NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengawal

"Kenapa kau seperti dikejar setan begitu Kundu?", tanya Jenar Karana sambil menyeka keringat nya seraya berjalan mendekati sahabatnya itu.

" Kau ini ada ada saja hoosshhh...

Sebentar, aku haus. Minta minum nya ya"

Tanpa menunggu persetujuan Jenar Karana, Si Kundu langsung menyambar kendi berisi air minum di bawah pohon beringin yang menjadi tempat peristirahatan Jenar Karana. Suara tegukan tenggorokannya bahkan terdengar di telinga si pendekar muda ini.

"Ahhh segarnya... ", seru Si Kundu sambil meletakkan kendi air minum itu. Rupanya kendi air minum itu sudah kosong, masuk ke dalam perut Si Kundu yang buncit.

" Eh kodok berut ( sejenis katak beracun yang sering ada di pemukiman penduduk)!!

Berita penting apa yang kau bawa hah?! Jangan suka membuat orang kaget, Ndu.. ", tanya Jenar Karana yang kesal karena sikap Si Kundu ini.

" Begini, Jenar..

Guru kita baru menerima utusan dari Adipati Bhagawanta, Sri Aji Dyah Saladu. Meminta beberapa orang murid untuk membantu pengawalan putra nya Dyah Rangga yang akan berangkat ke Kerajaan Galuh untuk ikut sayembara pemilihan suami putri dari Raja Galuh Prabu Rakeyan Jayadrata Sang Lumahing Kerta, Nimas Ayu Pangukir.

Guru mengutus Kakang Limbu Jati dan dirimu untuk mewakili nya menjadi pengawal Dyah Rangga. Kalau kau bersedia, aku juga akan ikut serta ", terang Si Kundu sembari menatap ke arah Jenar Karana.

Lelaki muda itu tak segera menjawab omongan Kundu tetapi justru menoleh ke arah Maharesi Siwanata seolah-olah meminta jawabannya.

Hemmmmmmmm...

" Mungkin inilah takdir yang harus kau lalui, Jenar..

Dengan adanya perjalanan ini, kau akan belajar tentang seluk-beluk kehidupan bermasyarakat juga dapat mengetahui dunia persilatan. Selain itu, jarak Istana Galuh ke Lembah Tengkorak tidak terlalu jauh. Kau bisa mendatangi mereka setelah tugas pengawalan mu selesai. Bukankah ini akan mempermudah jalan mu untuk mendapatkan kotak kayu hitam itu? ", Maharesi Siwanata tersenyum tipis setelah berbicara.

" Kalau begitu adanya, murid bersedia untuk menemani Kakang Limbu Jati menjadi pengawal putra Adipati Bhagawanta, Eyang Guru.. ", ucap Jenar Karana sambil menghormat pada gurunya.

" Kau tunggu sebentar, aku punya sesuatu yang mungkin akan berguna untuk mu.. "

Baik Jenar Karana maupun Si Kundu saling pandang saja tatkala Maharesi Siwanata berkata demikian. Mereka terus memperhatikan setiap langkah orang tua itu yang berjalan ke puncak bukit. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa 2 buah pedang lengkap dengan sarungnya.

Satu pedang bersarung hitam bentuknya sedikit melengkung di ujungnya sedangkan satu lagi pedang dengan tampilan seperti pada umumnya hanya memiliki corak awan berwarna merah di sarungnya.

"Ini adalah Pedang Taring Naga sedangkan yang bersarung merah dengan pola awan ini adalah Pedang Awan Merah", ucap Maharesi Siwanata sambil mengulurkan dua senjata itu pada Jenar Karana.

"Meskipun bukan senjata dengan kekuatan tertinggi tetapi mereka bukanlah senjata biasa. Pedang Taring Naga sangat tajam, mampu memotong kayu besar dengan sekali tebas. Bahkan jika hanya senjata biasa, Pedang Taring Naga mampu mematahkan bilah pedang musuh dengan mudah.

Pedang Awan Merah, meskipun tak setajam Pedang Taring Naga tetapi ia memiliki kemampuan mengeluarkan asap merah yang sanggup membutakan mata musuh. Dengan kemampuan nya ini kau bisa membunuh musuh mu dengan lebih mudah, Jenar.

Jadikan kedua senjata ini sebagai andalan mu. Dengan menggabungkan nya pada Ilmu Pedang Tanpa Wujud yang sudah kau pelajari, kau akan menjadi pendekar tangguh yang disegani ", lanjut Maharesi Siwanata kemudian.

" Terimakasih Eyang Guru..

Segala petuah dan nasehat Eyang Guru akan murid perhatikan dan laksanakan. Mohon doa restunya Eyang Guru.. ", Jenar Karana segera berlutut dan bersujud di kaki Maharesi Siwanata.

" Berangkatlah dan tetap berhati-hati.. ", balas Maharesi Siwanata sambil mengelus kepala Jenar Karana.

Segera setelah berpamitan, Jenar Karana dan Si Kundu meninggalkan Bukit Karang Bolong. Maharesi Siwanata terus memperhatikan mereka hingga menghilang di balik tikungan bukit.

" Takdir mu ada di tangan mu sendiri, Jenar.. ", gumam Maharesi Siwanata sebelum ia berbalik badan dan menghilang.

Tak butuh waktu lama bagi Si Kundu dan Jenar Karana untuk sampai di Padepokan Pesisir Selatan. Sesampainya disana, mereka bergegas menuju aula utama Padepokan Pesisir Selatan dimana Resi Mpu Tidu berada.

