Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Mark membelalakkan matanya ketika tahu Megan diperlakukan seperti itu. Dia bahkan sudah rela menyerahkan dirinya agar Megan tidak disakiti.
Sebagai seorang Ayah, Mark pun berdiri dari lututnya dan ingin melindungi Megan. Tetapi Dalton malah mengarahkan pistol tepat di dahinya sebelum Mark berdiri sempurna. Posisi yang sangat tidak nyaman untuk Mark yang baru saja bangun dari berlutut.
Dalton telah menarik kokang pistol sehingga peluru masuk ke ruang peluru dan siap menembaknya.
Tak berapa lama Boby datang, ia bisa melihat apa yang terjadi di pintu kamar. Disusul oleh Ibu Megan yang terbangun karena suara ribut-ribut sedari tadi.
Ibunya Megan tak melanjutkan langkahnya, ketika tahu yang berada di dalam kamar selain Dalton dan Megan adalah Mark, suaminya yang tak pernah pulang.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Boby sambil melangkah masuk kedalam kamar.
"Kau bisa membunuhku, sekarang. Atau nanti setelah aku menjelaskan siapa yang menyuruhku dan alasannya,"
Dalton berpikir ulang dan akhirnya memilih melepaskan Mark tetapi pria itu harus di lumpuhkan terlebih dahulu, begitulah pikirnya
"Baik," Dalton tersenyum licik dan tetap menembak kan peluru kearah Mark. Namun bukan di dahi melainkan kaki kiri dan paha kanannya
Dor
"Arghhh," Mark mengerang ia terjatuh setelah kedua kakinya tertembak. Kaki kiri tertembak di punggung kaki dan kaki kanan tertembak di paha.
"Ayah!" teriak Megan dan Boby bersamaan.
Megan langsung tersadar, sejak kapan Boby mengenali Ayahnya yang tak pernah pulang. Tapi dia sedang tak ingin membahasnya.
"Aku tidak ingin mendengar alasanmu sekarang, Rob akan mengurus kakimu. Jangan coba-coba kabur dariku," ucap Dalton yang kemudian pergi dengan angkuh dan penuh dendam
"Kau jahat Dalton!!!" teriak Megan sambil terisak.
Dalton terus berjalan meninggalkan kamar itu dan pergi dengan segera dari rumah Megan.
Ia membuka pintu mobil dan memukul setir kemudi dengan keras seraya merutukki dirinya dengan kalimat kalimat yang tak sepantasnya keluar.
Setelah sedikit membaik ia mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Di tengah perjalanan hujan mulai terguyur deras. Beberapa pengemudi mulai melambatkan jalan mereka dan seketika jalanan mulai macet.
Rob telepon dan mengatakan telah sampai dirumah Megan dan sedang perjalanan menuju rumah sakit.
"Apa itu penting? Kenapa melapor padaku?" ucap Dalton ketus dan tak ingin tahu soal keluarga Megan.
"Maaf bos, hemm sebenarnya saya juga ingin mengatakan kalau saham gelembung sudah meledak, misi kita berhasil,"
"Bagus," ucap Dalton tidak senang padahal hal inilah yang dinantikannya.
"Dan saya terpaksa memutuskan aplikasi itu setelah Joe Stewart menukar uangnya menjadi bit koin dalam jumlah banyak,"
"Hemm bersihkan semua jejak," ucap Dalton.
Entah apa yang dirasakannya kini, haruskah senang ataukah marah, semua terasa hitam hanya ada luka yang membekas. Dan bayangan lampau yang masih terlihat jelas.
Ia menepikan mobilnya dan keluar menerobos derasnya hujan.
"Hah....," Dalton menghembuskan napas dalam seakan hatinya ikut sesak.
Saat ia menutup mata, bayangan kelam terus datang merasukinya, keluarganya yang amat menyayanginya, tragedi pembunuhan, bullyan yang terus berdatangan. Dan terakhir wajah Megan yang sedang menatapnya tajam dengan segala keseksian yang telah menarik hatinya. Ia juga ingat saat bercinta dengan istrinya itu. Cinta Megan yang tulus....
"Aku seharusnya membencinya, tapi aku tak bisa. Hatiku sakit saat dia ku perlakukan seperti itu..."
"Kenapa..kenapa aku harus mencintai anak dari pembunuh orang tuaku. Walaupun dia hanya menjalankan tugas, pembunuh tetaplah pembunuh," ucap Dalton pada akhirnya.
"Hah!!... Haruskah aku meninggalkannya?" ucap Dalton dengan segala kegilaannya..
Hey Dalton kau baru saja menikah udah mau menceraikan Megan!! Yang salah itu bapaknya! 😭