Jangan lupa follow IG baru author
"@queenzah.aquine"
Hai teman-teman
Ini novel pertamaku.
Menceritakan, Syifa seorang gadis yang sangat gengsi dan selalu acuh tak acuh bila bertemu orang asing. Dan, Luthfi, seorang pria dengan temperamennya yang cuek serta dingin kepada siapapun yang asing baginya
100% karya ini milik, Queen Izzah.
Apabila ada Nama tokoh dan Tempat yang sama, Queen Izzah mohon maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Izzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyatain cinta
"Ngga. Itu udah tepat jawabannya", Fahri mengancungkan jempolnya
"Saking tepatnya, gue jadi ngga tau mau ngomong apa" timpal, Vigo yang tersenyum
"Kalian berdua kenapa? Kok jadi aneh", Syifa mengerutkan keningnya
"Cowok kan emang suka gitu. Ngga ada apa-apa aja mereka bisa senyum sendiri" cetus, Viona
"Bukannya cewek yang suka senyum sendiri?" tukas, Luthfi menoleh kearah, Viona
"Dih. Loh pikir cewek doang? Cowok juga sering kali. Apalagi kalau lagi genit", Risa memeluk tubuhnya sendiri
"Jijik amat loh" tukas, Syifa
"Emang loh udah kebal?" tanya, Risa dengan sinis
"Santai dong muka loh Bu'. Sinis amat", Syifa menyapu wajah, Risa
"Syifa" seru, Risa dengan kesal. "Ancur muka gue lo buat", Risa merapikan rambutnya dari wajahnya
"Sok cantik loh mah" Ketus, Viona
"Emang gue cantik gimana dong" ujar, Risa dengan bangganya
"Ia in aja lah biar cepat" sahut, Syifa dengan malas
"Masih mau main apa ngga nih?" seru, Vigo
"Kaliah tuh sekali main, ribut mulu" tukas, Luthfi
"Jarang banget akurnya" timpal, Fahri
"Risa tuh", Syifa dan Viona kompak menjawab
"Eh apa-apaan? Kenapa jadi nyalahin gue?" seru, Risa yang tidak ingin disalahkan
"Emang loh biang keroknya" cetus, Syifa
"Stop. Masih mau lanjut main atau lanjut ribut?" sergah, Luthfi
"Main" jawab mereka dengan kompak
"Putar botolnya, Fa", Viona memberikan botol tersebut kepada, Syifa
Syifa akhirnya memutar botol tersebut. Saat botol tersebut sedang berputar, mereka yang belum kena giliran sudah waspada. Takut-takut jika botol tersebut mengarah kepadanya. Bibir botol tersebut akhirnya berhenti tepat dihadapan, Fahri
"Selamat gue" ucap, Risa mengusap dadanya karna botol tersebut tidak mengarah kepadanya
"Nanti juga botol itu ngarah ke loh" seru, Viona
"Bodo amat. Yang penting ngga sekarang" ujar, Risa
"Truth or dare loh, Ri?" tanya, Vigo
"Dare dong. Biar ngga truth mulu" tukas, Luthfi
"Ia dare aja, Ri. Masa dari tadi truth mulu" timpal, Viona yang mencoba meyakinkan, Fahri
"Punya rencana apa loh?" cetus, Risa sinis kepada, Viona
"Apa sih loh. Tadi kan yang banyak dipilih emang truth mulu. Sekali-kali dare dong biar ngga hambar" tutur, Viona
"Ayo, Fahri pilih apa? Truth or dare?" tanya, Syifa kembali
"Ya udah deh. Dare aja" ucap, Fahri mantap
Senyum, Vigo dan Viona pun terbit seketika. Sepertinya mereka memang sedang merencanakan sesuatu.
