💞 NOVEL ini sedang dalam tahap REVISI demi perbaikan kualitas karya. Namun, alur dan isi tetap sama. Pemberitahuan akan saya hapus setelah REVISI SELESAI. Terimakasih.
Bunga seorang gadis desa yang mengawali karirnya sebagai karyawan biasa menjadi seorang asisten pribadi CEO tampan dan mapan yang sangat cemerlang di kantornya, harus pasrah dengan keadaan. Setelah berpisah dengan Dirga, lelaki yang sudah menjadi tunangannya dalam waktu empat tahun karena perjodohan kesalah pahaman keluarga saat itu. Dia pergi menjelajahi tempat-tempat yang pernah di singgahi untuk mengenang jejak kebersamaan mereka. Hidup begitu pilu baginya. Hingga ia teringat dengan seseorang yang selalu ingin ada di dekatnya.
Bunga mengenang kegagalan percintaan di masa lalunya dan bercerita pada kakak angkatnya Jeny. Namun belum sempat Bunga menceritakan keseluruhan kisah hidupnya, Jeny mengatakan agar Bunga tidak perlu risau akan hari esok, sebab Ryan sang CEO tampan mantan bosnya akan membuatnya bahagia.
Nb: Ini kisah sedih petualangan hidup gadis desa, menguras emosi dan air mata.
"Jika penasaran... baca terus lanjutan ceritanya ya... jangan lupa like dan komentar positifnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curahan Hati
Setelah selesai berpamitan, akhirnya Dirga mengantarkan Bunga kembali ke rumahnya. Bunga berjalan lunglai memasuki halaman rumahnya dengan mata sembab.
Sementara Ryan ternyata telah menunggu kedatangan Bunga sejak siang di rumah Ferdi yang letaknya di seberang jalan dekat rumah yang Bunga tempati.
Melihat mobil Dirga terparkir di halaman rumah Bunga, Ryan segera beranjak berdiri dan berpamitan pada Ferdi. Namun Ferdi yang sangat memahami keadaan atasannya tersebut memberikan saran agar menahan emosi saat mendengar berita yang mungkin membuatnya terluka.
Ryan berjalan mendekati rumah Bunga, ia sengaja menunggu Dirga pergi terlebih dahulu sebab tidak ingin memancing keributan. Bukan tanpa alasan Ryan menunggu Bunga, tentu saja ia sangat khawatir jika pernikahan Bunga benar-benar terjadi.
"Bunga" panggil Ryan yang mengagetkan Bunga seketika dan segera membalikkan badan berlari memeluk erat tubuh Ryan, dan Bungapun menangis pilu dengan derita batin yang ia alami. Bahkan Bunga tidak dapat membaginya dengan siapapun kecuali pada Ryan.
Ryan membalas pelukan Bunga dan mengelus punggung gadis yang ia sayangi seakan mengerti ada kesedihan mendalam yang tertahan dalam diri Bunga. Ryan menangkup wajah Bunga, mengusap lembut air mata di pipinya dan menatap dalam wajah Bunga. Membuatnya semakin menangis tersedu-sedu.
"Ada apa, jangan di pendam sendiri, ngomong sama aku ya?!" ucap Ryan lirih dengan suara seraknya.
"Aku nggak sanggup lagi Pak!" lirih Bunga dengan berderai air mata. Mereka berdua saling bertatapan, Ryan segera melepas pelukannya dan berjalan memasuki dapur rumah Bunga.
"Minum dulu baru cerita ya," ujar Ryan sambil menyodorkan segelas air minum yang segera di raih oleh Bunga. Ryan terus menatapi setiap pergerakan Bunga saat meneguk air, kemudian menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Sudah lebih tenang?" tanya Ryan sambil menyunggingkan senyuman.
"Iya Pak, makasih ya sudah ada buat Bunga." balas Bunga lirih sambil menatap sendu wajah bosnya.
"Aku memang sengaja nunggu kamu dari tadi di rumah Ferdi." ceplos Ryan yang membuatnya merutuki ucapannya sendiri.
"Cih ... kok bisa nggak punya harga diri banget sih jika berhadapan dengan gadis ini, kamu manis banget Bunga, bikin aku gemas dan nggak bisa jauh dari kamu." gumamnya dalam hati.
"Kenapa Bapak mencemaskan Bunga?" tanya Bunga yang sengaja ingin mendengar pengakuan perasaan Ryan lagi untuk memantapkan hatinya, pantas atau tidak jika harus bercerita tentang kehidupan pribadinya dengan atasannya.
Ryan berjalan mendekati Bunga dan memandang lekat wajah gadis pujaannya, kemudian menggenggam kedua tangan Bunga dan meletakkan di dadanya.
"Sebab aku terlalu mencintaimu, sebab aku takut kehilanganmu dan menjadi milik orang lain, sebab aku terbiasa melalui hari-hariku dengan kamu, bahkan aku nggak tahu gimana nanti kalo seandainya kamu jadi menikah dengan Dirga." jelas Ryan sambil menatap dalam mata coklat yang sedang di pandanginya.
Air mata Bunga semakin mengalir deras dan kemudian keduanya pun berpelukan saling mengisi satu sama lain.
