Maria, berasal dari keluarga miskin di desa. saat ayahnya sedang sakit keras, ia terpaksa mengikuti tawaran dari tetangganya bekerja di kota, namun sayang, ia justru di jual sebagai wanita penghibur. saat hendak melayani tamu pertamanya, ia kabur dan ditemukan oleh Diaz.
Diaz adalah duda 39 tahun yang kaya raya namun ia diceraikan oleh istrinya karna dianggap tak bisa memberikan keturunan. ia masih sangat mencintai sang istri namun juga sakit hati karena ditinggal sebelah pihak.
Maria pikir ia sudah aman karena diselamatkan Diaz namun ternyata Diaz malah menyekap dan memanfaatkan keadaan Maria yang membutuhkan uang dengan mengajaknya kawin kontrak. Maria dipaksa untuk melayani Diaz, sampai Maria mampu memberikan anak untuknya. ia menggunakan Maria untuk membuktikan pada sang mantan istri bahwa ia tidak lah mandul
akankah keinginan Diaz terpenuhi atau perasaan cinta lambat laun tumbuh diantara mereka?
Fllw ig othor bunda, kakak sekalian sebangsa setanah air : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian sedang apa?
Ceklek
pintu kamar rawat Diaz terbuka, Maria keluar dari dalam ruangan dilihatnya Amirah sendirian duduk di kursi panjang samping pintu.
"Amirah?" Katanya.
"nyonya?" Amirah mendongakkan kepalanya ke atas.
" tu..tuan bagaimana? apa tuan baik-baik saja nyonya?" sambung Amirah pelan.
"Syukurlah, dia baik-baik saja. dia mau langsung minta pulang jadi aku ingin menemui dokter sekarang untuk memastikan keadaannya"
Amirah tertunduk lesu, ia tak merespon apapun dengan omongan Maria.
"Amirah, kamu kenapa?" Maria meraih kedua pundak Amirah.
"Saya ingin minta maaf dengan tuan karena tidak bisa memenuhi perintah dan menjaga janji saya untuk menjaga nyonya, saya malah ikut membantu nyonya pergi dari rumah. saya malu dan takut bertemu tuan"
"Amirah, tidak ada yang mengatakan bahwa kamu gagal. aku tahu kamu mengikuti dan membantu ku pergi karena ingin memenuhi janji kamu untuk menjagaku jadi terima kasih ya Amirah, kamu sudah setia di sampingku" Maria tersenyum ramah.
"nyonya..." Amirah kembali mendongakkan kepalanya ke atas.
"tenang saja Amirah semua baik-baik saja, kamu adalah sahabat yang baik Diaz tak akan marah karena kamu sudah menjalankan perintahnya dengan sangat baik, ya?" Maria menggosok lembut rambut Amirah.
kepala Maria kemudian mendongak, mata nya keliling mencari seseorang.
"kamu sendirian? Sebastian dimana?"
"hah? a.. nu tadi tuan Sebastian ada di sini, tapi barusan pergi" jawab Amirah kikuk, wajahnya mulai memerah.
Maria mengecilkan kelopak matanya, menyeringai melihat Amirah yang salah tingkah saat dia menanyakan Sebastian.
"tunggu sebentar ya Amirah aku mau menemui dokter"
langkah Maria kemudian jauh meninggalkan Amirah di depan pintu rawat Diaz.
tak lama Maria pergi, langkah kaki kembali terdengar dari ujung lorong dekat lift. Mata Amirah kembali melebar saat sosok Sebastian kembali datang, pria yang biasa tampil rapi dengan tuxedo itu kini berantakan dengan hanya mengenakan kemeja dengan motif bercak merah bekas darah.
Amirah cepat memalingkan muka, meskipun kenyataannya Sebastian sama sekali tak menoleh padanya.
langkah Sebastian semakin dekat dengan tempat duduk Amirah di samping pintu, dia menenteng Ice Bag kompres berwarna Biru dongker, namun sayangnya Sebastian langsung masuk ke dalam kamar rawat Diaz melewati Amirah.
