Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulut yang Terkunci
"Sebutkan namanya sekarang juga, atau kau akan menyesal karena tidak mati di hutan sana bersama teman temanmu."
Geneviève menatap tajam ke arah pria berjubah kamuflase yang terikat di atas karpet paviliun. Suaranya menggema dingin di seluruh ruangan, memotong keheningan yang mencekik ratusan bangsawan yang hadir.
Di kursi kebesarannya, wajah Putri Mahkota Camille terlihat sangat pucat. Jemari sang putri mencengkeram erat sandaran kursi berbahan beludru merah.
Sang penembak jitu yang babak belur itu mengangkat kepalanya perlahan. Ia meludah, memuntahkan sisa darah dari sudut bibirnya. Tatapan matanya beralih dari ujung sepatu Geneviève menuju ke arah kursi kebesaran di tengah ruangan. Mulut pria itu terbuka, bersiap menyebutkan nama orang yang telah membayarnya.
"Yang menyuruhku adalah Put... Put..."
Tepat saat suku kata mematikan itu hendak keluar, bola mata penembak jitu itu tiba tiba melotot ngeri seakan akan bola matanya akan keluar dari rongganya.
"Put... argghh!"
Sebuah jeritan tertahan keluar dari tenggorokan pria itu. Urat urat berwarna hitam pekat seketika menonjol hebat di leher dan pelipisnya. Pria itu menggelepar ganas di lantai. Alih alih suara pengakuan, yang menyembur keluar dari mulutnya adalah busa kental berwarna hitam pekat yang bercampur dengan darah segar. Tubuhnya kejang kejang dengan brutal di atas karpet persia yang mahal, mematahkan beberapa tulang rusuknya sendiri akibat kontraksi otot yang ekstrem.
Dalam hitungan kurang dari lima detik, tubuh penembak jitu itu kaku. Matanya terbelalak menatap langit langit kristal, tewas seketika dengan cara yang sangat mengerikan.
Kepanikan meledak bagaikan bom di dalam paviliun. Para bangsawan wanita menjerit histeris. Para pria mencabut pedang pendek mereka dan melangkah mundur menjauhi mayat yang kini mengeluarkan asap berbau busuk.
Geneviève berdiri mematung di tempatnya. Giginya bergemeretak menahan amarah yang luar biasa. Otak rasionalnya langsung memproses apa yang baru saja terjadi.
Itu bukan racun sianida biasa yang diminum dengan sengaja saat tertangkap. Itu adalah sihir bungkam. Sebuah perjanjian kerahasiaan tingkat magis yang sangat mematikan. Pembatalan kontrak sepihak itu langsung mengeksekusi aset kesaksiannya sebelum satu nama pun bocor ke publik.
Geneviève mendengus sinis di dalam hatinya. Ia harus mengakui bahwa biaya manajemen risiko yang dikeluarkan oleh Istana Soleil benar benar tidak main main. Mereka menghanguskan saksi kunci tepat di depan hidungnya. Seluruh usahanya menyeret pria ini hidup hidup terasa sia sia. Rasa frustrasi menyelimuti dada Geneviève, membakar sisa sisa kesabarannya.
Melihat ancaman utamanya telah menjadi mayat diam, Putri Mahkota Camille langsung menyadari bahwa ini adalah momen emas untuk membalikkan keadaan. Ia tidak boleh menyia nyiakan kesempatan ini.
Kipas sutra mahal jatuh terlepas dari tangan Camille. Sang Putri Mahkota menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu mulai menangis tersedu sedu. Bahunya bergetar hebat.
"Ya Tuhan! Darah! Tolong singkirkan tubuh kotor itu dari hadapanku!" jerit Camille histeris.
Ia memejamkan mata dan berpura pura kehilangan keseimbangan. Dua orang dayang pribadinya segera berlari dan menangkap tubuh sang putri sebelum ia jatuh ke lantai.
"Bagaimana bisa ada pemandangan sebrutal ini di acara suci kita?!" isak Camille, menyembunyikan wajahnya di bahu dayangnya. "Nona Montmirail, sungguh kejam sekali Anda membawa pria pesakitan ini hanya untuk mati memuntahkan racun di depan mata kita semua! Tidakkah Anda memiliki sedikit saja belas kasih?"
