Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Benih Kecemburuan Sagara
Nara menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan dari luar. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, lalu berjalan untuk membukanya.
"Baru pulang, A?" tanya Nara begitu pintu terbuka dan mendapati sosok Sagara—sebuah pertanyaan basa-basi untuk menyambut kedatangannya.
Sagara mengangguk pelan. Ia tampak lelah namun buru-buru menjelaskan alasannya pulang larut malam. "Banyak urusan administrasi yang harus diselesaikan di kantor desa tadi. Ditambah lagi bapak-bapak yang mengajak mengobrol terus, makanya jadi terlambat pulang," jelasnya sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Penjelasan spontan itu membuat Nara merasa sedikit aneh. Sagara berbicara seolah-olah dia adalah seorang suami yang sedang memberikan klarifikasi agar istrinya tidak marah.
Zaki yang berdiri di belakang Sagara langsung menaikkan sebelah alisnya. Apakah bos besar AFG ini tipe-tipe suami takut istri? Ah, tidak mungkin. Ia sibuk membatin sendiri.
Lamunan Zaki buyar saat Nara menyadari keberadaannya. "Itu yang di belakang siapa, ya?"
Sagara menoleh sekilas ke belakang. "Oh, ini temanku. Dia datang ke sini untuk membantu menyelesaikan pekerjaan."
Sagara tidak berbohong, kan? Pria di belakangnya memang datang untuk urusan pekerjaan, jadi dia tidak melanggar kesepakatan pernikahan mereka yang salah satu poinnya 'dilarang berbohong'.
Nara pun mengangguk paham. Ia langsung menebak bahwa pria itu adalah orang kepercayaan Sagara—mungkin asisten pribadinya, seperti tipikal CEO di kota besar yang selalu diikuti asistennya ke mana-mana.
"Oh ya, kalau begitu ayo masuk." Nara membuka pintu lebih lebar. "Sudah makan malam belum?" Pertanyaan itu langsung dijawab Sagara dengan gelengan kepala.
"Kalau begitu aku panaskan makanan dulu di dapur, sambil menunggu, Aa bisa bersih-bersih terlebih dahulu," ucap Nara kemudian berlalu dari ruang tamu.
Setelah Nara pergi, Sagara langsung berbalik menghadap Zaki. "Kamu menginap di kamar kos lantai satu di sebelah sana. Tunggu di sini, aku ambilkan kuncinya dulu. Setelah itu kamu bisa langsung pergi," katanya tanpa perasaan.
Wajah Zaki yang awalnya sempat berbinar karena mengira akan diajak makan malam bersama, seketika menyusut lemas. Ia pasrah dan hanya bisa menghela napas panjang. Derita bawahan, ratapnya dalam hati.
"Oh ya, A! Temanmu jangan disuruh pergi dulu, ajak ikut makan sekalian!" seru Nara dari area dapur. Suaranya terdengar sayup-sayup. Namun, masih sangat jelas di telinga keduanya.
Senyum Zaki seketika terbit kembali. "Ternyata Nona Bos lebih pengertian," gumamnya pelan.
Namun sialnya bagi Zaki, gumaman itu masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Sagara. "Cih! Maksudmu?" Salah satu alisnya sudah menukik tajam.
"Sama sekali tidak ada maksud apa-apa, Tuan!" Zaki refleks mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk simbol peace, lengkap dengan cengiran canggung yang dipaksakan.
"Jangan bertingkah dan jangan jelalatan pada istriku!" Sagara menunjuk kedua matanya dengan dua jari, lalu mengarahkannya ke wajah Zaki sebagai peringatan keras. Seolah pria itu berkata, 'Aku mengawasimu!'.
"Masuk sana, duduk di sofa."
Setelah melihat asistennya anteng di sofa ruang tamu, Sagara melangkah menuju kamar untuk mengambil baju ganti dan segera membersihkan diri.
***
"Terima kasih atas makanannya, Nona. Dan maaf saya tambah terus, soalnya enak sih. Jadi saya kenyang sekali ini, tidur bakalan nyenyak," ujar Zaki jujur, yang langsung mengundang gelak tawa dari Nara.
Berbanding terbalik dengan seseorang yang berada di antara mereka, wajah pria itu perlahan mulai menggelap.
"Hahaha ... sama-sama, A. Saya malah senang kalau Aa Zaki menikmati masakan saya. Besok pagi datang saja ke sini lagi, biar kita bisa sarapan bersama," sambut Nara ramah.
