Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua laki-laki bersaudara.
Rajendra melangkahkan kakinya dengan cepat sebelum lelaki itu membawa anak dan istrinya. Ia juga tak ingin mereka dekat dengan adik tirinya yang tidak pernah ia sukai, karena masa lalu mereka.
Masa lalu yang mencekam, mengubah perubahan hidupnya secara drastis dari kebahagiaan menjadi derita. Jika saja ia tak dibela oleh neneknya dulu, entah apa yang akan terjadi kini.
Saat tangan Elea dipegang Marcel, segera ia melepaskan tangan itu dengan kasar.
Sontak saja keduanya terkejut dengan kehadiran Rajendra yang tiba-tiba.
Elea sendiri mengira suaminya sibuk berteleponan dengan kekasihnya dan berpikir ia tak peduli padanya, sehingga ia mengajak Marcel bergabung karena kebetulan tak jauh dari posisi daerah tersebut.
"Siapa kamu? Berani pegang tangan istriku," tanya Rajendra dengan nada sinis.
Marcel tersenyum saja mendengar itu, "Abang, apa kabar?" tanyanya sok dekat, menatap Rajendra dengan wajah polosnya.
"Cih," kesal Rajendra memalingkan mukanya, dengan tangan menggenggam kuat tangan istrinya.
Elea terkaget, matanya membulat memikirkan sesuatu. "Abang, kalian saling kenal?" tanya Elea melirik dua lelaki itu bergantian.
Tak ada yang menjawab pertanyaan itu, Rajendra tak ingin menjelaskannya lain dengan Marcel yang menunggu kakak tirinya itu yang menjawabnya. Namun Rajendra memilih diam, ia tak suka masa lalu keluarganya diusik.
"Mah, om Marcel kok mirip sama papa?" tanya Aliza, anak ini cepat tanggap dalam situasi apapun.
Ia mirip Rajendra yang otaknya memiliki iq tinggi, namun sikapnya lain dengan bapaknya yang kasarnya membuat seantero rumah bergidik.
"Iya, mirip," timpal Eliza dengan polosnya.
"Tentu saja mirip, aku ini om kalian. Adiknya papa kalian," ungkap Marcel tersenyum pada anak kembar Rajendra, dengan sengaja memancing amarah kakaknya didepan umum.
Rajendra melototkan matanya pada lelaki itu, ia tak menduga kehadiran adiknya ini akan jadi boomerang bagi keluarganya. Kedekatannya dengan Elea akan menjadi racun dalam pernikahannya.
"Jadi kalian ... Kenapa aku tak pernah tahu?" Elea masih bingung dengan perkataan Marcel, iya atau tidak karena interaksi mereka sangat buruk.
"Itu karena–" ucapan Marcel terhenti kala Rajendra menghentikannya.
"Cukup!" bungkam Rajendra membuat mereka melirik padanya.
"Jangan pernah mengusik keluargaku atau kau akan tahu akibatnya," larang Rajendra dengan tegas, sorot matanya tajam dan menusuk pada lelaki itu.
Tapi Marcel menanggapinya dengan senyuman.
"Ayo kita pergi!" ajak Rajendra menarik tangan Elea dan juga Eliza, sedangkan Aliza digenggam oleh ibunya.
Meski tak tahu apapun, Elea patuh saja pada Rajendra. Matanya melirik pada lelaki itu yang tersenyum padanya, Marcel bahkan memberikan kode bahwa ia akan menghubunginya nanti.
"Jangan menatapnya terus!" titah Rajendra dengan nada geram pada istrinya.
Elea segera memalingkan mukanya ke arah lain, ia tahu keadaan ini sedang tak baik. Nadanya saja buruk apalagi moodnya, Elea tahu seperti apa kalau Rajendra marah.
Mereka pergi dan menjauh dari Marcel yang hanya diam saja. Seorang pria berbaju hitam mendekatinya, ia berdiri dibelakang lelaki itu.
"Aku sudah menemukan bukti tentang perselingkuhan yang dimaksud," ucap lelaki itu memberitahukan.
"Bagus, kau lebih cepat dari yang kuduga." Marcel membalikkan badannya, ia menepuk pundak lelaki didepannya merasa bangga.
"Ayo kita pergi juga! Ada yang harus kita lakukan segera," ujarnya berjalan lebih dulu.
*
Malam harinya seperti biasa saat makan malam suasana meja makan itu ramai dengan adanya si kembar. Yang berbeda adalah sikap diam Rajendra yang tak biasanya.
Elea yang sejak tadi memperhatikan pun, ikut diam dan hanya makan sedikit sambil sesekali memperhatikan suaminya.
Rajendra tanpa sengaja mengambil makanan pedas, segera Elea ambil piring yang berisi balado itu.
"Ini pedas, kamu tak suka makanan pedas kan," ujar Elea menjauhkan piringnya dari jangkauan Rajendra, ia pun memberinya lauk yang lain dan menaruhnya di piring Rajendra.
"Makan lah yang ini, rasanya tak terlalu pedas," lanjut Elea.
Dengan patuh Rajendra memakannya, ia masih diam tanpa berucap sepatah katapun. Biasanya kalau diganggu bocil ia akan mengeluarkan peringatan dengan halus, tapi malam ini tidak. Ia membiarkan dua anak kembarnya berebut makanan dan berceloteh dimeja makan.
Bahkan sampai makan malam selesai pun Rajendra terlihat aneh, sikap diamnya membuat kepala Elea dipenuhi pertanyaan.
"Dia kenapa?" benak Elea bergumam.
^
Elea yang baru kembali kekamarnya kini dikejutkan lagi oleh suaminya, lelaki itu sudah ada dikamarnya entah sejak kapan. Yang anak-anak tahu mereka masih satu kamar, padahal tidak.
Setelah mereka tidur, barulah Elea pindah kekamarnya yang dipenuhi dengan foto kenangan mereka. Namun malam ini ada Rajendra yang duduk bersandar pada bahu ranjang, ia memegang tablet tengah melihat pekerjaannya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Elea berjalan mendekati ranjang, ia kibas-kibaskan tepi alas tidur itu hanya untuk membersihkannya.
"Aku ingin tidur disini," jawab Rajendra tanpa menoleh.
Elea berdecak, "Mana bisa begitu, pergi ke kamarmu sana!" usirnya dengan tangan merentang ke arah pintu kala Rajendra melirik padanya.
"Malam ini saja," ucap lelaki aneh itu yang kemudian menaruh perangkat pipihnya dan menarik selimut untuk menutupi badannya sampai dada.
"Istriku, ayo tidur sini!" ajak Rajendra tersenyum menggodanya dengan tangan menepuk sebelah ranjangnya yang kosong.
Elea berkacak pinggang, menatap suaminya sinis sekaligus bingung. Lelaki ini kian aneh dimata Elea, kemana sikap kasarnya yang dulu itu. Mendadak banget.
"Rajendra, kamu salah minum obat atau overdosis sih? Aneh banget, tadi diam terus sekarang bertingkah sok manis. Mana tuan Rajendra yang galak dan kasar itu?" ujar Elea masih berdiri mengomelinya.
"Aku memang manis, iya kan. Makanya kamu menyukai ku, benar kan?" alis Rajendra bergerak naik turun.
"Cih, hanya wanita stres yang menyukai pria sepertimu," Elak Elea tak mau mengakuinya.
"Cepat pergi! Atau kamu tidur disini tapi aku tidur dikamar lain," jelas Elea memberinya pilihan.
"Kenapa begitu? Dulu kamu pernah bilang, suami istri itu harus tidur bersama, satu ranjang dan satu kamar," ungkap Rajendra mengingatkan, dua jari telunjuknya bergerak dan menautkannya tanpa ragu.
Elea memalingkan mukanya mendengar kata dirinya dulu, dulu kan ia tak tahu tentang perselingkuhan mereka.
"Atau jangan-jangan kamu lupa, wanita memang gampang berubah juga. Apalagi kalau ada pria lain yang bikin dia baper, benar kan?" sangka Rajendra ia bangun dan terduduk diatas Ranjang masih dengan bertatap muka dengan istrinya.
"Aku ingat kan, jangan dekat-dekat dengan Marcel! Dia itu pria berbahaya," lanjut lelaki itu beranjak dari tidurnya.
Elea hanya diam mendengarnya, entah peringatan atau ancaman yang lelaki itu katakan. Namun apapun itu ia tak percaya sama sekali, sikap Marcel lebih hangat dan lembut dibanding Rajendra.
"Mana bisa lelaki seperti dia dibilang berbahaya? Yang jelas Rajendra lah manusia paling berbahaya," kecam Elea tanpa peduli.
Rajendra menghentikan langkahnya didepan pintu, ia tidak tuli jadi ia bisa dengar yang istrinya katakan barusan. Elea tidak tahu seberapa buruknya Marcel dimasa lalu, itulah kenapa keluarganya mengasingkannya.
^
Suasana malam yang telah larut begitu hening, dirumah megah itu semuanya sunyi senyap tak seperti hari kemarin. ucapan Rajendra masih terngiang ditelinga Elea, hingga membuatnya tak bisa tidur.
Elea tak pernah tahu jika Rajendra punya adik laki-laki, selama ini semuanya begitu tersembunyi sampai selama pernikahannya ia tak pernah mendengar soal Marcel dan ibunya.
Ting
Suara pesan dari ponsel Elea berbunyi, ia mengambilnya dan membuka pesan yang sudah jelas dari Marcel.
"Aku yakin kamu belum tidur,"
Ting
"Aku pun sama, tiba-tiba aku merindukanmu, Elea."
Pesan dari bosnya bermunculan, Elea diam membacanya saja.
Namun tiba-tiba saja pesan terakhir mengejutkannya. Elea menutup mulutnya, ini tidak mungkin ia tak percaya membaca pesan kali ini.
Apa yang Marcel katakan lewat pesan?
Begitu tiba-tiba.