Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa Pulang Tunangan & Klan Su Berlutut
---
Hutan Kabut Hitam bukanlah tempat untuk pingsan lama-lama.
Begitu Su Qing'er pingsan di pelukan Xiao Chen, dua Iblis Serigala yang tersisa yang tadi mundur karena kaget melihat pedang kayu es, kembali menggeram. Mereka mencium darah segar dari kaki Su Qing'er yang terluka. Bagi iblis, darah gadis muda dengan akar spiritual murni adalah tonik terbaik.
Mereka melompat bersamaan dari dua arah, mengincar leher Xiao Chen dan leher Su Qing'er.
Mo Sha yang berdiri di belakang, hendak maju dan mencabik keduanya. Tapi Xiao Chen mengangkat satu tangannya tanpa menoleh.
"Jangan. Berisik."
Dua serigala itu membeku di udara, hanya berjarak 1 meter dari Xiao Chen. Bukan dibekukan dengan es, tapi dibekukan dengan tekanan. Mata mereka melotot, mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas.
Xiao Chen masih memeluk Su Qing'er yang pingsan dengan satu tangan, tangan satunya masih terangkat. Dia menatap dua serigala itu dengan tatapan bosan.
"Kalian ini... kenapa suka sekali makan anak kecil yang tersesat? Tidak ada makanan lain?"
Dia mengepalkan tangannya yang terangkat.
_KRAK! KRAK!_
Dua serigala itu langsung menjadi dua balok es hitam yang retak, lalu hancur menjadi bubuk yang tertiup angin kabut hitam. Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hilang bersih.
Mo Sha yang melihat itu menelan ludah. Dia tahu jurus itu. Jurus yang dulu dipakai Xiao Chen 800 tahun lalu untuk membekukan 100 iblis sekaligus saat mereka mencoba menyerang segel bersamaan. Jurus "Napas Jurang Beku" yang bahkan Mo Sha sendiri tidak berani kena.
Xiao Chen tidak peduli dengan kekaguman Mo Sha. Dia menatap kaki Su Qing'er yang terluka. Lukanya tidak dalam, tapi terkena racun kabut hitam. Jika dibiarkan 1 jam lagi, kakinya akan membusuk dan harus dipotong.
Dia merobek sedikit ujung jubah hitam compang-campingnya - jubah yang sudah menemaninya 1000 tahun - dan membalut kaki Su Qing'er dengan itu. Kain jubahnya itu sudah direndam darah dan energi jurang selama 1000 tahun, adalah obat penawar racun terbaik di dunia, lebih mahal dari 1000 pil tingkat langit.
Saat kain itu menyentuh luka Su Qing'er, racun hitam itu mendesis dan menguap seperti air kena besi panas. Darah berhenti, luka menutup sedikit.
Xiao Chen lalu menggendong Su Qing'er di punggungnya. Gadis itu ringan, seperti Ling'er.
"Kita pulang," kata Xiao Chen pada Mo Sha.
"Bos Teh, lewat jalur kelelawar lagi? Atau kita terbang langsung bobol kabut? Aku bisa bawa Bos Teh terbang," tawar Mo Sha.
Xiao Chen menggeleng. "Jangan terbang. Dia terluka, kena angin kencang nanti masuk angin. Jalan kaki saja lewat jalur tikus yang tadi. Pelan-pelan."
Mo Sha terdiam. Raja Iblis 5000 tahun disuruh jalan kaki pelan-pelan karena takut gadis yang digendong masuk angin. Kalau iblis-iblis lain di jurang mendengar, mereka akan tertawa, lalu pingsan karena takut.
Perjalanan pulang 5 kilometer ditambah 2 jam gua kelelawar ditempuh dengan sangat pelan. Xiao Chen berjalan sangat stabil, tidak ada guncangan sedikit pun, agar Su Qing'er yang pingsan di punggungnya tidak terbangun karena sakit. Mo Sha berjalan di depan, mengusir setiap kelabang beracun dan ular kabut yang mencoba mendekat dengan tatapannya, tanpa suara, agar tidak berisik.
Saat mereka keluar kembali di dasar Jurang Iblis, hari sudah sore.
Xiao Chen tidak langsung naik ke atas. Dia berjalan ke singgasana batunya yang sudah 10 hari tidak diduduki. Dia duduk sebentar di sana, dengan Su Qing'er masih di punggungnya.
Mo Sha bingung. "Bos Teh, kenapa duduk?"
