Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Proyek Besar Pertama
Pagi-pagi banget, Shinn udah kebangun karena notifikasi dari sistem berbunyi nyaring.
> [Sistem] – Mode Ekspansi aktif. Target ruang tambahan: 4 area . Prioritas: Taman, Gudang Penyimpanan, Ruang Latih, dan Kamar Tidur Tambahan.
Shinn mengucek mata, lalu ngelirik ke arah Elia yang masih meringkuk di tempat tidur. Pelan-pelan dia bangun, keluar kamar, dan menuju ruang sistem sambil bawa kopi.
“Waktunya kerja.”
Dia buka layar proyeksi, lalu ngelihat cetak biru shelter yang kini bisa diperluas ke arah timur dan selatan. Pilihan pertama jatuh ke arah timur—lebih aman dan nggak banyak reruntuhan.
Pas dia lagi fokus ngatur tata letak, Reno muncul sambil ngulet.
“Wih... pagi-pagi udah nongkrong depan sistem. Gila sih, semangat banget.”
Shinn senyum dikit. “Soalnya ini upgrade gede pertama kita. Shelter bakal makin luas, dan butuh koordinasi yang rapi.”
Reno ngelihat layout, lalu angguk-angguk. “Kita bagi tugas aja nanti. Aku bisa urus bahan bangunan dari reruntuhan. Mungkin dapet kayu tua atau plat logam sisa.”
“Oke, deal. Nanti aku minta Naya bantu catat logistik. Elia bisa bantu desain ruang dalam, dia lebih jago dekorasi.”
Shinn ngeliat sistem lagi. “Target minggu ini: bangun taman kecil dulu. Biar Yuki seneng juga.”
________
Setelah sarapan bareng, mereka rapat kecil di ruang tengah.
“Gini, kita mulai ekspansi dari taman dulu. Area barat bisa dipakai buat tanam bunga dan sayur. Selain itu, bisa jadi tempat istirahat juga.”
Yuki langsung semangat. “Aku mau tanam bunga matahari! Sama tomat! Sama... bunga ungu kayak di gambar!”
Naya tertawa, “Itu lavender, Yuk. Bisa banget ditanam.”
Elia senyum sambil ngerangkul Yuki. “Kalau tamannya jadi, kita bisa piknik tiap sore.”
Reno angkat tangan. “Aku bakal bantu gali dan bersihin area taman. Mulai siang ini juga.”
Shinn angguk. “Aku bantu aktifin drone dan gali otomatis. Tapi tetap perlu tenaga manual buat susun tanah.”
Semua setuju, dan proyek pun dimulai.
________
Di luar, Shinn udah setting drone penggali. Reno bawa cangkul dan karung. Naya nyiapin pot kecil dari botol bekas, dan Yuki sibuk milih biji bunga.
Elia bikin teh dingin buat semua dan ikut bantu bersihin batu-batu kecil.
Siang itu mereka kerja bareng, ketawa, dan penuh semangat. Udah kayak satu keluarga beneran.
Pas sore tiba, area taman mulai terbentuk. Tanah udah rata, pot-pot udah disusun, dan sistem irigasi mini mulai terpasang.
Yuki lari-lari kecil sambil bawa pot.
“Papa Shinn! Ini potku, tolong tanamin ya!”
Shinn ambil pot itu, terus ngasih Yuki sekop kecil.
“Tanam sendiri dong, biar lebih seru.”
Yuki manggut-manggut, lalu mulai ngaduk tanah sambil nyanyi pelan.
________
Malamnya, mereka duduk di depan layar sistem sambil makan malam bareng.
“Nah, besok kita mulai proyek kedua—gudang penyimpanan. Soalnya barang makin numpuk, dan kita butuh tempat aman buat simpen bahan makanan dan logistik.”
Reno ngangkat alis. “Gudang harus kuat ya. Kalo bisa, tahan dari serangan zombie juga.”
Elia nyeletuk, “Mungkin kita bisa pakai kontainer baja dari reruntuhan?”
Shinn manggut. “Idenya bagus. Besok aku dan Reno coba cari kontainer kosong. Kita scan dulu lewat drone.”
Naya nyatet semua di tablet kecilnya. “Aku catet: kontainer ukuran besar, minimal dua unit.”
