Di Kota Sentral Raya, kejahatan bukan lagi bayangan yang bersembunyi—ia adalah penguasa. Polisi, aparat, hingga pemerintah berlutut pada satu orang: Wali Kota Sentral Raya, dalang di balik bisnis ilegal, korupsi, dan kekacauan yang membelenggu kota ini.
Namun, ada satu sosok yang tidak tunduk. Adharma—pria yang telah kehilangan segalanya. Orang tua, istri, dan anaknya dibantai tanpa belas kasihan oleh rezim korup demi mempertahankan kekuasaan. Dihantui rasa sakit dan dendam, ia kembali bukan sebagai korban, tetapi sebagai algojo.
Dengan dua cerulit berlumuran darah dan shotgun di punggungnya, Adharma tidak mengenal ampun. Setiap luka yang ia terima hanya membuatnya semakin kuat, mengubahnya menjadi monster yang bahkan kriminal pun takut sebut namanya.
Di balik topeng tengkorak yang menyembunyikan wajahnya, ia memiliki satu tujuan: Menumbangkan Damar Kusuma dan membakar sistem busuk yang telah merenggut segalanya darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saepudin Nurahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan yang mematikan
Malam ini, langit Kota Sentral Raya tampak lebih kelam dari biasanya. Awan mendung menggantung berat, seolah menahan badai yang siap meledak kapan saja.
Darma telah mengunci target pertamanya—Komisaris Besar Wibawa. Salah satu polisi paling berpengaruh di kota ini, orang kepercayaan Wali Kota Damar Kusuma, dan dalang di balik banyak kasus manipulasi, suap, serta pembantaian lawan-lawan politik.
Darma berdiri di atap sebuah gedung yang menghadap ke rumah mewah sang komisaris. Lewat teropong night-vision, ia mengamati gerak-gerik di dalam rumah. Wibawa tidak sendirian. Pengamanannya ketat. Di halaman depan, enam orang bersenjata berjaga. Di dalam rumah, ada lebih banyak lagi.
Darma menyeringai. "Seperti benteng, tapi bukan berarti tak bisa ditembus."
Ia memeriksa senjatanya sekali lagi. Dua cerulit, dua shotgun, beberapa pistol, dan beberapa alat peledak kecil sudah siap di tempatnya. Ia menarik napas dalam.
"Malam ini, giliranmu."
Sementara itu, di lokasi lain…
Fenny mengenakan jaket hitamnya, menyembunyikan tubuhnya dalam kegelapan. Ia berdiri di depan cermin di apartemennya, menatap wajahnya sendiri.
"Darma pasti sudah bergerak sekarang," gumamnya.
Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang. "Aku butuh akses ke sistem keamanan rumah Wibawa. Bisa urus?"
Suara di seberang menjawab, "Sudah kuatur. Dalam dua menit, listrik di rumah itu akan padam total selama lima belas menit. Cukup?"
"Lebih dari cukup," Fenny menjawab.
Ia mengambil pistolnya dan menyelipkannya di pinggang. Lalu, dengan tenang, ia keluar dari apartemen dan masuk ke mobilnya.
"Malam ini akan jadi malam berdarah," gumamnya sambil menginjak pedal gas.
Darma bergerak dalam kegelapan, mengendap-endap mendekati rumah Komisaris Besar Wibawa. Dengan kecepatan dan ketenangan seorang pemburu, ia menyelinap melewati pagar belakang yang tertutup semak-semak tinggi.
Di halaman belakang, dua penjaga berjaga dengan senapan otomatis. Darma menghunus cerulitnya, lalu bergerak cepat. Dalam hitungan detik, ia menebas leher penjaga pertama, membuatnya ambruk tanpa suara. Penjaga kedua sempat menyadari sesuatu, tetapi sebelum ia bisa berteriak, Darma sudah membekap mulutnya dan menusukkan pisau ke tenggorokannya.
Darma menyeret tubuh mereka ke sudut gelap halaman, memastikan tidak ada yang melihat.
"Keamanan ketat, tapi bukan berarti sempurna," gumamnya.
Sementara itu, dari jauh, Fenny yang sedang duduk di mobilnya memantau pergerakan Darma melalui kamera drone kecil yang telah ia pasang sebelumnya. Ia menyeringai tipis saat melihat Darma bergerak dengan mulus.
