Perjalanan kisah cinta seorang CEO yang hilang ingatan dan jatuh cinta pada kurir yang telah menabraknya yang ternyata cinta masa kecilnya.
Keduanya sama-sama tidak pernah jatuh cinta. Namun, ketika rasa cinta itu hadir, mereka harus memperjuangkan kisah cinta mereka agar tetap bisa bersama.
"Cinta itu datang karena terbiasa bersama," ucap Sean Alinskie dengan wajah datarnya.
"Bukan!" bentak Laluna yang tidak mau kalah.
"Cinta itu bisa tumbuh karena kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan," ucap Laluna dengan senyuman manisnya.
Bagaimanakah kisah cinta CEO dingin dengan gadis kecilnya itu? Apakah rahasia di antara mereka bisa terbuka satu demi satu dan memperkuat ikatan cinta mereka?
Simak kisah serunya dalam cinta romantis ala Laluna yang dilengkapi dengan kebucinan ala Sean, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30. DEMI KAMU
Setelah semua masalah dapat diselesaikan dengan baik, maka Sean dan Laluna merayakan keberhasilan mereka dengan makan malam spesial. Demi membahagiakan Laluna, Sean akan mengikuti kemana Laluna mengajaknya makan.
"Kamu sudah siap?" tanya Sean lembut.
"Sudah siap, aku sangat bahagia jika kamu mengabulkan permintaan kecil dariku."
Sepertinya Laluna sedang ingin menguji sampai di mana ia mencintainya.
"Permintaan besar atau kecil pasti akan aku kabulkan, emangnya kamu mau makan apa?"
"Mau makan hotpot."
"Hotpot? Makanan apa itu?"
Laluna hanya tersenyum karena sebenarnya ia juga tidak tahu apa itu makanan hotpot. Ia merasa tertarik karena makanan itu begitu populer di negara Korea.
Terlebih lagi saat ini ia baru saja mendapat informasi jika makanan itu sangat lezat dan menggugah selera. Hanya dengan membeli makanan yang sedang viral itu, sudah pasti akan menambah jumlah followers-nya di akun sosial media Laluna.
Maklum saja saat ini ia sedang mengumpulkan massa agar ketika ia mengeluarkan produk baru dan mempromosikan hal itu di akun media sosialnya maka dengan mudah para pengikutnya melihat postingan tersebut.
Melihat jika wajah Laluna tersenyum puas, maka Sean sengaja mengabulkan permintaan kekasihnya itu.
"Baiklah, akan tetapi kamu harus mau memberikan sebuah asupan nutrisi untukku terlebih dahulu. Bagaimana, apakah kamu mau?"
Tanpa berpikir lebih lama, ternyata Laluna menyetujui hal itu.
"Mau, aku mau banget, Sean. Katakan asupan nutrisi seperti apa yang kamu mau?"
Saat hendak berbalik dan menatap ke arah wajah Sean, entah kenapa detak jantung Laluna tiba-tiba saja menjadi tidak sehat. Senyuman menyeringai dari Sean semakin membuat Laluna sadar jika dirinya telah salah dalam bersikap.
Seketika Laluna teringat dengan permintaan Sean yang biasanya tidak masuk akal. Akan tetapi mulutnya sudah terbiasa berucap sebelum dipikirkan terlebih dahulu. Sehingga ia tidak akan bisa menarik kembali ucapannya.
"Semoga saja Sean tidak mendengar ucapanku barusan dan bisa membatalkan hal ini dengan segera."
Meskipun begitu, Laluna masih sempat untuk menawar kembali tentang apa permintaan dari Sean yang akan ia ucapkan sebentar lagi. Dengan memasang senyuman terindah ia menatap Sean dengan penuh cinta.
"Tunggu dulu, sebenarnya apa yang akan kamu minta dariku?" tanya Laluna dengan kening mengeryit.
Firasatnya sudah mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres setelah ini. Pasti hal yang diucapkan oleh Sean akan menjadi sebuah petaka untuknya.
Benar saja, sesaat kemudian Sean sudah maju dan memonyongkan bibirnya ke arah Laluna. Dengan segera Laluna memundurkan langkahnya.
"Aku mau kamu!" ucap Sean sambil membungkuk.
Bahkan jarak di antara keduanya hanya tinggal sejengkal sehingga dengan mudah Laluna bisa merasakan deru nafas Sean yang memburu.
"Tuh, kan bener ... pasti aku harus menderma lagi untuknya, sial amat!" maki Laluna di dalam hati.
Benda kenyal berwarna merah muda itu telah menempel sempurna di bibir Laluna. Tentu saja sikap Sean yang seperti itu membuat Laluna hanya bisa pasrah.
Bukannya senang, Laluna justru merasa gemetar karena Sean begitu rakus dan agresif untuk menciumnya. Nafas yang memburu membuat Laluna bisa hilang kendali kalau terus menerus begini.
Kesadaran Laluna kembali, dengan segera ia mendorong tubuh kekasihnya itu agar sedikit menjauh dan memberikan jarak kepadanya.
"Cukup Sean, kamu ingin menciumku sampai kapan!" pekik Laluna kesal.
Sean tidak menghiraukan perkataan dari Laluna dan justru menyesap lebih dalam dan lama. Namun, lagi dan lagi Laluna mendorong Sean agar menjauh. Ia benar-benar kehabisan nafas kali ini.
"Apakah kamu mau membuatku meninggal?"
Laluna mendorong tubuh Sean dengan keras, hampir saja ia tersungkur karenanya.
"Kenapa tidak memberikan waktu untuk aku bisa bernafas!" ucap Laluna kesal sambil mengusap bibirnya yang hampir jontor karena ulah Sean.
"Ha ha ha, salah kenapa rasanya amat manis, aku 'kan suka yang manis-manis."
"Dih, dasar geje, kamu tuh ya, suka amat nyiksa orang. Aku benci kamu!"
"Serius nih, benci. Nggak ada nyesel-nyeselnya gitu, kah?"
Laluna menggeleng cepat, ia bahkan membuang muka karena hal itu. Sean memang sengaja melakukan hal itu pada Laluna agar ia mengetahui jika Laluna adalah miliknya satu-satunya. Sean terlalu takut jika Laluna pergi meninggalkannya lagi.
Selama Laluna bersamanya, itu sudah lebih dari cukup. Kini tugasnya hanyalah membahagiakan dia agar tidak akan pernah ada lagi luka di wajah cantik Laluna.
Melihat jika Laluna ngambek, maka Sean segera menarik lengan Laluna agar mengikutinya masuk mobil. Meski masih kesal mau tidak mau Laluna mengikuti langkah Sean.
"Kamu mau apa?" tanya Laluna kebingungan.
Keinginan makan hotpot seketika lenyap manakala Sean berhasil mengerjainya. Akan tetapi Sean justru ingin mewujudkan keinginan kecil dari kekasihnya itu.
Sean menoleh dengan gemas, "Bukankah kamu mau makan hotpot?"
"Oh, iya ... aku lupa, maaf."
Akhirnya keduanya bersiap untuk segera pergi ke sebuah kedai hotpot yang baru buka di Ibu Kota.
"Apakah ini tempatnya?"
"Sepertinya begitu," ucap Sean tidak menghiraukan ucapan Laluna.
Matanya fokus melihat ke arah kedai hotpot di hadapannya itu.
"Kenapa ada itu, apakah itu juga menjadi hidangan utama di dalam hotpot?"
Mata Laluna berbinar ketika melihat makanan yang awalnya ada di dalam ponsel kini bisa tersaji di hadapannya.
"Ayo kita masuk!" ajak Laluna bersemangat.
Sean menjadi pasrah ketika Laluna menarik tangannya.
"Selamat datang, Tuan dan Nona."
"Terima kasih."
"Ini buku menunya."
"Wah, ada menu hotpot spesial," ucapnya dengan berbinar.
Kedua mata Laluna berbinar ketika melihat buku menu di hadapannya saat ini. Sangat berbeda ketika pelayan memberikan buku menu yang sama sekali tidak ia mengerti sebelumnya.
Sementara itu, waiters itu hanya bergumam di dalam hatinya.
