Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKIT SERIBU AKAR
Bukit Seribu Akar tidak tampak seperti ancaman dari kejauhan.
Hanya deretan perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon tua dengan akar menjuntai panjang, mencengkeram tanah seperti jari-jari kurus yang tak mau melepaskan sesuatu yang telah lama dikubur.
Namun semakin dekat Liang Chen dan Han Rui melangkah, semakin terasa bahwa tempat itu menyimpan lebih dari sekadar bekas tambang.
Udara berubah.
Lebih lembap.
Lebih berat.
“Akar-akar itu menyembunyikan jalur,” kata Han Rui pelan sambil menunjuk ke lereng. “Kalau tidak tahu tanda-tandanya, orang akan tersesat berputar-putar.”
“Apa tandanya?” tanya Liang Chen.
Han Rui mendekat ke salah satu batang pohon besar. Ia menunjuk bekas goresan kecil di kulit kayu—hampir tak terlihat, seperti luka lama.
“Goresan tiga garis miring. Mereka menandai jalur untuk anggota mereka sendiri.”
Liang Chen mengangguk. Ia mulai memahami mengapa Lingkaran Tengah bisa bergerak tanpa banyak yang menyadari.
Mereka bukan sekadar kuat.
Mereka terorganisir.
Langkah mereka menyusuri jalur sempit di antara akar-akar yang menjulur seperti ular. Tanah licin. Beberapa kali Liang Chen merasakan kakinya hampir terpeleset, terutama karena luka di pahanya mulai terasa berat.
“Kau berdarah lagi,” ujar Han Rui tanpa menoleh.
“Tidak cukup untuk mati,” jawab Liang Chen singkat.
Mereka berhenti ketika suara denting logam samar terdengar dari atas.
Liang Chen mendongak.
Di sela-sela dahan, kilatan besi terlihat.
“Bukan jebakan pasif,” gumamnya. “Penjaga hidup.”
Han Rui mengangguk.
“Biasanya dua atau tiga di jalur luar.”
“Berarti kita sudah masuk wilayah mereka.”
Satu bayangan meluncur turun dari cabang pohon.
Ia mendarat ringan di depan mereka. Tubuhnya ramping, pedang tipis tergantung di tangan kanan. Tidak memakai topeng. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi.
“Kalian terlambat,” katanya pelan.
“Untuk apa?” tanya Liang Chen.
“Untuk kembali.”
Dua sosok lain muncul di belakang, menutup jalur mundur.
Formasi segitiga.
Rapi.
Tanpa aba-aba, penyerang di depan melesat.
Gerakannya berbeda dari musuh-musuh sebelumnya.
Lebih bersih.
Lebih hemat.
Bilah tipisnya menyasar langsung ke mata Liang Chen.
Liang Chen memiringkan kepala sepersekian detik, ujung pedang mengiris ujung alisnya. Darah hangat mengalir, mengaburkan pandangan kiri.
Ia membalas dengan tusukan rendah ke perut.
Lawan memutar pergelangan, menangkis dengan bagian pipih pedang. Bunyi logam berdenting tajam.
Han Rui sudah terlibat dengan dua lainnya.
Satu lawan menyerang cepat dengan dua belati pendek, menusuk beruntun tanpa jeda. Han Rui mundur setengah langkah, memancing serangan, lalu memotong salah satu belati hingga terlepas dari genggaman.
Belati kedua tetap datang.
Han Rui membiarkannya menggores sisi rusuknya, lalu membalas dengan tebasan horizontal.
Perut lawannya terbuka.
Darah menyembur deras.
Sementara itu, Liang Chen merasakan tekanan semakin kuat.
Lawan di depannya bukan sekadar penjaga biasa.
Ia membaca gerak.
Setiap kali Liang Chen menggeser bahu, pedang itu sudah menunggu.
Setiap kali ia mencoba memancing, lawan tidak terpancing.
“Kau bukan anggota lama,” ujar pria itu tiba-tiba di sela-sela benturan bilah. “Gerakanmu masih kasar.”
“Cukup untuk membunuh,” jawab Liang Chen.
Ia mengubah ritme.
Alih-alih bertarung mengikuti alur lawan, ia menghentikan serangan di tengah ayunan—membiarkan gerakannya tampak terputus.
Sepersekian detik kebingungan muncul di mata lawan.
Cukup.
Liang Chen menabrakkan tubuhnya, bukan pedangnya.
Bahunya menghantam dada lawan keras.
Udara keluar dari paru-paru pria itu.
Liang Chen tidak memberi ruang. Siku menghantam rahang. Lutut naik ke perut. Lalu pedang pendeknya menusuk di bawah tulang rusuk, miring ke atas.
Tubuh lawan menegang.
Darah mengalir dari mulutnya.
“Kasar,” bisiknya sebelum roboh.
Di sisi lain, Han Rui sudah menjatuhkan satu lagi. Tinggal satu penyerang yang tersisa, wajahnya pucat melihat dua rekannya tumbang.
Ia melirik ke atas bukit, ragu.
“Kalau kau lari, mereka akan membunuhmu sendiri,” kata Han Rui datar.
Lelaki itu menggeram dan menyerang putus asa.
