Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Menyedihkan
Sam sangat tidak suka, Dirga datang begitu saja kekamar Resa. Dia masih memandangi Dirga, dengan tatapan sinis.
"Terus, mau apa kau, sehingga kau masuk begitu saja kedalam kamarnya?"
"Mau apa Dirga, itu bukan urusan kamu, Sam!"
Sam dan Dirga sama-sama menoleh kearah sumber suara itu.
"Vania," sapa Sam dan Dirga bersamaan.
Kedua laki-laki itu saling pandang. Sedang Vania, terus melangkah menuruni satu per satu anak tangga. Ruangan itu udaranya segar dan bersih. Tapi, Sam terasa sulit untuk bernapas, dia sangat khawatir. Kalau Dirga akan membocorkan rahasianya.
"Sayang, yoga mu sudah selesai?" Sam berusaha santai, dengan membuka pembicaraan.
"Sudah," jawab Vania.
"Eh, pertanyaanku yang tadi belum di jawab, memangnya apa masalahmu, mempertanyakan urusan Dirga?" Ucap Vania.
"Tidak ada, hanya saja dia pelayan wanita di rumah ini, ku lihat Dirga mau masuk kekamar Resa, jadi aku cegat dengan pertanyaan barusan," kilah Sam.
Vania berjalan kearah Sam dan Dirga, dia bergelayut di tangan kiri Sam. Dengan senang hati Sam merangkul istrinya itu. Dirga tersenyum kecut melihat keromantisan dua orang yang ada di depan matanya.
"Dirga, kapan kau akan memilih wanita, untuk kau jadikan pasangan, ku lihat selama ini, kau sangat betah sendirian," ucap Vania.
"Sebenarnya, aku juga ingin menikah, dan mempunyai anak, seperti kalian. Tapi, wanita yang aku suka sudah ada yang punya, ada sih yang masih sendiri. Tapi, dia menolaku," ucap Dirga sambil menautkan kedua alisnya, memandang kearah Sam.
Dirga memandangi tubuh Vania lekat. "Kamu hamilkan?" Tanya Dirga.
Wajah Vania nampak lesu, jika di tanyakan perihal kehamilan dirinya. "Iya," jawabnya lemas.
"Kalau kau tidak hamil, bobot tubuhmu seperti ini, mungkin di anggap wajar. Tapi, kalau kau hamil, kau seperti orang yang kekurangan gizi. Aku yakin, para produser batal mengontrakmu, karena---" Dirga langsung berlari kearah pintu utama.
"Karena apa!?" Teriak Vania.
"Karena kau nampak menyedihkan!" Teriak Dirga.
Sam bingung harus bagaimana. Dia sedih, karena perkataan Dirga benar, kalau Vania nampak menyedihkan. Tapi, dia juga ingin sekali tertawa, melihat keberanian Dirga, mengejek Vania, langsung. Tatapan tajam dari kedua bola mata Vania tertuju pada Sam. Sam sangat mengerti apa arti sorotan mata itu.
"Jangan salahkan aku, aku tidak menyuruh Dirga melakukan apapun," ucap Sam.
"Kenapa dia menyebutku menyedihkan dan kekuranangan gizi?! Pasti kamu kan, yang menyuruh!" Bentak Resa.
"Semua orang juga melihat hal yang sama, Vania!" Sela Ramida.
"Maaf, bukan ingin ikut campur. Tapi, demi kesehatan nenek, kami semua akan pindah ke Villa, jaga rumah baik-baik ya, Vania," pinta Ramida.
"Baru 2,5kg bobot tubuhku naik, kalian sudah meninggalkanku!" Rengek Vania.
"Vania! Buka matamu lebar-lebar! Kami pergi karena melindungi nenek! Dia tersiksa melihatmu tidak makan hanya karena memikirkan bentuk tubuh, apakah tidak ada tempat di sudut hatimu untuk anakmu dan Sam?" Tanya Ramida.
"Halah, alasan!" Sela Vania.
Ramida menggenggam jemari tangannya, ingin sekali dia menampar menantunya ini. Ramida berusaha mengontrol dirinya. Dia menatap tajam pada Resa. "Kalau kau jalani hidup dengan benar, kami akan kembali, jika seperti ini terus, bukan hanya calon cucuku, yang akan mati. Tapi, mertuaku juga bisa mati!" Ucap Ramida.
"Untuk membuat kamu percaya, kita lihat beberapa bulan kedepan. Jika kamu seperti ini terus, kami benar-benar pergi. Kami tidak sanggup melihatmu menyiksa dirimu dan anakmu." Sambung Ramida. Ramida pergi begitu saja meninggalkan Sam dan Vania.
