NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mundur

Andi tidak langsung menghubungi Nayla karena ia tahu, informasi yang datang terlalu cepat sering terdengar seperti rencana. Dan rencana selalu dicurigai.

Ia menandai kalimat itu dengan stabilo abu-abu tidak mencolok hampir tidak kelihatan seperti celah itu sendiri.

Perusahaan tidak berwenang menuntut penalti kepada talent yang telah mengakhiri hubungan kerja internal sebelum kontrak klien berakhir, selama tidak terjadi pelanggaran publik yang dapat dibuktikan.

Kalimat itu bukan pembebasan atau kemenangan hanya menggeser beban—pelan—dari satu pundak ke sistem yang terlalu yakin tak akan dibaca ulang.

\=\=\=\=

Pagi berikutnya, Nayla datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Rambutnya diikat rapi, make-up tipis, wajah netral—versi dirinya yang paling “aman” di mata HR.

Ia dipanggil ke ruang kecil di lantai tujuh ruang yang dipakai untuk percakapan tidak ingin terdengar penting.

HR tersenyum profesional. “Kami hanya ingin memastikan kondisi kamu.”

“Kondisi apa?” tanyanya datar.

“Stabilitas,” jawabnya. “Secara performa, dan… komitmen.”

Ia mengangguk pelan, “Aku masih menjalankan kewajiban kontrak.”

“Kami tahu,” kata HR. “Tapi kamu juga tahu, posisi internal itu fleksibel.”

Kata fleksibel menggantung seperti ancaman yang dibungkus empati.

“Kalau aku memilih keluar dari status internal,” tanya Nayla hati-hati, “apa itu pelanggaran?”

HR terdiam sepersekian detik—terlalu singkat untuk disebut ragu, tapi cukup untuk menunjukkan buku yang sedang dibuka di kepalanya.

“Tidak,” jawabnya akhir. “Selama tidak ada pernyataan publik. Dan selama kamu tetap menjalankan kewajiban sebagai talent kontrak.”

“Berarti aku boleh berhenti jadi bagian dari keluarga perusahaan, tapi tetap bekerja sebagai wajahnya.”

HR ikut tersenyum—lebih kaku. “Kurang lebih begitu.”

Keluarga, wajah. Dua kata yang sering dipakai untuk menutupi fakta bahwa seseorang hanya bernilai selama ia bisa dipakai.

\=\=\=

"Lu ada waktu Nay? Wa Andi saat pulang dari kantor di dalam mobilnya sore itu.

" Apa ?"

" Ada sesuatu yang ingin gue sampaikan, tidak terlalu penting tapi berharga."

" Diwarung kopi dekat rumah gue aja."

" Oke ...tunggu gue disana."

Mereka bertemu di tempat yang tidak strategis—warung kopi kecil, tidak instagramable, tanpa Wi-Fi kuat.

“Gue nemu sesuatu,” ucap Andi pelan menatapnya lamat

Nayla tidak bertanya “apa” hanya berkata, “Gue juga.”

Mereka saling bertukar cerita, perlahan, seperti dua orang yang menyusun puzzle tanpa ingin cepat-cepat melihat gambarnya.

“Kalau gue keluar dari internal,” ucapnya pelan “mereka nggak bisa minta penalti ke gue. Tapi posisi gue jadi rapuh.”

“Andi mengangguk. “Dan kontrak gue tetap berdiri.”

“Artinya—” Nayla berhenti.

“Artinya sistem mulai kehilangan satu sandaran, dan itu bikin mereka gelisah.”

Sunyi menyergap

“Kakak sadar nggak,” Gadis itu menatap cangkir kopinya, “kalau gue keluar, mereka bisa framing seolah gue yang ‘memilih menjauh’?”

“Dan kalau gue bertahan,” balas Andi, “gue tetap orang yang bisa ditagih satu miliar.”

Mereka tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena absurd terlalu telanjang.

“Ini bukan soal menang kalah ,” kata Nayla. tapi siapa yang lebih dulu habis.”

“Atau siapa yang berani nggak main sesuai aturan lama.”

\=\=\=

Di kantor Cinta Rental 24 Jam, Mira menerima laporan tambahan talent mempertimbangkan resign internal,

namun klien tetap bertahan.

Mira tidak marah justru menyandarkan punggung ke kursi. “Mereka mulai baca,” katanya pelan.

“Haruskah kita tekan sekarang?” tanya staf legal.

Ia menggeleng. “Belum. Kalau kita tekan sekarang, kita kelihatan takut.”

“Lalu?”

“Kita tunggu mereka melangkah,” jawabnya. “Dan pastikan setiap langkah terasa mahal.”

Ia lalu menutup map. “Sistem tidak runtuh karena dilawan tapi orang-orang berhenti percaya bahwa ia mutlak.”