"Aku pinjam tenaganya sebentar," jawab Xiao Chen.
Dia meletakkan telapak tangannya di singgasana batu itu. Singgasana yang selama 1000 tahun menyerap darahnya, kini mengembalikan sedikit. Energi hitam keemasan mengalir pelan dari batu ke telapak tangan Xiao Chen, lalu mengalir ke punggung Su Qing'er.
Wajah pucat Su Qing'er yang tadi kebiruan karena racun, kini mulai memerah kembali. Napasnya yang tadi sesak, menjadi teratur.
Ini bukan penyembuhan, ini adalah berbagi umur. Energi jurang yang bisa memperpanjang umur, Xiao Chen memberikannya pada gadis itu tanpa ragu.
Setelah 5 menit, Xiao Chen berdiri. Wajahnya sedikit lebih pucat, tapi dia tidak peduli.
"Ayo naik."
Mo Sha menggendong Xiao Chen dan Su Qing'er sekaligus - karena Xiao Chen malas memanjat - dan melompat setinggi 100 meter, keluar dari Jurang Iblis dalam satu lompatan.
Saat mereka keluar, matahari sudah hampir tenggelam. Di bibir jurang, sudah ada 7 orang menunggu dengan cemas: 7 Tetua Klan Besar yang menyusul karena khawatir Bos Teh pergi terlalu lama. Dan Ling'er yang ikut, membawa teko teh.
"Bos Teh!" Ling'er berlari pertama. "Bos Teh sudah kembali! Kami bawakan teh! Masih hangat!"
Ling'er berhenti saat melihat gadis di punggung Xiao Chen.
"Eh? Bos Teh bawa... bawa istri baru?" tanya Ling'er polos, membuat 7 Tetua hampir tersedak.
Xiao Chen menurunkan Su Qing'er pelan-pelan, menggendongnya dengan gaya putri. "Bukan istri baru. Tunangan lama. Yang pernah aku kasih permen."
Nenek Air Tenang yang melihat Su Qing'er, langsung maju memeriksa nadinya. Sebagai kultivator Air, dia ahli penyembuhan.
"Racunnya sudah bersih 90%, lukanya sudah ditutup dengan kain spiritual tingkat tinggi... Tuan Bos Teh, ini... ini tunangan Anda? Putri Klan Su?" tanya Nenek Air Tenang.
Xiao Chen mengangguk. "Namanya Su Qing'er. Dia tersesat. Kita bawa pulang ke kedai dulu. Besok aku antar ke Klan Su."
Malam itu, rombongan itu berjalan kembali ke Kota Batu Hitam. Tidak ada yang berani terbang, semua berjalan kaki pelan-pelan mengikuti kecepatan Xiao Chen yang menggendong Su Qing'er, karena Xiao Chen tidak mau gadis itu terguncang.
Sesampainya di Kota Batu Hitam jam 10 malam, seluruh kota sudah tidur, kecuali Kedai Teh yang lampunya masih menyala. Ling'er sengaja tidak tutup, menunggu Bos Teh pulang.
Xiao Chen membaringkan Su Qing'er di loteng kecil tempat Ling'er biasa tidur. Ling'er dengan sigap mengambil air hangat dan handuk, membersihkan wajah dan kaki Su Qing'er yang kotor. Gerakannya cekatan seperti kakak kecil merawat kakak besar.
"Dia cantik ya, Bos Teh," bisik Ling'er sambil membersihkan. "Seperti putri di dongeng."
Xiao Chen yang duduk di bawah, mendengar itu, hanya menyeruput teh yang sudah dingin. "Tidurlah. Besok kau libur jaga kedai. Kau jaga dia."
Ling'er mengangguk semangat.
Keesokan paginya, jam 7 pagi, Kota Batu Hitam belum buka, tapi sudah ada keributan di gerbang kota.
30 kultivator berjubah putih Klan Su datang dengan pedang terbang, dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan janggut putih dan wajah marah - Kepala Klan Su, Su Batian, ayah Su Qing'er. Di belakangnya ada Su Xiaoxiao, gadis kecil yang menulis surat, yang wajahnya sembab karena menangis semalaman.
Mereka datang bukan karena tahu Su Qing'er ada di sini. Mereka datang karena mereka mendengar kabar dari pedagang bahwa tunangan putrinya yang sampah itu kini menjadi Bos Teh yang punya monster dan 7 Klan Besar berlutut padanya. Su Batian datang untuk... menagih kembali pertunangan yang dibatalkan Klan Xiao, atau untuk memutuskan hubungan total agar tidak malu. Dia belum memutuskan.
