Kalara Sinta baru saja putus dari kekasihnya. Kegalauan Kalara bertambah ketika tantenya justru mengajukan Kalara sebagai istri kedua Danuraja. Meskipun awalnya Kalara dan Danuraja menolak pernikahan, kedua orang tua Kalara dan keluarga besar justru mendukung pernikahan tersebut.
Perdebatan, sikap cuek dan perselingkuhan mewarnai pernikahan Kalara dan Danuraja. Witing tresno jalaran soko kuliner. Makanan dan berbagi cerita pelan pelan menyatukan hati Kalara dan Danuraja. Cinta yang bersemi mendapat cobaan berat lantaran anak anak Danuraja bersatu "menyatakan perang" terhadap Kalara.
Akankah Kalara dan Danuraja bisa menyatukan cinta dan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama nya_fia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - PERISAI HIDUP
KALARA
Om, cuma mau kasih tau, hati hati selama seminar di Bali. Kal dapat info dari mba Sinta medical representation, Rika ikut rombongan bedah RS International ke Bali.
Tring
Pesan Kalara untuk Danuraja terkirim.
Fiuuhh
Setidaknya aku sudah memberitahu om Danu. Mudah mudahan om Danu dilindungi Allah dari segala macam tipu daya Rika.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Mba Kal, belum pulang?"
"Sebentar lagi mba Sel." Kalara menatap Selly. "Mba sama mas Azzam pulang aja. Sudah lebih 20 menit dari jam pulang." Kalara berujar sembari merapikan meja kerjanya. Tak lupa ia men shut down laptop dan memasukkan nya dalam sleeve case (tas khusus laptop).
"Ay ay kapten." Seloroh Selly.
Tok
Tok
Ceklek
"Ada apa mba.." Kalara mengira Selly kembali mengetuk ruang kerjanya. Ternyata Danuraja pelakunya. "Sore dok." Sapa Kalara pada Danuraja.
"Kamu ikut mas ke Bali minggu depan."
"Kal sudah minta tante Lidya ikut."
"Dan Lidya tidak bisa ikut kan?!"
"Kal akan bujuk lagi tante Lidya."
"Aku dan anak anak kalah dibanding kepentingannya." Danuraja mengeratkan rahangnya. "Lidya bahkan beberapa kali membatalkan liburan yang sudah dijadwalkan dengan berbagai alasan. Sangat sering kami berlibur dengan kegiatan tanpa Lidya. Karena Lidya sibuk melobi kolega yang ia temui di tempat liburan." Danuraja memegang tangan Kalara. "Ikut mas minggu depan ke Bali ya? Kita hadapi Rika bersama. Mudah mudahan setelah ini kita terbebas dari Rika."
Kalara mengigit bibir bawahnya. Pelan kepala Kalara mengangguk. Danuraja tersenyum lalu menghampiri Kalara. Jemari Danuraja mengusap rambut Kalara. "Mas akan pesan tiket untuk kamu."
SALAH SATU HOTEL DI BALI
Pantai Seminyak Bali selalu menawarkan keindahan yang menenangkan. Sudah lebih dari 2 jam Kalara menghabiskan waktu di pantai Seminyak. Berjalan di sepanjang garis pantai, bermain ombak, melihat para peselancar bergulung bersama ombak bahkan Kalara mencoba menyewa kuda. Saking asyik Kalara tidak menyadari telepon Danuraja yang terabaikan. Hingga Danuraja pun menyusul Kalara ke pantai Seminyak berbekal GPS ponsel Kalara yang aktif.
Sett
"Eh.." Kalara terkejut mendapati dirinya dipeluk seseorang dari belakang. "Om Danu kok tahu Kal disini?"
"Mas lacak GPS ponsel Kal. Dari tadi telepon dan chat gak ada jawaban." Danuraja masih betah memeluk Kalara dari belakang. "Kita makan disana yuk?"
Mata Kalara tertuju pada restoran pinggir pantai yang ditunjuk Danuraja. "Boleh om."
