NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Dimas pun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum sopan pada pria paruh baya itu.

“Jadi kamu ini anak ajaib, ya? Oke, ikut lari sama mereka. Biar aku ngomong sama pelatihmu. Cukup lari buat pemanasan saja, jangan kebablasan,” kata pria paruh baya itu sambil menunjuk para pemain Depok Thunder yang sedang jogging di lapangan GOR.

Dimas mengangguk dan berlari menyusul mereka. Walaupun ia biasa jogging tiap pagi, tak ada salahnya pemanasan sebelum uji coba serius.

Melihat Dimas mendekat, enam pemain yang sedang berlari itu otomatis melambat. Mereka penasaran dengan pemain muda yang baru datang ini.

“Hei, kamu anak baru, ya?” tanya salah satu pemain yang paling senior di antara mereka.

“Enggak, sebenarnya aku datang buat semacam uji coba,” jawab Dimas santai sambil mulai berbaur dengan mereka. Entah bagaimana, ia cepat sekali akrab dengan para pemain Thunder.

“Bagus. Asal kamu dari mana?” tanya pemain paling pendek, matanya berbinar penasaran.

“Ehh... aku kuliah UI, terus dilatih sama pelatihku itu.” Dimas menunjuk pria gemuk yang berdiri di sisi lapangan. “Dia yang bawa aku ke sini.”

“Buset, gendut banget, Bro,” komentar satu-satunya pemain berkulit gelap di kelompok itu. Ia tampak kaget.

“Ya, tapi dia orang baik,” kata Dimas. Walaupun pelatihnya itu memang gemuk, hanya dia sendiri yang boleh bilang begitu kalau orang lain, rasanya agak risih.

“Aku udahan duluan, jangan maksa diri,” kata pemain paling senior sambil keluar dari lintasan.

“Aku juga keluar,” sahut pemain berkulit gelap tadi sambil mengedip ke arah Dimas.

Dimas ikut berhenti di ujung lintasan. Wajahnya bahkan tidak berkeringat sedikit pun setelah berlari sepuluh menit. Baginya, ini terlalu ringan.

Setelah selesai berlari, Dimas ikut rombongan menuju ruang istirahat tim. Ia menikmati obrolan santai mereka. Para pemain Depok Thunder ternyata sederhana dan humoris tidak sombong seperti yang ia bayangkan dari tim besar.

“Hei, posisi apa yang biasa kamu mainkan?” tanya sang kapten tak resmi, pemimpin kelompok itu.

“Aku baru tahu aku bisa main beberapa waktu lalu. Katanya aku cocok jadi spiker,” jawab Dimas sambil mempraktikkan sedikit gerakan pukulan di dekat ruang istirahat.

“Oh! Pantas tadi aku nebak kamu spiker. Hari ini mereka manggil si ‘Serangga’ juga cuma buat ngelihat kamu,” kata sang pemimpin sambil tertawa.

“Serangga?” Dimas bingung. “Maksudnya apa?”

“Di tim ini ada pemain bintang. Spiker juga. Dia jarang latihan sama kami, biasanya cuma datang kalau pertandingan sudah dekat. Hari ini pelatih manggil dia mungkin buat ngetes kamu,” jelas sang Leader sambil melirik Dimas dengan senyum penuh makna.

Dimas hanya tersenyum kecut. Ia tidak yakin apakah dirinya layak mendapatkan perhatian sebesar itu, tapi ia menghargai kesempatan dari pelatihnya.

“Woy, anak-anak! Sini kumpul!” teriak pelatih berambut putih dari tengah lapangan.

“Ayo, bro. Pelatih manggil,” kata pemain paling senior. “Eh, nama kamu siapa tadi, Newbie?”

“Dimas,” jawabnya.

Saat mendekati pelatih, Dimas melihat seseorang berdiri dengan wajah tinggi hati. Anak itu masih muda, tampak seusianya, namun jelas punya aura “gue paling jago” dibanding pemain lain Depok Thunder. Cara dia memandang tim saja sudah seperti meremehkan semuanya.

“Dimas, sini bentar,” panggil pelatih berambut putih. “Ini Raga, pemain bintang kita. Dia spiker terbaik se-Jawa Bagian Barat.”

Dimas tersenyum sopan dan mengangguk. Ia tidak pernah menganggap dirinya jago. Maka, sebagai etika, ia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Raga.

Namun Raga hanya menatap tangannya tanpa ekspresi, lalu memalingkan wajah sambil mendecak kecil.

Dasar sombong. Ya sudahlah, ya… mungkin karena dia masih seumuran, jadi tingkah begitu normal buat anak yang merasa paling hebat.

Pelatih pun menepuk bahu Dimas.

“Dimas, hari ini aku sengaja manggil Raga dan manajernya buat nguji kemampuanmu. Henry bilang banyak hal hebat soal kamu, jadi… jangan bikin aku kecewa.”

Kemudian ia berbalik ke seluruh skuad dan meninggikan suara.

“Semua dengar! Hari ini Raga cuma mampir sebelum dia berangkat ikut seleksi Liga Pro minggu depan. Dia bakal turun beberapa rally sama kita biar kalian bisa lihat kapasitasnya. Raga, siap-siap di area attack line. Pemain bertahan ambil posisi. Dimas akan jadi target uji coba hari ini: Raga yang menyerang, Dimas menerima, dan yang lain cover lapangan. Jalan!”

Para pemain mengangguk dan mengambil posisi. Pelatih membawa Henry dan manajer Raga ke pinggir lapangan untuk berdiskusi.

Raga pergi sendirian untuk ganti jersey, dengan langkah arogan seolah lantai GOR pun harus menyingkir.

Dimas hendak menuju bangku untuk mengambil kneepad dan handuk dari ranselnya, tapi pemain paling senior hanya menepuk bahunya sambil tersenyum bangga.

Sepertinya sikap sombong Raga justru bikin mereka makin menyukai Dimas.

“Dim, kamu udah siap?” tanya salah satu pemain di ruang istirahat. “Kneepad kamu bagus. Tapi kamu nggak punya sepatu voli yang beneran dan enggak bawa rosin bag juga. Nih, aku punya sepatu cadangan, pakai aja dulu.”

Dimas tidak menolak. Ia memang kekurangan banyak perlengkapan, jadi apa pun yang bisa membantu ia terima.

“Dan satu lagi,” tambah sang kapten sambil memakai jersey. “Penunjang… eh, pelindung pribadi cowok itu jockstrap penting banget kalau mau main jangka panjang. Yang itu nggak bisa dipinjemin. Kamu harus beli sendiri.”

Dimas mengangguk. Ia tahu benar dirinya belum punya apa-apa. Pelatih Henry pernah bilang kalau semua perlengkapan voli lumayan mahal. Kalau nanti ia resmi dikontrak Depok Thunder, barulah ia bisa beli sendiri tanpa mikir panjang.

1
Dedeh Dian
keren bagus cerita nya.. semangat author ayo lanjut...makasih..
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!