Kemudian Bungapun menceritakan yang telah dialaminya di rumah keluarga Dirga, membuat Ryan marah bahkan mengepalkan kedua tangannya di balik punggung Bunga.
"Maafkan aku Dirga dulu aku begitu mencintaimu, tapi kamu mulai berubah sejak mengenalkan aku dengan keluargamu. Aku dekat dengan Pak Ryan hanya ingin tahu, apakah aku bisa dapetin yang lebih dari kamu seperti yang orang tua kamu ucapkan bisa mencari pengganti diriku bahkan 1000 pengganti yang lebih baik dariku." lirih hati Bunga hingga sesenggukan.
"Terus sekarang gimana rencana kamu kedepannya?" tanya Ryan.
"Satu bulan lagi saya resign ya Pak?!" pinta Bunga sambil menatap sendu wajah Ryan dengan berat hati.
"Kamu sudah yakin dan mantap akan menikahi Dirga, meskipun kamu tahu perlakuan keluarganya yang secara terang-terangan mengungkapkan bahwa mereka tidak menyukai kamu?" tanya Ryan sambil menatap tajam sebab ingin pernikahan Bunga di batalkan.
"Ini menyangkut nama baik keluarga saya Pak, kemarin mereka sudah terlanjur menentukan tanggal. Tapi jika aku menemukan Dirga melakukan kesalahan sebelum pernikahan ini terjadi, aku akan pergi ninggalin dia Pak." jelas Bunga meyakinkan Ryan.
"Kalo gitu aku juga akan cari tahu tentang dia, saranku, pernikahan bukanlah mainan Bunga. Pikirkan dengan matang sebelum bertindak." ucap Ryan seraya meminum air yang ia ambil dari kulkas langsung dari botolnya. Kemudian Ryan pergi meninggalkan Bunga untuk pulang.
***
Ryan membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya sambil menatap datar ke arah tembok. Ryan memejamkan matanya sesaat namun tak bisa sebab ucapan Bunga yang akan menikah dengan Dirga selalu terngiang di telinganya.
Ryan begitu gusar dan patah hati kala itu, ia bahkan memporak-porandakan seluruh ruangan kamarnya untuk meluapkan segala emosi yang melandanya.
Mendengar kegaduhan yang terjadi, Mery segera meminta bantuan pada Ari yang merupakan sepupu Ryan, agar membantu menenangkannya.
Ari segera memasuki kamar Ryan dan mengunci tubuh sepupunya, dan mdnindihnya agar diam. Mery terlihat histeris dengan sikap Ryan yang tidak bisa menguasai diri.
"Kamu kenapa Yan?" tanya Ari yang terkejut melihat kondisi kamar Ryan.
"Bunga akan menikahi Dirga, aku nggak rela dan nggak sanggup terima keadaan." ujar Ryan dengan suara bergetar.
"Kamu tenang dulu, aku kan sudah bilang laki-laki itu sudah memiliki wanita lain. Aku pasti bantu kamu ungkap semua. Aku janji, jangan begini ... kasihan tante Mery!" ucap Ari yang membuat Ryan tertegun menahan rasa sedihnya.
"Dengan cara apa, Bunga tidak mendengar nasehatku!" ucap Ryan dengan wajah sendu Dan suara seraknya.
"Tidak, jika kamu belum memiliki bukti keburukan Dirga. Aku sendiri yang akan membuntutinya." bujuk Ari kemudian.
Ryan terlihat begitu hancur, tergambar jelas di raut wajahnya. Bahkan ia tidak mau memperdulikan dirinya lagi.
"Mandi, Bunga nggak akan mau dekat dengan pria kumal sepertimu." perintah Ari sambil menarik tangan Ryan agar segera beranjak berdiri.
"Sial, nggak mungkin juga kan Bunga datang kemari? Mana tahu dia rumahku!" ucap Ryan berdecak kesal sambil memasang wajah sinis. Tapi Ari hanya menjawabnya dengan senyuman.
Saat Ryan sedang mandi, Mery segera meminta bantuan asisten rumah tangga untuk membereskan kamar putranya. Sementara Ari telah menjemput Bunga dan memberi tahu keadaan Ryan. Ari bergegas mengajak Bunga menuju ke rumah Ryan.
Setibanya di rumah Ryan, Mery segera memberi sambutan hangat berupa pelukan pada Bunga. Bunga merasa haru sebab keluarga Ryan selalu memberi perlakuan baik padanya. Mery meminta bantuan Bunga agar menemui putranya, sebab Ryan terlihat sangat murung saat di kamar.
Derap langkah Bunga berjalan menuju depan kamar Ryan. Jantung Bunga seketika berdegup kencang, ini adalah pertama kali ia memasuki kamar bosnya.
"Permisi Pak," lirih Bunga usai mengetuk pintu. Tapi Bunga seketika terlonjak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat melihat bosnya hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang membuka pintu kamarnya.
Bersambung ...
🍁 Jangan lupa tekan tombol like setelah membaca ya guys, silahkan berkomentar positif dan juga memberi vote untuk mendukung Author dalam berkarya. Terimakasih sudah mampir membaca.