Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara-Suara dari Langit
Malam itu, angin bertiup lebih kencang daripada biasanya. Ranting-ranting pohon kamboja di halaman rumah kontrakan menari-nari liar, daunnya mengeluarkan suara gesekan yang membuat suasana tambah mencekam. Langit Malang tertutup awan kelabu, hanya beberapa bintang yang berani menerobos. Di dalam rumah, lampu minyak kecil menyala, menggantikan listrik yang kadang-kadang padam. Ini bukan karena mati lampu massal, melainkan tindakan pencegahan. Mereka tidak ingin terlihat dari jalan.
Perikus duduk di depan meja kecil, memeriksa kamera suara yang diberikan oleh Mas Jati. Kamera itu seperti dikamuflase dalam bentuk jam dinding kecil berwarna putih. Ia memutar-mutar benda itu, menekan tombol, memerhatikan lampu kecil yang berkedip. “Gila, jam ini bisa merekam suara dan wajah sekaligus. Canggih. Teknologi jurnalis zaman sekarang ya,” gumamnya sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana tegang. Tangannya cekatan, tetapi getaran kecil tak bisa disembunyikan.
Tento berjalan bolak-balik, dari pintu ke jendela, memastikan keamanan. Ia menempelkan telinga ke jendela, mendengarkan; hanya terdengar suara motor jauh, lolongan anjing, dan gemericik hujan tipis yang mulai turun. Ada rasa was-was. Mereka masih memikirkan penutupan warung soto Pakde yang mendadak. Mereka belum tahu keberadaan Pakde. Mereka juga memikirkan Bu Siti dan orang lain yang perlu diwawancarai. Hari itu, mereka harus bergerak cepat.
“Besok kita harus menemui Bu Siti,” kata Tento akhirnya, memecah keheningan. “Aku sudah bicara dengan Pak Mahmud lewat pesan kode. Bu Siti tinggal di desa tetangga, Ngasem. Dia siap bicara. Tapi dia takut. Kita harus meyakinkan dia bahwa kita akan melindungi identitasnya.”
“Dan kita harus cari Pakde juga,” balas Perikus sambil mengatur jam. “Kamu ga enak hati kalau dia kenapa-kenapa. Dia baik sama kita. Kamu curiga ada orang yang cari dia.”
Teto mengangguk, menyetujui. Perasaan bersalah menyelip di hati. “Mungkin kita harus cari info dari tetangga atau dari warung kopi Pak Mulyono. Dia suka tahu gosip.”
Mereka sepakat untuk memulai pencarian besok pagi, bersama-sama. Tapi malam ini, mereka harus menyiapkan segala peralatan: kamera, catatan pertanyaan, dan masker untuk menjaga anonim. Mereka memutuskan untuk tidur lebih awal. Namun, tidur bukan perkara mudah. Pikiran mereka terbang ke banyak arah.
Tento berbaring di kasur tipisnya, menatap atap. Ia teringat Karin dan wajah-wajah di peti es. Matanya basah, rasa bersalah menghimpit dada. Dalam keheningan malam, ia mendengar suara hujan yang semakin deras, menimpa genteng seng seperti gemerincing koin. Ia memejamkan mata, namun bayangan-bayangan tidak pergi. Jantungnya berdetak cepat. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ia meraih ponsel. Pesan singkat dari Profesor Dimas muncul: “URGEN: Tadi sore salah satu pegawai pabrik ditemukan pingsan di pasar. Gejalanya mirip pasien di klinik. Berita ini mungkin akan keluar besok. Berhati-hati; mereka sedang panik.”
Teto membalas singkat: “Terima kasih, Prof. Kami akan waspada.” Ia meletakkan ponsel, menatap atap lagi. Tiba-tiba, suara keras dari luar mengejutkan: seperti suara benda berat jatuh di jalan. Ia bangun, berjalan perlahan ke jendela, mengintip. Dalam remang cahaya dari lampu jalan, ia melihat sesosok motor tergeletak di jalan, pengendaranya bangun dengan canggung. Motor itu terbalik, barang-barang berserakan. Seorang pria muda mengenakan jaket biru terhuyung, kemudian memeriksa motornya. Tidak tampak ada orang lain. Teto menghela napas, menutup kembali tirai. “Nggak ada apa-apa, hanya orang jatuh,” katanya setengah pada dirinya sendiri. Namun, refleks paranoia membuatnya mencatat nomor plat motor itu.
Pagi hari datang dengan warna abu-abu. Hujan semalam menyisakan genangan di jalan-jalan sempit. Udara lembap menempel di kulit. Burung-burung pipit berkicau seperti biasa, namun ada kesan lebih resah. Setelah sarapan sederhana, nasi goreng dingin dari semalam dan sisa bakpia dari Yogyakarta mereka memasang helm dan melaju ke warung kopi Pak Mulyono. Warung itu ramai, pengunjungnya sebagian besar tukang ojek, sopir angkot, dan orang-orang yang suka menghabiskan pagi dengan kopi hitam. Aroma kopi robusta dan gorengan tercium kuat.
