Mendapatkan batu roh ungu dan bertemu dengan seorang Dewi. Wan Tian yang tidak memiliki akar spiritual pun menjalani pelatihan keras dari Yang Yue, Dewi Alkemis dari batu roh ungu.
Menjadi kuat bukanlah masalah, ketika menghadapi kejamnya dunia. Bukankah ada guru seorang Dewi membantunya? Ketika mendapatkan kekuatan dan mengalahkan musuh kuat, para wanita cantik di dunia juga datang sendiri memperebutkannya.
Menjadi kultivator maupun alkemis hebat, semua dilaluinya dengan kerja keras. Jalan menuju abadi dan menjadi dewa, menginjak orang jahat, melindungi jalan kebenaran.
Tingkatan Ranah Kultivasi: Manusia Pejuang, Manusia Sakti, Manusia Luar Biasa, Tubuh Emas, Tubuh Berlian, Manusia Suci dan Manusia Tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Pedang
Dua orang menyerang bersamaan namun tidak dapat menyentuh Wan Tian. Pedang yang mereka gunakan patah oleh pedang kayu. Hal yang mustahil bagi mereka adalah hal yang biasa bagi Murid Dewi Alkemis.
"Ti-ti-dak. Ti-dak mungkin, bukan? Mengapa seperti ini? Itu hanya pedang kayu. Mengapa bisa mematahkan pedang sungguhan?"
"Apakah kau menyembunyikan kekuatanmu? Tuan muda, kami telah salah. Tidak, kakek leluhur. Kami tahu anda adalah seorang abadi. Maafkan atas kelancangan kami!"
"Benar, kami mohon ampun. Kami bersedia menjadi pengikutmu! Kami adalah orang baik-baik di kota Louyang." Orang yang kalah, menjadi orang yang menjilat. Ia pun semakin takut dan bergetar karena mengira pemuda di hadapannya adalah seorang abadi yang berusia ratusan tahun.
"Orang dahulu mengatakan, jika seorang bisa mencapai keabadian, penampilan mereka terlihat muda. Kami tahu anda adalah abadi yang diutus untuk menyelamatkan kami dari hati jahat. Kami mau menjadi muridmu. Tidak-tidak, hamba mohon tuan bisa mengajukan kami menjadi murid anda."
Kedua orang yang awalnya ingin merampok kini menjadi tak waras. Meskipun Wan Tian sendiri juga belum mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ia hanya menggunakan teknik berpedang yang sederhana. Hanya menangkis dan menyerang. Tidak disangka, kedua perampok yang berada ditingkat Manusia Pejuang akhir pun, hanya bisa berlutut dan menjilat.
"Sudahlah. Aku tidak berniat membuat kalian takut. Tapi kalian harus ingat, jangan merampok lagi. Jika ingin hidup dengan baik, bekerjalah dengan keras. Hanya dengan bekerja keras, maka semua yang diperoleh akan memuaskan. Justru dengan merampok, hanya akan membuatmu terjatuh ke jurang kegelapan."
Wan Tian meninggalkan kedua orang yang berlutut itu. Karena tak ingin berurusan dengan mereka, Wan Tian berlari dengan cepat. Mereka tidak menyadari kecepatan Wan Tian. Sehingga menganggapnya benar-benar sebagai orang yang berkultivasi menjadi abadi.
"Uhh, benar-benar sangat menegangkan. Jika kita seperti ini terus, memang benar apa yang dikatakan olehnya. Kita tidak boleh seperti ini lagi."
"Apa yang kamu katakan? Pekerjaan kita adalah merampok. Bagaimana kita mendapatkan uang kalau tidak merampok? Kau sangat bodoh, yah?"
Tak ada yang tahu ke mana orang yang telah mengalahkan mereka. Sehingga kedua orang itu sudah bebas. Entah mau berbuat kejahatan atau mencari pekerjaan yang baik.
Wan Tian telah melewati tempat yang sama seperti saat pergi dari desa Yanshi. Setelah mendapatkan ketrampilan, ia sudah tak takut orang-orang berbuat buruk. Di depan ada sebuah kota tempatnya bermalam.
"Restoran ini. Sudah dua tahun dan masih sama seperti dahulu. Hanya beberapa yang berbeda. Aku juga sudah lapar." Wan Tian masuk ke dalam restoran. Restoran yang pernah ia singgahi bersama Su Menglan.
Seorang dengan pedang di pelukannya, bersandar di depan pintu. Ia melihat penampilan Wan Tian yang telah berubah dan memancarkan aura berbeda dari sebelumnya.
"Sudah dua tahun tidak melihatmu. Tidak disangka, seorang anak tanpa akar spiritual ini telah berubah banyak. Hey bocah, aku ingin mencoba pedangmu. Aku rasa pedang di tanganmu bukan senjata biasa. Setelah makan, aku menunggumu di aula."
"Wan Tian, dia adalah salah satu dari dua penjaga restoran. Seorang pendekar pedang yang sangat kuat. Mungkin kamu bukan lawannya. Tapi tidak ada salahnya jika menjadi lawan tandingmu. Tenang saja, tidak ada niat membunuh dalam dirinya. Mungkin saja ia hanya penasaran padamu. Cukup kerahkan seluruh kemampuanmu nanti."