"Seperti hantu," gumamnya.
Di dalam rumah, Komisaris Wibawa duduk santai di sofa, menyesap segelas whisky mahal. Ia sedang menonton berita tentang Adharma di TV, membaca laporan terbaru tentang buronan yang kini telah menjadi legenda di kota ini.
Salah satu anak buahnya mendekat. "Pak, sistem keamanan kita agak aneh malam ini. Saya cek CCTV, ada beberapa gangguan sinyal."
Wibawa menatapnya tajam. "Kau pikir itu Adharma?"
Anak buahnya ragu. "Tidak tahu, Pak. Tapi—"
Tiba-tiba, listrik di rumah itu padam.
Braak!
Sebuah ledakan kecil terdengar dari luar. Alarm berbunyi, tanda ada penyusup. Wibawa bangkit dari sofa, matanya membelalak.
"Siapkan semua orang! Pastikan tak ada yang masuk!" teriaknya.
Darma, yang kini sudah berada di dekat pintu belakang, menyeringai di balik topengnya.
"Permainan dimulai."
Darma bergerak seperti bayangan di dalam rumah yang kini gelap gulita. Ia menghindari setiap penjaga yang berpatroli, menghilang sebelum mereka bisa menyadari kehadirannya.
Komisaris Besar Wibawa meraih pistolnya, napasnya berat. Keringat dingin membasahi dahinya saat ia menyadari bahwa listrik rumahnya tidak sekadar mati—seseorang telah memutusnya.
Suara langkah cepat anak buahnya terdengar di lorong-lorong rumah.
"Periksa setiap sudut! Jangan sampai dia masuk!" perintah Wibawa dengan suara tegang.
Namun, seakan menjawab perintah itu, tiba-tiba suara jeritan terdengar dari arah dapur.
"Aaaaakh!!"
Wibawa tersentak. Ia menoleh ke arah suara itu.
"Lapor! Apa yang terjadi?!"
Tak ada jawaban.
Detik berikutnya, terdengar suara lain. Satu per satu, anak buahnya menghilang dalam gelap, hanya menyisakan suara tubuh yang jatuh ke lantai atau rintihan tertahan.
Wibawa kini benar-benar ketakutan. Tangan gemetar memegang pistolnya. Ia mencoba mengatur napasnya, tapi jantungnya berdegup liar.
Kemudian, suara langkah kaki terdengar di belakangnya.
Ia berbalik cepat, menodongkan pistol ke arah suara itu—tapi tak ada siapa-siapa.
"Lawan aku, pengecut!" teriaknya panik.
Tak ada jawaban.
Namun, dari kejauhan, ia mendengar suara samar, seperti bisikan mengerikan yang bergema di dinding rumahnya.
"Hukum telah mati… dan sekarang giliranmu…"
Mata Wibawa membelalak.
Ia mencoba melangkah mundur, tapi tiba-tiba sebuah bayangan muncul dari kegelapan. Sosok bertopeng tengkorak itu berdiri hanya beberapa meter di depannya.
"Adharma…" bisik Wibawa ketakutan.
Darma tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap pria itu dengan mata penuh kebencian dari balik topengnya.
Lalu, dengan gerakan cepat, ia mengayunkan cerulitnya ke dinding di samping Wibawa, menciptakan suara gesekan tajam yang membuat bulu kuduk berdiri.
Wibawa mundur lagi, matanya semakin liar.
Darma berbicara untuk pertama kalinya, suaranya rendah dan dingin.
"Kau tahu kenapa aku tidak langsung membunuhmu?"
Wibawa menelan ludah, tidak berani menjawab.
Darma melangkah perlahan ke arahnya. "Karena aku ingin kau merasakan ketakutan. Seperti ketakutan yang kau sebarkan ke seluruh kota ini. Seperti ketakutan yang keluargaku rasakan sebelum mereka dibunuh."
Wibawa kini benar-benar gemetar. Tangannya yang memegang pistol bahkan tidak bisa stabil lagi.
