NovelToon NovelToon
Ishen World

Ishen World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: A.K. Amrullah

Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkejutnya Tim Pahlawan

Sena bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Begitu tubuh Lisa ambruk bersimbah darah, insting kepemimpinan dan rasa paniknya langsung mengambil alih.

“Takeshi!” teriaknya dengan suara cemas namun tetap tegas, hampir memerintah. “Cepat panggil Honoka! Sekarang! Kita butuh dia untuk menyembuhkan Lisa!”

Takeshi menoleh. Pemandangan di hadapannya membuat dadanya terasa dihantam palu godam.

Lisa tergeletak di tanah, darah mengalir deras dari luka tusukan di perutnya. Tubuhnya terbujur kaku, napasnya terengah-engah, setiap tarikan udara terdengar berat dan menyakitkan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya mulai kehilangan warna, tanda jelas bahwa ia sudah kehilangan terlalu banyak darah.

“Baik!” jawab Takeshi tanpa ragu sedikit pun.

Ia berbalik dan berlari secepat mungkin menuju pintu mansion, langkahnya menghantam lantai batu dengan suara keras. Di belakangnya, suasana tetap kacau, teriakan, napas tertahan, dan ketegangan yang hampir bisa dirasakan secara fisik.

Sena berlutut di samping Lisa, gaun dan tangannya langsung ternoda darah. Matanya berkilat penuh keprihatinan, namun juga rasa bersalah yang mendalam.

“Lisa… bertahanlah,” katanya pelan namun tegas, seolah memaksa kenyataan untuk tunduk pada kehendaknya. “Kau tidak boleh mati di sini. Tidak setelah semua yang telah kau lalui!”

Lisa mengerang pelan, matanya setengah terbuka, pandangannya kosong dan goyah.

Akari berdiri beberapa langkah di belakang mereka, tangannya gemetar. Api kecil berkelip di telapak tangannya, mencerminkan amarah yang mendidih di dadanya.

“Kenapa…” bisiknya dengan suara parau. “Kenapa mereka harus mengorbankanmu…? Kau hanya menjalankan tugasmu…”

Amarah, duka, dan rasa tak berdaya bercampur menjadi satu, menyesakkan napasnya.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar. Takeshi kembali, bersama Honoka.

Honoka membawa tas penyembuhannya dengan tangan gemetar, napasnya terengah-engah akibat berlari sekuat tenaga. Namun begitu matanya menangkap kondisi Lisa, semua kelelahan itu langsung menghilang dari ekspresinya, digantikan fokus dingin seorang penyembuh sejati.

“Mundur semua!” perintah Honoka tegas. “Beri aku ruang!”

Tanpa membantah, semua orang menjauh. Honoka segera berlutut, membuka tasnya, menuangkan ramuan penyembuh langsung ke luka Lisa sambil melafalkan mantra dengan suara cepat namun terkontrol. Cahaya lembut menyelimuti tubuh Lisa, sihir penyembuhan mulai bekerja, menutup sebagian luka dan menenangkan napasnya yang kacau.

Lisa menggeliat pelan, alisnya berkerut seolah merasakan rasa sakit yang luar biasa bercampur dengan kehangatan sihir.

Namun wajah Honoka semakin menegang.

“Dia kehilangan terlalu banyak darah…” gumamnya sambil terus mengalirkan mana. “Lukanya dalam… sangat dalam.”

Cahaya sihirnya bergetar, lalu kembali stabil.

“Aku akan melakukan yang terbaik,” lanjut Honoka, suaranya sedikit bergetar kini, “tapi ini… ini sangat sulit.”

Sena menggenggam tangan Lisa erat-erat, seolah menyalurkan kekuatan lewat sentuhan itu. “Kau harus bertahan,” bisiknya. “Kita belum selesai. Kita tidak boleh kalah seperti ini.”

Waktu terasa melambat. Detik demi detik berlalu seperti siksaan. Tidak ada yang berani berbicara. Semua mata tertuju pada Honoka dan Lisa, pada cahaya penyembuhan yang perlahan meredup.

Akhirnya,

Lisa menarik napas panjang dan tersendat.

Kelopak matanya bergerak. Perlahan… terbuka.

“Sena…” suaranya sangat lemah, hampir tak terdengar.

Sena terdiam sepersekian detik, lalu senyum lega yang hampir pecah muncul di wajahnya. Air mata mengalir tanpa ia sadari.

“Kau selamat…” bisiknya, suaranya gemetar. “Kau masih hidup, Lisa…”

Lisa terbatuk pelan, dadanya terasa berat, seluruh tubuhnya seakan tidak lagi menjadi miliknya. “Aku… aku masih di sini…” katanya lirih, meskipun ia sendiri tahu kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.

