NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karim Wijaya tiba-tiba masuk rumah sakit

“Dreet!”

Ponsel di tangan Hawa bergetar keras, membuat jantungnya ikut berdegup tidak karuan karena nama Ibu tertera di sana. Entah mengapa, firasat buruk langsung menyergap.

“Halo, Bu…?”

Suara Ningsih terdengar panik di seberang sana.

“Hawa, cepatlah kemari. Sekarang kami ada di Rumah Sakit Agung tempat kamu bekerja itu. Bapakmu lemas sekali, Nak. Dari pagi dia sama sekali tidak mau makan. Ibu khawatir sekali, makanya langsung kami bawa ke sini. Untungnya kami belum sempat pulang.”

Wajah Hawa seketika pucat. Jemarinya gemetar menggenggam ponsel, napasnya tercekat.

“I… iya, Bu… Hawa segera ke sana,” ucapnya gugup, suaranya nyaris bergetar.

Panggilan terputus. Hawa masih terpaku beberapa detik, dadanya naik turun tidak beraturan.

“Ada apa?” tanya Adam, yang sejak tadi menangkap nada panik dari suara di telepon.

Hawa menoleh cepat, matanya berkaca-kaca.

“Bapak sakit lagi, Mas. Aku harus segera ke rumah sakit.”

Belum sempat ia melangkah, Adam sudah berdiri.

“Tunggu! Aku ikut.”

Tak ada bantahan. Mereka bergegas berganti pakaian, gerakan Hawa terburu-buru dan kacau. Setelah itu, keduanya menuruni lift dengan langkah cepat, seolah setiap detik terasa terlalu lama.

“Ayo,” ujar Adam singkat, membuka pintu mobil.

Hawa duduk dengan tangan saling menggenggam erat di pangkuannya.

“Semoga Bapak enggak apa-apa…” batinnya

Adam meliriknya sekilas, Wajah Hawa begitu cemas.

“Semua akan baik-baik saja,” ucap Adam pelan namun tegas, seolah kalimat itu bukan hanya untuk Hawa, tapi juga untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Lalu memacu mobil lebih cepat, menembus jalanan menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Hawa berlari menyusuri lorong panjang dengan napas tersengal. Sepatu haknya beradu cepat dengan lantai keramik.

“Kamar pasien Karim Wijaya…” gumamnya, matanya liar mencari papan penunjuk. Ia sudah hafal tata letak kamar pasien disana.

Begitu sampai, pintu kamar terbuka lebar.

“Bapak!”

Hawa menerobos masuk, suaranya pecah oleh kepanikan.

Karim Wijaya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, matanya terpejam seolah kelelahan menahan sesuatu yang tak kasatmata. Selang infus menancap di lengannya, menjadi satu-satunya sumber tenaga yang masuk ke tubuh rapuh itu.

Hawa langsung meraih tangan ayahnya, dingin.

“Bapak… ini Hawa…” suaranya bergetar, tanpa terasa tetesan airmatanya keluar.

Ningsih duduk di sebelah sang suami, wajahnya cemas. Sementara Djoko berdiri bersedekap, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Sedang merasakan aura tak kasat mata yang tiba-tiba datang menghampirinya.

“Dokter bilang tidak ada penyakit parah,” ucap Ningsih lirih namun bingung.

“Jantungnya stabil, tekanan darahnya juga normal. Tapi Bapakmu sama sekali tidak mau makan. Tubuhnya seperti… kehilangan tenaga.”

Hawa menelan ludah.

“Bagaimana bisa…” bisiknya.

Adam yang berdiri di sampingnya ikut menatap Karim. Ada sesuatu yang mengusik perasaannya.

“Gejalanya… hampir sama denganku waktu itu,” gumam Adam pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Hawa langsung berdiri.

“Aku akan cari dokter lain. Pasti ada yang terlewat!”

“Tunggu.”

