Dua keluarga yang semula bermusuhan akhirnya memutuskan menjalin aliansi pernikahan.
Posisi kepala negara terancam dilengserkan karena isu menjual negara pada pihak asing disaat perbatasan terus bergejolak melawan pemberontakan. Demi menjaga kekuasaan, Sienna sebagai putri bungsu kepala negara terpaksa menerima perjodohan dengan Ethan, seorang tentara berpangkat letjen yang juga anak tunggal mantan menteri pertahanan.
Bahaya mengancam nyawa, Ethan dan Sienna hanya bisa mengandalkan satu sama lain meski cinta dari masa lalu menjerat. Namun, siapa sangka orang asing yang tiba-tiba menikah justru bisa menjadi tim yang kompak untuk memberantas para pemberontak.
Dua dunia yang berbeda terpaksa disatukan demi mendapatkan kedamaian. Dapatkah mereka menjadi sepasang suami-istri yang saling menyayangi atau justru berakhir saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 (Misi Pembebasan part 2)
"Kita lihat saja, aku atau kamu yang bertemu malaikat maut terlebih dahulu!"
Tembakan flare melesat ke udara. Meninggalkan jejak asap putih sebelum meledak menjadi bola api kecil yang menerangi langit.
Ketua pemberontak itu tertawa, dia baru saja mengirimkan sinyal meminta bantuan.
"Sial!" Ethan mengumpat. Ia dan pasukannya haru bergerak cepat sebelum mereka disergap.
"Atur posisi, kita selesaikan mereka dalam lima belas menit," ucap Ethan memberi aba-aba pada pasukannya.
Harry mengangguk. Melalui isyarat, ia memimpin pasukan bersenjata untuk menjauh, naik ke atas bukit dengan cepat dan mengambil posisi mengintai target.
"Semua siap," ucap Harry melalui penghubung suara.
Ethan menyentuh alat in ear di telinganya lalu memasang kacamata thermal diikuti dengan pasukannya. Kode siap sudah diberikan. Tuhan memberi jalan, hujan mulai reda, tidak sampai lima menit, granat asap meluncur ke arah para pemberontak, mengaburkan pandangan mereka. Kesempatan itu dijadikan Ethan dan pasukannya untuk menyergap, bergerak cepat, menembaki satu-persatu pemberontak tanpa ampun.
Senjata dijatuhkan, tubuh kepala pemberontak terhantam ke tanah yang basah oleh Ethan yang lolos dari tembakannya. Peluru menggores perutnya usai merobek rompinya, tapi itu sama sekali tidak mengurangi ketangkasannya.
"Ampun... jangan tembak! Jangan tembak aku atau kalian melanggar hak asasi manusia!"
Rahang Ethan mengeras. "Tidak tahu malu!"
DOR!
Suara tembakan lagi-lagi memecah keheningan malam. Burung-burung yang hinggap di dahan pohon berterbangan, suara kepakan sayap mereka memenuhi rongga langit saat kabut asap mulai menghilang.
"Pikirmu semua berakhir mudah, Kapten?"
Ujung pistol menempel di kepala Ethan. Kerah baju Ethan ditarik dengan paksa. Satu pemberontak yang masih selamat, berhasil menyandera Ethan usai meminta Ethan melepaskan pistol serta baju anti pelurunya.
"Jatuhkan senjata kalian semua!" pinta pemberontak itu. Ada kepanikan dari sorot matanya, tapi ia tetap menodongkan pistol di belakang kepala Ethan.
"Cepat! Atau aku tembak kepala dia sekarang juga!" ancam pemberontak itu. Matanya menyala-nyala dalam kegelapan. Memerhatikan setiap pasukan Ethan. Tidak ada satu pun yang mati.
"Sialan," umpatan kecil itu terdengar di ujung telinga Ethan. Pemberontak itu gentar, ia bergerak memutar dengan tidak stabil. Menunggu kelompok pemberontak lainnya tiba.
Pelatuk telah di tarik, kapan pun perlu dapat melesat jika dilepaskan. "Kamu tidak takut mati, hah? Cepat perintahkan mereka semua menjatuhkan senjata!"
Akhirnya Ethan memberikan kode untuk para pasukannya meletakkan senjata mereka ke tanah. Dari atas mobil truk, Gion dan Iyan yang nyaris kehabisan napas terus memerhatikan, sama khawatirnya, tapi kondisi mereka tidak memungkinkan untuk membantu.
"Kenapa lama sekali?" keluh pemberontak itu sambil terus melihat ke arah jalan, menunggu balasan bantuan tiba.
"Mungkin mereka mengira kamu mati bersama dengan yang lainnya?" ejek Ethan. "Atau mungkin mereka menganggap dirimu tidak penting?"
"Omong kosong!" teriak pemberontak itu marah.
Ethan dapat merasakan ketakutan laki-laki yang masih terlihat sangat muda itu. Usianya mungkin baru belasan tahun. Namun, luka di tubuhnya sama sekali tidak menghalanginya untuk bertahan hidup dengan menjadikan Ethan sebagai tameng.