"Kalau bukan karena keinginan Tuan Muda Sean, menu spesial itu tidak akan pernah ada di sini!"
Sean teringat ucapan dari Jo tempo hari tentang cara menaklukkan hati wanita. "Untuk menangkap hari seorang gadis, maka tangkap melalui perutnya dulu."
"Kita tidak bisa bergantung pada kemampuan masaknya, akan tetapi kau harus tahu kesukaannya."
"Pesan apapun makanan kesukaan Nona Muda."
"Baiklah."
Laluna yang mendengar Sean bergumam segera menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Mau ganti menu lain?"
"Enggak, aku mau makan apapun yang kamu pesan."
"Oh, iya kamu mau makan pedas atau ...."
"Terserah kamu saja, yang terpenting kamu suka."
"Ok, baiklah."
Laluna tersenyum ke arah waiters, "Jadi pesan hot oil pedas, daging dan sayur ini, makasih."
"Baiklah, kalau tidak ada menu lain kami permisi dulu."
Beberapa saat kemudian makanan sudah tersedia di atas meja. Laluna yang pada dasarnya suka makan apa saja, segera menyantap menu di atas meja.
Namun, bukannya makan, Sean justru melihat Laluna makan dengan lahap. Sementara itu tangannya tidak bergerak sama sekali, sehingga Laluna menegurnya.
"Ayo makan, kenapa cuma lihat saja!"
Akhirnya meskipun terpaksa Sean memakan makanan yang menurutnya aneh itu. Hingga satu jam kemudian tidak ada makanan yang tersisa di atas meja.
"Ups, lupa kalau aku harus menjaga penampilanku!" ucap Laluna dengan wajah pias.
Sean yang biasanya banyak bicara kini justru terlihat serius.
"Kenapa dia terlihat tegang dan serius, apa Sean kaget karena porsi makanku yang banyak?" tanya Laluna di dalam hati.
Akhirnya Laluna memberanikan diri untuk bertanya kepada Sean.
"Sayang, apakah kamu marah kepadaku?"
"Biasanya aku makan nggak terlalu banyak kok. Cuma karena hotspotnya terlalu enak jadi aku kalap. Maaf, ya."
"Iya, nggak apa-apa."
"Sean, aku ke kamar mandi dulu, ya."
"Iya, nggak apa-apa."
Sesaat kemudian setelah Laluna meminta izin ke kamar mandi, Jo dengan langkah terburu-buru segera masuk ke ruangan Sean. Ia memberikan penghilang alergi kepada Bosnya itu sambil merutuki sikap bosnya yang tidak memperhatikan alerginya.
"Bos, kenapa nggak ingat kalau alergi Bos bisa kambuh kalau makan pedas sih?"
Sean masih terdiam, ia membiarkan Jo mengoceh sesuka hati. Sementara itu ia segera menenggak penghilang alergi yang baru saja diberikan oleh Jo.
"Cepat pergi, jangan sampai Laluna tahu!"
"Baik, Pak Bos."
Dengan segera Jo melenggang pergi sebelum ketahuan oleh Nona Muda-nya. Jo lupa jika Sean melakukan semua ini untuk menyenangkan hati Laluna. Ia juga patuh terhadap semua perkataan dari Jo tentang tata cara memikat wanita.
"Awas saja Jo, setelah ini gajimu akan aku potong!" ucap Sean kesal.
Sean kedua kali nya...tunggu pembalasan darie Jo Leo ♌♌.
dunia sempit ya Lun 😁😁 diusir dari kost merantau ke kota ketemu orang mencari orang bisa gambar...eh memang jodoh Lun ketemu deh sama Arogan Sean aasiap semangat 🤗🤗💪💪😄😄
pengitian CEO...tereng muncul CEO lama Sean....oh semua melongo mirip kerbo....ooooo...kocak CEO Arogan kekasih Aluna...Luna kasian di tinggal...😭😭😭🤫🤫🤫
Cinta emang datang jika kita saling mengisi d dalam perbedaan.
cinta emang datang ngk terduga.
cinta sejati hadir kalau sesama pasangan saling mengerti dan menghargai pasangany...dan sadar akan hak dan kewajiban masing"🥰🥰