Clara yang kini hidup seorang diri, menerima penawaran pekerjaan sebagai mata-mata dari seorang temannya yang merupakan anak dari pemilik organisasi mafia dengan upah yang lumayan tinggi. Ia harus bertahan hidup dengan kerasnya dunia di usia muda.
Ibunya yang meninggal karena kecelakaan dan ayahnya yang cacat akibat kecelakaan itu, membuatnya harus mencari uang, hingga ayahnya juga menyusul ibunya 3 bulan kemudian, saat ia ingin memasuki SMA. Saat itulah kemudian ia menerima sebuah misi baru. Apakah ia akan berhasil menjalani misi itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan maggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"def, lo gak bilang kalo rencana lo itu ngelukain ray" teriak ara setelah membanting pintu kantor def.
def kaget sekilas, menatap ara, kemudian berdiri mendekatinya.
Ara memukul-mukul def.
"jadi sekarang lo peduli sama dia?" tanya def pelan tapi pasti. Ia menatap ara tajam.
Entah kenapa ara ingin menangis, ia sendiri tidak mengerti kenapa, takut pada def? Atau karena ray terluka karena berusaha menolongnya.
beberapa detik mereka sama-sama diam, mata ara sudah berkaca-kaca, hingga def berjalan ke arah pintu, kemudian menutupnya.
def mendekati ara lagi, maju perlahan, sedang ara mundur perlahan, hingga menempel di tembok.
Def menyadarkan satu tangannya ke dinding atas kepala ara.
"lo tau kemana yuno dan bobi?" tanya def menatap ara.
"bawahan lo yang bertugas membantu preman-preman itu?" tanya ara.
Mereka berdua adalah orang yang menggunakan pakaian serba hitam, yang hendak membunuh dan menculik ray.
""ya, lo tau kemana mereka?" tanya def lagi.
Ara berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat kejadian itu. yang ara ingat hanya ray membawa nya pergi cukup jauh dari tempat itu, menatapnya sejenak, membuka ikatannya, lalu mengajaknya pulang.
ara menggeleng pelan.
def menghembuskan napas kemudian berbicara "yuno dan bobi keduanya mati dan mayatnya tidak ditemukan dimana pun"
Def mengetahui mereka mati dari alat yang diletakkan untuk mendeteksi jantung, apakah masih berdetak atau tidak.
ara yang mendengar itu seakan tidak percaya, air matanya keluar, ia duduk terjatuh ke lantai, ia merasa lemas, apa yang sebenarnya terjadi.
Def kemudian juga ikut duduk bersila di hadapan ara.
"yan pembunuh, dan yang ikut bersamanya di malam itu adalah bawahannya" ucap def lagi.
"Ray tidak mungkin seorang pembunuh kan?" pikir ara, dia tidak mungkin orang seperti itu, ia baik dan peduli. Di sekolah ia peduli dengan teman-teman nya. Ara menolak pemikiran yang seharusnya.
"ray mengetahui tentang red apple, dia mempunyai kuasa atas organisasi itu, dia anak dari ceo sekaligus mafia terbesar, sama seperti ku, seharusnya dia juga tahu tentang willoza, itulah kemungkinan kenapa dari awal dia tidak ingin membuat masalah dengan ku Sampai sekarang" jelas def lagi, ia mengutarakan semua yang diketahuinya perlahan.
Air mata ara sekarang benar-benar jatuh, ia tidak siap menerima kenyataan bahwa ray juga masuk dalam mafia. Ara berpikir ia hanya anak bodoh, peduli walau kadang dingin. Ia bahkan berusaha menolongnya malam itu.
"dan sepertinya kau berhasil membuatnya tertarik pada mu, seorang laki-laki akan melakukan apa saja demi melindungi wanitanya" ucap def lagi.
"gak, gua gak mau begini, gua gak mau manfaatin ray, gua juga gak mau jebak dia, gua harus gimana" ucap ara dalam hatinya, sedang air matanya terus mengalir deras.
"dan sepertinya lo juga suka sama dia, Gua peringatin ini misi, jangan menggunakan perasaan, membunuh atau dibunuh, itulah hukum di dunia bawah tanah" def masih terus berbicara perlahan dengan jeda beberapa detik.
"mungkin.. Dia juga menahan perasaannya karena posisinya, apalagi dia pikir lo dekat sama gua..
Atau mungkin setelah ini lo yang bakal jauhin dia? Kalo lo jauhin itu, seluruh saudara lo juga akan mati, walau saudara jauh..satu nyawa, ellen atau saudara-saudara lo" ancam def kemudian.
Kemudian def berdiri, membersihkan dirinya dari debu setelah duduk di lantai, kemudian duduk di kursinya.
"yah tenang aja gua gak akan benar-benar nargetin ray, hanya ellen, lagian dia banyak penjaganya ahaha" ucap def dengan bicara yang sudah lebih santai.
"oh ya dan satu lagi, ray yang memerintahkan mereka untuk membunuh orang-orang itu" tegas def seakan ingin menghancurkan hati ara terhadap ray.