Di lain tempat di sebuah lobby hotel di Badung, Bali, Rika tengah memastikan nama Danuraja berada di hotel tersebut. Setelah mendapat kepastian dari front liner, Rika menyambangi lokasi tempat Seminar persatuan bedah digelar. Rika mengamati para peserta yang keluar dari ruang seminar. Jeda istirahat seperti ini mas Danu biasanya makan siang. Gumam Rika dalam hati. Benar saja, sosok Danuraja terlihat keluar dari ruang seminar. Rika bergegas menghampiri Danuraja. Sayangnya, langkah Rika terhalang oleh sapaan dr. Robert. Kepala bedah RS International itu heran melihat keberadaan Rika. Rika beralasan sedang berlibur dan menginap di hotel tempat seminar berlangsung.
"Aduh, mas Danu sudah naik mobil." Rika mengomel pelan karena Danuraja sudah melaju dalam sebuah mobil. Rika segera mencari kendaraan sewa. Beruntung pesanan kendaraan online nya cepat direspon. "Pak, tolong kejar mobil Pajero putih dengan akhiran nomor polisi 79.
" Baik mba."
Selesai mengikuti Danuraja di jalanan, Rika menapaki kaki di pantai Seminyak. Seraya terus menggerakkan kepala nya ke berbagai arah demi mencari keberadaan Danu, Rika menerka tempat apa yang kira kira dikunjungi Danuraja siang itu.
Deg
Mata Rika tertumbuk pada satu titik. Rika melihat punggung Danuraja tengah memeluk seorang wanita. "Itu beneran mas Danu kan? Sepertinya benar. Aku hafal postur mas Danu. Tapi siapa perempuan yang dipeluk mas Danu?" Rika bergumam lirih. Tanpa sadar kedua kaki Rika berjalan ke arah Danuraja. Sementara sepasang anak manusia yang dibuntuti Rika tengah berjalan dan bergandengan tangan menjauhi pantai.
Kalara memerhatikan restoran yang baru saja ia masuki. Pengunjung restoran didominasi wisatawan asing. Padahal menu yang ditawarkan di restoran ini lebih banyak menu lokal. Mengusung tema warung makan dengan menu lokal khas bali, Indonesia dan beberapa menu internasional, restoran ini memiliki tempat makan yang open space alias ngablak.
"Kamu pesan apa Kal?"
Kalara membaca beberapa menu yang tertera. "Rendang beef with rice (nasi rendang), minumnya ginger sereh (jahe sereh) dan gelato."
Danuraja terkekeh. "Jauh jauh ke Bali makannya nasi rendang padang."
"Di resto ini kan emang terkenal rendang beef with rice nya yang enak. English dikit dong om bahasanya."
"Hahaha iya, mba.." Danuraja memanggil waitress dan menyebutkan menu yang dipilih oleh nya dan Kalara.
"Tadi asik ngapain di pantai?" Tanya Danuraja setelah waitress pergi.
"Main di pantai, ngeliatin bule surfing, trus nyobain naik kuda."
Danuraja tersenyum sinis. "Ngeliatin bule atau godain bule?"
"Kal senang liat bule bule itu surfing. Lagian tanpa harus godain, pasti ada bule yang naksir sama Kal."
"Kamu mancing singa buat mengaum lagi?"
"Lho? Barusan om Danu ngasih pertanyaan ngeliatin bule atau godain bule? Ya Kal jawab ngeliatin bule surfing. Karena memang tadi Kal begitu. Soal naksir, Kal yakin ada bule yang suka tipe wajah Kal yang Indonesia abis."
"Indonesia dari mana? Muka kamu itu lebih mirip artis India Katrina Kaif."
Kalara tergelak. "Wadaw om Danu pemerhati artis bollywood rupanya. Sampai hafal Katrina Kaif."
"Mas tahu Katrina Kaif gara gara Pipi yang minta dimasukkan ke gym supaya punya body seksi seperti Katrina Kaif."
"Serius Pinkan pernah gitu?"