"Tidak ada untuk besok pagi. Cari makan sendiri kamu!" potong Sagara cepat. Tatapannya menghunus tajam ke arah sang asisten.
Sagara kemudian beralih menatap gadis di sampingnya. "Tidak usah panggil dia Aa Zaki. Panggil saja namanya langsung. Zaki. Z-A-K-I. Zaki!" ucap Sagara penuh penekanan, menahan rasa dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Nara dan Zaki sampai melongo melihat tingkah aneh pria itu.
"Memang kenapa, A? Tidak sopan kalau aku memanggil hanya dengan nama saja. Bukan begitu, A Zaki?" tanya Nara meminta dukungan.
Zaki yang dimintai pendapat melirik ngeri ke arah atasannya. Melihat wajah Sagara yang kian gelap, Zaki segera menyadari kecerobohannya karena sudah bersikap terlalu akrab dengan istri sang bos. Ia menggeleng cepat sambil terkekeh canggung.
"Saya sama sekali tidak masalah hanya di panggil nama saja, Nona," ucap Zaki menjawab cepat. "Dan saya baru ingat, kebetulan besok pagi-pagi sekali saya masih ada urusan di luar, jadi sekalian sarapan di jalan. Maaf tidak bisa memenuhi undangan Nona," lanjutnya, mencari aman.
Nara tampak menyayangkan hal tersebut. "Ya sudah kalau begitu, Bang Zaki. Dan jangan terlalu sungkan atau formal begitu, saya risih dipanggil 'Nona'. Padahal panggil nama saja tidak apa-apa."
Mendengar itu, Sagara mendengus keras, lalu langsung membuang muka. Dilarang panggil 'Aa', malah ganti jadi 'Bang'.
Kurang mesra apa lagi coba?! rutuknya habis-habisan dalam hati.
"Tidak, Nona, tidak apa-apa," tolak Zaki, tidak berani mengambil risiko—yang lebih buruk, kehilangan pekerjaannya. "Karena sudah tidak ada hal lain lagi, saya izin ke kamar kos dulu. Sekali lagi terima kasih atas makan malam dan tumpangan gratisnya."
Nara melambaikan tangan. "Hais, Bang Zaki kan temannya Aa, sekaligus tamu saya juga di sini. Jadi, sudah seharusnya disambut dengan baik."
"Hehehe ... tamu adalah raja ya, Nona." Kelakar Zaki. Namun, tawa pria itu mendadak terhenti menjadi cegukan saat melihat aura dingin yang dipancarkan Sagara ke arahnya. "Saya ... hik ... permisi dulu. Mari ...." Zaki buru-buru melangkah keluar dengan terbirit-birit untuk menyelamatkan diri.
"Eh, Bang Zaki tidak mau minum air dulu?" teriak Nara sedikit kencang karena melihat pria itu mendadak cegukan. Namun, Zaki sudah berjalan terlalu jauh.
"Tidak usah dipedulikan, ayo masuk. Udara di luar semakin dingin," potong Sagara. Ia melangkah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, disusul oleh Nara yang berjalan di belakangnya.
Nara menutup pintu rumah lalu menguncinya dari dalam. Begitu ia berbalik, sosok Sagara ternyata sudah tidak ada lagi dipandangan. Padahal, ada sesuatu yang ingin ia bahas.
"Aa ..." panggil Nara seraya berjalan menuju kamar untuk mencari keberadaan pria itu.
Dan benar saja, Sagara tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan fokus sepenuhnya berada dilayar ponselnya. Sama sekali tidak menghiraukan panggilan dan kedatangan Nara.
Gadis itu mengernyitkan dahi, baru mendapati sikap Sagara yang seperti ini.
Wajah pria itu ditekuk, sama sekali tidak bersahabat. Nara jadi bimbang untuk mengajaknya berbicara. Tetapi walau begitu, Nara memutuskan untuk mendekat. Naik ke sisi ranjang lainnya dan cukup lama mengamati pria itu.
Lama-lama Sagara risih juga dilihat dengan sebegitu intensnya. "Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Sagara membalas tatapannya Nara, membuat wajah keduanya seketika berhadapan.
Bukannya menjawab, Nara malah balik bertanya. "Aa kenapa, sih?"
***
Bersambung ...
Cemburu lu, Bang 🫣😁
cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