Wan Tian mengangguk setuju. Ia memang harus bertarung dengan orang hebat. Kebetulan ia berada di tempat yang tepat. Dapat bertemu dengan seorang pendekar pedang hebat adalah sebuah kesempatan langka.
Wan Tian duduk di tempat yang ada di lantai satu. Ia hanya ingin makan dan berbaur dengan orang-orang biasa. Namun beberapa orang menatap Wan Tian dengan remeh. Karena tidak merasakan energi spiritual di dalam tubuhnya.
Jika saja tidak ada penjaga restoran yang akan bertindak saat ada keributan, mereka sudah mencari masalah pada Wan Tian. Sayangnya mereka tidak berani menghadapi dua penjaga tersebut.
Karena pelayanan di lantai satu yang paling lambat, mereka harus sabar menunggu. Meskipun makanan yang disediakan rasanya sama dengan lantai atas. Hanya pelayanan mereka yang sudah diatur sedemikian rupa oleh pengurus.
"Anak muda, mau makan apa?" tanya seorang pelayan pria. Ia bersikap sopan pada siapapun meski orang yang tidak memiliki latar belakang kuat. Meski orang lemah sekalipun, yang datang dengan niat menikmati makanan, harus dilayani dengan baik.
"Aku lapar. Berikan apa saja yang bisa dimakan." Wan Tian meletakan satu tael perak di meja.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, tunggu sebentar. Kami akan menyiapkan makanan terbaik di restoran kami." Pelayan pergi setelah mengambil tael perak.
Tak ada ancaman dari orang-orang yang makan di dalam restoran. Namun aura ketegangan terasa sangat kental. Mereka saling menatap seakan ingin membunuhnya. Tapi Wan Tian tetap tenang. Ia memiliki pedang di atas meja dan ketika ada serangan, ia sudah siap sejak awal.
Ketegangan itu berlangsung dalam beberapa waktu. Ketika Wan Tian berdiri, orang-orang itu pun bersiap mengikutinya. Mereka adalah para kultivator yang berada ditingkat Manusia Pejuang tahap awal sampai akhir.
Dengan kemampuan Wan Tian, seharusnya bisa mengalahkan mereka. Setelah berlatih selama dua tahun lamanya. Kini ia akan mendatangi pendekar pedang yang mengajaknya bertarung. Ya, Lie Yan telah menunggu kedatangan Wan Tian.
"Huh, akhirnya kamu datang juga, Bocah. Aku tidak ada dendam denganmu dan tidak berniat melukaimu. Aku hanya penasaran dengan pedangmu saja. Aku adalah Lie Yan. Penjaga restoran biasa, menantangmu dalam berpedang."
"Itu Lie Yan? Ah, tidak disangka anak itu sampai ditantang oleh penjaga restoran ini. Aku tidak bisa membayangkan nasib anak bodoh ini."
"Ah, palingan hanya dengan satu serangan sudah mati. Benar-benar bocah berbuat masalah. Tidak punya akar spiritual, malah berkeliaran di kota Persinggahan! Benar-benar tidak tahu diri. Lebih baik menjadi budak saja. Pasti masih bisa hidup beberapa tahun ke depan."
"Ah, benar. Orang tanpa akar spiritual, lebih baik menjadi budak saja, hahaha! Tapi melihat budak ini mati di sini, menjadi tontonan yang sangat menarik."
Pandangan meremehkan tertuju pada Wan Tian. Meskipun ia tidak yakin bisa menang melawan Lie Yan, ia juga merasa perkataan mereka berlebihan. Ia akan membuktikan dengan kemampuannya.
"Bocah! Aku tidak meremehkanmu. Tapi orang-orang di sini tidak berpikiran sama denganku. Untuk itu, kuharap kamu bisa membuktikan kehebatanmu agar bisa membuat orang-orang ini berhenti meremehkanmu. Hati manusia akan sadar ketika melihat kenyataan! Silahkan kamu maju terlebih dahulu."
"Terima kasih, Senior Lei Yan. Aku Wan Tian memohon petunjuk dari senior!" Wan Tian menghunus pedang kayunya. Bergerak dengan cepat untuk menyerang Lie Yan.
"Hmm, seranganmu tidak buruk. Tapi sampai kapan bisa bertahan dariku? Kuharap kamu bisa menghiburku." Lie Yan menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan Wan Tian.
Keduanya bertarung dengan kecepatan tinggi. Meskipun Wan Tian dipandang remeh sebelumnya, beberapa orang telah berubah pikiran. Karena melihat kemampuan pemuda tanpa akar spiritual yang bisa mengimbangi Lie Yan, membuat beberapa orang mengaguminya.
"Hebat sekali. Sudah belasan gerakan tapi bocah itu masih bisa mengimbangi Lie Yan? Ini sangat tidak mungkin tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri."
"Benar. Jika dia menjadi penjaga di restoran ini juga tidak buruk. Pasti bisa menahan maupun mengalahkan tingkat Manusia Pejuang tahap Awal."
***
tingkatkan kan terus kekuatan mu wan tian