NovelToon NovelToon
Karma Sang Pelakor (Sistem Balas Dendam)

Karma Sang Pelakor (Sistem Balas Dendam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ucum_alattas

Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.

Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.


Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2 (Revisi)

“Tolong jangan tertawakan saya,” ucap Selina dengan telinga memerah.

Maxima yang melihat rona merah itu tersenyum kecil. “kenapa aku harus menertawakan mu. Tindakanmu sama sekali tidak salah. Yang salah itu, pola pikir teman temanmu. Jika kau ... ekhm ... masih p3rawan sampai saat ini, itu bukan karena kau gagal, atau kurang bergaul. Itu membuktikan kau mampu menjaga dirimu.”

Selina menunduk. Kali ini, tidak hanya telinganya yang memerah, tapi pipinya juga memiliki semburat merah.

“Kau ... kau jug berpikir seperti itu?” tanyanya hati hati.

Maxim yang mendengar itu tersenyum. Ia mengangguk. Anggukan yang membuat Selina tanpa sadar tersenyum. Senyum yang membuat Maxim tertegun, dan merasakan gejolak asing di hatinya.

Sementara itu, sistem yang melihat perkembangan hubungan tuannya dengan target misi itu bersorak penuh semangat.

[“Tuan, jangan membuang buang waktu. Cepat tarik target ke ranjang, habiskan malam bersama dengannya!”]

Namun, Selina hanya mengabaikannya tanpa memberi tanggapan.

Sistem ini menurutnya terlalu sialan. dia masih terlalu asing dengan dunia ini, dan tiba tiba diberitahu jika tanpa tidur dengan pria asing di depannya, dia akan mati.

“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, Tuan,” ucap Selina dengan wajah sedikit malu.

Maxiam mengangguk. Ia melonggarkan dasinya. Entah mengapa, tubuhnya tiba tiba terasa panas.

“Anda jangan khawatir, setelah saya memastikan teman teman saya sudah pergi, saya akan pindah ke kamar yang lain,” lanjutnya sungguh sungguh.

Maxim tak terlalu mendengarnya. Kepalanya sedikit berdengung. Matanya tanpa sadar menatap ke arah bibir merona milik Selina yang bergerak itu.

Melihat bibir itu, tenggorokannya terasa kering.

“Ekhm, saya izin ke kamar mandi terlebih dahulu, tuan. Jika anda lelah, anda bisa beristirahat di ranjang, saya pastikan, saya tidak akan mengganggu privasi anda,” ucapnya sungguh sungguh.

Tak menunggu jawaban Maxim, selina langsung bergegas.

Maxim yang tak mendengar apa pun yang dikatakan Selina, namun melihat wanita yang sejak tadi menarik untuknya itu mengerutkan kening.

“Jangan pergi,” ucapnya yang tiba tiba menggenggam pergelangan tangan selina.

Selina yang terkejut dengan tarikan di pergelangan tanganya itu mengerutkan kening. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya lebih dulu di dekap, membuat matanya melebar dan sedikit meronta.

“tuan, apa yang Tuan lakukan?” tanyanya dengan suara cemas.

Maxima mengendus aroma tubuh Selina, membuat Selina semakin kuat meronta.

Sistem yang melihat itu mengingatkan.

[“Tuan, jangan menolaknya. Obat itu sudah bekerja, anda harus cepat menarik target ke ranjang dan segera menyelesaikan misi pertama.”] peringat sistem saat melihat selina yang meronta.

Selina yang mendengar kata obat bius juga terkejut.

"Sial, kau tidak pernah memberitahuku tentang obat bius ini. Apa kau ingin aku menjadi korban pelecehan?" raungnya kesal dalam hati.

Namun, sistem tak lagi bersuara. Hanya ada keheningan tanpa jawaban.

“Tuan_”

“Maxim, panggil aku Maxim,” bisik Maxim dengan bibir mengecup tulang selangka Selina. Pria itu terlihat benar benar kehilangan kendali.

Tubuh selina menegang. Matanya membola seperti boneka. Membuat Maxim yang kebetulan mendongak semakin tidak bisa mengendalikan diri.

“Ma .. Maxim,” panggil Selina dengan suara gugup.

“Yah, panggil aku seperti itu,” ucap Maxim dengan suara sangau.

Tubuh Selina menggigil. Maxim sendiri yang merasa kepuasaan yang belum pernah ia rasakan semakin mengeratkan pelukannya pada Selina.

“Maxim, kita tidak bisa melakukan ini,” bisik selina dengan suara serak.

Ia bahkan mendorong pelan tubuh maxime. Dorongan yang membuat tubuh maxima bergejolak, dan keinginan untuk menaklukan wanita di pelukannya semakin menguat.

“Kenapa?” tanya Maxim dengan suara serak.

Selina tak memiliki jawaban. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, menatap Maxime dengan tatapan malu bercampur takut.

“Kita ... kita tidak saling mengenal,” jawabnya akhirnya.

Mata Maxime menyipit. Ia mengangkat Selina, membuat Selina dengan cepat melingkarkan kedua kakinya di pinggang Maxime erat dan menjerit pelan.

“Kau ....”

Suara gugup ditambah ketakutan di sana membuat Maxime terkekeh. Ia mempercepat langkah kakinya. Membawa Selina ke atas ranjang dan memprangkap tubuh wanita itu.

“Kalau begitu, mulai saat ini, kita berkenalan,” bisiknya yang membuat mata Selina berkedip.

“Aku Maxime,” lanjutnya dengan suara serak diikuti dengan tangan yang mengelus lehernya pelan, penuh sensual.

Mulut selina terbuka, sedetik kemudian tertutup. Matanya bertemu dengan mata Maxime yang membara.

“Tetap, kita tidak bisa,” ucap Selina tergagap.

Tangannya berusaha mendorong tubuh Maxim menjauh, membuat Maxime mengerutkan kening merasa tak nyaman.

Melihat celah itu, selina menambah kekuatannya. Membuat maxim mundur dan sistem berteriak.

[“Tuan rumah, kenapa kau mendorongnya. Ingat, kelangsungan hidup anda juga tergantung pada keberhasilan misi ini.”]

Selina yang mendengar itu menggertakkan gigi.

Terlebih, melihat Maxime yang tampak diam dengan tangan mencubit pangkal hidungnya kuat. Wajahnya terlihat semakin memerah, dengan nafas yang terdengar memburu.

“Maxime, apa ... kau baik baik saja?” tanya selina hati hati.

Namun, maxime yang mendapatkan sedikit kendali dan kesadarannya menggelengkan kepala.

“Pergi,” perintah Maxime dingin. Seolah ia menyadari jika ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Namun, alih alih pergi, rasa khawatir, dan pengingat sistem membuat selina malah mendekat.

“Maxime, wajahmu memerah. Apa kau demam?” tangan Selina dengan lembut menyentuh pipi Maxime, membuat Maxime yang merasakan tangan dingin itu tersentak dan menatap tajam Selina.

Selina yang melihat tatapan mata itu ketakutan. Ia segera menjauhkan tangannya, namun, terlambat.

Maxime dengan cepat mencengkram tangan wanita itu, membuat selina dengan gugup menelan ludahnya sendiri dan menatap Maxime dengan tatapan khawatir bercampur malu.

“Selina, sepertinya ada yang membiusku,” gumam Maxime yang membuat Selina pura pura terkejut.

“Membiusmu?”

Maxime memejamkan mata. Ia semakin mengeratkan cengkraman tangannya pada Selina, membuat wanita itu meringis kesakitan.

“Biskah kau membantuku?”

Pertanyaan itu membuat Selina sedikit linglung . Alih alih memaksanya seperti tadi, Maxime malah meminta izin.

Matanya menatap Maxim yang kini juga menatapnya.

“Ini .... tapi kita ....” selina bahkan tidak bisa melanjutkan kata katanya.

Hanya dengan melihat wajah maxime yang kesakitan, dan bagaimana Maxime yang menatapnya penuh harap, ia kehilangan kata kata.

“selina,” panggil maxime lagi.

Kali ini, tidak ada paksaan.

(Tuan, percayalah, Maxime pria baik. Dan pilihan sistem tidak pernah salah) pengingat sistem.

Selina mengangguk dengan kepala tertunduk. Membuat Maxime yang sejak tadi menahan diri seperti serigala yang terlepas dari kandangnya.

Dengan gesit menarik selina, menerkam wanita itu dan membuat Selina sedikit kewalahan.

“Max ... Maxime, jangan menggigitnya,” bisik Selina dengan suara tercekat saat bibir maxime mengecup setiap jengkal wajahnya, dan menggigit tulang selangkanya.

Saat pakaian di tubuhnya benar benar terlepas, dan Maxime manatap tubuh mulusnya dengan tatapan membara, wajahnya merah padam.

“Jangan menatapku seperti itu,” cicit Selina yang membuat maxime langsung menatapnya.

Wajahnya masih semerah tadi. Hanya saja, ada kepuasan di sana.

“Kenapa? Biarkan aku menganggumi pemandangan indah ini sebentar lagi, sebelum aku memilikinya,” bisik Maxime yang membuat Selina semakin tersipu.

“Max,” lirih Selina yang membuat Maxime terkekeh.

Sedetik kemudian, sentuhan hangat dan basah menyentuh titik paling sensitifnya. Membuat selina menggigit bibirnya kuat kuat, dan berharap bisa menahan suara des*hannya itu.

“Jangan menggigitnya. Biarkan aku mendengar suaramu,” bisik Maxime.

Selina menggelengkan kepala. Namun, tangan Maxime yang menganggur dengan lembut membelai bibirnya, kemudian memasukkan jarinya agar gigi gigi kecil itu tidak menyakiti bibir wanita itu.

“Gigit tanganku saja,” bisiknya dengan nafas memburu.

Selina yang merasakan tangan panas milik Maxime menguasi mulutnya tertegun. Namun, matanya berubah melebar saat ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Maxime.

Maxime sendiri, pria itu benar benar terhanyut dalam aksinya. Saat matanya melihat area tersembunyi milik Selina, yang hanya ditumbuhi bulu halus di sana, bahkan tidak akan terlihat jika tidak disentuh langsung menelan ludah.

Tubuh pribadinya yang sudah terasa panas dan sesak sejak tadi kian meronta. Membuat ia yang awalnya ingin menikmati wanitanya dengan lembut dan pelan kehilangan kendali. Segera, fokusnya beralih.

Tubuhnya Dengan gesit masuk ke tengah tubuh Selina, membuat Selina yang masih tertegun dengan cincin manis itu segera tersadar saat merasakan benda asing yang mulai mengetuk daerah pribadinya yang belum tersentuh siapa pun.

“Tidak! Kita tidak bisa melakukannya!” teriak Selina keras.

Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Pengaruh obat itu terlalu berat, ditambah kekagumannya pada tubuh wanita di bawahnya membuat ia benar benar kehilangan kendali.

Tanpa ragu, ia menyentak masuk, membuat Selina yang masih ingin berusaha mencegah hubungan itu menjerit kesakitan.

“Sekarang, kau benar benar menjadi wanitaku,” bisik maxime merasakan kepuasan yang luar biasa saat ia berhasil membuka segel itu.

("Selamat, misi pertama selesai.")

1
irena
sedikit banget thor... nanti deh saya simpan dulu episodenya... klo perlu sampai tamat baru saya baca lagi...
irena: iya makanya.. saya tunggu selesai dulu.. habis klo satu bab dibaca.. bikin greget
total 2 replies
irena
sedikit banget thor..
Althoza_$: udah 1000 kata lebih itu KK 🙈
total 1 replies
irena
kapan terbongkar busuknya Helena.. supaya mamanya max semakin menyesal krn sudah memilih Helena..
Althoza_$: besok KK, sabar ya 😄
total 1 replies
irena
saya jadi ga suka thor,. klo ceritanya kayak gini.. si Helena sama mamanya max menang... saya ingin si mama max kapok dan Helena dipermalukan... bukan menang karena disentuh sama max sesuai obsesinya..
Althoza_$: tunggu bab selanjutnya, KK 😄 maaf ya kalau bikin emosi bab ini
total 1 replies
irena
klo sampai si Helena tidur sama max.. berarti Helena menang krn dia memang ingin sekali tidur sama suaminya.. kan itu obsesinya
irena
jangan dong thor.. sampai tidur dengan maxim.. harusnya datangkan saja dokter yg pernah mengoperasi keperawana si Helena.. supaya si max jijik. jng sampai menyentuh Helena.. jadi ga seru dong klo tersentuh sama Helena.. max sudah pernah tidur sama si selena yg gadis..
irena: ok... 💪💪💪
total 2 replies
irena
harus terbongkar sifat pelakor nya dulu Helena.. supaya mamax max tau.. klo Helena sudah dua kali jd pelakor.. dan dia bukan perawan.. tapi sudah operasi
irena
biar ibunya max jijik sama Helena... dan menganggap karma buat helena
irena
bongkar kebusukan Helena.. klo perlu di viralkan.. yg harus tau lebih dulu ibunya max
irena
kenapa ga dibongkar sekalian kelakuan si Helena kalo dia juga pernah jadi pelakor dia kali.. bahkan sengaja jadi pelakor untuk sahabat nya.. klo perlu si max cari tau tentang Helena.. supaya dia bisa semakin membuat Helena tertekan ga bisa melawan
Althoza_$: tunggu part terbongkar nya ya kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!