"Andaikan kamu tidak memilih menjadi pemberontak, mungkin kamu bisa menjadi prajurit yang hebat."
Pemberontak itu tertawa. "Maksudmu menjadi boneka negara, hidup untuk negara dan mati untuk negara?"
"Negara ini tidak pantas dibela! Tempat ini selalu menjadi buangan. Saat pandemi datang, tidak ada satupun posko kesehatan yang didirikan di tempat ini. Hidup mati kami tidak ada yang peduli. Kenapa kami harus berjuang untuk negara kotor ini? Orang tuaku mati karena tidak ada obat, tidak ada vaksin! Pemerintah seolah sengaja ingin memusnahkan kami dan merebut tanah kami untuk dijadikan alat negosiasi dengan pihak asing!" teriaknya emosional.
Air mata penderitaan yang bercampur amarah meluncur di sudut mata pemberontak itu. "Aku tidak akan berhenti sampai tanah ini menjadi milik kami!"
Kepala Ethan terdorong senjata yang semakin ditekan. "Kalian pantas mati!"
"Maaf...."
Tubuh pemberontak itu seketika membeku padahal niatnya adalah menembak Ethan.
"Maaf karena kamu merasakan semua itu," ucap Ethan lagi. "Kesalahan di masa lalu memang sangat fatal, aku sebagai seorang prajurit meminta maaf. Kami berjanji akan memperbaiki semuanya."
Ethan tahu, anak laki-laki itu tidak seburuk pemberontak lain yang termakan keserakahan, ia murni salah jalan, memberontak karena rasa frustasi.
"Jangan coba-coba memengaruhi aku!"
"Kamu tahu barang-barang yang sedang berusaha kalian rampas itu apa?"
Sambil mengajak bicara dan membuat kewaspadaan anak laki-laki itu mengendur, Ethan memberikan kode pada Harry untuk mengendap-endap, menunggu waktu yang tepat untuk menyergap.
"Itu semua adalah bahan bangunan untuk mendirikan sekolah dan pusat kesehatan. Selain itu juga ada alat-alat untuk produksi kopi. Kami berencana mengembangkan sektor pertanian tempat ini agar ekonomi kembali berjalan sebagaimana mestinya... kami sedang berusaha, berusaha memperbaiki kesalahan dan membangun tempat ini agar setara dengan daerah lainnya."
Pemberontak itu menoleh, melihat cepat ke arah barang-barang yang telah dimuat ke atas mobil bak terbuka, dan yang Ethan ucapkan adalah kebenaran. Perlahan todongan pistol itu mengendur. Detik berikutnya Harry telah menyergap dari belakang, menjatuhkan pemberontak itu ke tanah dan mengekang kedua tangannya di belakang punggung.
Ethan kemudian berjongkok, melepaskan masker hitam penutup wajah pemberontak itu. Dugaannya benar, dia masih terlalu muda untuk memahami mana yang benar dan salah. Anak yang tersesat karena kejamnya dunia bekerja.
"Siapa namamu?" tanya Ethan.
"Kamu tidak perlu tahu siapa namaku!"
"Aku perlu tahu," tegas Ethan. Nada suaranya rendah redam menekan.
"Jawab!" Harry ikut mengintimidasi.
"Vino," jawab pemberontak itu terbata-bata.
Ethan mengulas senyum tipis. "Lepaskan dia," pinta Ethan pada Harry membuat yang lainnya kebingungan karena biasanya Ethan dikenal tanpa ampun, dia bengis dan berdarah dingin, tapi tidak kali ini.
Ethan sendiri yang membantu Vino untuk berdiri lalu menepuk bahunya pelan. "Pegang kata-kataku, kami semua akan membuat perbatasan ini maju. Saat itu tiba, kamu akan selalu disambut untuk menjadi seorang prajurit yang hebat."
Vino menoleh, menatap tangan Ethan yang masih memegangi bahunya lalu kembali menatap wajah Ethan yang tersenyum hangat padanya.
"Pergilah..."
Meski ragu, tapi akhirnya Vino melangkah pergi. Kakinya sedikit pincang, sesekali ia menoleh ke arah Ethan dan pasukannya berada yang bersiap mengawal barang-barang yang gagal ia rampas bersama para pemberontak yang kini sudah tidak bernyawa. Air matanya menetes, senyuman Ethan membuat hatinya yang beku sedikit menghangat.
Namun, Vino tetap pergi, menembus gelapnya hutan menuju markas persembunyian para pemberontak.
"Kenapa kamu melepaskannya?" tanya Harry bingung.
"Dia menjadi jahat karena keadaan, tapi hatinya tidak benar-benar gelap. Aku dapat merasakannya. Ada keraguan, dia bisa saja membunuhku saat pertama kali menodongkan pistol di kepalaku, tapi alih-alih menatap benci, dia justru terlihat putus asa."
Harry menarik napas tanda mengerti. Mereka berdua kemudian mengecek keadaan Gion dan Iyan lalu membawa semua sandera beserta mobil-mobil para pemberontak untuk pergi ke barak militer.