Namun sebelum ada yang bisa bernapas lega sepenuhnya,

Tubuh Honoka tiba-tiba goyah.

“Honoka?” Akari tersentak.

Honoka jatuh terduduk, lalu terkulai ke lantai. Tas penyembuhannya terlepas dari tangannya.

“Honoka!!” Akari berlari menghampiri, berlutut di sampingnya. “Dia kehabisan mana… semuanya…”

Wajah Honoka pucat, napasnya tersengal lemah, tubuhnya benar-benar kelelahan.

Sena segera memeluk Honoka, suaranya panik namun tertahan. “Honoka! Bangun! Tolong… kau harus bangun…”

Tidak ada jawaban. Hanya napas tipis yang menjadi satu-satunya tanda bahwa Honoka masih hidup.

Takeshi berdiri tak jauh dari mereka, rahangnya mengeras. “Dia mengorbankan semua mananya untuk menyelamatkan Lisa,” katanya lirih. “Kita harus menjaganya sekarang.”

Sena mengangguk pelan, menahan emosinya agar tidak runtuh. “Bawa Honoka ke tempat yang aman,” katanya tegas. “Dia butuh istirahat.”

Lisa mencoba bangkit, meringis kesakitan. “Aku… aku masih bisa berdiri…” katanya lemah.

Sena segera menahannya. “Tidak,” ucapnya tanpa kompromi. “Kau sudah melakukan cukup. Sekarang giliran kami yang melindungimu.”

Keheningan yang berat menyelimuti mereka, keheningan setelah badai, namun dengan ancaman badai yang lebih besar di depan mata.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki lain terdengar memasuki mansion.

Kouji dan rombongan tiba.

Begitu melihat suasana, Lisa yang terbaring lemah, Honoka yang pingsan di pelukan Sena, dan darah yang belum sepenuhnya dibersihkan, wajah Kouji langsung mengeras.

“Apa yang terjadi di sini?” tanyanya dengan nada serius dan penuh kekhawatiran.

Akira Gojo mengerutkan dahi. “Kenapa kondisinya separah ini?”

Akame Yui melangkah maju, wajahnya pucat. “Lisa… Honoka… apa yang terjadi…?”

Satoru Yuji secara refleks menggenggam gagang pedangnya. “Apakah ada serangan?”

Kouji menatap Sena lurus-lurus. “Sena. Jelaskan.”

Sena menarik napas panjang. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena kemarahan yang ditekan terlalu lama.

“Ryunosuke dan Kaede,” katanya pelan namun berat. “Mereka kabur...”

Semua orang terdiam.

“Mereka terlibat dalam hal-hal gelap,” lanjut Sena. “Kaito… sudah mati.”

Akira Gojo menegang. “Kaito? Siapa yang membunuhnya?”

Sena memejamkan mata sejenak sebelum menjawab. “Mereka. Ryunosuke dan Kaede. Mereka adalah bagian dari Kultus Kehancuran.”

Suasana langsung berubah mencekam.

“Kaede dan Ryunosuke membunuh Kaito,” lanjut Sena, suaranya bergetar karena amarah. “Dadanya dirobek… jantungnya diambil.”

Kouji menggertakkan giginya. “Jadi… Haruto bukan satu-satunya.”

Akame Yui menutup mulutnya. “Aku tidak percaya…”

“Pengkhianat!,” gumam Murakami Jiro dengan suara dingin.

“Kultus Kehancuran sudah menyusup terlalu dalam,” tambah Yamada Shin.

“Dan ini baru permulaan, Kita baru beberapa bulan loh didunia ini!” ujar Sakurai Tomoe serius.

Kouji menatap Sena lagi. “Bagaimana kondisi Lisa?”

“Dia hidup,” jawab Sena. “Tapi lemah. Honoka mengorbankan hampir seluruh mana-nya.”

Yamato Endo melangkah maju. “Kalau begitu kita harus segera bergerak. Jangan beri mereka waktu.”

Jenderal Lisa mengangguk. “Target mereka sekarang adalah untuk pergi ke Hexagonia...”

Namun Sena berdiri.

“Kita tidak bisa pergi ke Hexagonia sekarang.”

Kouji menoleh tajam. “Kenapa tidak?!”

Sena menatapnya lurus, suaranya rendah namun penuh tekanan.

“Karena jika yang dikatakan anggota kultus itu benar…”

“…maka kemungkinan besar Six Shadows of Doomsday ada di sana.”

Ruangan langsung jatuh dalam keheningan total.

Tidak ada yang berbicara.

Karena semua yang hadir tahu,

jika itu benar, maka ini bukan sekadar pengejaran.

Ini adalah awal dari bencana besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!