"Gue dong mau yang pertama", Viona dengan cepat mengangkat tangan
"Udah gue duga", Risa memutar malas bola matanya
"Biarin. Wle", Viona menjulurkan lidahnya kearah, Risa
"Ribut lagi nih?" cetus, Luthfi dengan ekspresi datar
"Tau nih mereka berdua. Ribut mulu kerjaannya" timpal, Syifa
"Baru sedetik aja loh insaf, udah malah nyalah-nyalahin" ketus, Viona
"Tau loh. Paling ntar juga loh ikutan" tukas, Risa kesal
"Ok stop. Gue yang kedua ngasih loh dare nya" ucap, Vigo. "Ayo, Vio. Dare untuk, Fahri" imbuhnya
"Ok. Fahri?" panggil, Viona dengan senyum jahilnya
"Apa? Please deh jangan senyum kek gitu? Nakutin banget" gerutu, Fahri yang mulai tau kejahilan, Viona sedang kumat
Viona hanya tertawa. "Jadi, gue mau loh nyatain cinta ke, Risa", Viona berusaha menahan tawanya
Sebelum, Fahri bersuara, Risa sudah protes duluan "Ngga ada yah kek gitu. Ngga mau gue. Gila kali yah" protes, Risa dengan kesal
"Apaan ngga ada. Adalah, tadi juga gue gitu. Lagian loh cuma duduk doang yah. Fahri tuh yang harusnya protes, bukan loh" hardik, Syifa kepada, Risa
"Yah gue protes lah. Nama gue loh bawa-bawa" seru, Risa
"Benaran yah. Tadinya gue mau protes. Tapi giliran, Risa yang protes, gue pengen ngakak sumpah" tawa, Fahri akhirnya lepas
"Kenapa sama gue? Salah kalau gue protes?" gerutu, Risa yang melihat, Fahri terbahak
"Cepetan deh, Ri. Ngga usah ngeles" ujar, Viona
"Sabar bu'. Astaga", Fahri hanya menggelengkan kepalanya. "Risa? Loh mau jadi cewek gue ngga?", Fahri berusaha keras untuk menahan tawanya saat ucapannya disampaikan kepada, Risa
"Ngga mau gue. Ogah" seru, Risa yang seperti orang jijik
"Loh pikir gue mau?" tawa, Fahri kembali pecah
"Loh mainin gue?" ketus, Risa dengan begitu kesal
"Yang bilang ini beneran siapa emang? Kan cuma game doang" tukas, Syifa. Risa hanya mencibir
"Sekarang giliran gue yah?" seru, Vigo
"Bikin dia serangan jantung. Tadi kan gagal", ucap, Luthfi yang melirik, Fahri
"Gue mah ngga mempan" jawab, Fahri dengan songong
"Sombong amat luh pak" cetus, Viona
"Telpon, Dini sekarang. Bilang loh kangen" senyum, Vigo terbit seketika
"Loh mau ngejatuhin harga diri gue?" kesal, Fahri yang akhirnya mulai emosi
"Akhirnya dia serangan jantung" ucap, Luthfi yang disambut tawa yang lainnya kecuali, Fahri yang sedang kesal
"Masih berani loh songong" ledek, Viona disela-sela tawanya
"Buktiin dong, Fahri. Kalau loh bisa. Loh kan cowok, masa takut" timpal, Syifa yang ikut menggoda, Fahri walau ia tidak tau siapa, Dini itu
"Loh nyatain cinta depan gue biasa aja. Masa sekarang cuma lewat telpon aja loh ngga berani" tukas, Risa yang juga ikut meledek, Fahri
"Ngga tau aja loh dia siapa" gerutu, Fahri dengan malas
"Ia. Dia kan yang bikin loh ngerasain cinta sejati pada masanya" tawa, Vigo meledak lalu diikuti oleh, Viona
"Cinta pertama loh" timpal, Viona dengan begitu gembira
"Malas banget gue sumpah. Gue ngga mau bahas-bahas dia lagi" ketus, Fahri
"Ayo, Fahri. Semangat", Syifa menaikkan tangannya memberi semangat, "Gue tau loh berani" imbuhnya
"Ayo dong. Berani ngga" goda, Risa dengan menaik-turunkan alisnya
"Risa nantangin loh, Ri" sahut, Luthfi menyenggol lengan, Fahri
"Ah. Kesel gue" walau begitu, Fahri tetap meraih ponsel yang ada di saku celananya lalu menekan tombol panggil pada satu nama yang tertera 'Dini Putri Rezkia'
Sambungan telepon pun mulai berdering tanda memanggil. Fahri pun men-speaker. Degupan jantung milik, Fahri mulai tidak beraturan. Keringat mulai bercucuran di dahinya. Vigo dan Viona hanya terus menahan tawa. Sedangkan, Syifa, Luthfi dan Risa hanya menunggu seseorang disana menjawab panggilan tersebut
"Halo" suara wanita terdengar diseberang sana
Susah banget soalnya nemu novel yang bagus gitu buat di baca.
Terakhir aku baca yang judulnya "(Siapa) Aku Tanpamu)", bagus banget ceritanya tapi yang baca dikit, kasian otornya.
Dan jangan lupa, searchnya pakek tanda kurung