Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Syarat pernikahan
Brian meletakkan tas kerjanya dia atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Raut wajh Brian telohat sedang memikirkan banyak hal, dia juga terlihat sangat lesu dan kelelahan.
Aura merasa tidak tega melihat keadaan Brian seperti itu.
Aura berdiri, dia meminta ijin pada Brian untuk pergi kedapur sebentar. Aura ingin membutakan minum untuk Brian.
Setelah selesai, dia kembali ke ruang keluarga dengan membawa secangkir teh hangat. Terlihat Brian sedang memejamkan matanya.
"Kak,," Ucap Aura yang berdiri di sebelah Brian. Brian membuka matanya, dia menatap Aura. "Minum dulu teh ya,," Aura meletakkan cangkie itu dimeja, lalu kembali duduk diposisinya semula.
"Makasih Ra,," Kata Brian setelah menyeruput teh itu dan meletakkan kembali di atas meja. Brian terkihat lebih segar dari sebelumnya. Aura mengangguk menjawab ucapan Brian.
"Apa yang mau kamu bicarakan,,,?" Brian duduk dengan tegap dan menatap Aura.
Aura beberapa kali membenarkan posisi duduknya karna merasa gugup, dia memainkan jari jari tangannya yang berada diatas pahanya. Pandangan matanya lurus kedepan namun tidak menatap Brian.
Ragu Aura mengucapkannya, namun dia meyakinkan diri.
"Aura sudah menyetujui permintaan mba Linda,,," Suara Aura sedikit tercekat dan pelan, namun suasana malam yang sangat hening membuat Brian dengan jelas mendengar ucapan Aura.
Aura langsung mengatakannya tanpa basi basi, karna Linda sudah menceritakan pada Aura jika Brian juga mengetahui tentang pernikahan mereka, bahkan Brian sudah mengabulkan permintaan istrinya yang jarang dilakukan oleh istri manapun.
Brian sedikit kaget mendengar jawaban Aura, dia tidak menyangka Aura bersedia menikah dengannya.
"Apa alasannya,,?"
Aura menarik nafas perlahan, lalu membuangnya. Dia berusahan meyakinkan diri dengan apa yang sudah dia tentukan.
Dia menatap Brian yang sedang menatapnya juga, menunggu jawaban dari Aura.
"Aura tidak mau menyakiti perasaan mba Linda, dan Aura ingin mba Linda sembuh dengan berobat keluar negeri,," Jawaban yang sangat jujut dari hatinya yang paling dalam. Rasa sayang Aura pada Linda membuatnya tidak bisa menolak permintaan Linda.
Brian mengangkat sebelah sudut Bibirnya, membentuk senyuman yang sulit diartikan.
"Dengan mengorbankan kebahagiaanmu,,?" Ucapan Brian tegas dan penuh penekanan.
Kata kata itu begitu menusuk di hati Aura, sejenak Aura terdiam. Memang benar apa yang dikatan Brian, kebahagiaan yang baru saja dia rasakan harus terenggut begitu saja hanya untuk menjaga perasaan orang lain.
Aura memikirkan hubungannya dengan Erlan kedepannya. Meskipun Aura sudah merencanakan sesuatu untuk dirinya dan Brian, namun Aura tetap khawatir jika suatu saat Erlan mengetahui dia menikah dengan Brian.
"Kamu bisa menolaknya, kebahagiaan kamu jauh lebih penting,," Suara Brian membuyarkan lamuan Aura.
"Tidak, kebahagiaan mba Linda jauh lebih pinting. Tapi Aura ingin mengajukan syarat pada kaka dan kita berdua saja yang tau,," Ujar Aura, kali ini suaranya terdengar lebih tegas.
Brian mengerutkan keningnya.
"Syarat apa,,?" Tanyanya. Dia begitu serius menatap Aura.
"Aura ingin kita menjalai kehidupan masing masing setelah menikah nanti, dan tidak saling mencanpuri urusan pribadi. Aura setuju kita tinggal satu rumah, tapi dengan kamar yang terpisah,," Aura menjelaskan persyaratan yang dia ajukan untuk Brian.
Aura sengaja memberikan persyaratan seperti itu pada Brian, agar hubungannya dengan Erlan bisa tetap berlanjut. Meskipun nantinya status mereka sudah menikah, setidaknya mereka tidak akan melakukan tugasnya sebagai suami istri sungguhan. Pernikahannya hanya untuk status dihadapan Linda. Dan mereka akan menjalini kehidupan masing masing seberti sebelumnya.
"Jadi pernikahan ini hanya untuk status didepan Linda,,?" Tanya Brian yang bisa menangkap tujuan Aura. Aura mengangguk pelan.
