Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Karyawan dan Warung Soto
Pagi yang cerah menyapa kota dengan kilauan cahaya yang memantul di permukaan atap rumah. Ayam jago milik tetangga berkali-kali berkokok, seolah-olah ingin memaksa semua orang bangun lebih awal. Namun, bagi Tento dan Perikus, tidur nyenyak masih terasa seperti hadiah mewah. Matahari belum sepenuhnya naik ketika mereka duduk di beranda rumah kontrakan, masing-masing memegang secangkir kopi hitam yang pekat. Udara pagi yang sejuk membawa bau tanah basah dan aroma lontong sayur dari warung ujung gang. Mereka membiarkan aroma itu meliputi indera, sejenak melupakan beban misi yang tak biasa.
Hingga kemudian, ponsel tua di atas meja bergetar. Layar menyala, menampilkan pesan singkat dari nomor tak dikenal: “Kami punya sesuatu untuk kalian. Mantan karyawan pabrik siap bicara. Temui kami di warung soto ayam Pakde Mat Selam jam sepuluh pagi. Ingat, jangan sendirian.” Pesan itu singkat, tidak ada tanda tangan, hanya jam yang tertera. Mereka saling memandang dan menghela napas serempak.
“Warung soto lagi? Ini kayak konspirasi nasi kuning ya,” komentar Perikus sambil menggaruk kepala. Ia menghisap rokok, menghembuskan asap ke udara, membentuk lingkaran kecil yang perlahan pecah oleh angin. “Tapi ya, setidaknya kita bakal dapat soto enak.”
Tento tersenyum tipis, menyesap kopi sambil memikirkan langkah-langkah mereka. “Warung Pakde Mat Selam itu selalu ramai. Tempat yang bagus untuk bertemu tanpa dicurigai. Tapi jangan tertipu, bisa saja ada mata-mata di sana. Kita harus waspada.”
Mereka kembali masuk ke dalam, mengemasi tas dengan peralatan yang mereka pikir akan berguna: buku catatan, kamera mini, hand sanitizer (bukan hanya untuk kebersihan, tetapi juga sebagai alat improvisasi jika terjadi sesuatu), dan dua buah topi untuk menyamarkan identitas mereka. Mereka mengenakan hoodie berbeda dari biasanya, dan membawa kacamata hitam yang agak kebesaran, berharap itu bisa membuat wajah mereka sedikit kurang dikenali.
Perjalanan menuju warung soto membuat mereka melewati jalanan yang mulai ramai. Pedagang buah menawarkan mangga matang dari gerobak, anak-anak sekolah berlarian dengan ransel besar, ojek online hilir mudik mencari alamat. Bau gorengan dari seorang nenek-nenek yang memanaskan minyak di pinggir jalan menggoda. Perikus sempat berhenti sejenak untuk membeli dua weci atau bala-bala istilah orang Jakarta, mengunyahnya sambil berjalan, renyah dan berminyak. “Kamu mau?” tawarnya kepada Tento.
“Nanti aja, mungkin di warung soto,” jawab Tento, melihat jam di pergelangan tangan. “Kita harus sampai sebelum jam sepuluh, biar bisa lihat siapa yang datang duluan.”
Warung soto Pakde Mat Selam adalah bangunan sederhana dengan dinding bambu dan atap seng. Dipajang beberapa foto lama di dinding; ada yang menunjukkan Pakde Selam muda berdiri di depan warung dengan senyum lebar, ada juga foto lawas Presiden pertama Indonesia. Suara nasi yang direbus mendidih berpadu dengan suara sendok dan mangkuk yang saling beradu. Aroma kuah soto yang kaya rempah memenuhi ruangan sempit. Ada panci besar di atas tungku kayu, penuh dengan kuah kuning dengan gelembung kecil yang meletus pelan-pelan, sedangkan di meja, potongan-potongan ayam, tauge, seledri, jeruk nipis, dan sambal merah disusun rapi.
Pakde Mat Selam sendiri berdiri di balik meja, seorang pria separuh baya dengan kumis tebal dan senyum ramah. “Selamat pagi, Nak. Soto ayam dua?” tanyanya dengan logat Jawa yang kental, sambil mengikatkan handuk kecil di leher. Tento mengangguk, sementara Perikus membalas dengan tertawa kecil, “Iya, Pakde. Satu pake koya banyak, ya.”
Mereka memilih meja di sudut, menghadap pintu, agar bisa memantau setiap orang yang datang. Suara orang-orang mengobrol bercampur suara sendok menyentuh mangkuk. Tak lama kemudian, mangkuk soto ayam panas datang: kuah kuning kental, aroma serai dan daun jeruk, potongan ayam empuk, taburan bawang goreng yang wangi. Mereka mencicipi secara perlahan, membiarkan rasa gurih dan hangat menyebar di mulut, mencairkan sedikit ketegangan.