"A-aku bisa memberimu uang! Aku bisa—"
Darma mendekat lebih cepat, tiba-tiba mencengkram tangan Wibawa yang memegang pistol dan memutarnya dengan kasar. Tulang retak. Wibawa menjerit kesakitan, pistolnya terlepas dan jatuh ke lantai.
Darma mendorongnya hingga terjatuh ke lantai kayu.
"Lanjutkan berdoa, Wibawa," suara Darma dingin. "Karena malam ini kau akan mati dengan cara yang sama seperti orang-orang yang kau korbankan selama ini."
Wibawa berusaha merangkak mundur, napasnya tersengal. Ia ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
Darma menatapnya dari atas. Cerulit di tangannya berkilat dalam gelap.
"Selamat datang di neraka."
Wibawa masih terengah-engah di lantai, darah mengalir dari luka di wajah dan tubuhnya akibat hantaman brutal Adharma. Tangannya gemetar saat meraba-raba ke bawah meja yang pecah—dan di sana, jari-jarinya merasakan sesuatu yang dingin dan familiar.
Pistolnya.
Dengan sekuat tenaga, Wibawa meraihnya dan langsung mengangkat senjata itu.
DOR! DOR! DOR!
Peluru pertama menembus bahu kiri Adharma, membuatnya terdorong sedikit ke belakang. Peluru kedua menghantam perutnya, dan yang ketiga melesat ke dadanya.
Darma berhenti bergerak.
Wibawa, meskipun tubuhnya masih penuh luka dan napasnya tersengal, merasa sedikit lega. Aku berhasil… aku menembaknya!
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sepersekian detik.
Darma tidak jatuh.
Tidak mengerang.
Sebaliknya, tubuhnya mulai bergerak lagi—lebih cepat, lebih agresif. Seolah-olah peluru-peluru itu hanya mempercepat sesuatu yang lebih mengerikan.
Mata Wibawa membelalak ketika melihatnya.
“Tidak… mustahil…” gumamnya ketakutan.
Darma mengangkat wajahnya, napasnya berat, dan suaranya terdengar semakin dalam, semakin penuh kemarahan.
“Kau pikir peluru bisa menghentikanku?”
Seketika, dia melompat ke depan dengan kecepatan yang mencengangkan!
Wibawa mencoba menembak lagi, tetapi Darma lebih cepat. Tangannya mencengkram pergelangan Wibawa dan memelintirnya dengan kekuatan yang tak masuk akal. KRAK!
“Aaarrghh!!” Wibawa menjerit saat suara tulang patah menggema di ruangan. Pistol itu terjatuh dari genggamannya.
Darma tidak membuang waktu.
Dia meraih kepala Wibawa dan menghantamkannya ke dinding dengan kekuatan brutal. Wibawa berteriak lagi, darah mulai mengalir dari dahinya.
Darma menariknya kembali, lalu melemparkannya ke meja kaca di belakang.
BRAKKK!!
Meja itu hancur berkeping-keping, serpihan kaca menancap di punggung dan lengan Wibawa yang kini tergeletak tak berdaya.
Darma berdiri di atasnya, menatapnya seperti seekor predator yang baru saja melumpuhkan mangsanya.
“Dulu aku juga merasakan rasa sakit ini…” katanya dengan suara yang nyaris seperti geraman. “Aku disiksa selama enam bulan… aku mati… tapi aku bangkit lagi.”
Darma berlutut, mendekatkan wajahnya ke Wibawa yang masih terengah-engah ketakutan.
“Tapi kau tahu bedanya, Wibawa?” Darma berbisik dingin.
Wibawa hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh horor, tubuhnya gemetar.
Darma mencengkram wajah Wibawa dengan kasar dan menariknya lebih dekat.
“Aku menikmati ini.”
Senyap.
Wibawa ingin menjerit… tapi ketakutannya terlalu besar.
Wibawa masih terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Napasnya pendek dan terburu-buru, rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat pikirannya mulai kabur. Namun, semua itu tidak sebanding dengan teror yang menyelimutinya saat melihat istrinya—Rani—terbangun dan langsung menjerit.
“Wibawa?! Astaga, apa yang terjadi?! Siapa dia?!”
Dia mencoba berlari, tetapi Darma lebih cepat. Dengan satu gerakan brutal, dia meraih Rani dan membantingnya ke kursi, lalu mengikat pergelangan tangannya ke belakang.