Pak Mulyono melihat mereka datang, mengangkat tangan. “Eh, kalian! Sudah lama!” sapanya sambil tersenyum. “Kopi?” katanya tanpa basa-basi, membuatkan dua gelas kopi hitam. Mereka duduk di bangku kayu, memerhatikan sekeliling. Mereka menanti momen yang tepat.
“Pak, kemarin saya lewat warung Pakde Selam, kok tutup? Ada apa?” tanya Tento dengan nada santai, berusaha menyembunyikan kecemasan. Ia menyesap kopi, pahitnya menyentak lidah, membuat mata lebih segar.
Pak Mulyono mengerutkan kening. “Ah iya, Pakde. Semalam ada orang-orang datang, katanya dari dinas kesehatan. Mereka tanya-tanya soal bahan makanan, soal pemilik warung. Katanya ada isu makanan tidak sehat. Pakde panik. Katanya mau ke kampungnya di Blitar. Padahal warungnya paling sehat, soto enak. Tapi ya, gimana. Mungkin mereka cari alasan. Pakde itu orang baik. Aku kasihan.” Suara Pak Mulyono terdengar lebih pelan, seolah-olah khawatir di dengar. “Ada rumor, sih. Orang-orang itu sebenarnya bukan dari dinas. Mereka orang bayaran. Mereka cari seseorang yang sering duduk di warung itu... mungkin kalian.” Tatapannya menatap mereka dalam.
Tento dan Perikus saling pandang. Mereka menghela napas. “Jadi mereka sengaja menutup warung untuk memancing kita?” bisik Perikus.
“Kemungkinan,” jawab Pak Mulyono. “Hati-hati, Nak. Kalian bermain dengan api. Tapi aku bangga kalian mau membela orang kecil. Dunia butuh orang seperti kalian.” Ia mengangguk, kemudian melayani pembeli lain. Mereka meminum kopi dengan cepat, berterima kasih, dan pergi.
Mereka memutuskan untuk mencari Bu Siti segera. Desa Ngasem terletak beberapa kilometer dari kota, di pinggir sawah. Udara lebih segar di sana, bau padi dan bunga liar bercampur menjadi aroma yang menenangkan. Rumah Bu Siti berada di pinggir jalan desa, sebuah rumah sederhana beratap seng, dindingnya dari bambu dan kayu. Mereka memarkir motor di bawah pohon mangga, mengetuk pintu kayu.
Pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya dengan wajah letih, mata merah bengkak. Rambutnya diikat ke belakang dengan kain sederhana. Ia mengenakan daster dengan motif bunga. Namun, begitu melihat mereka, matanya berbinar. “Mas Tento? Mas Perikus?” tanyanya. “Saya Bu Siti. Mas Agus sudah menghubungi saya. Ayo masuk.” Suaranya bergetar, tetapi ada tekad dalam intonasinya.
Mereka masuk ke ruang tamu yang sederhana. Lantai rumah dari tanah yang diratakan, dilapisi tikar. Di dinding, ada foto keluarga kecil: Bu Siti, suaminya yang hilang, dan dua anaknya yang masih kecil. Di pojok ruangan, ada almari kayu dengan panci dan piring. Mereka duduk di tikar, menyalakan jam dinding-kamera. Perikus menempatkannya di rak buku, seolah-olah jam dinding biasa. Jam itu mulai merekam. Mereka harus memulai wawancara.
Tento berbicara dengan suara lembut. “Bu Siti, kami ingin mendengar cerita Ibu, jika Ibu tidak keberatan. Kami sedang mengumpulkan bukti untuk menghentikan kejahatan ini. Suami Ibu bekerja di pabrik, bukan? Kapan dia mulai bekerja, dan kapan dia hilang?”
Bu Siti menatap ke foto suaminya. Tangannya memegang sudut foto, menggenggamnya seolah-olah itu adalah suaminya yang nyata. “Suamiku, Pak Slamet, bekerja di pabrik makanan kaleng itu sejak tiga tahun lalu,” katanya pelan, suaranya sedikit bergetar. “Awalnya baik-baik saja. Gajinya kecil, tapi cukup untuk beli beras dan bayar sekolah anak-anak. Tapi enam bulan lalu, dia bilang perusahaan mengadakan program kesehatan untuk karyawan. Katanya mereka harus disuntik vaksin gratis untuk meningkatkan kekebalan. Kami senang, karena itu artinya perusahaan peduli. Tapi setelah disuntik, suamiku mulai sering pusing. Dia suka bicara sendiri di malam hari. Dia bilang ada suara yang mengajak masuk ke tempat gelap, suara orang mengatakan ‘selamat datang, kamu akan jadi hero’. Saya pikir dia stres karena kerja terlalu keras. Saya suruh dia cuti. Dia bilang tak bisa, takut dipecat.”