Djoko tiba-tiba menahan langkah Hawa. Pria itu mendekat ke Ningsih, lalu berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar.

“Coba tanyakan pada Hawa… apakah mereka sudah malam pertama.”

Ningsih mengerutkan kening.

“Apa hubungannya dengan sakit Mas Karim?”

“Aura di ruangan ini aneh,” bisik Djoko serius.

“Seperti ada yang… tertahan. Leluhur biasanya tidak suka hal yang belum dituntaskan.”

Ningsih terdiam beberapa detik. Ia tahu betul, kakak prianya memiliki kelebihan supranatural yang tak bisa dianggap remeh. Seketika wajahnya menegang, firasat buruk menyelinap di dadanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ningsih langsung menarik lengan Hawa, menjauhkannya dari sisi ranjang Karim. Setelah itu, pandangannya beralih pada Adam, tatapan tajam dan penuh kewaspadaan.

“Apa kalian sudah malam pertama?”

Pertanyaan itu jatuh seperti petir di siang bolong.

Hawa dan Adam saling menatap, lalu sama-sama terdiam.

“Jangan bilang…” suara Ningsih meninggi, “kamu masih perawan, Hawa?”

“Bu!” Hawa tersentak. “Apa hubungannya dengan kondisi Bapak?”

“Jawab!” bentak Ningsih.

Hawa menunduk. Tangannya mengepal kuat. Dadanya bergetar hebat.

“Belum, Bu…” Hawa menunduk menggeleng.

Adam akhirnya angkat bicara, mencoba tenang. “Bunda, Kemarin kita sama-sama kurang enak badan.”

Begitu jawaban itu keluar, Djoko langsung melangkah mendekat.

“Ini yang kutakutkan,” ujarnya serius.

“Kalian ini sudah sah menikah. Leluhur menganggap pernikahan belum sempurna kalau belum disempurnakan.”

“Tapi Hawa..."

“Kamu mau Bapakmu meninggal?” potong Ningsih tajam sambil menatap Hawa dengan mata melotot.

Kata-kata itu menghantam Hawa tanpa ampun. Ia ingin menangis, ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa pernikahan ini rumit, penuh tekanan, dan bukan sesuatu yang ia jalani dengan bahagia.

Namun lidahnya kelu.

“Adam,” panggil Djoko tegas. “Laksanakan tugasmu sebagai suami. Jangan ditunda-tunda lagi, pergi sekarang. Keberadaan kalian di sini tidak ada gunanya kalau 'itu' belum diselesaikan.”

Adam menatap Hawa.

“Baik, Om,” jawab Adam.

Tangannya menarik Hawa pelan, namun tubuh wanita itu terasa berat, seolah kakinya menolak melangkah.

“Apa lagi yang kamu tunggu, Hawa?” bentak Ningsih.

Air mata Hawa jatuh.

Tanpa daya, ia mengikuti Adam keluar dari kamar. Lorong rumah sakit terasa panjang dan dingin. Setiap langkah menuju lift seperti menyeret hatinya sendiri. Hingga akhirnya mereka tiba di parkiran dan masuk ke dalam mobil.

Hawa duduk di sebelah Adam dengan wajah cemberut, matanya kosong.

Ia tidak siap. Ia tidak rela, jika harus menyerahkan keperawanannya kepada Adam.

Tapi aku… enggak punya pilihan lagi, gumamnya pelan.

Adam melirik wajah muram itu. Ada rasa kasihan, juga keinginan menghibur.

“Kamu mau di mana?” tanyanya lembut, mencoba mencairkan suasana. “Tinggal sebutkan saja, aku akan langsung booking!"

“Di bawah kolong meja bisa?” celetuk Hawa sinis, penuh kesal.

“Hahaha!” Adam spontan tertawa kekeh.

“Bisa dong, sayang. Di mana saja pun bisa, asalkan kamu siap.”

Mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit.

“Untuk kondisi darurat begini,” lanjut Adam lebih serius,

“lebih baik kita pulang ke rumah dulu. Besok aku akan carikan tempat bulan madu yang paling indah. Aku janji, aku akan buat kamu bahagia," ungkap Adam, namun terdengar rayuan gombalan maut bagi Hawa yang justru mencekik lehernya.

“Drett!”

Sebuah nama perempuan terpampang jelas di layar. Adam melirik sekilas, lalu buru-buru mematikannya.

Hawa pura-pura tidak melihat. Namun dadanya terasa panas, ada kesal yang mengendap diam-diam.

Dasar playboy cap terong. Setiap hari selalu ada saja wanita berbeda yang meneleponnya, gumam Hawa tidak senang.

Ia mengepalkan jemari. Tak ada lagi jalan untuk menghindari pernikahan ini. Nyawa keluarganya menjadi taruhannya.

Jika dulu aku terperangkap dalam kesedihan bersama si kadal dua, Harun.

kali ini aku tidak boleh hancur lagi bersama si kadal satu, Adam.

Apa pun yang terjadi, aku harus tetap waras. Tetap terlihat bahagia menjalani pernikahan ini.

Setiba di rumah, tepat di depan kamar Adam, sikap Hawa seketika berubah drastis, seperti ada misi yang sedang ia jalankan.

Wajahnya kini dihiasi senyum manis, gerakannya lembut, suaranya sengaja dibuat menggoda.

“Aku ganti pakaian dulu ya, Mas,” ucapnya pelan.

Ia mendekat, jemarinya menyentuh lembut dada Adam hingga ke kerah kemeja.

“Akan kulayani suamiku dengan baik," ucapnya lembut.

Adam terperangah. Tubuhnya menegang, jantungnya berdetak cepat, seolah sentuhan Hawa menyalakan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

“Em…” Adam hanya mampu mengangguk, membeku di tempat.

1
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
itu wanita yg kamu bangga²kan Harun
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
awas kau menyesal kedepannya Harun karena gak dengerin nasihat dari Kakak mu
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
aku gak yakin kalau itu anak Harun
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
kompor meleduk si Raisa
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
rumah sakitnya punya Adam kan sebenarnya
ρυтяσ✨
hah... siapa lelaki Raisa itu??? ayah biologis dalam kandungan'y🤔🤔
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
☠ᵏᵋᶜᶟGalangᵇᵃʰᵃ❀∂я
halaah2 raisa pinternya

yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Adam harus segera bertindak selidiki serius dong Raisa kasih ke si Harun bodoh itu
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
dh muncul tuh laki" yg ngehamilin Raisa. emang Harun yg paling ogeb keknya. kebiasaan apa" taunya beres. tinggal enaknya. gitu jadinya. otaknya entah kemana. sampai" dikadalin sama perempuan pun dia gk pernah tau. mungkin itu karma juga buat Harun karena sudah mencurangi Hawa dulu. akhirnya gantian dicurangi habis"an. kudu dijauhkan dari Raisa nih si Harun, biar gk kebablasan nyungsepnya. kasih wanita sewaan yg spek Hawa ada gk tuhh, biar gk tantrum mulu 🤣🤣🤣🏃🏃🏃
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : sepanjang jln kenangan 🤣
total 3 replies
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
benar kn firasat si Adam..
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
penasaran sama lakinya, ini siapa yaaa
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
iya kayanya enak ke club wa menghilangkan beban di pundak 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
itu yg kamu bilamg wanita baik2 Harun...🤦‍♀️
bodoh kamu Runn
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
haruunn harunnn cinta membuatmu buataa 🤦‍♀️
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
halaah diamin aja sih Run, akting doang itu Raisa jangan terpengaruh..
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
nih cowok selingkuhan Raisa kayaknya kacung si Raisa juga manut banget 😂
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
saking labilnya dibilang anak ya sama Adam 🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
kompor, ular berbisaa
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
cieee yg takut yaaa 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
mencurigakann nihh..
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!