Yuki tiba-tiba nyeletuk, “Aku bantu juga! Aku jagain bunga!”
Semua ketawa. “Iya, tugasmu penting banget, Yuk,” kata Shinn sambil ngusap kepala Yuki.
________
Besoknya, mereka mulai pencarian kontainer. Drone terbang di atas area reruntuhan sekitar 2 kilometer dari shelter. Di situ ada bangkai gudang tua yang kelihatan masih utuh.
Shinn dan Reno naik motor listrik kecil buat ke lokasi.
Perjalanan lumayan menegangkan. Jalan rusak, banyak bangunan ambruk, dan beberapa zombie nyangkut di sela reruntuhan. Tapi karena udah pengalaman, mereka bisa hindarin tanpa ribut.
Begitu nyampe, mereka langsung nemu dua kontainer besar di pojok area. Masih terkunci tapi nggak rusak parah.
Reno nyengir. “Ini jackpot, bro.”
Shinn cek kondisi pakai pemindai. “Bisa dibuka. Isinya kosong. Kita butuh alat derek buat bawa ke shelter.”
Mereka kasih sinyal ke Elia buat kirim drone derek, lalu jaga sekitar sampai alat dateng.
Gak lama, kontainer berhasil diangkut balik ke shelter. Mereka pasang di dekat kebun, dan mulai bersih-bersih isinya.
________
Proyek kedua kelar dalam dua hari. Gudang berdiri kokoh, diisi rak-rak dari kayu bekas dan kotak logistik. Sistem kasih notifikasi:
> "[Sistem] – Gudang penyimpanan aktif. Kapasitas: 200 unit. Keamanan: 80%."
Shinn lega banget. “Progress kita cepet juga, ya.”
Elia berdiri di depan gudang sambil liat hasil kerja mereka.
“Aku bangga, Shin. Shelter ini... makin berasa kayak rumah.”
Shinn peluk dia dari samping. “Kita bareng-bareng bikin tempat ini layak buat Yuki. Buat semuanya.”
________
Hari berikutnya, mereka mulai proyek ketiga: ruang latihan.
Shinn pengen ruang ini bisa dipakai buat latih bela diri, latihan tembak, atau bahkan buat survival training buat anak-anak nanti.
Reno bantu pasang papan kayu dan bantalan di lantai. Naya nyusun rak buat perlengkapan. Elia dan Yuki dekorasi dinding biar gak kelihatan monoton.
Yuki gambar pemandangan lucu—ada zombie pake dasi yang lagi lari, dikejar wortel raksasa.
“Lucu banget ini,” kata Elia sambil ketawa.
Shinn ngelihat ruang latihan yang mulai jadi dan berkata, “Nanti Yuki juga bisa belajar bela diri di sini.”
Yuki ngegas, “Aku mau jadi ninja kayak Papa Shinn!”
“Waduh, Papa aja belum bisa narik pedang sambil salto.”
Mereka ketawa lagi.
________
Ruang latihan selesai lebih cepat dari perkiraan. Dan malamnya, mereka bikin acara kecil-kecilan buat ngerayain tiga proyek ekspansi yang udah kelar.
Mereka masak bareng, pasang lampu warna-warni, dan makan malam di taman bareng bunga-bunga baru yang mulai tumbuh.
Yuki dan Naya nyanyi lagu anak-anak, sementara Shinn dan Reno main gitar sederhana dari alat bekas.
Elia duduk sambil senyum, ngeliatin semuanya.
“Kita udah berubah ya, Shin. Dari sekadar bertahan... sekarang kita mulai hidup.”
Shinn mandang langit malam.
“Iya, kita bangun peradaban kecil, dimulai dari cinta dan kerja sama.”
Dan malam itu, di bawah langit penuh bintang, enam orang dengan masa lalu berbeda menyatu jadi keluarga. Mereka bukan cuma bertahan dari dunia yang hancur, tapi juga membangunnya kembali—sedikit demi sedikit, dengan tangan mereka sendiri.
3 zombie di awal MC jatuh
3 lagi pas bocil Dateng
harusnya 3×6 = 18 poin zombie dong
yah ga si ya guys??
mampir kak