"Jadi Guru mengijinkan mu untuk mengawal Dyah Rangga ke Galuh, Jenar? ", tanya Resi Mpu Tidu usai mendengar cerita Si Kundu baru saja sambil menatap wajah tampan Jenar Karana dengan kelegaan tinggi.

" Benar, Guru...

Eyang Guru sudah mengijinkan ku untuk menemani Kakang Limbu Jati menjadi pengawal Dyah Rangga ke Galuh. Eyang Guru bahkan memberi ku dua pedang ini sebagai senjata andalan", jawab Jenar Karana sambil menunjukkan dua pedang yang kini ada di punggung nya.

"Bagus bagus bagus sekali hehehe..

Sekarang kau istirahat saja. Si Kundu akan menyiapkan bekal perjalanan mu esok pagi. Simpan tenaga mu baik-baik, Jenar. Kundu, habis ini kau ke gudang penyimpanan. Ambil beberapa bahan pangan kering secukupnya untuk Jenar dan Limbu ", Resi Mpu Tidu mengalihkan perhatiannya pada Si Kundu.

" Lah kok aku yang disuruh menata bekal perjalanan mereka, Guru?

Aku kan juga ikut serta dalam perjalanan ini ", protes Si Kundu dengan nada tidak senang.

"Kalau kau menolak, kau tak usah ikut perjalanan ini. Aku suruh orang lain saja untuk melakukan nya", ancam Resi Mpu Tidu yang membuat Si Kundu langsung blingsatan.

" Eh eh ya ya jangan Guru..

Iya iya, aku siapkan bekal untuk perjalanan Kakang Limbu dan Si Jenar. Tak usah pakai mengancam ganti orang juga kali.. ", tutur Si Kundu sambil bersungut-sungut meninggalkan aula utama Padepokan Pesisir Selatan.

Jenar Karana tersenyum simpul melihat ulah Si Kundu yang kesal karena dirinya.

Senja menyapa kawasan pesisir selatan wilayah Kerajaan Medang, menciptakan semburat warna jingga kemerahan di langit barat. Ribuan ekor kelelawar berarak terbang keluar dari sarangnya, mencari makan setelah seharian bersembunyi dalam kegelapan. Sedangkan para burung dan hewan siang lainnya sudah berada di dalam sarang bersama keluarga setelah seharian lelah mencari cara menyambung hidup.

Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan setelah hujan mengguyur kawasan ini walaupun cuma sebentar. Belalang pun juga tak mau kalah dengan suara berisik nya, mewarnai suasana malam di kawasan Padepokan Pesisir Selatan.

Begitu ayam jantan berkokok bersahut-sahutan menjadi penanda pagi bersama rona jingga di ufuk timur, mengusir gelap yang merengkuh malam dengan dinginnya, kehidupan Padepokan Pesisir Selatan kembali menggeliat setelah semalam pulas memeluk mimpi.

Beberapa murid perempuan mulai menjalankan tugasnya untuk menyiapkan pengisi perut para saudara seperguruan, mulai menumbuk padi di belakang. Suara alu berbenturan dengan lesung menciptakan irama indah di ujung hari baru yang sebentar lagi dijalani.

Yang lain nampak sibuk menyalakan api di tungku, sebagian mengupas singkong sedangkan yang lain nampak sibuk menyiapkan sayur-sayuran sebagai teman nasi diatas pinggan. Hanya seorang murid perempuan yang nampak tidak bersemangat untuk bekerja hari ini.

Dia adalah Rikha Padmi, murid paling cantik Padepokan Pesisir Selatan. Ia sudah lama memendam hasrat rasa pada Jenar Karana dan sore tadi ia mendengar bahwa Jenar Karana dan Limbu Jati akan menjadi pengawal Dyah Rangga ke Galuh Pakuan. Semalam suntuk ia sulit memicingkan mata karena terus kepikiran dengan kepergian Jenar Karana ini.

Kegundahan hati Rikha Padmi ini rupanya disadari juga oleh Sojara, kakak seperguruan Rikha Padmi yang juga merupakan sahabat dekatnya. Sojara pun segera mendekati Rikha Padmi dengan gaya centilnya.

"Aduh aduh perawan cantik pagi pagi sudah melamun aja. Jangan keterusan, nanti kesurupan setan loh.. ", ujar Sojara yang membuat Rikha Padmi segera tersadar dari pikirannya.

" Kau ini apa apaan sih, Sojara??

Siapa juga yang sedang melamun? Kau ini ada ada saja ", sergah Rikha Padmi sambil menunduk menyembunyikan semburat merah di wajah cantik gadis berusia 19 tahun itu.

" Iya iya aku salah. Tapi dengar dengar Si Jenar mau pergi menjadi pengawal anak Adipati Bhagawanta loh Kha..

Sepertinya ia berangkat pagi ini", lanjut Sojara sambil menatap ke arah sosok yang keluar dari tempat peristirahatan para murid putra Padepokan Pesisir Selatan.

"Aku juga dengar begitu, Sojara.. ", balas Rikha Padmi dengan nada lemas.

Mata Sojara melebar tatkala ia dengan jelas melihat sosok yang sedang ia bicarakan dengan Rikha Padmi melangkah ke arah mereka. Ia dengan bersemangat menunjuk ke arah Jenar Karana sambil berkata,

" Panjang umur..!

Tuh orang yang kita bicarakan datang.."

1
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!