Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi itu udara di rumah kecil mereka terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Embun menggantung di dedaunan dan suara ayam bersahut-sahutan dari kejauhan. Namun, Altair Aldebaran sudah lama terbangun. Lebih tepatnya, pemuda itu memang tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam.
Ranjang kayunya sempit, kasurnya tipis, dan yang paling membuat pusing... Ciara tidur heboh sekali. Mengigau, menendang selimut, sampai sempat ngorok pelan sebelum akhirnya menutupi mukanya sendiri memakai bantal karena takut ketahuan.
Altair baru saja keluar dari kamar mandi sederhana di belakang kamar. Kamar mandi triplek dengan penutup gorden lusuh, bak semen, gayung plastik, dan kloset jongkok. Rambut hitamnya masih basah, menetes ke kaos hitam polos yang melekat di tubuhnya. Napasnya menghela berat saat ia berjalan kembali ke kamar.
Di atas ranjang, Ciara tidur berantakan. Selimut melayang ke lantai, kakinya naik ke atas bantal, dan kaos kebesaran milik Altair yang ia pakai melorot sampai memperlihatkan bahu serta leher mulusnya.
Altair memejamkan mata sejenak. Demi apa coba?
Gadis ini dulunya tumbuh di keluarga kaya, tidur di kamar seluas lapangan basket dengan AC dingin dan pelayan yang selalu siap siaga. Sekarang dia malah terdampar di kasur kayu usang bersama dirinya.
"Ci, bangun," panggil Altair pelan. Tidak ada respons sama sekali.
"Ciara, bangun!" panggilnya lebih keras. Cuma ada gumaman tidak jelas.
Kesabaran Altair akhirnya habis.
"BANGUN NGGAK LO!" bentaknya sambil menarik kasar pergelangan tangan Ciara.
"APAAN SIH?!" Ciara langsung mengamuk dengan mata meram-melek dan rambut acak-acakan. "Gue masih ngantuk! Suruh Bibi Sri siapin sarapan di balkon! Bikin air hangat sekalian! Jangan berisik!"
Ciara mengibaskan tangan Altair, berniat menarik selimut yang ternyata sudah berada di lantai. Ia terus menggerutu soal pelayan yang tidak becus dan AC kamar yang mendadak mati.
Altair cuma diam mematung. Bibi Sri? Sarapan di balkon?
Pelan-pelan, otak Ciara mulai terkoneksi dengan kesadaran. Gerah. Bau kayu lembab. Tidak ada aroma diffuser lavender yang menenangkan.
Matanya terbuka lebar. Dinding kamar ini terbuat dari kayu, bukan marmer mahal.
Sadar sepenuhnya, Ciara langsung duduk tegap. Kaos kebesaran yang ia pakai melorot semakin bawah, memperlihatkan bahu dan belahan dadanya dengan sangat jelas.
Mata Altair membesar seketika. Napasnya tercekat, pandangannya tanpa sengaja turun ke kulit putih Ciara yang sangat kontras dengan kaos hitam tersebut.
Sialan.
Dengan wajah memerah, Altair cepat-cepat membuang muka. "Sepuluh menit," katanya dengan suara serak. "Lo harus udah siap. Gue tunggu di luar."
Altair melangkah cepat keluar kamar lalu menutup pintu pelan-pelan—takut pintunya lepas dari engsel. Pipinya terasa sangat panas. Pagi-pagi sudah diuji mental dan iman.
Di dalam kamar, Ciara mendadak sadar sepenuhnya dari mimpi.
"INI KAMAR APAAN?!" jeritnya histeris. Ia melompat dari ranjang, melihat sekeliling yang cuma ada lemari jelek dan meja rias tanpa lampu.
"KABUR KE MANA SEMUA BARANG GUE?!"
Ia berlari ke arah yang ia kira kamar mandi mewah, lalu menyibak gorden lusuh di depannya.
Ada bak semen, gayung biru, dan kloset jongkok. Otaknya langsung loading tiga detik.
"GUE MANDI PAKAI GAYUNG?!" teriaknya melengking, mundur dua langkah dengan muka jijik setengah mati. "ASTAGA! INI KANDANG APA KAMAR MANDI?!"
