Habis manis sepah dibuang, begitulah kiranya Alex memperlakukan Lilyana setelah merenggut kesuciannya.
Lantas hal mengejutkan terjadi, sebab setelah melahirkan bayi perempuan, Lilyana justru menjadi sekretaris pribadi Axel yang notabenenya saudara kembar Alex sendiri.
"Dari semua pria, kenapa harus Axel yang menyukai Lilyana?" Alex.
"Dari semua orang, kenapa harus Alex yang meniduri Lilyana ku?" Axel.
"Aku tidak pernah menyesal mengenal Alex, karena Livia berasal darinya. Dan aku tidak pernah menyesal bertemu dengan Axel, sebab karena dirinya lah aku menjadi kuat." Lilyana.
Terjebak diantara dua pemuda tampan yang masih satu darah. Pada siapakah hati Lily berlabuh? Dengan siapa Lily mengakhiri status single mom nya?
Simak kisahnya di sini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Alex meraih lengan Lily. "Kenyataannya Livia putriku, dia punya hak mengetahui siapa aku, Livia harus tahu kalau Papa nya satu dari pewaris tahta Millers-Corpora!"
Lily tergelak kecil. "Kamu mau merebut Livia dari ku?" Tukasnya.
"Kita bisa menikah bukan?" Pelan sekali Alex mengatakan itu. Netra birunya meluapkan kaca-kaca sesal. "Aku akan mengakui Livia, please, biar Mommy Daddy tahu siapa Livia sebenarnya."
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja Lex? Menikah dengan mu, dan membiarkan kamu memiliki Livia?" Ketus Lily.
"Kenapa tidak, ini demi Livia, ..."
"Bukan demi Livia!" Lily menyerobotnya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. "Tapi demi keegoisan mu semata!" Ungkapnya.
"Aku mau bertanggung jawab atas segala perbuatan ku. Tolong mengerti posisi ku, ..." Alex sekali lagi mencoba meyakinkan Lily kembali. "Saat kamu menemui ku di bar, aku masih dalam keadaan mabuk."
"Tapi malam itu juga kamu sadar kan, kamu memberi ku kartu kredit! Tidak perlu ada alasan mabuk untuk lari dari kesalahan mu Lex! Semua juga tahu, Alex pembual!"
"Aku minta maaf." Tercetus juga kata itu dari bibir Alex yang selama ini begitu sulitnya ia keluarkan.
Lily terkekeh. "Sudah bisa kamu merendahkan diri dengan kata pamungkas itu hmm?" Cibirnya.
"Mamma."
Livia yang sedari tadi sudah terbangun, balita mungil itu tak kuasa menahan diri untuk tidak menunjukkan keberadaannya. Sepertinya asik sekali kedua orang tuanya bertengkar hingga lupa ada Livia di sana.
Lily tersenyum pada putrinya, apa pun yang terjadi, ia berusaha tegar di hadapan gadis cantik ini.
"Kita pulang, Sayang." Langkah gontai segera Lily ayunkan menuju pintu keluar.
"Lily!" Lagi, Alex menghalangi jalan Lily. "Beri aku kesempatan sekali lagi saja! Biarkan Livia tahu aku lah Papanya!" Bujuknya.
"Selama aku masih hidup. Jangan pernah bermimpi!" Tak mau peduli, Lily menabrakkan diri hingga melewati pemuda tampan itu.
"Lily."
Lily terus melangkah hingga keluar dari kamar terkutuk itu. Seberapa pun Alex berusaha memperbaiki pecahan kaca yang sudah remuk menjadi bubuk, takkan kembali semula.
"Alex, ..." Tiba di luar Angel menatap tajam wajah Lily. Sekilas Angel juga memindai bayi cantik yang Lily gendong.
"Angel." Alex terhenyak.
"Apa dia orangnya?" Angel menghunuskan tatapan tidak bersahabat. Jadi benar dugaannya, Alex ada apa-apa dengan sekretaris Axel.
"Kenapa diam?" Angel membentak keras kekasihnya. "Wanita ini kah yang kamu hamili?" Tuduhnya.
"Tenang dulu."
Lily sempat melirik ke arah Alex, terlihat jelas bagaimana pemuda itu serba salah, Alex seperti takut salah ucap dan takut menyakiti hati Angel.
"Sudah ku bilang lupakan mereka Lex, aku janji aku mau meyakini kepercayaan mu, aku juga mau memiliki anak dengan mu, tapi tolong, lupakan anak kecil itu!" Kata Angel.
"Ssstt, kamu masih mabuk." Alex meraih lengan Angel yang mana terus menerus menepisnya.
"Aku tidak mabuk Lex, aku sengaja tidak minum malam ini! Aku mau tahu, siapa yang akan kau temui selama aku tidur!"
"Mammmma." Livia terlihat tak nyaman dengan perdebatan Alex dan Angel.
Masih dengan busana tidur licin, Lily melangkah menjauhi sepasang kekasih itu, kebetulan menguntungkannya, ada salah satu tamu yang baru saja tiba di lantai atas.
Membawa serta putrinya, Lily bergantian masuk ke dalam lift. Mata Lily sempat mengamati bagaimana Alex mencoba menenangkan Angel kembali.