Sepuluh menit berlalu. Orang-orang silih berganti datang. Tiba-tiba, seorang laki-laki usia tiga puluh tahunan masuk, mengenakan jaket jeans pudar, topi baseball merah, dan kacamata hitam. Wajahnya kelihatan kelelahan. Ia melirik kiri-kanan, kemudian berjalan ke arah meja mereka. Ia duduk di kursi sebelah, memesan setengah porsi. “Nama saya Agus,” katanya pelan, namun cukup jelas. “Aku mantan karyawan di pabrik itu. Kalian yang menyusup ke sana, kan?”
Tento dan Perikus menegang, lalu perlahan mengangguk. “Bagaimana kamu tahu?” tanya Tento, memastikan.
Agus menunduk, suaranya lebih pelan. “Aku ada teman di laboratorium. Dia melihat kalian dari kamera CCTV yang rusak setengah. Tapi dia tidak melapor. Dia khawatir tentang percobaan yang terjadi. Dia tahu kalian mungkin sedang mencari bantuan. Dia menghubungiku karena aku sudah keluar dari sana tiga bulan lalu. Aku baru berani bicara sekarang karena istriku sakit dan butuh uang. Tapi aku juga ingin membalas mereka. Mereka memaksa teman-temanku jadi kelinci percobaan. Aku menyelamatkan diri dengan pura-pura sakit.”
“Kenapa kamu tidak melapor ke polisi? Atau media?” tanya Perikus, mencondongkan tubuh.
Agus tersenyum masam. “Polisi mana yang mau peduli? Banyak dari mereka makan uang perusahaan. Media? Mereka tutup mulut. Ada jurnalis yang pernah menulis tentang pabrik, lalu mendadak hilang. Aku tidak mau nasib istriku sama. Tapi sekarang, aku tidak tahan lagi. Aku tahu mereka memproduksi obat atau virus yang disuntikkan ke pekerja. Mereka bilang untuk meningkatkan stamina dan produktivitas. Tapi banyak yang pingsan, mengamuk, ada yang hilang. Aku takut mereka akan menjualnya ke militer atau orang kaya untuk menekan orang miskin. Aku punya beberapa dokumen rahasia yang kubawa saat keluar. Tapi aku minta jaminan, keluargaku aman.”
Tento menatap Agus dalam-dalam. “Kami akan membantu sebaik mungkin. Kami bekerja sama dengan beberapa pihak yang ingin mengungkap ini. Tapi kami juga tidak punya kekuatan besar. Tapi kami punya rekaman, cairan sampel, dan guru kami sedang menganalisis. Kami akan mencoba menghubungi media independen. Kami butuh ceritamu sebagai bukti. Dan kami bisa menyembunyikan keluargamu di tempat aman.”
Agus menghela napas lega. “Baik. Aku akan ceritakan. Tapi kita tidak bisa bicara di sini terlalu lama. Banyak mata. Kalian bisa datang ke rumahku malam ini. Aku tingal di desa kecil di luar kota, Desa Kaliwungu. Di sana sepi. Aku sudah menunggu di rumah sakit saat istriku di rawat, sekarang dia bisa pulang. Kalian bisa datang jam delapan malam. Jalanan sepi, tidak banyak patroli. Aku akan siapkan semua dokumen. Ada USB yang berisi data percobaan.”
Mereka berjanji, dan Agus bangkit pergi. Mangkuk sotonya hanya setengah terisi, sepertinya lidahnya tidak bisa menikmati makanan sementara hati dan kepalanya dipenuhi kekhawatiran. Tento menatap punggungnya, kemudian berkata pada Perikus, “Kita harus ke Desa Kaliwungu malam ini. Tapi sebelum itu, kita harus memberi tahu Profesor Dimas. Kita juga harus menyiapkan tempat aman untuk keluarganya. Mungkin kita bisa menghubungi kenalan kita yang punya rumah di desa terpencil.”
“Siapa?” tanya Perikus sambil memasukkan sendok ke mulut, mengunyah campuran sambal dan nasi.
“Pak Mahmud, pensiunan guru di desa. Dia suka membantu orang yang butuh tempat tinggal. Rumahnya ada di luar kota. Aku pernah bantu dia memperbaiki atap rumahnya. Dia hutang budi. Aku bisa minta bantuannya,” jelas Tento. Ia segera menulis pesan untuk Profesor Dimas, memberi tahu tentang Agus. Kemudian, ia menelepon Pak Mahmud: “Pak, ini Tento. Maaf mengganggu. Saya ada teman yang butuh tempat aman. Ada masalah besar. Bisa nggak mereka tinggal sementara di rumah bapak?”