“Diam,” suara Darma dalam dan dingin.
Rani terisak ketakutan, matanya membelalak saat melihat suaminya yang penuh luka dan darah. Wibawa mencoba bangkit, tetapi tubuhnya masih lemah.
Darma mengambil pistol dari pinggangnya sendiri, lalu melemparkannya ke Wibawa. Pistol itu jatuh tepat di pangkuannya.
“Aku memberimu pilihan,” kata Darma, suaranya penuh tekanan psikologis. “Kau tembak kepalamu sendiri… atau kau tembak istrimu.”
Rani langsung menatap Wibawa dengan air mata mengalir. “Wibawa… tidak… tolong…”
Wibawa menatap pistol di tangannya. Tubuhnya gemetar, matanya penuh kebingungan dan ketakutan.
“A-aku tidak bisa…” suaranya lirih.
Darma berjongkok di hadapannya, menatap lurus ke matanya. “Tentu saja kau bisa.”
Wibawa menutup matanya erat-erat. Tangannya bergetar begitu hebat, jari telunjuknya menyentuh pelatuk, tetapi tidak bisa menariknya. Ia ingin bertahan hidup, tapi tidak mungkin membunuh istrinya sendiri.
Darma mendekatkan wajahnya. “Rasa takut… itu menguasai otakmu, kan?” Ia melirik Rani yang terisak ketakutan. “Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau yang biasa mengendalikan segalanya… kini justru kau yang dikendalikan.”
Wibawa hanya bisa terengah-engah. “Kau iblis…”
Darma terkekeh dingin. “Iblis? Kau pikir aku lebih buruk daripada kau?”
Tiba-tiba, Darma berdiri dan meraih pistol dari tangan Wibawa. Dia kemudian menekan ujung moncongnya ke kening Rani.
“Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya.”
Rani langsung menjerit. “Tidak!!”
Wibawa tersentak panik, keringat dingin membasahi wajahnya. “Tunggu! Jangan!!”
Darma tersenyum tipis. “Lihat bagaimana kau sekarang, Wibawa.” Ia menurunkan pistolnya. “Ketakutan, putus asa, kehilangan kendali… Persis seperti yang kau lakukan pada orang lain selama ini.”
Wibawa tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa terisak tanpa suara, kelelahan dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Darma mendesah pelan. “Kematian terlalu mudah buatmu.”
Lalu, dengan satu gerakan cepat, Darma menghantam gagang pistol ke kepala Wibawa.
BUGGH!
Pria itu langsung limbung dan jatuh tak sadarkan diri.
Darma menatap Rani yang masih menangis histeris, lalu menoleh ke jendela, memastikan tidak ada yang datang.
“Anggap ini peringatan,” katanya dingin sebelum berjalan keluar, meninggalkan mereka dalam ketakutan yang tak akan pernah hilang.
Darma berjalan ke dinding ruang tamu dengan langkah tenang. Tangannya yang masih berlumuran darah mengambil pisau kecil dari sabuknya. Dengan ujung pisau itu, ia mulai menggoreskan nama di dinding rumah Wibawa dengan huruf besar dan kasar:
"TARGET BERIKUTNYA: LETNAN HENDRA SAPUTRA."
Setiap goresan pisau meninggalkan bekas tajam di cat tembok. Suara gesekan logam dengan dinding menggema di dalam ruangan yang sunyi. Rani masih terisak di kursinya, tubuhnya gemetar hebat.
Setelah selesai menulis, Darma berbalik, menatap Rani yang masih terikat. Dia berjalan mendekat, berjongkok hingga sejajar dengan wajahnya.
"Kau bebas," katanya singkat, lalu dengan satu gerakan, ia memotong tali yang mengikat pergelangan tangan Rani.
Wanita itu segera merosot ke lantai, masih terisak dengan napas tersengal-sengal.
Darma berdiri, mengamati ekspresi ketakutan di wajahnya. “Mulai sekarang, kau tidak akan bisa menikmati uang haram suamimu lagi.”
Rani mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca, tapi tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Darma melirik sekilas ke arah Wibawa yang Sudah Mati, lalu berjalan keluar tanpa suara, menghilang dalam gelapnya malam.