"Ya, aku ingin mba Linda pergi ke luar negeri dalam keadaan tenang jika kita sudah menikah nantinya,," Jawab Aura.
Brian pun menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Aura. Aura juga perpesan agar Brian tidak memberitahukan tentang kesepakatan mereka pada Linda.
Brian berdiri dari duduknya, dia mengambil tas kerjanya lalu menatap Aura.
"Tidurlah, sudar larut,," Aura mengangguk, Brian beranjak dari sana dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Aura bernafas lega karna Brian langsung setuju dengan syarat yang dia ajukan tanpa memprotesnya. Aura berdiri, dia mengambil cangkir teh yang ada dimeja lalu menaruhnya didapur, kemudian masuk kedalam kamarnya.
Dia meraih ponsel yang tergeletak diatas meja, lalu duduk ditepi ranjang. Aura membuka galeri diponselnya, mencari foto Erlan saat pertama kali selfi menggunakan ponselnya.
Aura mengingat sangat Erlan mengambil paksa ponselnya dan dengan narsisnya memfoto dirinya sendiri. Erlan terlihat sangat tampan dengan senyumnya yang mengembang. Aura tersenyum getir memandangi wajah tampan yang ada diponselnya itu. Dia merasa bersalah pada Erlan karna harus menikah dengan Brian. Buliran bening mulai membasahi pipi putihnya.
"Maafkan aku,, aku tidak bermaksud membohongi dan menghianati hubungan kita. Aku janji semuanya akan baik baik saja,,"
****"****
Satu minggu kemudian,,,,
Pagi itu, Aura sedang duduk didepan meja rias. Dia menatap dirinya yang sudah rapi mengenakan gaun berwarna putih ditambah dengan riasan natural diwajahnya. Gaun itu terlihat sangat elegan melekat ditubuh Aura yang putih.
Aura begitu anggun dan cantik meskipun saat ini Aura sedang mungubur senyumnya dalam dalam. Ini adalah hari pernikahannya, hari yang seharusnya menjadi hari yang paling ditunggu tunggu dan membahagian bagi setiap wanita. Namun tidak dengan Aura.
Aura menatap nanar dirinya sendiri, dia meratapi takdirnya yang begitu menyedihkan. Namun ini jalan yang sudah dia pilih, Aura berusaha untuk tidak menyesalinya. Meskipun hatinya sangat terluka karna harus mengubur dalam dalam impiannya untuk menikah dengan Erlan.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kabar bahagia untuk orang terdekatnya, justru harus dia tutup rapat rapat. Bahkan ibu yang mengurusnya sejak dia kecil pun tidak tau dengan pernikahannya.
Aura menghapus air mata yang mulai mengalir dipipinya, lalu menegapkan posisi duduknya, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri. Mungkin memang harus seperti ini jalan takdirnya, namun dia tetap yakin jika suata saat impiannya menikah dengan Erlan akan terwujud.
Linda menghampiri Aura yang masih termenung didepan meja rias, dia berdiri tepat dinelakang Aura. Kedua tangannya diletakkan dipundak Aura, Linda menatap Aura lewat cermin dia tersenyum pada Aura.
"Kamu sangat cantik Ra,,," Ucap Linda, Aura tersenyum samar membalas pujian dari Linda.
"Maafkan mba jika harus membuat kamu terluka,," Ucapanya, Aura menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku baik baik saja mba,," Jawabnya. Lagi lagi Aura berusaha tersenyum pada Linda. Dia memegang tangan Linda, berusaha meyakinkan Linda jika dia memang baik baik saja.
Aura keluar dari kamar, dia berjalan begitu anggun. Linda menggandeng tangan Aura, menuntunnya menuju tempat pernikahan yang sudah dia siapkan ditaman belakang rumahnya. Tidak ada raut kesedihan diwajah Linda saat mengantarkan madunya sendiri kepelaminan. Pemandangan yang sangat langka, seorang istri mengantarkan madunya pada suaminya, bahkan dia sendiri yang meminta suaminya untuk menikah.
Siapapun pasti tidak akan percaya jika Linda ikhlas melepaskan suaminya untuk menikah lagi, bahkan tidak ada kesedihan sedikitpun diwajah Linda. Namun sperti itulah kenyataannya.
****""****
Jangan lupa mampir dikarya Author yang berjudul "Merebut Cinta Presdir"
Terimakasih sudah membaca novel ini, jangan lupa tinggalkan like dan komennya yah agar Author semakin semangat melanjutkan novel ini.
jika ada salah salah kata, mohon beri kritik dan sarannya🙏.