Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Percaya atau Selesai”
Rumah itu terasa terlalu sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan.
Justru itu yang membuatnya lebih berat.
Cessa duduk di meja makan dengan secangkir teh yang sudah dingin. Ia tidak menangis semalaman. Ia tidak marah. Ia hanya… berpikir.
Video hotel itu terus terulang di kepalanya.
Masuk.
Lima menit.
Keluar.
Masalahnya bukan pada gambar.
Masalahnya pada satu hal sederhana:
Ia tidak tahu.
Benny keluar dari kamar dengan wajah yang jelas tidak tidur.
“Aku sudah minta rekaman tambahan dari pihak hotel,” katanya pelan. “Kalau mereka simpan arsip internal, kita bisa—”
“Ben,” potong Cessa lembut.
Benny berhenti.
“Kita berhenti sebentar dari pembuktian,” katanya.
Benny menatapnya hati-hati.
“Kamu percaya aku?” tanyanya pelan.
Cessa terdiam.
Itu pertanyaan yang terlalu besar.
“Aku percaya kamu tidak berselingkuh,” jawab Cessa akhirnya.
Benny menghembuskan napas panjang.
“Tapi aku tidak percaya kamu sudah sepenuhnya belajar jujur,” lanjut Cessa.
Kalimat itu lebih menusuk daripada tuduhan selingkuh.
Benny terdiam.
“Kenapa kamu tidak cerita waktu itu?” tanya Cessa lagi.
“Karena menurutku tidak penting.”
“Itu penting buatku.”
Benny menunduk.
“Aku tidak ingin hidup dengan versi dirimu yang menyaring kebenaran,” lanjut Cessa pelan. “Aku tidak ingin jadi istri yang tahu segalanya dari video bocor.”
Benny menatapnya. Mata merah.
“Aku salah.”
“Ya,” jawab Cessa jujur.
Keheningan jatuh.
Bukan dramatis.
Tapi dewasa.
“Kalau aku pergi sekarang,” kata Cessa pelan, “itu bukan karena aku tidak cinta.”
Jantung Benny terasa diremas.
“Tapi karena aku lelah melawan masa lalu yang terus muncul,” lanjut Cessa.
Benny berdiri cepat. “Aku bisa berubah lebih baik.”
Cessa menatapnya.
“Perubahan tidak instan,” katanya lembut. “Dan aku tidak mau jadi tempat eksperimen.”
Benny membeku.
Itu bukan kemarahan.
Itu kelelahan.
Ponsel Cessa bergetar.
Pesan terakhir dari nomor anonim.
Kamu sudah mulai menjauh.
Tinggal selangkah lagi.
Cessa menatap layar.
Lalu… memblokir nomor itu.
Ia berdiri.
“Kalau aku bertahan sekarang,” katanya pelan, “itu bukan untuk melawan mereka.”
Benny menatapnya.
“Itu harus untuk kita.”
Keheningan panjang.
Benny berjalan mendekat.
“Kamu mau apa?” tanyanya lirih.
Cessa menatapnya dalam.
“Aku mau transparansi penuh.”
Benny mengangguk cepat. “Apa saja.”
“Tidak ada lagi pertemuan yang ‘tidak penting’.”
“Iya.”
“Tidak ada lagi asumsi aku tidak perlu tahu.”
“Iya.”
“Dan kalau suatu hari kamu takut bercerita karena khawatir aku salah paham—kamu tetap cerita.”
Benny menahan napas.
“Itu yang paling sulit,” katanya jujur.
“Aku tahu,” jawab Cessa.
Sunyi.
“Karena itu yang aku butuhkan,” lanjutnya.
Di luar, berita terus berputar.
Spekulasi belum berhenti.
Namun untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai—
mereka tidak melihat layar.
Mereka melihat satu sama lain.
“Aku tidak akan pergi hari ini,” ucap Cessa akhirnya.
Benny hampir runtuh.
“Tapi,” lanjut Cessa, “ini kesempatan terakhirku untuk melihat kamu benar-benar berdiri di kebenaran.”
Benny mengangguk.
“Kalau aku menemukan kamu menyembunyikan satu hal lagi,” katanya pelan, “aku tidak akan menunggu.”
Benny tidak defensif.
Tidak berargumen.
Hanya berkata:
“Aku mengerti.”
Beberapa jam kemudian, pihak hotel mengirim arsip tambahan.
Rekaman lobby.
Rekaman lift.
Rekaman waktu.
Semua menunjukkan pola konsisten.
Diana keluar untuk menelepon.
Klien datang.
Pertemuan berlangsung formal.
Tidak ada indikasi pribadi.
Benny menyerahkan semuanya pada Cessa tanpa menyaring.
Tanpa menjelaskan dulu.
Tanpa membela diri.
Hanya menyerahkan.
Cessa menonton.
Pelan.
Teliti.
Dan untuk pertama kalinya sejak video itu bocor—
dadanya tidak terasa sesak.
“Aku percaya kamu,” katanya pelan.
Benny memejamkan mata.
Bukan karena lega.
Tapi karena tahu—
ia hampir kehilangan semuanya bukan karena perselingkuhan…
melainkan karena diam.
Malam itu, mereka duduk berdampingan.
Tidak saling menyentuh.
Tapi tidak juga berjauhan.
“Orang yang kirim semua ini,” kata Cessa pelan, “ingin kita hancur dari dalam.”
Benny mengangguk.
“Dan hampir berhasil,” lanjut Cessa.
Benny menatapnya.
“Tapi bukan karena cinta kita lemah,” katanya.
“Karena komunikasi kita belum kuat,” jawab Cessa.
Itu bukan akhir bahagia yang dramatis.
Tapi sesuatu yang lebih dewasa.
Kesadaran.
Namun tepat saat mereka mulai merasa tenang—
Email masuk ke ponsel Benny.
Dari alamat anonim yang sama.
Hanya satu kalimat.
Menarik.
Kalian lulus ujian kepercayaan.
Sekarang… ujian kehilangan.
Benny dan Cessa saling menatap.
Untuk pertama kalinya—
ancaman itu tidak lagi terdengar seperti permainan media.
Tapi sesuatu yang jauh lebih nyata.
Dan jauh lebih berbahaya.
Cessa memilih bertahan—dengan syarat terakhir.
Kepercayaan belum hancur.
Namun pesan terakhir mengisyaratkan ujian berikutnya:
bukan tentang reputasi.
Bukan tentang masa lalu.
Tapi tentang kehilangan nyata.*