*****
Beberapa bulan berlalu keadaan masih sama. Vania masih dengan egonya. Wajahnya selalu nampak murung, melihat perutnya yang dulu ramping, kini nampak sedikit menyembul. Hanya Vania yang tidak mau ke dokter. Setiap kali ke dokter, dia pusing, karena dokter selalu memintanya makan dengan porsi yang benar. Hal itu yang sangat Vania hindari. Karena dia tidak bisa ber olah raga berat.
Sedang keadaan Resa mulai membaik, dia mulai bisa menjalani kegiatannya sehari-hari. Pagi ini, mereka semua sarapan di meja makan, hanya Marina yang sarapan di kamarnya, di temani oleh Jena. Sam sesekali curi-curi pandang pada Resa. Wanita itu semakin terlihat chubby. Dia tersenyum melihat porsi makan Resa.
Kemudian Sam mengalihkan pandangannya pada Vania, seperti biasa, wanita itu nampak santai dengan sarapannya yang sangat sedikit. Sam hanya bisa menahan kegeramannya dalam hati. Sam memberikan semangkuk bubur pada Vania.
"Makan ini, aku tidak marah kau tidak sayang padaku. Tapi, setidaknya sayangi anak kita, buah cinta kita," pinta Sam.
Resa yang tadi menikmati sarapannya, seketika tangannya batal mengantar sendok yang berisi makanan ke mulutnya. Ada sesuatu yang perih di dalam sana, mengingat dia hamil. Tapi bukan buah dari cinta, hanya buah dari keterpaksaan dan kekhilafan.
Ramida menyadari kesediah Resa. Dia berhenti makan, dan mengajak Resa pergi dari meja makan itu. Ramida memandangi kearah Sam dan Vania.
"Jika kamu menahan diri untuk makan, sudah saatnya kami untuk pergi, kami akan kembali, setelah kau melahirkan," ucap Ramida. Dia menarik lengan Resa. Agar pergi dari tempat itu.
Berbicara dengan Vania, terkadang seperti bicara dengan tembok. Dia sama sekali dengan perkataan orang lain. Sam menatap tajam wajah Vania. "Andai aku tahu, kau akan menyiksa dirimu dan menyiksa bayi kita, aku sangat bahagia, jika kau tidak hamil!" Ucap Sam. Kesabarannya hampir habis meladeni istri yang paling dia cintai ini.
****
Sam Ozage POV
Semakin bertambahnya usia kehamilan Vania, semakin bertambah pula rasa sakit di hatiku, wanita itu benar-benar egois. Aku berusaha menahan, demi rasa cinta. Tapi, semakin hari, mata ini semakin terbuka, aku mencintai orang yang salah.
Matahari mulai meninggi, aku sengaja tidak bekerja. Hanya untuk bersama Vania sepanjang waktu. Tapi, wanita itu sedikitpun tidak menganggapku ada. Selama dalam kamar, dia hanya sibuk dengan meditasinya. Membuat hatiku sungguh terluka dengan sikapnya.
Perkataan ibu beberapa bulan lalu, benar terjadi. Hari ini dia, nenek dan perempuan itu, juga dua pelayan yang lain, pergi meninggalkan rumah ini. Ku hanya bisa melihat kepergian mereka dari lantai dua. Aku tidak bisa melepas kepergian mereka. Entah kenapa, melihat wanita itu, hati ini selalu bergetar dan ingin sekali memeluknya.
Kusandarkan kedua sikutku diatas pagar pembatas tangga, menahan tubuhku yang sedikit membungkut. Hati ini sungguh terasa sesak, kenapa aku begitu mencintai Vania.
Lamunanku buyar, saat merasakan tangan seseorang melingkar di perutku.
"Kamu kenapa sayang, kenapa kamu berubah semenjak aku hamil. Ini sebabnya aku malas hamil. Karena kamu akan berpaling dariku kalau aku tak menarik lagi," rengeknya.
Ya tuhan, ingin sekali aku mendorong wanita ini dari atas sini agar terjun bebas ke bawah sana. Kenapa dia tidak mengerti juga, seperti apapun dia, cinta ini hanya untuk dirinya. Aku menegakkan tubuhku.
Kulepaskan pelukannya, ku putar arah tubuh agar kami saling berhadapan. Kutangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.
"Vania, kapan kamu sadar, cintaku tidak terbatas pada fisikmu. Ku mohon, percayalah, aku sangat cinta padamu," ucapku.
"Ih, tangan kamu kotor, lepas ih, nanti wajahku jerawatan!" Rengeknya.
"Arrrgggghh!" Aku hanya bisa memaki diriku dalam hati.
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja