Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nial menarik tangan Queen dengan langkah lebar, membelah kerumunan tanpa memedulikan sekitarnya. Ia tidak bisa lagi menikmati suasana pantai, musik house, atau apa pun itu. Kemunculan pria bernama Rexi tadi benar - benar sukses membuat mood-nya jatuh berantakan hingga ke tingkat paling dasar.
"Nial, bisa pelan - pelan?" protes Queen, mencoba menyeimbangi langkah besar pria itu.
Namun, Nial sama sekali tidak peduli. Ia tetap menggenggam tangan Queen erat - erat sembari terus berjalan cepat menuju area parkiran.
"Nial, kakiku sakit!"
Kalimat itu meluncur dari bibir Queen dengan nada setengah meringis.
Langkah Nial terhenti seketika. Tubuh tegapnya menegang mendengar ucapan Queen. Pria itu menghela napas pelan, mencoba meredam gemuruh emosi di dadanya, lalu menoleh ke arah Queen—tidak, lebih tepatnya menatap ke arah sepasang kaki jenjang wanita itu.
"Maaf," ucap Nial.
Hanya satu kata itu yang lolos dari bibirnya, terdengar begitu rendah dan parau. Tanpa aba-aba, Nial langsung menarik tubuh Queen ke dalam pelukannya.
Queen tertegun sejenak di dalam dekapan hangat itu. Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya, melingkarinya di pinggang tegap Nial untuk membalas pelukan pria itu.
Keheningan nyaman mendadak tercipta di antara mereka, mengusir sisa kemarahan yang sempat menegang.
Setelah beberapa saat, Nial mengendurkan pelukannya sedikit, namun matanya tetap menatap Queen lekat - lekat dari jarak dekat.
"Lepas alas kakimu," titah Nial lembut namun tak terbantahkan.
Queen mengerjap, lalu tawa kecil spontan lolos dari bibirnya. "Kau ingin aku telanj*ng kaki di tempat ini?"
Nial tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menunduk, mendaratkan sebuah kecupan yang hangat dan lama di kening Queen.
"Aku yang akan menggendongmu,"
"Eh? Tapi Nial, aku—"
Sebelum Queen sempat menyelesaikan kalimat protesnya, Nial sudah bergerak cepat melepas heels yang dipakainya, kemudian menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Queen.
Dalam satu gerakan mudah, ia mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya, membuat Queen refleks mengalungkan tangan di leher Nial agar tidak terjatuh.
Sesampainya di parkiran, Nial memencet tombol pada remot kendalinya, membuat mobil sport mewah miliknya berbunyi bip dua kali.
Dengan cekatan, Queen langsung membantu membukakan pintu mobil dari luar. Nial perlahan mendudukkan Queen di kursi penumpang sebelum akhirnya ia memutari kap mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Nial tidak langsung menyalakan mesin. Ia condong ke arah Queen, menarik sabuk pengaman, dan memasangkannya dengan hati-hati. Melihat cara Nial yang begitu protektif dan cekatan, sudut bibir Queen terangkat.
"Maafkan Kayden." Kata Queen. "Kau tahu ... dia memang suka iseng."
Gerakan Nial terhenti seketika. Dari jarak yang begitu dekat, ia menatap lurus ke dalam manik mata Queen. "Aku tidak ingin membahasnya."
Queen mengangguk. "Baiklah."
Sebelum Nial sempat menjauhkan tubuhnya, tangan Queen terangkat menangkup pipi pria itu.
Cup.
Tanpa aba-aba, Queen mendaratkan satu kecupan manis di bibir Nial. "Terima kasih," bisiknya lembut.
Nial berdehem pelan, mendadak salah tingkah. Ia buru-buru kembali ke posisinya dan membuang muka ke depan, mencoba menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
"Jangan pernah lupa pakai seatbelt saat hendak berkendara,"
Queen justru tersenyum lebar. Ia menggeser duduknya mendekat, lalu bergelayut manja di lengan kekar Nial.
"Ada kau. Kau yang akan memakaikannya jika aku lupa."
Nial hanya tersenyum samar, tak mampu menahan rasa gemasnya. Ia menyalakan mesin mobil, dan mereka pun mulai membelah jalanan.
Setelah sekitar sepuluh menit perjalanan, arus lalu lintas mendadak mandek total. Di depan sana, tampak sirine polisi dan ambulans meraung-raung.
"Nial, apa yang terjadi?" Tanya Queen, khawatir.
