Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. KETAKUTAN
Halil mengetuk ngetuk jarinya di meja. Beberapa kali di melihat ponselnya. Sudah seminggu sejak itu. Hanna belum sama sekali menghubunginya.
Pria itu berdiri dan mondar mandir diruangannya. Dia gelisah takut segalanya semakin parah.
" Kenapa dia belum menghubungiku juga".
Tok...tok...
Pintu ruangan dibuka dengan hati hati. " hey dokter ganteng, lo gak ke kantin". Farhan adalah salah satu dokter spesialis anak di Rumah Sakit itu.
"Kenapa sih lo, gelisah banget". Farhan mendudukan dirinya di kursi.
" Enggak ada, ya udah, kita ke kantin sekarang" Halil berjalan duluan, dia meninggalkan temannya begitu saja.
" hey tunggu, kok gue ditinggal" Farhan berlari mengejar Halil.
...****************...
Hanna menatap lama dirinya dicermin, dia baru saja memuntahkan makanan yang masuk keperutnya tadi pagi.
Matanya sudah mengeluarkan air mata karena sakit yang tak tertahan dan tenggorokannya terasa panas dan sakit.
Bukan dia tidak ingat dengan perkataan Halil. Dia hanya takut. Bagaimana kalau dia benar benar sakit, lalu bagaimana dengan kedua anaknya.
Apakah Murat akan menerimanya atau malah membuangnya karena merepotkan dan menjauhkannya dari anak anak, dia sama sekali tidak tahu. Wanita itu sangat ketakutan.
"Hiks...hiks...hiks.. Apa yang harus aku lakukan .."
tok...tok...tok...
" Mbak...mbak buka pintunya mbak".
Sarah mengantarkan Keanu yang baru saja bermain dirumahnya. Tadi sepulang sekolah bocah itu merengek ingin bermain dengan Adam anaknya Sarah.
"Tante....buka...abang mau pipis". Keanu bergoyang goyang untuk menahan pipisnya.
Sarah menepuk keningnya, dasar bocah kenapa baru sekarang. Wajah Keanu sudah meringis karena tidak tahan.
CEKLEK..
" Tante mau pipis" Hanna langsung sigap mengantarkan bocah itu ke toilet.
Setelah selesai Keanu berlari lagi ke halaman rumah untuk bermain lagi dengan Adam.
Sarah sudah didalam rumah bermain dengan baby Malika. Wanita itu sudah terbiasa bertamu dirumah Hanna, jadi dia tidak merasa canggung untuk masuk kerumah sahabatnya.
" Sar, ayo minum dulu" Hanna menghidangkan minuman dan dua toples cemilan didepan Sarah.
" Mbak santai aja, nanti juga aku minta kalau haus". Hanna hanya tersenyum.
Sarah memperhatikan sahabatnya sangat lama.
"Mbak..mbak sakit yah?". Pasalnya wajah Hanna kini lebih pucat dari biasanya. " Mbak habis menangis?" Sarah yakin sahabatnya ini tidak baik baik saja.
Hanna menunduk, dia bingung harus mengatakan apa pada sahabatnya." Mbak..apakah terjadi sesuatu?". Sejujurnya Sarah sangat khawatir pada Hanna, belakangan ini wanita itu lebih sering murung, seperti ada beban yang dia tanggung.
" Mbak ayo cerita, kalau ada masalah tolong jangan disimpan sendiri, please aku siap membantu kok mbak". Sarah sangat tahu sifat Hanna.
Wanita ini sangat tertutup dia tidak pernah menceritakan masalah hidupnya pada siapa pun kalau tidak dipaksa untuk bercerita.
" Sarah bisa antar aku ke Rumah Sakit".
DEG...
" kenapa mbak? apa mbak merasa sakit lagi". Meskipun tahu Hanna tidak baik baik saja. Hati Sarah tetap saja takut kalau mendengar Hanna kesakitan.
Hanna hanya mengangguk, wanita itu menunduk dan menghapus air matanya tanpa bicara. Sarah menggenggam tangan Hanna untuk menguatkan wanita itu.
" Mbak ayo aku antar, Jangan takut mbak, aku yakin semuanya akan baik baik saja" Sarah memberi semangat pada Hanna. Dia yakin semua itu hanya ketakutan Hanna, wanita itu yakin kalau semuanya akan baik baik saja.
...****************...
Suara deru mobil memasuki perkarangan rumah, Murat memarkirkan mobilnya ditempat biasanya. Hari ini tubuhnya sangat lelah. Tadi ada acara mendadak dikantornya.
Mau tidak mau dia harus ikut, karena salah satu Direktur perusahaannya berulang tahun. Jadi mereka mengadakan acara ulang tahun mendadak. Padahal sebenarnya pria itu tidak menyukai acara pesta semacam itu.
Murat meregangkan tubuhnya, dilihat waktu sudah menunjukan pukul 21.11 WIB. Untung saja tadi dia Izin pulang lebih cepat. Kalau tidak mungkin dia akan lebih malam lagi sampai rumah.
Pria itu merebahkan dirinya diatas sofa, dilihat rumahnya yang tampak sepi, karena para penghuninya sudah terlelap.
Murat sedikit kecewa, istrinya tidak menunggunya. Padahal dia sendiri yang menyuruh wanita itu untuk tidak menunggunya.
Tring...tring...tring..
Dia merogoh saku celananya, untuk mengambil ponsel
" IRENE CALLING" .
" Huft apalagi sih". Kesalnya
" Iya Irene, ada apa?" Suaranya terdengar malas.
" Kakak dimana?"
" Aku dirumah, kenapa?"
" Kenapa kakak gak bilang mau pulang, aku dari tadi cari kakak" lelaki itu memutar bola matanya malas.
" Tidak apa, aku hanya merasa lelah jadi aku minta izin pulang duluan".
" Yah kakak, tadinya aku kira kita akan pulang bersama, soalnya aku sudah menyuruh supirku pulang duluan tadi"
Murat bersyukur sudah pulang terlebih dahulu kalau tidak mungkin dia harus mengantarkan gadis manja itu dulu.
" Kamu bisa pulang naik taksi atau menyuruh sopirmu menjemputmu lagi". Pria itu tidak percaya seorang wanita sekaya Irene tidak tahu caranya pulang.
" Baiklah kak, aku akan minta dijemput sopirku saja" suara gadis itu terdengar kecewa, tetapi Murat tidak peduli. Karena baginya Irene bukan tanggung jawabnya.
Dengan langkah gontai Murat memasuki kamarnya. Dia melihat bagaimana istrinya tertidur. " Sepertinya dia lelah sekali".
Pria itu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah memeriksa keadaan anak anaknya.Pria itu mendekati Hanna, dia membelai rambut wanita itu dan mencium keningnya lama.
Dia lalu merebahkan diri disebelah istrinya. Pria itu tidak suka dengan posisi Hanna yang memunggunginya, dia membalik tubuh Hanna dengan hati hati agar berhadapan dengannya.
Lalu mencium bibir dan kening istrinya setelahnya dia memeluk sayang tubuh kurus istrinya. Boleh dibilang hal itu jadi kebiasaan favorit Murat yang tidak diketahui Hanna.
Tetapi tetap saja dalam kesehariannya pria itu selalu bersikap acuh dan datar pada istrinya. Yang membuat wanita itu tidak berharap lebih pada suaminya.