NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Titik Balik

Kamarnya tiba-tiba terasa jauh lebih sempit dan pengap, dinding-dinding yang biasa familiar kini seolah menyimpan ancaman yang tidak terlihat di setiap sudutnya. Josh menatap pesan misterius itu dengan tangan gemetar, membacanya berulang kali seolah berharap kata-katanya akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ia segera menelepon Veron dan Brandon, mengajak mereka untuk video call bersama malam itu juga, tidak ingin menghadapi ketakutan ini sendirian.

"Lo dapet pesan itu dari mana?"

tanya Brandon di layar ponsel, wajahnya pucat pasi melihat tangkapan layar yang dikirim Josh.

"Nggak tahu, nomornya nggak dikenal," jawab Josh. "Tapi gue yakin ini dari dia. Dari sosok yang selama ini muncul."

Veron terdiam lama, matanya menerawang seperti sedang mencoba mengakses sesuatu di ingatannya.

"Gue rasa... gue tahu apa maksudnya. Tempat dia menghilang. Itu ruang laboratorium lama di sekolah kita, yang sekarang jadi gudang."

"Gimana lo bisa tahu?" tanya Gibran, yang juga bergabung dalam panggilan tersebut.

Veron menghela napas panjang sebelum melanjutkan, matanya menerawang seolah mencoba mengakses kembali kepingan mimpi yang masih samar dalam ingatannya.

"Gue mimpiin itu semalam,"

Veron menjawab pelan.

"Ruangan gelap, penuh debu, ada meja tua di tengahnya. Dan ada perasaan... kayak itu tempat terakhir dia ngerasa hidup."

Malam itu, Josh memutuskan untuk tidak lagi menghindar sepenuhnya, meski rasa takutnya masih membuncah di dada. Dengan tekad yang bercampur kekhawatiran mendalam terhadap keselamatan teman-temannya, ia duduk di kamarnya, menunggu jam mendekati pukul dua pagi, tetap terhubung dengan Veron dan Brandon melalui panggilan video sebagai bentuk dukungan meski mereka tidak berada di tempat yang sama secara fisik malam itu.

"Lo yakin mau coba beginian sekarang, tanpa persiapan lebih matang?"

tanya Veron dari layar ponsel, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.

"Gue nggak yakin," jawab Josh jujur.

"Tapi gue capek terus-terusan ketakutan tanpa tahu apa-apa. Dan sekarang dia udah mulai ngincer kalian berdua juga. Gue harus coba cari jawaban sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi ke kalian."

Tepat pukul 02.02, suhu kamar Josh kembali turun drastis, disertai suara detak jam yang melambat seperti biasa. Kali ini, alih-alih bersembunyi, Josh berdiri tegak di tengah kamarnya, matanya menatap lurus ke arah sudut gelap tempat sosok itu biasa muncul.

"Aku tahu kamu di sana," katanya, suaranya bergetar namun berusaha terdengar tegas.

"Aku cuma mau tahu, kamu siapa, dan kenapa kamu terus-terusan muncul di depan kita bertiga."

Untuk beberapa saat, tidak terjadi apa-apa. Namun perlahan, sosok pria berjas hitam mulai terbentuk dari kegelapan sudut kamar, kali ini lebih jelas dari sebelumnya, dan untuk pertama kalinya, wajahnya tidak sepenuhnya tersembunyi dalam bayangan wajah remaja yang sama dengan yang sempat Josh lihat dalam kilatan cahaya, dipenuhi kesedihan yang begitu mendalam.

Dari layar ponsel, Josh bisa mendengar Veron menahan napas, dan Brandon yang tiba-tiba memegangi kepalanya sendiri dengan wajah menahan sakit, meski mereka berada jauh dari kamar Josh.

Sosok itu mengangkat tangan perlahan, menunjuk ke arah jam dinding yang jarumnya berhenti tepat di 02.02, lalu menunjuk ke arah layar ponsel Josh, ke arah wajah Veron dan Brandon yang menatap ngeri dari jauh, seolah memberi isyarat bahwa jawabannya berhubungan erat dengan mereka bertiga, bukan hanya dirinya seorang.

"Apa maksudnya itu?"

tanya Josh, suaranya semakin bergetar meski ia berusaha mempertahankan keberaniannya.

Sosok itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan mulai bergerak mendekat perlahan, membuat suhu ruangan semakin turun drastis hingga napas Josh membentuk uap tebal di udara. Dari layar ponsel, suara Veron dan Brandon terdengar semakin panik memanggil namanya, namun suara mereka seolah teredam, semakin jauh dan tidak jelas seiring sosok itu semakin mendekat.

Josh merasakan energi hangat yang familiar kembali menjalar di dadanya, namun kali ini ia mencoba mengendalikannya, tidak membiarkannya meledak begitu saja seperti sebelumnya. Ia menatap sosok itu lurus-lurus, mencoba menahan rasa takutnya. Di sudut matanya, ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di cermin meja belajarnya wajahnya pucat, namun matanya menunjukkan keteguhan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya bisa ia miliki.

"Aku nggak akan lari lagi,"

katanya, meski suaranya nyaris tak terdengar.

"Aku mau jawaban. Buat aku, dan buat mereka berdua."

Sosok itu berhenti tepat satu langkah di hadapannya, dan untuk pertama kalinya, Josh mendengar suara yang bukan sekadar bisikan samar, melainkan kalimat utuh yang menggema di dalam kepalanya, bukan melalui telinganya.

"Kalian bertiga... sama seperti aku dan kedua sahabatku dulu."

Layar ponsel Josh tiba-tiba padam, memutus panggilan video dengan teman-temannya secara paksa, meninggalkannya sendirian dalam kegelapan bersama sosok misterius yang kini berdiri tepat di hadapannya dan kalimat terakhir itu terus terngiang di kepalanya, membuka sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia bayangkan: bahwa ia dan kedua sahabatnya bukanlah korban pertama yang dipilih untuk mewarisi beban ini.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!