Nial mengusap pipi wanitanya. "Kita akan segera tahu."
Ia pun segera menurunkan kaca jendela mobilnya saat seorang petugas polisi berjalan mendekat ke arah mereka. Petugas itu membungkuk sedikit di dekat jendela kemudi dengan raut wajah yang tampak lelah.
"Selamat sore, Tuan. Maaf mengganggu perjalanan Anda," sapa polisi itu sopan. "Terjadi kecelakaan beruntun yang cukup parah di depan sana."
Nial mengernyitkan dahi. "Berapa lama jalur ini akan ditutup?"
"Proses evakuasi dan pembersihan jalan mungkin akan memakan waktu sekitar dua atau tiga jam," jelas sang polisi sambil menunjuk ke arah papan penunjuk jalan di dekat persimpangan. "Jika Anda tidak ingin terjebak di sini, saya sarankan untuk memutar balik dan mengikuti jalur alternatif yang dialihkan ke sebelah kiri."
Nial mengangguk tipis. "Baik, terima kasih atas informasinya,"
Nial kembali menaikkan kaca mobilnya, membuat keheningan kembali menguasai kabin mewah itu. Ia menghela napas pendek, lalu menoleh ke samping, menatap Queen yang sejak tadi memperhatikannya.
"Jalur alternatif yang akan kita lewati mungkin jaraknya jauh lebih memutar, Queen,"
Queen membalas tatapan itu dengan binar mata yang tenang, sama sekali tidak tampak keberatan.
"Aku tidak khawatir tentang apa pun, asalkan perginya bersamamu."
Nial hanya tersenyum tipis. Ia bergerak ke kursi belakang, mengambil sebuah coat wol tebal miliknya, lalu menyampirkannya ke bahu Queen.
"Kalau begitu, pakai mantel ini. Lihat keluar, salju mulai turun. Cuacanya akan menjadi sangat dingin."
"Baiklah."
Setelah melihat Queen selesai memakai pakaian yang ia minta, Nial segera memutar balik setir, mengambil jalur alternatif yang diarahkan polisi tadi.
Baru sekitar dua puluh menit berkendara di jalur baru, Nial membelokkan mobilnya dan berhenti di pelataran sebuah supermarket besar.
Queen melihat keluar mobil, lalu menoleh ke arah Nial. "Kau ingin membeli sesuatu?"
"Ya. Apa ada yang ingin kau beli?"
"Tidak."
"Kalau begitu tunggu di mobil saja," ucap Nial sambil melepas sabuk pengamannya. "Aku ke dalam sebentar untuk membeli minuman, camilan, dan beberapa perlengkapan yang mungkin kita butuhkan di jalan."
Queen mengangguk patuh. "Baiklah."
Di dalam supermarket, Nial bergerak cepat mengambil beberapa botol air mineral, minuman kaleng, roti, dan tisu basah. Ia langsung menuju kasir untuk membayar. Nial sama sekali tidak sadar bahwa salah satu produk minuman yang ia beli sedang mengadakan promo bungkusan, di mana struk atau bungkusan produk tersebut otomatis mendapatkan hadiah bonus berupa sepasang kondom.
"Ah, selamat Tuan!" ucap si kasir dengan senyum ramah, wajahnya mendadak bersemangat. "Untuk pembelian paket minuman kaleng ini, kebetulan toko kami sedang mengadakan promo khusus hari ini. Anda berhak mendapatkan hadiah gratis berupa sepasang pengaman varian terbaru."
Kasir itu mengambil sebuah kotak kecil dari laci bawah dan berniat menunjukkannya pada Nial. "Apakah Anda ingin memilih varian aromanya, Tuan? Kami punya aroma mint dan vanilla."
"Tidak perlu. Tolong cepat masukkan saja semuanya ke dalam kantong," potong Nial dingin, sama sekali tidak memperhatikan apa yang baru saja dikatakan oleh pria di depannya. Matanya terus melirik ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan. "Aku sedang terburu-buru."
"Baik, Tuan. Maaf."
Tanpa banyak bicara lagi, si kasir langsung memasukkan semua barang belanjaan, termasuk kotak bonus kecil itu, ke dalam satu kantong plastik besar. Nial langsung menyodorkan kartu debitnya, menyelesaikan pembayaran dalam hitungan detik, lalu menyambar kantong tersebut sebelum berjalan cepat kembali ke mobil.