\=\=\=

Malam yang sunyi didalam kamar kos baru yang sama sempitnya dari yang pertama. Gadis itu belum tidur menyentuh hapenya,

mengirim satu pesan pendek ke Andi.

" Kak, kalau gue keluar dari internal, ini bukan buat nyelametin tapi mengambil kembali posisi gue sendiri."

Andi membalas tidak lama. "Dan kalau gue tetap bertahan, itu bukan buat jadi pahlawan.

Tapi biar pilihan kita punya ruang."

Tidak ada janji rencana kabur maupun

heroisme. Hanya dua orang yang perlahan belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan kontrak mana pun Bahwa kejujuran memang mahal, tapi kepatuhan yang kosong sering kali lebih mahal—dan dibayar seumur hidup.

Email itu dikirim pukul 08.13 pagi, jam simbolik tapi tidak aman.Judulnya sederhana:

Pemberitahuan Pengakhiran Hubungan Kerja Internal. Tidak ada kata terima kasih kalimat emosional atau penjelasan panjang dengan berbagai alasan. Nayla menulisnya sendiri—tanpa bantuan legal, tanpa dramatisasi.

Dengan ini saya menyampaikan keputusan untuk mengakhiri status saya sebagai talent internal terhitung dua minggu sejak tanggal email ini.

Saya tetap berkomitmen menyelesaikan seluruh kewajiban kontraktual yang masih berjalan sebagai talent eksternal sesuai perjanjian.

Ia membaca ulang dua kali memastikan kata-katanya benar, tidak ada bagian dirinya yang meminta izin.

Klik.

Email itu pergi. Dan bersama itu, satu identitas resmi ikut dilepaskan—tanpa upacara heroik.

\=\=

Reaksi tidak datang cepat, sistem jarang panik di hari yang sama hanya menunggu—memberi kesan bahwa semua masih terkendali.

Siang harinya, HR memanggil Nayla. Kali ini bukan ke ruang kecil lantai tujuh. Tapi ke ruang rapat menengah—cukup besar untuk terlihat formal, cukup kecil untuk tetap intim.

“Kami menerima email kamu,” kata HR, nada netral.

“Aku tahu."

“Kami ingin memastikan ini keputusan sadar.”

“Sepenuhnya.”

“Dan kamu paham konsekuensinya?”

“Aku paham hak dan kewajibanku,” jawabnya tenang. “Dan aku tidak melanggar apa pun.”

Kalimat itu membuat suasana berubah tanpa bujukan atau ancaman tapi justru membuat lebih serius. HR menutup map pelan. “Kami akan memproses sesuai prosedur.”

\=\=\=

Sore itu, Mira mendapat laporan akhir.

Talent resmi mengundurkan diri dari status internal. Kontrak klien tetap aktif tidak ada pelanggaran publik.

Ia menatap layar lebih lama dari biasanya.

“Dia bersih,” kata staf legal.

“Untuk sekarang,” jawab Mira.

Ia mengetuk meja pelan—kebiasaan lama saat sesuatu tidak berjalan sesuai simulasi.

“Kalau kita tekan Andi sekarang?” tanya staf.

“Belum,” kata Mira. “Kalau kita tekan sekarang, semua mata akan melihat ke arah kita.”

“Lalu?”

“Kita biarkan mereka merasa aman,” ucapnya. “Karena rasa aman itu mahal.”

\=\=\=

Andi dan Nayla bertemu lagi—kali ini tanpa membicarakan kontrak di kamar kos yang sempit malam itu

Mereka duduk berhadapan, dua gelas kopi sudah dingin

“Gue udah kirim,” kata Nayla singkat.

Andi tidak bertanya kapan hanya mengangguk.“Gimana rasanya?”

“Sepi,” jawabnya jujur

“Selamat datang di wilayah abu-abu, Nay.”Andi tersenyum tipis.

“Sekarang giliran kakak”

“Gue tahu.”

“Kakak yakin?”

Andi tidak langsung menjawab teringat kata kata ibunya, kalimat itu hidup rapi tapi kosong. “Gue belum bergerak, tapi udah berhenti pura-pura.”

Itu bukan janji tapi itu perubahan.

Dua hari kemudian, artikel kecil muncul di salah satu portal hiburan tanpa menuduh

atau menyebut nama langsung.

Judulnya samar: Talent Perempuan Mengakhiri Hubungan Internal dengan Agensi, Tetap Terikat Kontrak Besar

Isinya netral terlalu netral. Tapi di dunia yang hidup dari insinuasi, netral adalah bentuk lain dari isyarat.

Mira membacanya sambil tersenyum kecil. “Mulai,” katanya pelan.

Karena sistem tidak menyerang dengan palu tapi menyerang dengan bisikan.

Dan di kejauhan, tanpa mereka sadari sepenuhnya, taruhannya bergeser bukan lagi soal satu miliar tapi siapa yang lelah terlebih dulu—manusia, atau sistem yang terbiasa menunggu.

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!