Serangannya liar.
Liang Chen dan Han Rui menghindar bersamaan.
Dalam satu gerakan sinkron, pedang mereka bergerak berlawanan arah.
Dua garis merah muncul di tubuh penyerang itu.
Ia jatuh tanpa suara.
Sunyi kembali turun di antara akar-akar besar.
Liang Chen menarik napas panjang.
“Penjaga luar saja sudah seperti ini,” katanya pelan. “Di dalam pasti lebih buruk.”
Han Rui mengangguk. “Tambang tua itu berada di balik punggung bukit. Ada terowongan yang masih bisa dipakai.”
Mereka melanjutkan pendakian.
Semakin tinggi, akar-akar makin rapat. Beberapa menggantung rendah, memaksa mereka merunduk.
Akhirnya, di balik lengkungan batu besar, mulut terowongan terlihat.
Gelap.
Dingin.
Dan di atasnya, terukir simbol lingkaran dengan garis vertikal.
Bukan kecil seperti di lengan para pemburu.
Ini besar.
Jelas.
Seperti pernyataan.
“Selamat datang,” gumam Han Rui.
Liang Chen melangkah masuk lebih dulu.
Bau tanah lembap bercampur logam menyambut mereka.
Terowongan itu cukup lebar untuk tiga orang berjalan berdampingan. Dindingnya diperkuat kayu tua, sebagian sudah lapuk.
Mereka belum melangkah jauh ketika suara langkah berat menggema dari dalam.
Tidak terburu-buru.
Percaya diri.
Seorang pria bertubuh besar muncul dari kegelapan. Rambutnya diikat tinggi. Di tangannya, sebuah tombak panjang dengan ujung lebar.
“Dua anak muda,” katanya, suaranya menggema di dinding batu. “Berani sekali masuk tanpa undangan.”
“Kami tidak suka menunggu undangan,” jawab Liang Chen.
Pria itu tersenyum lebar.
“Bagus. Aku bosan menjaga pintu.”
Tanpa aba-aba, tombaknya meluncur.
Bukan tusukan lurus.
Ia memutar tombak itu setengah lingkaran, memaksa Liang Chen dan Han Rui mundur sekaligus.
Ruang sempit membuat gerakan mereka terbatas.
Ujung tombak menghantam dinding, memercikkan batu kecil.
Liang Chen mencoba mendekat, tapi gagang tombak menyapu seperti cambuk, menghantam tulang keringnya.
Rasa nyeri menjalar.
Han Rui mencoba masuk dari sisi kiri.
Pria itu memutar tombak lagi, kali ini lebih rendah. Ujung besi menyayat paha Han Rui dalam.
Darah mengalir deras.
“Kalian terlalu ringan,” ejeknya. “Aku bahkan belum berkeringat.”
Liang Chen menatap ruang di sekitar.
Terowongan sempit.
Tombak panjang unggul dalam jarak.
Ia bertukar pandang dengan Han Rui.
Tanpa kata.
Han Rui menyerang lebih dulu, frontal.
Ia memancing tusukan lurus.
Tombak melesat.
Di saat yang sama, Liang Chen menjatuhkan dirinya ke tanah, berguling di bawah gagang tombak yang terulur.
Ujungnya hanya sejengkal dari dada Han Rui.
Liang Chen bangkit tepat di dalam jangkauan pendek—di mana tombak menjadi beban.
Ia menghantam pergelangan tangan pria itu dengan gagang pedangnya.
Sekali.
Dua kali.
Retakan terdengar.
Tombak goyah.
Pria itu menggeram dan mencoba mundur, tapi Han Rui sudah masuk dari depan, pedangnya menebas diagonal dari bahu ke dada.
Darah menyembur ke dinding batu.
Namun pria itu belum jatuh.
Dengan sisa tenaga, ia menendang Liang Chen keras hingga punggungnya membentur dinding.
Napas Liang Chen tercekat.
Pria itu mengangkat tombak yang nyaris terlepas, mencoba satu tusukan terakhir.
Liang Chen melangkah maju alih-alih mundur.
Ia menangkap gagang tombak, membiarkan ujungnya menembus bahu kirinya.
Rasa panas meledak.
Tapi jarak itu cukup.
Dengan tangan kanan, ia menusukkan pedang pendeknya tepat ke tenggorokan pria itu.
Bilah masuk dalam.
Suara napas tercekik terdengar.
Tubuh besar itu goyah, lalu roboh, mengguncang tanah terowongan.
Sunyi.
Hanya suara tetesan darah.
Liang Chen mencabut tombak dari bahunya sendiri, menggigit bibir menahan nyeri.
Han Rui menatapnya.
“Kau benar-benar tidak takut mati.”
Liang Chen tersenyum tipis, pucat.
“Takut. Tapi aku lebih takut tidak menyelesaikan ini.”
Di ujung terowongan, cahaya redup terlihat.
Berarti ruang utama sudah dekat.
Lingkaran itu menunggu di dalam.
Dan untuk pertama kalinya, Liang Chen merasa bukan hanya diburu.
Ia sedang mengetuk pintu mereka.
Dengan darah sebagai salam pembuka.