Jelas sekali Alex sangat peduli pada gadis cantik itu. Apalah dirinya yang hanya Alex anggap setelah Alex tahu siapa Livia.
Ting...
Seketika lamunan Lily membuyar mendengar suara pintu lift terbuka. Tak peduli bagaimana kondisi pesta yang masih ramai, Lily keluar menggendong Livia hanya dengan pakaian tidur tipis.
Berjalan sedikit cepat Lily membelah barisan orang-orang elit yang sedikit demi sedikit memberikan jalan untuknya. Pandangan mereka lalu tertuju pada wanita itu.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Di sudut tempat, Dhyrga menepuk punggung putranya. Lalu Axel menoleh ke arah pandangan yang sama dengan sang ayah.
Di tengah-tengah pesta sana, Lily berjalan menuju pintu keluar dalam kondisi pakaian yang seadanya.
"Lily." Celetuk Axel.
"Lily mau ke mana?" Dhyrga menimpali dengan rasa penasaran. Jujur, Dhyrga selalu menjadi pendukung bagi putra penurut yang satu ini.
"Biar Axel cari tahu." Gegas Axel melangkah mendatangi Lily. Mungkin saja Lily ketakutan dan tidak betah dengan kamarnya?
"Lily." Tiba di parkiran mobil, Alex raih lengan Lily, lantas wanita itu menoleh dengan air mata yang berderai.
"Kamu menangis?" Axel merasa, ini juga salahnya. Beberapa saat yang lalu, ia tak sengaja membuat trauma masa lalu Lily terbuka.
"Biar aku pulang Pak." Pinta Lily.
"Ok, tapi aku antar." Secara cepat Axel mengangguk dan menarik tubuh Lily, kemudian membawanya ke sebuah parkiran khusus keluarga besar Raka Rain.
Lily bisa apa? Nyatanya Lily tak pernah bisa menampik keberadaan pemuda pelindung ini. Lily pasrah mengikuti arah ayunan kaki Axel.
Sampai mobil putih, Axel membuka satu pintu dan mempersilahkan Lily masuk terlebih dahulu.
Setelah memastikan Lily dan Livia aman di jok penumpang bagian depan, Axel meraih ponsel yang ia selipkan di dalam saku celana.
Nomor Rudolf yang lantas ia panggil setelah itu. Tak berapa lama Rudolf menjawabnya.
📞 "Yuapz, ada apa Bos?"
"Kemasi barang Lily di kamar tamu. Setelah itu bawa ke apartemen." Axel berujar seraya memutari mobil dan membuka pintu kemudi.
📞 "Ok." Axel menutup panggilan. Ia simpan gawai tipisnya untuk di letakkan di phone holder mobilnya.
...🎬🎬🎬🎬🎬...
Sebagaimana mestinya, Rudolf segera melaksanakan perintah Axel. Ia menaiki lift lalu tiba di lantai khusus kamar tamu dengan waktu yang tidak begitu lama.
Di lorong sana, Miko berdiri dengan raut kaku seperti hari-hari sebelumnya. Miko memang tidak seramah dan sehangat Rudolf, tapi Miko satu dari sepupu Rudolf.
"No, Lex!"
Teriakan Angel sampai keluar dari luar. Yah, kamar-kamar ini memang sengaja dibuat dengan kekedapan suara yang tidak terlalu tinggi.
Wajar saja, hanya kamar tamu, mungkin Raka Rain sengaja melakukan hal ini demi menciptakan suasana aman kekeluargaan.
Mendengar cekcok yang tidak biasa dari salah satu kamar tamu. Rudolf berhenti di depan tubuh Miko dan bertanya.
"Ada apa di dalam? Kenapa dengan Tuan muda dan Nona Angel?" Rudolf sedikit memiliki jiwa kepo yang tinggi.
"Aku tidak tahu." Geleng Miko.
Rudolf terkekeh. "Sudah kubilang, mereka tidak cocok, mending suruh putus saja deh." Usil nya.
"Kamu usil saja. Urus saja urusan mu sendiri sana!" Kata Miko.
"Pokoknya jangan sampai you menemui anak bayi mu, apa lagi sekretaris Axel lagi! Aku tidak sudi Lex! Aku tidak mau berbagi cinta mu! Aku mau, kamu utuh milikku."
Degup....
Rudolf mendengar dengan jelas bagaimana Angel menyebut-nyebut sekretaris milik Axel, yang berarti, rekan dekatnya Lily.
...Happy new year, sayang sayang kooh, terimakasih sudah menemani akun Pasha Ayu dari bulan tiga sampai tutupnya tahun 2022. Semoga sehat selalu kalian yah, rezeki dilancarkan di tahun 2023 mendatang, aamiin 🎉🎊🎉🎊🎉🎊🎇🎆🧨🎂🎈🎀...
selama itu menarik,mau sad ending apa happy ending aku suka aja
apalagi yg plot twist ending
karena kalau terlalu ketebak ceritanya
ga seru..ya kan
lanjutkan Thor
kan Mayan dpt up bab banyak 🤣
tapi butuh pembuktian..yaitu money talks🤣🤣
bungkusin atu Thor....buat aku
seruu ni