah berlutut di depan Dimas. Ia menggunakan tangan kanannya yang tidak terluka untuk mengangkat dagu suaminya perlahan.
“Dim,” panggil Sarah sangat lembut. “Liat aku.”
Dimas mengangkat wajahnya. Matanya merah, dipenuhi air mata yang tertahan.
“Dia… dia pakai wajah Pitaloka, Sar,” bisik Dimas, suaranya bergetar dan parau akibat memar di pita suaranya. “Waktu makhluk itu masuk ke kepalaku… aku nggak lagi di dalam gua. Aku balik ke Lapangan Bubat. Aku nyium bau darahnya lagi. Aku liat dia nusuk dadanya sendiri…”
Dimas mencengkeram lututnya sendiri kuat-kuat, berusaha mengusir memori itu.
“Dan dia bilang… itu semua salahku. Aku diam saja saat sejarah ngebantai mereka. Makhluk itu ngebongkar semua rasa bersalahku yang udah susah payah aku kubur selama dua tahun ini.”
Sarah merasakan dadanya sesak melihat suaminya yang biasanya begitu rasional dan kuat kini hancur berkeping-keping. Makhluk bayangan itu tidak menyerang fisik Dimas; ia langsung menghujam inti jiwanya.
“Dimas Pradipa, dengar aku,” kata Sarah tegas. Ia meraih tangan Dimas yang gemetar, lalu menempelkannya ke telapak tangan kirinya sendiri yang baru saja dijahit dan dibalut perban putih.
“Tekan tanganku,” perintah Sarah.
Dimas ragu-ragu. “Sar, tanganmu baru saja dijahit—“
“Tekan.”
Dimas menekan perban itu pelan. Sarah meringis sedikit saat rasa perih menyerang sarafnya.
“Kamu kerasa denyut nadiku?” Tanya Sarah. “Kamu rasain panas darahku di balik perban ini?”
Dimas mengangguk pelan, air matanya akhirnya menetes.
“Itu nyata, Dim,” ucap Sarah, menatap mata suaminya tajam. “Luka ditanganku ini nyata. Bau antiseptik ini nyata. Hujan diluar itu nyata. Aku… nyata.”
Sarah mengusap air mata di pipi Dimas dengan ibu jarinya.
“Pitaloka sudah tenang berabad-abad yang lalu. Yang kamu lihat di bawah sana bukan hantu masa lalu, tapi parasit yang pakai kekuatanmu sebagai topeng. Dia cuma lintah yang makan keputusasaan. Jangan kasih dia makan.”
Dimas menarik napas panjang dan patah-patah. Ia menyandarkan dahinya ke bahu Sarah, memeluk pinggang istrinya erat-erat. Ia menangis diam-diam dalam pelukan itu, melepaskan sisa racun psikologis yang ditinggalkan Sang Pemakan.
Sarah membelai rambut belakang Dimas dengan penuh kasih sayang. Ia tahu, suaminya butuh momen ini untuk kembali menjadi utuh.
“Makasih, Sar…” bisik Dimas di telinga Sarah. “Makasih udah narik aku balik. Lagi.”
Sarah tersenyum tipis, mencium puncak kepala Dimas. “Itu gunanya punya istri dokter sekaligus sejarawan. Aku tahu cara jahit luka fisik, dan aku tahu masa lalu nggak bisa diubah. Kita cuma punya hari ini.”
Setelah beberapa menit, gemetar di tubuh Dimas perlahan berhenti. Tarikan napasnya kembali normal dan teratur.
Dimas menegakkan tubuhnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus sisa air mata dan kelemahannya. Sorot matanya yang kosong kini telah berganti kembali menjadi tajam dan penuh perhitungan. Profesor Dimas Pradipa telah kembali.
Ia menatap perban di tangan Sarah.
“Lukamu dalam. Harus lapor ke BPCBAN minta ganti rugi cacat kerja,” Dimas mencoba bercanda, meski suaranya masih serak.
“Potong gaji bulan ini buat ganti SIG Sauer-ku yang aku buang di bawah sana,” balas Sarah sambil tersenyum miring.
Dimas bangkit berdiri. Ia berjalan ke arah pintu tenda dan menyibakkan kain kanvasnya, menatap ke arah luar.
Hujan sudah reda Dr. Hendra dan Kapten Bayu sedang berdebat di kejauhan.
Namun, mata Dimas tertuju pada langit di arah Utara (membawa kita kembali ke akhir bab sebelumnya).
“Sar,” panggil Dimas, nadanya kembali serius. “Makhluk tadi… kalau dia butuh memakan penderitaan dan penyesalan sedalam milikku cuma buat bicara…”
“Iya?” Sarah ikut berdiri, berdiri di samping Dimas.
“Gimana jadinya kalau parasit sekecil apapun dari makhluk itu masuk ke Jakarta? Kota dengan tingkat stres tertinggi. Jutaan dengan depresi, utang, patah hati, dan keputusasaan…”
Dimas melihat seutas asap hitam tipis melesat di balik awan mendung, menuju Ibu kota.
“Itu bukan prasmanan buat dia, Sar. Itu all-you-can-eat.”