...****************...
ceklek
Sebastian menurunkan gagang pintu sehingga pintu terbuka.
"Tian?"
"iya bos"
Sebastian melangkah mendekati Diaz di ranjang.
"Soal penculik Maria, apakah anda tahu siapa mereka sebenarnya?"
"dia adalah adik dari pria kotor yang melecehkan Maria. dia ingin membalas dendam karena aku menyiksa kakaknya sampai mati"
Diaz menjepit rokok di antara jari telunjuk dan tengah, dia menghisap asap tembakau itu sambil menatap ke arah jendela.
"biar saya cari rekan mereka sampai ke akar bos"
"lupakan saja Tian, aku sedang tidak memikirkan untuk membalas dendam karena sekarang aku sadar bahwa keselamatan Maria benar-benar rentan jika terlepas dari pengawasan ku-"
"apa yang aku lakukan bisa saja berdampak pada orang-orang di dekat ku dan Maria adalah orang yang paling beresiko" sambungnya.
"saya mengerti bos"
Sebastian kemudian berbalik badan dan duduk di sofa dekat pojok ruangan. tangan yang memegang ice bag kompres sibuk berusaha menempelkannya di bagian pundaknya yang memar.
ia sedikit kesulitan saat tangannya tak mampu menjangkau memar yang sedikit jauh di bagian belakang pundaknya.
Diaz mengalihkan pandangannya saat berapa kali mendengar bunyi gerak tubuh Sebastian yang begitu rusuh.
"Kamu kenapa?" Diaz menatap heran
"ah, maaf bos aku ingin mengompres memar tapi aku kesulitan karena letaknya sedikit di tengah" jawab Sebastian langsung menghentikan gerakan rusuhnya.
"kenapa kamu tidak minta bantu obati dengan dokter saja Tian?"
"Ini hanya memar biasa bos, tinggal di kompres saja tidak perlu bantuan dokter" Sebastian kembali berusaha menggapai pundaknya.
Diaz memejam mata menahan kesal, namun dia tak bisa memarahi Sebastian, karena bila tanpa bantuan Sebastian entah bagaimana nasibnya dan Maria.
ia sadar betul luka yang dialami Sebastian di dapat karena melindunginya dan Maria.
"kemarilah, biar aku bantu!" ucap Diaz ketus.
"tidak usah bos, aku bisa"
"kemari!!" Diaz menaikkan nada bicaranya.
"baik bos" Sebastian menurut dan duduk di ranjang yang sama dengan Diaz. posisi tubuhnya membelakangi tubuh Diaz.
"buka kemeja kamu"
Sebastian kembali sigap menuruti perintah Diaz, meskipun dia sedikit canggung karena baru pertama kali ia membuka pakaian di depan tuannya itu selama 15 tahun terakhir.
Diaz mulai menempelkan ice bag itu di bagian memar Sebastian, beberapa kali Sebastian merintih menahan sakit.
"aw.. akh.."
"diam!!! tahan sebentar"
"sakit bos, akh... akh"
"aku sudah pelan-pelan Tian, tahan. nanti lama-lama juga enak"
...****************...
suara Diaz dan rintihan Sebastian itu terdengar sampai ke luar ruangan, Amirah yang duduk di kursi depan langsung tertegun menelan saliva nya kasar.
"aku tidak dengar apa apa kok, sungguh! Aku hanya debu, hanya debu. jangan anggap aku ada. hmm.. hmm" Amirah mengangguk-anggukkan kepalanya.
"tapi..Mereka.. sebenarnya...sedang.. apa?" kalimat itu yang kini berada di puncak pikirannya.
buat Maria nya hamil ya Thor biar happy ending
dan kita yang baca pun happy ending juga /Sneer//Sneer/