Pak Mahmud, dengan suara serak penuh kebaikan, menjawab, “Datang saja, Nak. Rumah saya selalu terbuka untuk siapa pun yang butuh. Saya tidak tanya-tanya, tapi saya tahu kamu bukan orang jahat. Datang malam ini kalau bisa. Saya siapkan kamar.”
Setelah membayar soto, mereka pergi dari warung. Langkah mereka agak lebih ringan, seakan-akan sepotong puzzle besar baru saja ditemukan. Namun, di belakang mereka, sepasang mata memperhatikan. Seorang pria berjas hitam yang duduk di meja dekat pintu mencatat sesuatu di ponselnya. Ia berusaha tidak menarik perhatian. Saat Tento dan Perikus keluar, pria itu menekan tombol, mengirim pesan singkat. Sesaat kemudian, rokok di tangannya padam, seperti tanda bahwa sesuatu akan mulai.
Mereka kembali ke rumah kontrakan, mengambil botol ungu dan kamera, lalu menuju rumah Profesor Dimas untuk memberikan kabar baru. Rumah itu masih seperti kemarin; bau kopi, tumpukan buku, fosil kecil di sudut. Profesor membuka pintu, kening berkerut. “Aku baru saja mengurut sebagian kecil gen dari cairan itu,” katanya sebagai pembukaan. “Ini bukan virus biasa. Ini memiliki segmen yang mirip virus rabies, tapi dicampur dengan segmen manusia. Jika disuntikkan, bisa membuat otak memproduksi dopamin berlebih, menekan rasa takut, tetapi juga mengundang halusinasi. Ini mematikan. Ini mungkin yang membuat pekerja mengamuk.”
Tento mengambil napas dalam. “Kita punya mantan karyawan yang mau bicara. Namanya Agus. Dia punya dokumen. Dia minta kami datang malam ini ke rumahnya di Desa Kaliwungu. Dia takut keluarganya diancam. Kita harus menjemput mereka dan memindahkan keluarganya ke tempat aman. Pak Dimas, apakah Anda bisa bergabung dengan kita? Atau ada saran?”
Profesor mengusap dagu, berpikir. “Aku harus terus menganalisis gen ini. Tapi aku bisa memanggil teman jurnalisku, mas Jati. Dia ada di Yogyakarta, tapi dia bisa datang besok malam. Kalian sebaiknya pergi. Hati-hati di jalan. Aku akan menyiapkan kode komunikasi dan memberi tahu kalian jika ada kemajuan. Dan ingat, jangan pakai ponsel. Gunakan sinyal yang kita sepakati di warung soto. Sebelum pergi, kalian bisa ambil beberapa peralatan perlindungan dari lemari belakang. Ada masker filter, sarung tangan, dan alat tes kimia sederhana.”
Mereka mengambil beberapa alat tersebut; masker filter berwarna abu-abu, sarung tangan plastik, dan strip kertas indikator. Lalu mereka berpamitan. Jam menunjukkan pukul tiga sore. Mereka mempunyai beberapa jam sebelum matahari terbenam. Mereka pulang, beristirahat sebentar, mengemasi tas dengan peralatan, memasukkan pakaian ganti ke tas, dan memeriksa motor. Perikus mengganti oli motor, memastikan mesin tidak mogok di tengah jalan. Mereka memutuskan untuk berangkat ke Desa Kaliwungu pukul enam sore, agar bisa sampai setelah matahari terbenam. Jalan menuju desa itu melewati hamparan sawah, dan matahari terbenam akan menjadi lampu alami mereka sebelum gelap.
Saat matahari mulai turun, mereka berangkat. Jalan keluar kota cukup sepi, hanya sesekali mereka berpapasan dengan truk pengangkut sayur atau sepeda motor lain. Langit berubah warna dari biru cerah menjadi jingga. Angin membawa aroma khas sawah: bau lumpur, bau padi yang baru saja panen, bau asap dari pembakaran jerami. Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan. Di kejauhan, gunung terlihat seperti bayangan besar menunggu malam.
Mereka melewati perumahan sederhana, pepohonan yang menutupi jalan, dan jembatan kecil di atas sungai kecil yang airnya berkilauan. Perikus memacu motornya dengan kecepatan stabil. Mereka menjaga kewaspadaan; setiap lampu kendaraan yang datang dari arah berlawanan selalu membuat mereka menajamkan penglihatan. Apakah itu teman atau musuh?
Setelah satu jam perjalanan, mereka melihat plang kayu bertuliskan “Desa Kaliwungu” di tepi jalan. Mereka mengikuti petunjuk jalan, melewati rumah-rumah penduduk yang berjajar rapi, dengan halaman yang ditumbuhi bunga-bunga kertas berwarna cerah. Di ujung desa, ada rumah sederhana dengan pagar bambu. Agus sudah menunggu di depan, mengenakan kaos putih sederhana, wajahnya terlihat lega melihat mereka.
“Terima kasih sudah datang,” katanya sambil membuka pagar. Di dalam, istrinya duduk di kursi rotan, wajahnya pucat tetapi tersenyum sopan. Di pangkuannya, seorang bayi tertidur pulas. “Ini istriku, Sari. Dia masih lemah. Terima kasih sudah mau bantu.”
Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana. Meja kayu tua di tengah ruangan bertumpuk dengan beberapa dokumen, amplop coklat, dan sebuah USB kecil. Lampu minyak di sudut ruangan memancarkan cahaya redup. Suara jangkrik dan katak dari luar masuk melalui jendela yang terbuka. Agus mulai bercerita. “Aku bekerja di bagian logistik. Tugas kami membawa bahan-bahan ke laboratorium, memeriksa kelengkapan, dan sesekali mengantar sampel ke luar kota. Suatu hari, aku menemukan daftar pengiriman yang janggal. Ada kolom ‘B16’ yang baru. Jumlahnya besar. Aku tanya ke supervisor, dia marah dan bilang itu bukan urusanku. Aku curiga. Aku mulai mengumpulkan salinan dokumen. Ketika aku melihat ada karyawan yang pingsan dan dibawa ke ruang bawah tanah, aku mengikutinya diam-diam. Aku melihat mesin-mesin dan peti es. Aku lihat teman-temanku, termasuk adik iparku, terbaring di sana. Aku panik. Aku hampir tertangkap, tapi aku pura-pura sakit dan bilang ingin pulang. Aku minta cuti, dan tidak pernah kembali. Mereka membiarkanku pergi karena aku tidak dianggap ancaman. Sejak itu, aku sembunyi. Aku tahu kalau aku bicara, aku bisa hilang.”
Agus mengambil salah satu dokumen dari meja. “Ini laporan produksi. Lihat kolom ini. ‘Project B16, Volume, Destinasi: Luar Negeri’. Ini dikirim ke sebuah alamat di Singapura. Ada label perusahaan berbahasa asing. Dan ini,” ia menunjuk lembaran lain. “Ini daftar nama karyawan yang mengikuti program ‘Kesehatan Karyawan’. Mereka semua mendapatkan suntikan cairan ungu. Banyak dari mereka hilang, termasuk Karin teman Mas Tento. Aku tidak bisa menghubungi mereka karena nomor mereka sudah tidak aktif. Aku tidak tahu apakah mereka masih hidup.”
Tento menelan ludah. Tangannya gemetar saat memegang dokumen. Nama-nama itu seolah-olah memanggilnya, meminta pertolongan. Ia merasakan beratnya tanggung jawab. “Terima kasih sudah menyimpan ini. Kita akan menyusun strategi. Kita harus menyimpan USB ini di tempat aman, memberi salinan ke profesor, dan memindahkan kalian ke rumah Pak Mahmud malam ini. Kalian aman di sana. Desa ini terlalu dekat dengan pabrik. Mereka mungkin tahu kamu tinggal di sini.”
Mereka memutuskan untuk bergerak cepat. Sari dibantu berdiri, anaknya dibungkus kain. Mereka keluar melalui pintu belakang, melewati kebun kecil, menyeberangi sawah yang menguning. Arah mereka menuju rumah Pak Mahmud yang berjarak dua kilometer dari desa, melalui jalan setapak yang hanya dilalui pejalan kaki. Di tengah perjalanan, lampu motor mereka dimatikan agar tidak menarik perhatian. Mereka berjalan dalam gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Dingin mulai merayap ke kulit.
Dalam perjalanan, mereka mendengar suara kendaraan di jalan raya. Suara itu berhenti tak jauh dari rumah Agus. Cahaya lampu mobil menerangi area. Mereka mendengar pintu mobil dibanting, suara langkah kaki berat, dan suara seseorang berteriak. “Agus! Di mana kamu? Kami tahu kau di sini! Keluar sekarang!” Terasa seperti film detektif murahan, tetapi ini nyata. Jantung mereka berdegup cepat. Mereka harus lebih cepat. Mereka mempercepat langkah, melangkah di antara tanaman padi yang tingginya hingga pinggang. Mereka merasakan daun padi basah menyentuh kulit, aroma lumpur masuk ke hidung, dan bunyi keringat dalam pakaian basah. Mereka terus berjalan.