Air mata mulai jatuh dari mata Bu Siti. Ia mengusapnya dengan ujung kerudung. “Suatu hari, dia pulang dengan luka di lengan. Bekas jarum. Dia bilang itu suntikan kedua. Tak lama setelah itu, dia hilang. Dia tidak pulang. Saya cari ke pabrik, ke rumah sakit, ke kantor polisi. Mereka bilang dia kabur, mungkin punya simpanan. Saya tahu suami saya gak begitu. Polisi tidak peduli. Mereka malah menuduh suami saya hutang. Saya hampir gila. Dua anak saya tanya ‘Bapak ke mana?’ Saya bilang bapak kerja jauh. Tapi hati saya hancur. Saya hanya ingin dia pulang.”
Teto menggenggam tangan Bu Siti. Ia merasakan dingin dan kasar, tanda betapa keras hidup Bu Siti. “Bu, kami menemukan orang-orang yang hilang di pabrik itu. Mereka disuntik cairan. Kami sedang mencoba menyelamatkan mereka. Kisah Ibu sangat penting. Kami akan merekam suara Ibu, kami akan menutup identitas Ibu. Tapi kami membutuhkan izin Ibu,” katanya.
Bu Siti mengangguk. “Saya siap. Saya tidak takut. Kalau suamiku sudah tidak ada, setidaknya saya bisa menyelamatkan orang lain. Rekam saja. Tapi tolong, bantu saya cari suami saya. Saya ingin melihatnya, hidup atau mati.”
Perikus menyalakan perekam tambahan, memastikan suara jernih. Mereka mulai mewawancarai Bu Siti, bertanya detail: tanggal suntikan, gejala, siapa saja yang datang ke rumah, nama-nama dokter perusahaan. Mereka mencatat semuanya. Setelah selesai, mereka menonaktifkan jam-kamera. Mereka membantu Bu Siti membuat kode pesan jika butuh bantuan: “Kami sepakat, jika Ibu merasa terancam, kirim pesan dengan kata ‘kembang telon’ ke nomor ini. Kami akan menghubungi teman yang bisa menjemput Ibu ke rumah Pak Mahmud.”
Selesai wawancara, Bu Siti menghidangkan teh dan pisang goreng. Meskipun masakan sederhana, aroma pisang goreng panas dengan gula pasir membuat perut mereka lega. Mereka minum dalam keheningan, hanya suara sendok beradu dengan gelas. Mereka melihat anak Bu Siti bermain di halaman, tanpa sadar menjadi penonton kecil kisah besar. Mereka merasakan tanggung jawab semakin berat.
Setelah berpamitan, mereka meninggalkan desa Ngasem. Mereka memutar motor dan melaju ke rumah Pak Mahmud, memastikan keluarga Agus baik-baik saja. Rumah itu tenang, bau kayu bakar dari dapur menandakan mereka sedang memasak. Agus menyambut mereka di depan rumah. “Terima kasih kalian sudah menolong,” katanya. “Aku mulai bisa tidur lagi. Tapi aku takut mereka akan menemukan tempat ini.”
“Pak Mahmud punya jaringan di desa. Kalian aman sementara,” jawab Tento. “Kami baru mewawancarai Bu Siti. Besok kami akan menemui korban lain. Jika kalian butuh sesuatu, beri kode.”
Mereka berbicara sebentar, membahas rencana evakuasi jika situasi genting. Mereka berbagi makanan, tertawa sedikit untuk melepaskan stres. Kemudian, mereka pamit. Wajah-wajah di rumah itu… Agus, Sari, dan bayi mereka, mengisi pikiran mereka saat kembali ke kota.
Hari mulai sore, langit berubah warna menjadi keemasan. Mereka menuju rumah profesor. Namun, di pertigaan jalan menuju kampus, ada keramaian. Sebuah mobil ambulans terparkir, sirenenya mati tetapi lampu biru masih berkedip. Orang-orang bergerombol, berbisik-bisik. Mereka melihat seorang pria berjubah medis membawa tandu keluar dari pasar. Di atas tandu, ada seorang pria dengan badan kaku, mata terbuka lebar, mulut berbusa. Seorang perempuan menangis di sampingnya, menjerit memanggil nama. “Itu suami saya! Tolong! Dia tiba-tiba kejang!” katanya. Orang-orang mencoba menenangkannya. Polisi datang, membuat perimeter. Salah satu polisi menoleh ke arah kerumunan, tatapannya tajam. Tento dan Perikus melihat dari kejauhan, tidak ingin mendekat. Namun, mereka mendengar beberapa orang berbisik: “Ini ketiga kalinya minggu ini,” kata satu. “Katanya mereka yang disuntik di pabrik,” balas yang lain. “Jangan ngomong keras-keras, nanti kita ditandai.”
Pemandangan itu membuat perut mereka mual. Mereka berpikir tentang B16. Ini bukan lagi konspirasi. Ini nyata. Orang-orang mulai jatuh di depan mata. Mereka mempercepat langkah ke rumah profesor. Sesampainya di sana, mereka mengetuk pintu dengan cepat. Profesor membukanya, wajahnya cemas. “Kalian melihat berita baru?” tanyanya.
“Kami baru melewatinya,” jawab Tento. “Ada pria pingsan di pasar, kejang. Orang-orang bilang dia disuntik. Itu di depan banyak orang.”
Profesor Dimas menggeleng. “Ini akan keluar di berita. Tapi kemungkinan besar media arus utama akan bilang karena penyakit lain. Tapi di media sosial, mungkin ada yang membocorkan. Ini bisa jadi momentum. Mas Jati mungkin butuh ini untuk tulisan. Saya akan mengirim pesannya.”
Mereka duduk di ruang kerja professor. Ruangan itu penuh dengan kertas, beberapa diagram gen, potongan koran, dan buku. Di dinding, papan dengan diagram jalinan rumit terpasang, menunjukkan hubungan antara pejabat, perusahaan, dan pabrik. Profesor mulai menandai nama Bu Siti dan Agus, menunjukkan jalur hubungan. “Kita perlahan membangun peta,” katanya. “Saya juga menemukan sesuatu lain tadi malam. Gen B16 mempunyai segmen yang menghalangi produksi enzim tertentu di otak. Ini membuat otak tidak bisa mengekspresikan empati. Bayangkan, jika ini berhasil, orang akan melakukan kekerasan tanpa merasa bersalah. Ini sangat berbahaya.”
Perikus menghela napas. “Ini yang bikin merinding. Aku jadi ingat di pesantren dulu, ustadz cerita tentang manusia tanpa hati, robot yang hanya patuh. Ternyata beneran ada.”
Profesor menatap mereka. “Besok kalian harus menemui dua saksi lagi. Saya sudah menghubungi jurnalis di Surabaya yang punya kontak keluarga korban. Mereka setuju bertemu. Tapi kita harus bergerak cepat. Perusahaan mungkin semakin agresif. Dan satu lagi, malam ini sepertinya ada drone memantau rumah ini. Saya melihat bayangan tadi. Saya tidak bisa memastikan, tapi kalian harus berhati-hati saat keluar.”
Perikus bercanda, “Wah, kita diintai drone. Serasa film Hollywood. Besok kita beli jaring laba-laba buat tangkap drone.” Mereka tertawa, melepaskan ketegangan. Namun, kenyataan tetap mengintai.
Malam datang. Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah profesor demi keselamatan, tetapi tidak langsung tidur. Mereka duduk di teras belakang, minum teh panas, menatap langit malam yang berangsur cerah. Bintang terlihat lebih banyak karena hujan mereda. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil; tentang makanan favorit, tentang masa kecil, tentang kelucuan kucing liar di gang. Humor menjadi penyembuh. Perikus menirukan gaya ustadz yang dulu marah padanya, membuat mereka tertawa hingga air mata keluar. Tawa itu menenangkan.
Namun, saat mereka tertawa, dari kejauhan terdengar suara dengungan halus. Mereka mendongak, melihat titik kecil bergerak di langit, tidak jauh di atas atap rumah. Drone. Benda itu terbang rendah, ada lampu merah kecil berkedip. Ia berputar sebentar, kemudian terbang menghilang. Mereka saling pandang. “Itu bukan lebah,” kata Perikus.
Profesor menghela napas. “Mereka memantau kita. Kita harus siapkan penghalang sinyal. Saya punya jaring aluminium, bisa kita pasang besok. Untuk malam ini, tutup semua jendela. Jangan buka lampu terang,” katanya.
Mereka mengikuti instruksi. Rumah menjadi gelap. Mereka tidur dengan tubuh lelah namun pikiran terus berputar. Di luar, hujan rintik-rintik kembali turun. Suara hujan menjadi musik latar yang menidurkan mereka.
Keesokan paginya, babak baru menunggu. Mereka harus menghadapi saksi baru, mengamankan data, menghindari drone, menelusuri kabar Pakde, dan memperluas jaringan. Mereka belum tahu bahwa di balik itu semua, ada rencana besar perusahaan yang siap diluncurkan. Tapi untuk saat ini, mereka membuka mata, menarik napas, dan melanjutkan perjuangan. Karena dalam setiap hujan, ada benih harapan yang tumbuh.