Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membalaskan dendam
"Nak Dewa, mau kemana? Kamu belum menjawab pertanyaan Paman. Dimana Andrew sekarang?"
Dewa menghentikan langkahnya kemudian menatap Dito dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
"Minggir!" ucapnya dengan nada penuh penekanan.
"Nak Dewa, sebenarnya..."
Bugh.
Dewa meninju rahang Dito sekuat tenaga. Pria paruh baya itu langsung terkapar di lantai sambil meringis kesakitan.
"Dewa, apa kau sudah gila? Berani-beraninya, kamu meninju wajahku," teriak Dito marah. "Kalau sampai Nania tahu, dia pasti akan sangat marah padamu. Nanti, jangan frustasi kalau Nania tiba-tiba meninggalkan kamu lagi."
Dewa tersenyum miring. Dia menoleh ke arah Jun.
"Jun, ku beri waktu dua hari. Buat keluarga Anggara bangkrut."
"A-apa?" seru Dito terkejut.
"Baik, Tuan," angguk Jun seraya tersenyum senang.
"Tunggu! Sebenarnya ada apa ini?" tanya Dito sambil memeluk kaki Jun.
Dia sudah tidak bisa menggapai Dewa lagi. Langkah sang menantu terlalu cepat untuk ia kejar.
"Seharusnya, Anda intropeksi diri, Tuan Dito," jawab Jun seraya menghentakkan kakinya hingga pegangan Dito terlepas.
Tak berselang lama, Nessa turun dari lantai atas usai mendengar keributan yang terjadi. Wajahnya masih terlihat sangat pucat. Tubuhnya juga masih sangat lemas.
Dia bahkan harus dipegangi oleh seorang pelayan saat memaksa untuk turun ke bawah.
"Sayang, ada apa?" tanya Nessa. "Kenapa ribut sekali?"
Dito buru-buru menghampiri sang istri. Wajahnya terlihat sangat panik. "Gawat, Nessa. Gawat!"
"Ada apa?"
"Dewa, dia ingin membuat perusahaan kita jadi bangkrut."
Napas Nessa mendadak sesak. Tiba-tiba, dia jatuh tak sadarkan diri.
*
*
*
Sampai di rumah, Nania masih menunggu Dewa dengan secercah harapan bahwa Dewa pasti akan memaafkan kesalahannya.
Dia sudah berusaha sangat keras selama ini. Seharusnya, Dewa melihat semua itu.
"Dewa, maafkan aku, ya! Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya... aku hanya takut kamu tidak bisa menerima keberadaan Andrew. Tapi, percayalah Dewa! Keberadaan Andrew bukan karena keinginan ku. Aku... Aku diperkosa."
Apakah Dewa percaya!? Jika itu dulu, mungkin Dewa akan percaya. Tapi, masalahnya, sekarang Dewa tidak sebodoh itu lagi.
Matanya sudah terbuka lebar. Dia sudah dapat melihat dengan jelas, mana yang berbohong dan mana yang berbicara jujur.
"Jun, kurung dia di gudang!" titah Dewa kepada sang asisten.
"Dewa! Apa kamu sudah tidak waras? Ini aku, Nania. Apa kamu tega mengurungku ditempat buruk itu?"
"Cepat, Jun! Suara cemprengnya membuat aku sakit kepala."
Dewa sama sekali tidak menggubris ucapan Nania. Dia justru memerintahkan Jun untuk bekerja lebih cepat.
"Baik, Tuan," angguk Jun patuh.
Dia menyeret paksa Nania masuk ke dalam gudang. Tak peduli, meski Nania memberontak sekuat tenaga.
"Dewa, aku tidak mau dikurung," teriak Nania. "Sebenarnya, apa salahku, hah? Kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Apa semua ini karena Syakila? Kamu tega membuat aku jadi seperti ini hanya demi perempuan yang sudah membusuk dimakan belatung itu?"
Dewa menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Dia tak ingin mendengar ucapan Nania. Terutama, pada bagian yang mengungkit bahwa Syakila sudah tiada.
"Tidak. Syakila tidak mungkin meninggal. Dia pasti masih hidup," ucap Dewa seraya tertawa sumbang.
"Syakila pasti hanya sedang marah padaku. Makanya, dia tega membalas dendam dengan cara sekejam ini padaku."
Hahaha.
Dewa tertawa sambil menenggak segelas minuman keras yang baru saja ia tuang.
"Syakila, tunggu saja! Aku pasti akan membalaskan dendammu pada Nania dan keluarganya. Aku janji," lanjutnya bermonolog.
Dia hendak menenggak minuman beralkohol itu lagi. Namun, Jun tiba tepat waktu dan merebut gelas itu dari tangannya.
"Anda baru saja keluar dari rumah sakit. Anda tidak boleh minum alkohol, Tuan."
"Kalau aku tidak minum, aku tidak akan bisa melupakan rasa bersalahku pada Syakila, Jun," timpal Dewa.
"Sekalipun Anda minum, rasa bersalah itu pasti akan tetap ada. Anda tidak bisa membohongi diri Anda sendiri, Tuan."
Dewa tertegun sejenak kemudian mengangguk. "Ya, kamu benar. Rasa bersalah itu tidak akan pernah hilang."
"Setidaknya, Anda harus menjaga kesehatan. Kalau kondisi Anda lemah, lalu bagaimana caranya Anda bisa membalaskan dendam Nona Syakila?"
"Ya, kamu benar," angguk Dewa. "Aku harus sehat dan kuat jika ingin membalaskan dendam Syakila."
Melihat sang atasan kembali bersemangat, Jun sedikit bisa bernapas lega.
"Oh iya, Jun. Besok, bantu aku urus perceraian antara aku dan Nania."
"Baik, Tuan. Ada lagi?"
Dewa berpikir sejenak. Kemudian berkata,"Jun, sebaiknya, ginjal Syakila yang ada didalam tubuh Nania harus diapakan? Apa aku harus menggalinya dan mengambilnya kembali?"
Netra Jun sedikit bergetar. Bulu kuduknya meremang. Dulu, Dewa seperti orang gila saat ditinggalkan oleh Nania. Tapi, sekarang... sang atasan justru terlihat seperti psikopat saat ditinggalkan oleh Syakila.