Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SOSOK HITAM ITU
"Nis? Kok malah berhenti depan pintu gitu? Masuklah... Gak sopan kamu begitu!" ucap bapak sambil sedikit berbisik dari belakangku.
Aku yang masih merasakan angin berhawa panas itu akhirnya melangkahkan kaki dan segera masuk. Sambil mengucap permisi kepada bapak-bapak yang masih ada di ruang tamu rumah Pak Handoyo.
Saat aku di depan pintu kamar di mana Pak Handoyo terbaring, ada beberapa ibu-ibu yang keluar. Bermaksud bergantian melihat kondisinya Pak Handoyo. Dinda dan Ningrum sudah masuk duluan.
"Assalamu'alaikum..." ucapku saat masuk ke dalam kamar Pak Handoyo, disambut jawaban salam dari istri beliau, Bu Titin.
Aku duduk di belakang Dinda dan Ningrum, kami berada di posisi samping kasur, menghadap ke Pak Handoyo. Ustadz Furqon berada di atas kasur di sebelah kanan Pak Handoyo, dan Bu Titin di sebelah kirinya.
Terdengar suara isak tangis Bu Titin sambil mengusap kepala suaminya itu. Sedangkan Ustadz Furqon sedang membaca doa-doa di sebelahnya.
Aku, Dinda, dan Ningrum serta beberapa ibu-ibu yang masih ada di dalam kamar, khusyuk sejenak tanpa suara. Masing-masing ikut membaca doa dalam hati untuk kesembuhan Pak Handoyo.
Dan ternyata memang benar apa yang diceritakan oleh Bu Marsinah tadi pagi, serta benar juga apa yang kulihat dari mata kiriku saat membakar sampah, perut Pak Handoyo membesar. Tampak tak biasa bagiku. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh semua orang yang datang menjenguknya. Sungguh sebuah sakit yang tak biasa.
Saat aku sedang khusyuk membaca doa-doa untuk kesembuhan Pak Handoyo, tiba-tiba saja kepalaku terasa nyeri. Rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk. Seperti ada sebuah benda tajam yang tertancap.
Aku menunduk sambil menahan rasa sakit itu. Namun aku tak berpikir yang aneh-aneh. Beberapa detik aku merasakan nyeri itu. Aku memegangi kepalaku dengan tangan kanan. Dan aku melirik ke semua orang di dalam kamar, tak ada yang menyadari aku mendadak nyeri kepala.
"Astaghfirullooh, kenapa tiba-tiba sakit banget kepalaku?" gumamku dalam hati sambil memegangi kepala.
Dan tiba-tiba...
Di waktu yang menurutku tidak tepat, penglihatan mata kiriku kembali terbuka.
Mata kananku menatap sekitar dengan pandangan normal dunia nyata. Namun... Dalam pandangan mata kiriku... Suasana kamar Pak Handoyo jauh berbeda.
Kamarnya seperti lebih redup, lebih berat, dan... Saat aku alihkan pandanganku ke Pak Handoyo...
Seketika nafasku terhenti, jantungku berdegup lebih cepat. Aku seperti ingin berteriak, namun terhenti di tengah tenggorokanku. Hanya mulutku yang sedikit terbuka, terbata-bata, terputus-putus juga nafasku.
Aku melihat dengan jelas, ada sesosok makhluk hitam mengerikan sedang menduduki perut Pak Handoyo yang membesar.
Sosok itu memiliki kuku yang panjang, matanya merah menyala, sosok itu sedang menusuk-nusuk perut Pak Handoyo dengan kedua tangannya yang mengerikan itu.
Di titik ini pula, aku sadar bahwa penglihatan ini hanya aku yang bisa melihatnya. Aku ingin berteriak rasanya, namun terasa tercekik leherku.
Dan... Secara perlahan...
Sosok itu... Memandangiku...
Dengan tatapannya yang sangat mengerikan. Dan terdengar jelas di telingaku deru nafasnya yang berat. Terasa panas ditubuhku.
Dalam hatiku... Hanya bisa beristighfar berulang kali...
waktu terasa berhenti. Aku beristighfar sambil berharap supaya mata kiriku kembali normal. Namun apa yang terjadi selanjutnya semakin membuatku merasa terancam.
Sosok itu... Mencabut tangan kirinya...
Dan ia menunjuk ke arahku...