Tapi mengingat ancaman sepuluh menit dari Altair, Ciara terpaksa berjinjit masuk ke dalam sambil mengomel, "Awas aja lo, Altair! Bikin gue menderita begini!"
Lima belas menit kemudian, Ciara keluar hanya berbalut handuk putih dari dada sampai paha. Rambut basahnya meneteskan air ke lantai kayu.
Ia berjalan ke arah lemari kayu di sudut kamar untuk mengambil baju, lalu menarik pintunya. Macet.
Ia tarik lagi lebih kencang. Tetap tidak bisa terbuka.
"ELAH! LEMARI RUSAK JUGA?!" teriaknya sambil menggedor pintu lemari kayu itu. "ALTAIR! SIALAN LO!"
Karena terlanjur emosi, Ciara langsung keluar kamar hanya memakai handuk. Niatnya sangat simpel: meminta tolong Altair membukakan pintu lemari. Dia tidak berpikir panjang bahwa di luar ada suaminya, seorang laki-laki normal yang sejak semalam berusaha menahan diri.
Altair sedang berada di dapur kecil dekat ruang tamu, sedang membalik tempe di dalam wajan. Saat mendengar langkah kaki, ia menoleh... dan spatula di tangannya hampir saja jatuh ke lantai.
Ciara berdiri di sana cuma memakai handuk, rambut basah, dan tetesan air masih mengalir di lehernya.
Otak Altair mendadak blank. Tempenya gosong, tapi ia tidak peduli lagi.
Ngeh diperhatikan seperti itu, Ciara mendadak menciut. "Eh... lemari gue macet..." katanya, suaranya mendadak mengecil.
Altair mematikan kompor tanpa mengeluarkannya suara. Ia meraih jaket hoodie hitamnya, lalu berjalan cepat menghampiri Ciara.
Sebelum Ciara sempat kabur kembali, jaket besar itu sudah dipasangkan ke tubuhnya, menutupi leher sampai ke lutut. Wangi maskulin khas Altair langsung tercium sangat jelas.
"Pakai," desis Altair tajam.
Namun, ia belum selesai. Altair mendorong pelan pinggang Ciara ke tembok. Wajah mereka mendadak dekat sekali, sampai Ciara bisa merasakan napas hangat Altair di kulitnya.
Ciara otomatis menahan napas, dadanya berdegup sangat kencang.
"Lo dari semalam uji kesabaran gue terus ya, Ci," suara Altair terdengar rendah dan dalam. "Gue ini cowok normal. Bisa aja gue macam-macam sekarang di sini, dan lo nggak bakal bisa melawan."
Ciara menelan ludah, suaranya mendadak hilang entah ke mana.
"Lo yang pancing duluan," bisik Altair, matanya turun menatap bibir Ciara. "Keluar cuma pakai handuk di depan gue..."
Altair menunduk sedikit, lalu menggigit pelan leher Ciara—cukup untuk membuat gadis itu berdesis kaget.
"AH!" Ciara refleks meremas bagian depan jaket Altair.
Detik itu juga Altair menarik diri dengan napas memburu. Ia melihat bekas gigitan tipis di leher putih Ciara.
Sial.
Dengan emosi yang campur aduk, Altair menarik lengan Ciara kembali ke dalam kamar, lalu membuka lemari macet itu dengan sekali sentakan keras.
Brak!
Pintunya akhirnya terbuka. Ia menyambar celana bahan dan kemeja dari dalam, lalu melemparnya ke atas kasur.
Tanpa menatap Ciara yang masih bengong bersandar di tembok, Altair berjalan keluar kamar. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, tangannya memegang kusen kencang-kencang.
"CEPATAN! GUE TUNGGU DI LUAR!" teriaknya antara emosi dan frustrasi, lalu membanting pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar, Ciara terduduk pelan di lantai kayu. Tangannya memegang lehernya yang terasa hangat, sementara wajahnya merona merah padam.
"Dasar gila..." bisiknya pelan, tetapi jantungnya masih berdegup tidak karuan.