Akhirnya, mereka sampai di rumah Pak Mahmud. Rumah ini terletak di tepian hutan kecil, dikelilingi pohon mangga dan bambu. Lampu dalam rumah remang-remang. Pak Mahmud, seorang pria berumur dengan senyum lebar dan sorban di kepala, menyambut mereka. “Masuk, Nak. Kalian aman di sini. Kalian bisa istirahat di kamar depan. Aku tidak akan tanya apa-apa. Tapi aku tahu kalian sedang melakukan hal baik.”
Agus dan keluarganya masuk ke rumah, duduk di tikar pandan. Air mata mengalir di wajah Sari. “Terima kasih, Pak. Kami tidak tahu bagaimana membalasnya,” katanya pelan.
“Doakan saya panjang umur,” jawab Pak Mahmud sambil tertawa kecil. Ia memandang Tento dan Perikus. “Kalian anak muda yang berani. Jangan lupa sholat, jangan lupa makan. Dunia ini kejam, tapi jangan biarkan kalian jadi kejam.”
Setelah memastikan keluarga Agus aman, Tento dan Perikus pamit kembali ke kota. Mereka berjanji akan kembali jika ada kabar. Malam semakin gelap, kabut tipis mulai turun. Mereka kembali ke motornya, menyiapkan perjalanan pulang. Pikiran mereka penuh dengan rencana: harus mengirimkan USB ke profesor, mempersiapkan rumah aman lain jika diperlukan, dan mulai menghubungi jurnalis independen.
Di tengah jalan, mereka merasakan sesuatu mengikuti. Suara motor lain terdengar di kejauhan, lalu menghilang. Mereka menoleh beberapa kali, tetapi hanya kegelapan dan kabut. Mereka mempercepat laju motor. Dari kejauhan, lampu kota mulai terlihat, memberikan rasa lega. Namun, ketika mereka memasuki jalan utama, sebuah mobil berwarna hitam melaju dari sisi, mengikuti jarak dekat. Mobil itu tanpa plat nomor. “Bro, kita dibuntuti,” bisik Perikus.
Tento menoleh, lalu menekan bahu Perikus. “Jangan panik. Kita belok ke gang kecil di depan. Jalannya sempit, mobil itu tidak bisa masuk.” Mereka memacu motor dan belok ke gang yang sempit. Jalan itu berlumpur, sempit, dan gelap. Mereka melewati dinding bata, menabrak dahan pohon. Mobil hitam berhenti di ujung gang, tidak bisa melaju. Salah satu jendela mobil terbuka. Seseorang menodongkan lengan, memegang sesuatu. Tiba-tiba, sebuah peluru karet melesat, menghantam dinding bata di depan mereka, menimbulkan pecahan. Mereka merunduk, jantung berdetak kencang. “Sial! Mereka menembak!” teriak Perikus.
Mereka tidak menunggu. Mereka mendorong motor melanjutkan gang sempit, keluar di jalan lain yang lebih kecil. Mereka terus melaju, mencari rute ke rumah. Mobil hitam tidak mengejar mereka, mungkin karena terjebak. Namun kejadian itu menjadi peringatan. Mereka bukan hanya bermain-main dengan perusahaan farmasi, tetapi juga berhadapan dengan orang-orang yang siap melukai. Mereka terus memacu motor hingga akhirnya sampai di rumah kontrakan dengan selamat. Napas mereka masih berat, tangan mereka bergetar.
Di dalam rumah, mereka menyalakan lampu, menutup tirai, dan memeriksa dokumen serta USB yang diberikan Agus. Mereka menyimpan USB di kotak besi kecil bersama dengan catatan. “Kita hampir tertangkap,” kata Tento dengan suara pelan. “Tapi kita akan terus maju. Kita tidak boleh mundur sekarang.” Ia menatap ke luar jendela, ke gelap malam yang hening, berpikir tentang apa yang menunggu mereka besok.
Perikus menyalakan rokok, menarik napas panjang, lalu melepaskannya dengan suara. “Begitu rupanya,” katanya. Mereka berdua tertawa kecil, melepaskan ketegangan. Mereka tahu, babak ini belum selesai. Mereka masih harus menghubungi jurnalis, mempublikasikan bukti, dan menyelamatkan korban. Tapi untuk malam itu, mereka beristirahat dengan syukur bahwa mereka dan Agus selamat. Mereka tahu, besok petualangan mereka akan membawa mereka lebih dalam lagi ke seluk-beluk konspirasi.