Geneviève menatap pertunjukan teater murahan itu dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada sedikit pun simpati di dalam hatinya. Ia mengevaluasi tangisan Putri Mahkota persis seperti ia sedang memeriksa laporan keuangan fiktif dari seorang manajer pabrik yang korup. Akting yang berlebihan, air mata buaya, dan usaha konyol untuk mengalihkan isu.
Geneviève merasa muak. Di dalam kepalanya, suara bariton Lucien yang memanggilnya dengan sebutan "C'eow-ku" kembali terngiang. Pria tulus itu sedang terbaring sekarat di tenda medis akibat racun konspirasi ini, sementara wanita gila kekuasaan di depannya sedang bermain drama sebagai korban.
"Mohon tenangkan diri Anda, Yang Mulia," ucap Geneviève dengan suara yang sangat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh tangisan sang putri. "Saya sama terkejutnya dengan Anda. Namun, kematian pria ini sama sekali bukan salah saya."
Geneviève melangkah mengitari mayat tersebut, membiarkan ujung gaun beludrunya yang robek menyapu lantai. Ia menyadari bahwa eksekusi publik ini belum sepenuhnya gagal. Kematian magis si pembunuh justru bisa diubah menjadi senjata makan tuan yang sempurna bagi Camille.
Di sekeliling mereka, para bangsawan netral mulai saling berbisik. Geneviève mendengarkan dengan saksama.
"Sihir hitam di perkemahan kerajaan?" bisik seorang Marquess tua kepada istrinya.
"Lihat urat hitam di lehernya. Itu adalah kutukan kerahasiaan. Hanya penyihir tingkat tinggi yang bisa merapal hal semacam itu," sahut seorang Count dari faksi netral.
Dinamika politik di ruangan itu perlahan bergeser. Para bangsawan kelas atas bukanlah orang bodoh. Pembunuh bayaran biasa di pasar gelap tidak akan memiliki sihir tingkat tinggi di dalam tubuh mereka. Fakta bahwa sihir mematikan itu aktif tepat saat si pembunuh ditantang di depan Putri Mahkota membuat roda gigi kecurigaan berputar di kepala para tamu undangan.
Geneviève memanfaatkan pergeseran sentimen pasar ini dengan sangat gesit.
"Sungguh mengerikan," desah Geneviève dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut namun sangat menusuk. Ia menatap wajah para bangsawan satu per satu. "Sang dalang rupanya memiliki akses terhadap ilmu sihir mematikan tingkat tinggi. Kita semua tahu, sebuah kutukan kerahasiaan magis membutuhkan biaya yang sangat fantastis dan katalis sihir yang langka. Sihir seperti ini hanya bisa diakses oleh segelintir elit di ibu kota."
Isak tangis Camille tiba tiba tersendat sebentar.
Geneviève terus menekan narasi tersebut. "Pembunuh bayaran rendahan ini hanyalah alat kecil. Siapa pun dalang yang berani mencoba membunuh Duke Vaudémont, ia pasti orang yang sangat berkuasa, sangat kaya, dan sangat dekat dengan sumber sihir kekaisaran. Bukankah begitu, Yang Mulia?"
Pertanyaan retoris itu melayang anggun di udara, menanamkan benih kecurigaan massal tanpa Geneviève perlu menuduh sang putri secara langsung.
Beberapa mata bangsawan secara otomatis melirik ke arah Putri Mahkota Camille. Dinasti Aurelius terkenal karena penguasaan sihir mereka. Geneviève tersenyum tipis. Laporan audit publiknya mungkin kehilangan barang bukti utama, tetapi presentasi risikonya berhasil membuat para pemegang saham kerajaan mulai meragukan integritas sang Putri Mahkota.
"Prajurit! Cepat bawa mayat ini keluar dari paviliun dan bakar!" perintah salah satu menteri dari faksi Camille yang mulai panik melihat arah pembicaraan. "Jangan biarkan kotoran ini mencemari Yang Mulia lebih lama lagi!"
Dua orang prajurit istana segera berlari mendekati mayat sang penembak jitu. Mereka bersiap untuk menyeret mayat itu pergi dan memusnahkan sisa sisa bukti.