"XIAO CHEN! KELUAR!" teriak Su Batian dengan suara Nascent Soul tingkat menengah, lebih keras dari Xiao Feng kemarin. Seluruh kota terbangun.
Mo Sha yang baru selesai menyapu, mendengar ada yang berteriak memanggil Bos Teh dengan nada marah, langsung berdiri dan menggeram. Tapi sebelum dia sempat menggonggong, pintu kedai terbuka.
Xiao Chen keluar, masih dengan jubah hitam compang-camping, tapi kali ini dia tidak sendirian. Di belakangnya, dengan bantuan Ling'er, keluar Su Qing'er yang sudah bisa berdiri, kakinya masih diperban kain hitam Xiao Chen, tapi wajahnya sudah segar, memegang permen jahe baru.
Su Batian yang melihat putrinya, yang dia kira sudah dimakan iblis di Hutan Kabut Hitam, berdiri di depan kedai teh kecil itu, sehat, langsung terdiam. Pedang terbangnya yang mengambang, jatuh ke tanah.
"Qing'er...?" Suara Su Batian yang tadi menggelegar, kini gemetar seperti anak kecil.
Su Qing'er melihat ayahnya, air matanya langsung jatuh. "Ayah!"
Dia berlari - terpincang-pincang - ke arah ayahnya.
Su Batian menangkap putrinya, memeluknya erat. Kepala Klan Nascent Soul yang ditakuti di Kota Giok Putih, menangis di depan umum, di kota kecil yang kotor.
Su Xiaoxiao juga berlari memeluk kakaknya.
Setelah pelukan lama, Su Batian baru sadar. Dia menatap Xiao Chen yang berdiri di pintu kedai dengan cangkir teh.
"Kau... kau yang menyelamatkan putriku?" tanya Su Batian.
Xiao Chen mengangguk pelan. "Dia tersesat di hutan. Aku temukan. Kebetulan lewat."
Su Batian menatap kain hitam yang membalut kaki putrinya. Sebagai Kepala Klan, dia tahu kain apa itu. Kain yang direndam darah penjaga jurang 1000 tahun, harta yang bahkan tidak bisa dibeli dengan 10.000 batu spiritual tinggi. Dan pria itu merobeknya hanya untuk membalut luka kecil.
Su Batian melakukan hal yang sama seperti 7 Tetua kemarin.
Dia berlutut. Kepala Klan Su berlutut di depan Kedai Teh, di depan Bos Teh, sambil masih memeluk putrinya.
"Tuan Xiao Chen... Klan Su berhutang nyawa. Tadi malam kami masih berdebat apakah akan memutuskan pertunangan karena malu... kami... kami buta. Mulai hari ini, Klan Su adalah klan cabang Kedai Teh juga. Dan pertunangan... jika Tuan masih mau..."
Su Qing'er yang masih dipeluk ayahnya, mengangkat wajahnya yang memerah, menatap Xiao Chen dengan mata yang berbinar, masih memegang permen jahe.
Xiao Chen menatap gadis itu. Gadis yang 10 tahun lalu dia kasih permen karena kasihan, yang 3 hari lalu kabur dari rumah demi mencarinya ke jurang iblis.
Dia menghela napas.
"Pertunangan itu kan dijodohkan Klan Xiao, bukan aku yang minta. Tapi permen jahe itu aku yang kasih. Jadi hutang permen harus dibayar. Kau sembuh dulu, baru kita ngobrol soal teh. Teh jahe di kedai ku enak, kau belum coba."
Su Qing'er yang mendengar itu, tersenyum. Senyum pertama setelah 3 hari ketakutan di hutan.
Hari itu, Kedai Teh punya dua gadis kecil yang membantu. Satu, Ling'er, ahli menghitung kembalian dan memarahi Tetua Api Merah. Satu lagi, Su Qing'er, putri Klan Su yang duduk di kursi kecil, kakinya masih diperban, belajar cara menyeduh teh sambil sesekali melirik Bos Teh yang tidur siang di kursi bambu.
Dan di depan pintu, Mo Sha kini punya dua cangkir teh kecil di depannya, karena Su Qing'er memberinya satu lagi, katanya biar tidak rebutan.
Klan Kedai Teh kini punya 8 Klan cabang.