Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Aldian sudah tertidur pulas di kamar. Bagas yang menidurkannya tadi keluar perlahan, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak berisik. Wajahnya tampak lelah.
Kyra, sementara itu, memilih menyibukkan diri di area dapur kecil, membersihkan sisa makan malam mereka.
Bagas berdiri di ambang pintu dapur beberapa detik, memperhatikannya dalam diam. Lalu ia mendekat.
“Sudah,” ucap Bagas pelan.
Kyra tersentak kecil. “Hah?”
Bagas mengambil lap yang Kyra gunakan untuk mengeringkan piring. Ia mengambilnya begitu saja dari tangan Kyra.
“Aku bilang sudah. Duduk.”
Bagas menunjuk kursi kecil di meja dapur. “Duduk. Aku mau bicara.”
Kyra menelan ludah, gugup. Perlahan ia duduk, jemarinya saling meremas di pangkuan. Bagas duduk di kursi seberangnya. Hening beberapa detik.
"Aku lelah dengan tarik ulur ini," Bagas memulai, suaranya pelan tapi tegas. "Kau dan Aldian adalah istri dan putraku"
"Kita sudah bercerai, Bagas," potong Kyra. "Aku bukan istrimu."
"secara hukum kau masih istriku, aku tidak pernah menanda tangani surat cerai yang kamu buat waktu itu" balas Bagas. "Kita punya Aldian. Dan aku sudah memutuskan, aku tidak akan membiarkan Aldian terus memanggilku 'Om'."
“Aku ingin tahu kapan kau akan memberitahunya bahwa aku adalah ayahnya.”
Kyra mengangkat wajahnya cepat, matanya membesar. “Bagas… itu itu tidak mudah.”
“Aku tahu,” jawab Bagas. “Tapi Aldian bukan bayi lagi. Dan dia berhak tahu siapa ayah kandungnya.”
“Aku tidak mau dia bingung,” lanjut Bagas. “Tidak mau dia tumbuh dengan banyak pertanyaan. Tidak mau dia berpikir aku hanya orang asing yang kebetulan peduli.”
Ada luka terselubung di suara Bagas saat ia mengucapkan itu. Luka yang selama ini ia tahan.
Ia bersandar sedikit ke depan, menatap Kyra tanpa berkedip.
“Dan satu hal lagi.”
Kyra menegang lagi. “Apa?”
Bagas meletakkan kedua tangannya di atas meja.
“Aku akan menikahimu agar status kita jelas"
Kyra terdiam. Ia menatap Bagas tak percaya. Detak jantungnya langsung berpacu kencang.
"Apa?!" Kyra hampir berteriak.
"Jangan berteriak, Aldian sedang tidur," bisik Bagas. "kenapa kamu kaget begitu, bukannya hal ini sudah aku katakan saat aku membawamu ke rumah mama waktu itu"
Wajah Kyra langsung memanas. “Bagas—!”
“Dengar aku dulu,” potong Bagas cepat tapi lembut. “Aku tidak memaksamu. Aku tidak menuntut jawaban sekarang. Tapi aku… aku sudah memikirkannya sejak lama.”
"aku ingin Aldian tidak kehilangan figur ayah dalam hidupnya, dalam masa kecilnya. Aku tidak mau menjadi seorang ayah dan suami yang brengasek"
Bagas memajukan tangannya, meraih kedua tangan Kyra yang terlipat gugup di atas meja. Jemarinya yang hangat dan besar menggenggam tangan Kyra erat, memaksa wanita itu untuk fokus pada dirinya.
"Aku ingin menjadi Ayah seutuhnya bagi Aldian, dan aku ingin menjadi suami yang benar-benar bisa kau andalkan, Kyra."
Kyra mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Bagas terlalu kuat, namun tidak menyakitkan.
"Kita punya anak, Kyra," lanjut Bagas, tatapannya memohon. "Aldian butuh kita berdua. Dan kau... kau tidak perlu lagi berjuang sendirian, hanya demi harga diri. Aku tahu kau terluka, aku tahu kau marah. Tapi izinkan aku memperbaiki ini. Izinkan aku menebus semua kesalahanku di masa lalu, termasuk kenapa aku tidak pernah tahu tentang Aldian selama ini."
Bagas mendekat, menatap mata Kyra sejenak, mencari izin yang tidak akan pernah ia dapatkan dengan kata-kata. Lalu, dengan kelembutan yang mengejutkan, Bagas mencium bibir Kyra.
Ciuman itu bukan ciuman penuh gairah seperti saat mereka berdua masih muda. Ini adalah ciuman yang lambat, penuh kerinduan dan kepemilikan. Ciuman yang mengatakan, 'Kau milikku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.'
Bagas menahan ciuman itu sesaat, lalu menarik diri, tetapi ia masih mempertahankan kontak mata dengan Kyra. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Pikirkan ini," bisik Bagas serak, suaranya lebih dalam dari sebelumnya. "Dan tolong, jangan lari lagi dariku."
" aku akan pulang malam ini, besok pagi aku kesini lagi. sekarang tidurlah tidak baik untuk kesehatan mu tidur larut malam"
Bagas kemudian melepaskan tangan Kyra, bangkit dari kursi, dan berjalan cepat menuju pintu. Sedangkan Kyra duduk membeku di kursi dapur, tangannya menyentuh bibirnya sendiri.
Pukul tiga pagi. Kyra tidur tidak nyenyak, ciuman Bagas dan lamaran mendadak itu terus menghantuinya. Ia berbaring kaku di ranjang di samping Aldian.
Lampu jalanan di luar gang cukup terang, menembus celah-celah jendela dan tirai, memberikan penerangan remang-remang di ruang tamu dan area kamar.
Saat keheningan paling pekat menyelimuti kontrakan, Kyra samar-samar mendengar suara yang sangat pelan. Bukan suara ketukan, melainkan bunyi pelatuk kunci yang diputar perlahan.
Kyra langsung tersentak bangun. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya. Pintu depan kontrakan mereka terbuka sedikit, tanpa suara decitan.
Sosok yang masuk segera terlihat jelas di bawah cahaya remang-remang lampu jalanan. Sosok tinggi tegap itu adalah Bagas. Ia masuk dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara yang tercipta. Kyra tahu betul itu dia. Pertanyaannya, sejak kapan dia memiliki kunci kontrakan mereka?
Kyra ingin berteriak, menuntut penjelasan, tetapi Bagas sudah berada di ambang tirai kamar.
Bagas menyibak tirai sedikit. Ia menatap ke dalam, ke ranjang kecil di mana Kyra dan Aldian tidur. Ia melihat wajah Kyra yang jelas-jelas terjaga seperti baru bangun tidur, menatapnya dengan tanda tanya.
Ia melangkah satu langkah ke samping ranjang, membungkuk sedikit, dan mengusap pelan puncak kepala Aldian. Gerakannya begitu lembut dan penuh kasih.
Setelah memastikan Aldian baik-baik saja, Bagas menegakkan tubuhnya, melirik Kyra sekali lagi. Tatapan mereka bertemu. Bagas tidak mengatakan apa-apa, seolah kedatangannya di jam tiga pagi adalah hal yang mutlak dan tidak perlu dipertanyakan.
" tidur lah ini sudah dini hari"
Bagas berbalik perlahan, berjalan keluar dari kamar, dan kembali ke ruang tamu.
Kyra mendengar suara gesekan pelan saat Bagas kembali merebahkan dirinya di sofa panjang yang keras itu.
udah ancur lebur ini hati tutup hempas ke Amazon,,apa Balikan lagi kamu kyra move on bisa ga