Malam itu tampaknya akan berakhir buntu secara hukum. Sang dalang akan kembali bersembunyi di balik kekebalan diplomatisnya.
Namun, Gaspard tidak bergerak mundur. Ksatria bayangan itu berlutut tepat di samping kepala sang mayat, menghalangi jalan para prajurit istana.
"Mundur, Tuan Ksatria!" bentak prajurit itu.
"Tunggu sebentar," geram Gaspard. Mata ksatria itu menangkap sebuah kejanggalan yang sangat kecil.
Saat Gaspard mengamati wajah si mayat, ia melihat ada sesuatu yang aneh di pangkal leher pria tersebut. Tepat di area urat urat hitam yang kini perlahan mulai memudar, permukaan kulit pria itu tampak sedikit mengelupas akibat suhu panas yang dihasilkan oleh sihir mematikan tadi.
"Nona Geneviève, Anda harus melihat ini," panggil Gaspard dengan nada datar namun mendesak.
Geneviève segera melangkah maju dan berjongkok di samping Gaspard. Ia tidak peduli jika ujung gaunnya menyentuh genangan darah hitam.
Gaspard menggunakan ujung belatinya untuk mencongkel lipatan kulit yang mengelupas di leher mayat itu. Ternyata, itu bukanlah kulit asli. Itu adalah lapisan lilin tipis dan ramuan kulit buatan yang digunakan sebagai penyamaran tingkat tinggi untuk menutupi ciri ciri khusus sang pembunuh.
Saat lapisan kulit buatan itu dikelupas paksa oleh Gaspard, sebuah tanda mencolok terungkap di balik cahaya lampu kristal.
Itu bukan sembarang tato dari pasar jalanan. Itu adalah tato permanen berwarna emas. Desainnya sangat rumit, detail, dan ramai. Sulur sulur daun saling melilit dengan estetika tingkat tinggi, merambat membentuk kelopak sebuah bunga bakung emas yang mekar sempurna.
Jantung Geneviève berdegup sangat kencang. Ia mengenali desain itu dengan sangat baik. Itu adalah lambang eksklusif Keluarga Kerajaan.
Keheningan yang jauh lebih mematikan dari sebelumnya menelan seluruh paviliun. Para bangsawan yang berdiri di barisan depan menahan napas mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Bunga bakung emas adalah simbol mutlak dari Dinasti Aurelius. Tanda itu tidak mungkin dipalsukan, karena tinta emas semacam itu memiliki campuran debu sihir yang hanya dikelola oleh kas negara. Pria mati di lantai ini bukanlah pembunuh bayaran acak. Ia adalah anggota skuadron pembunuh rahasia milik kerajaan itu sendiri.
Ini bukan lagi sekadar asumsi atau teori konspirasi. Ini adalah bukti fisik mutlak. Ini adalah stempel faktur resmi dari transaksi pembunuhan berencana tersebut.
Geneviève mendongak. Matanya bertemu langsung dengan mata Putri Mahkota Camille yang kini benar benar membeku pucat tanpa bisa bersandiwara lagi.
Wajah Geneviève mengeras membentuk senyum paling mematikan yang pernah ia tunjukkan sejak tiba di dunia ini. Sumpah kerahasiaan sang penjahat mungkin telah membungkam kata katanya, tetapi mayat ini baru saja meneriakkan kebenaran yang tidak bisa lagi ditutupi.
Perang baru saja dimulai, dan Geneviève pastikan ia yang akan membakar seluruh istana ini hingga rata dengan tanah.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨
Baris-baris itu melukiskan rasa cinta yang kuat dan hangat di tengah cuaca yang sangat dingin.
Makna dari Puisimu adalah
Cinta yang hangat:
Rasa sayang digambarkan seperti tungku besi panas yang melawan dinginnya badai.
Perjuangan:
Kayu bakar yang dibakar menunjukkan usaha keras untuk menjaga api cinta tetap menyala.
Berikut adalah kelanjutan bait puisi untuk melengkapi ungkapan perasaanmu.
Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju.
Biar angin menderu menghantam dinding sunyi, hangatnya dekapku takkan pernah jadi abu.
Ketukan rintik es kian mencerca jendela, namun bara di dada enggan untuk mereda.
Dunia boleh membeku dalam balutan lara, kita tetap menyala, berdua tanpa jeda.