Empat truk besar mengawal dibelakang, di awasi langsung oleh Ethan. Melintasi jalan berkelok. Pemukiman para pemberontak nampak bercahaya di tengah kegelapan.
"Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam sana, mereka belum tentu benar-benar ingin memberontak," ucap Ethan pada Harry.
Harry mengangguk tanda sependapat. "Sayangnya, wajah kita sudah ditandai."
Ethan tersenyum penuh makna. "Vino mungkin bisa membantu kita kelak."
"Bagaimana kamu begitu yakin?"
"Hanya firasat."
Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Setibanya di barak, tim medis langsung menyerbu, memberi pertolongan pertama bagi yang terluka.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Siren pada Ethan. Raut wajahnya khawatir. Ia sudah tidak menggunakan rompi anti peluru. Bajunya basah oleh darah, satu baku tembak sebelumnya ia tergores cukup dalam, tapi untungnya rompi anti peluru mampu menyelamatkan.
"Aku baik-baik saja, lukanya tidak dalam, sebaiknya kamu periksa yang lain. Iyan dan Gion terluka cukup parah."
"Tapi-"
"Siren, kamu harus memprioritaskan yang paling parah."
Meski terlihat enggan, akhirnya Siren tetap berlari menuju ruang medis. Iyan kehilangan banyak darah, begitu pun dengan Gion. Peluru yang bersarang di tubuh mereka akhirnya di keluarkan.
Siren sendiri yang menangani Iyan sementara Gion ditangani oleh dokter lain.
"Syukurlah mereka tidak jago menembak, pelurunya tidak sampai menghancurkan tulangmu," jelas Siren begitu selesai melakukan operasi.
"Terima kasih," ucap Iyan tersenyum hangat.
"Istirahatlah...."
Siren baru akan pergi, tapi Iyan menahannya. "Tidak mau menemaniku?"
"Aku masih harus mengecek keadaan yang lainnya. Jangan manja." Siren menarik tangannya, ia bergegas keluar dari ruang darurat. Gion yang juga baru sadar pasca operasi dan berada tepat di sebelah Iyan hanya bisa memberikannya semangat.
"Seiring berjalannya waktu, Siren pasti akan luluh."
"Entah lah... rasanya sedikitpun dia tidak mengkhawatirkan aku."
Raut wajah sedih Iyan tidak dapat ditutupi. Ia lantas memilih memejamkan mata, mencoba meredam lara dalam hati.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini lebih menyiksa daripada selongsong panas yang menembus kulitnya.
Sementara itu, luka di perut Ethan baru saja dijahit. Ethan memang selalu mengutamakan anggotanya. Ia yang paling belakang diobati ketika Siren datang, gadis itu tidak sungkan merebut pekerjaan perawat dan menggantikannya.
"Kamu seharusnya segera mengobati lukamu. Lihatlah seberapa pucat wajahmu sekarang?" ucap Siren mengomel, ia nyaris menangis melihat ke adaan Ethan.
"Kamu kehilangan banyak darah... jangan lupa kalau golongan darahmu itu langka. Jika terjadi sesuatu bagaimana? Kita ini ada di perbatasan, aku harus mencari kemana golongan darah yang sama denganmu?"
Air mata Siren menetes. Ethan dapat merasakan ke khawatiran mantan kekasihnya itu.
"Aku baik-baik saja, jangan menangis."
Pandangan Siren terangkat naik. Detik berikutnya ia langsung memeluk Ethan, tepat saat Sienna memasuki ruangan rawat tempat Ethan diobati.
Langkah kaki Sienna seketika terhenti. Ia gelisah nyaris sepanjang malam mengkhawatirkan suaminya, tapi di sana laki-laki itu duduk, dipeluk seorang wanita.
Wanita yang Ethan sebut-sebut sebagai pemilik hatinya.
"Aku dapat memberikan hidupku padamu, tapi tidak dengan hatiku...."
Kalimat itu berdengung kencang di telinga Sienna, mengingatkannya pada ucapan Ethan sebelum menikahinya.
Sementara itu tangisan Siren mengambil seluruh perhatian Ethan. Ia nyaris membalas pelukan Siren untuk menenangkannya saat kedua matanya tanpa sengaja menangkap keberadaan istrinya.
"Sienna...." Ethan langsung mendorong tubuh Siren lalu melangkah cepat menghampiri Sienna.
Gadis itu menatapnya dingin. Lirikan matanya bergerak menuju perban yang melingkar di perut Ethan.
"Syukurlah kamu masih hidup." Satu kalimat itu terdengar datar, seolah ia tidak pernah khawatir sebelumnya. Setelahnya, Sienna memilih pergi.
"Sienna, tunggu dulu... jangan salah paham," pinta Ethan mencekal pergelangan tangan istrinya sebelum benar-benar menjauh.
Namun, Siren muncul dari belakang, tanpa sungkan menyentuh bahu polos Ethan yang tidak tertutupi apa pun.
"Kita belum selesai, Eth...."
***