Begitu masuk ke dalam mobil, Nial meletakkan kantong belanjaan di kursi belakang. Namun, sebelum kembali menyalakan mesin, ia menatap Queen dengan dahi sedikit berkerut.
"Queen, bagaimana kalau kita menginap saja di hotel dekat sini? Berkendara mengikuti jalur memutar ini dalam kondisi bersalju mungkin akan memakan waktu berjam - jam sampai kita tiba di penthouse."
Queen menatap Nial lekat-lekat. Alih-alih menjawab, ia justru bertanya balik, "Apa kau tidak akan kelelahan? Kau yang akan menyetir sendirian nanti."
Nial menatapnya balik, matanya mengunci pandangan Queen dengan tegas. "Tidak. Aku tidak lelah sama sekali."
Queen terdiam sejenak, menimbang opsi yang ada, sebelum akhirnya memberikan senyuman tipis. "Kalau begitu, aku ingin kita berkendara pulang saja ke penthouse. Aku lebih suka berdua di rumahmu."
Nial mengangguk mengerti. Ia mengulas senyum tipis, menyalakan mesin mobil, dan kembali melanjutkan perjalanan panjang membelah jalan yang mulai memutih oleh salju.
•••
Mobil sport itu kembali melaju, membelah keheningan jalanan alternatif yang dikepung oleh deru angin sore. Butiran salju turun semakin lebat, menempel di kaca depan sebelum akhirnya tersapu oleh wiper.
Di dalam kabin, hawa hangat dari pemanas mobil dan balutan coat wol milik Nial perlahan membuat mata Queen terasa berat. Rasa kantuk yang hebat mulai menyerangnya setelah seharian didera berbagai emosi.
"Nial, aku tidur sebentar, ya," gumam Queen.
Nial melirik sekilas, lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap puncak kepala Queen dengan lembut. "Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang."
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru sekitar tiga puluh menit Queen terlelap, roda mobil mendadak berdecit tajam. Guncangan akibat rem mendadak itu seketika membuat Queen tersentak bangun.
"Fck!" Nial mengumpat kasar, tangannya memukul kemudi dengan ekspresi luar biasa frustrasi.
Di depan sana, sorot lampu mobil menangkap sebuah pemandangan buruk. Sebuah pohon pinus berukuran besar tumbang, melintang tepat di tengah jalan dan menutup seluruh akses tanpa menyisakan celah sedikit pun.
"Nial, ada apa?" tanya Queen, mengucek matanya yang masih setengah buram sambil menatap ke luar kaca depan.
Nial mengembuskan napas berat, mencoba meredam emosinya agar tidak menakuti wanita di sampingnya. Ia menoleh ke arah Queen. "Ada pohon tumbang di depan sana. Kau tunggu di sini sebentar, aku akan turun untuk melihat situasinya."
Queen hanya mengangguk patuh. Begitu Nial membuka pintu dan turun, hawa dingin yang ekstrem dari luar sempat menyergap masuk ke dalam kabin sebelum pintu kembali tertutup rapat.
Di tengah rasa cemasnya, perut Queen tiba-tiba berbunyi pelan. Rasa lapar mendadak mendera karena mereka melewatkan makan siang akibat terjebak macet tadi.
Mengingat kantong belanjaan yang dibeli Nial di supermarket, Queen memutar tubuhnya ke belakang. Ia meraih kantong plastik besar yang diletakkan di kursi penumpang belakang, lalu membawanya ke pangkuan.
"Dia beli apa saja, ya?" gumam Queen.
Ia membuka kantong tersebut dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu.
Beberapa botol air mineral, minuman kaleng, roti, tisu basah—namun, saat jemarinya meraba bagian paling dasar kantong, tangannya tanpa sengaja meraih sebuah kotak kecil yang terasa asing.
Queen mengernyitkan dahi. Ia mengangkat kotak itu dan membawanya lebih dekat ke arah lampu dasbor mobil yang remang-remang. Sambil menajamkan penglihatannya, ia membaca tulisan yang tertera di sana.
"Apa ini?" gumam Queen bingung.
Detik berikutnya, sepasang mata Queen langsung melotot sempurna. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat matanya menangkap tulisan tebal yang tercetak jelas di atas kotak merah-hitam tersebut.
Premium Cond*ms - Ultra Thin.
"K-kond*m?!" Gumam Queen dengan suara bergetar gugup. Wajahnya seketika merona merah padam hingga ke telinga.
Pikiran wanita itu mendadak traveling ke mana-mana.
"Untuk apa Nial membeli ini?"
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