Danuraja mengangguk. "Sewaktu masih di kelas 5, berat badan Pipi memang sedikit berlebih. Banyak yang melabeli Pipi sebagai Pikacu, Pinkan chubby. Awalnya Pipi biasa saja. Tapi rupanya, ketika masuk kelas 7, anak itu baper dipanggil Pikacu. Merasa tidak cantik dan tidak dilirik teman pria. Itu awalnya Pinkan meminta masuk gym."
"Kal baru tahu soal itu."
"Kak Erni yang tahu lebih dulu. Pinkan sering diajak ngobrol dan dikenalkan diet. Gak heran kalau Pipi dekat dengan kak Erni dan kak Azhari."
"Hmm iya sih, Kal lihat porsi makan Pinkan lebih sehat. Porsi protein hewani, nabati dan sayur buah lebih banyak dari karbohidrat."
"Kak Erni juga yang nyuruh Kal ikut sanggar menari. Kak Erni bilang, Pipi yang girly lebih cocok ikut les menari daripada olahraga beladiri kayak kamu."
Kalara mencebik. "Biarin, dengan ikut olahraga beladiri Kal jadi punya bekal buat ninju para pembully."
Danuraja menggelengkan kepala. Tangan nya menjawil ujung hidung Kalara. "Pantes dulu saat SMP dan SMA kamu jadi langganan guru BP."
"Mas Danu. Kalara?" Sebuah sapaan membelah percakapan Danuraja dan Kalara. Danuraja melihat sekilas kemudian asik menyendok gelato milik Kalara.
Plak
Kalara menepuk tangan Danuraja agak keras. Suaminya itu sudah menghabiskan hampir setengah porsi gelato miliknya. Rika yang merasa diacuhkan tak ambil peduli. Rika menarik kursi di sisi kiri Danuraja. Keadaan Danuraja saat ini diapit istri di sisi kanan, pelakor di sisi kiri.
"Kalara sedang ikut seminar persatuan bedah?" Rika mencoba memancing.
"Liburan mba."
"Oooh pas banget ya waktunya sama seminar mas Danu?!"
Kalara hanya menaikkan bahu tanda tak perduli atas ucapan Rika.
"Sebagai manajer marketing sekaligus ketua tim akreditasi, wajar Kalara terlibat dalam seminar kali ini. Yang aneh itu kamu. Apa kepentingan seorang staf keuangan di seminar bedah?" Tanpa diduga Rika, Danuraja melemparkan alibi sempurna bagi Kalara.
"Mas Danu kok jadi sinis gitu sih sekarang?"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kalara memang lebih berhak disini dibanding kamu."
Hidung Rika kembang kempis mengatur pasokan oksigen demi menurunkan amarah yang berkobar. Entah mengapa Rika merasa ganjil melihat kedekatan Danuraja dan Kalara. "Oke, terserah mas Danu aja. Hanya ada yang aneh diantara kalian berdua. Tadi di pantai mas Danu memeluk Kalara?!"
"Wajar saja. Aku memeluk wanita yang sudah kukenal sejak bayi merah. Aku tidak suka melihat ada pria yang menatap penuh nafsu pada Kalara."
"Tetap saja aneh." Sanggah Rika.
"Terserah kamu mau berpendapat atau berpikir apapun tentang kami. Silahkan pilih tempat lain, aku dan Kalara mau menikmati makan siang kami."
Mata Rika membola. "Mas ngusir aku?"
"Iya." Ucap Danuraja. Mata Danuraja memancarkan ketidaksukaan atas kehadiran Rika.
Rika berdiri, menghentak tangan diatas meja kemudian pergi.
Kalara menatap Danuraja tak percaya. "Woohoo om Danu galak benar sama Rika."
"Salah sendiri ngomong sembarangan. Tempat kamu bareng mas. Yang kehadirannya salah dan tidak diharapkan ya dia."
Wajah Kalara tidak menampilkan emosi apapun. Namun hatinya perlahan menghangat kala suaminya mengatakan kehadirannya diharapkan.
Mantap..
apa pun terima kasih kak thor dalam penulisan nya..
terbaik dan semangat terus 👍👍😘😘