"bohong, lo tau dari mana?" teriak ara tidak percaya.
"lo gk perlu tau gua tau dari mana, tapi gua denger seluruh percakapan kalian di sana, bahkan CCTV yang gua letakkan disana pun di hack dan tidak terlihat apapun, tapi suara sudah cukup" jelas def.
"sudah cukup, gua pergi" ucap ara kemudian berdiri.
"baiklah, dan dekati ray lagi" tegas def.
Ara langsung pergi tanpa menjawab def lagi.
Ia pergi berjalan kaki sambil menenangkan dirinya Sampai tiba disebuah taman, kemudian ia duduk di salah satu tempat yang berbentuk seperti tangga tapi cukup luas, hingga banyak yang duduk disini. Ara duduk dan meletakkan kepalanya diantara kakinya yang menekuk.
Guk.. Guk.. Guk.. Bunyi gonggongan anjing dari kejauhan, tapi lama-lama suara gonggongan itu makin mendekat. Seseorang berlari kemudian menabraknya, ara mengangkat kepalanya.
Orang itu jatuh tersungkur di depan ara. Anjing yang tadi mengejarnya, sekarang pergi.
"anjing sialan" ucap orang itu, kemudian berdiri. suaranya, tidak asing di telinga ara.
Orang itu berdiri kemudian sambil menepuk-nepuk pelan tubuhnya untuk membersihkannya dari debu "maaf-maaf tadi gua panik jadi.."
Kata-kata nya terpotong saat orang itu melihat ke arah ara.
"ara?" ucapnya kemudian, itu ray.
"ray" sapa ara balik, ia langsung menghapuskan air nata dari matanya.
"lo nangis?" tanya ray kemudian duduk di sampingnya.
"kenapa?" tanya ray lagi setelah duduk.
"gapapa" balas ray setelah menarik ingusnya.
ara juga memperhatikan pipi kanan ray yang terbalut kain kasa "pipi lu kenapa?"
"gapapa" jawab ray, kemudian ara menyentuh pelan pipi ray.
"sakit" ucap ray dengan nada tinggi, kemudian hendak memegang pipi nya sendiri itu, tapi gak jadi.
"katanya gapapa?" tanya ara kemudian.
"biasa kenakalan anak laki-laki" jawab ray.
"berantem?" tanya ara.
"ya, begitulah" balas ray.
"sama siapa?" tanya ara lagi penasaran.
"gak penting sama siapa, gua udah jawab, terus lo kenapa nangis?" tanya ray.
"gapapa" balas ara.
"jadi lo takut sama anjing" ara langsung berbicara lagi.
"jangan ganti topik dulu, lo kenapa? Mata lo merah" tanya ray mulai serius.
"serius gapapa" balas ara sambil mencoba tersenyum. Namun wajah ray tidak berbeda dari sebelumnya, ia paham ada yang ditutupi dari ara.
Ray membuang wajahnya, melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain.
"boleh liat pipi lo, kok sampe diperban begitu? Sampe ke deket mata lagi itu" tanya ara.
"jangan dong, gak gentle, cowok dikasihani cewek, ini juga tanda kebandelan anak laki-laki biar terlihat keren" jawab ray ngasal, tapi dengan sok keren.
"mana ada keren-keren nya" jawab ara sambil tersenyum.
"udah gak sedih lagi?" tanya ray tersenyum ke ara. Ara menggeleng malu.
"tumben sendiri" tanya ara.
"iya, lagi pengen sendiri" jawab ray.
"ohh ya ray" ucap ara lagi, sedangkan ray hanya derdeham, menunggu ara melanjutkan ucapannya sambil menatap mata ara.
"boleh tanya?" tanya ara.
"tanya apa?" tanya ray menunggu.
"malam itu, orang-orang yang culik gua kemana? Terus yang datang bersama lo dan kak yan siapa?" tanya ara pelan.
"ohh itu teman-teman kak yan, teman gua juga sih, terus yang nyulik ara, langsung pergi habis dipukulin, kena mental kayanya, kenapa?" balas ray.
"gapapa" balas ara.
"gapapa mulu dari tadi, gak ada jawaban lain?" tanya ray.
Ara menggeleng pelan, setelah itu menatap ke arah anak-anak yang sedang bermain, ray pun begitu, sejenak sepi ,tiada obrolan, ara ingin bertanya tentang organisasi itu, tapi ray pasti berpikir, dari mana ara mengetahui organisasi gelap? Kecuali orang-orang bawah tanah.
"disini rupanya" ucap seseorang diantara kesunyian ray dan ara.
Ray dan ara menengok ke arah sumber suara dibelakang mereka, itu yan.
"dicariin ayah" ucap yan langsung setelah mereka menengok.
Ray membuka mulut untuk bicara tapi keduluan oleh yan "sekarang"
"gua duluan ra" ucap ray kemudian berdiri, yan langsung berjalan, diikuti ray dibelakangnya.
Aneh, kak yan gak nyapa gua sama sekali, ucap ara dalam hati, apa dia marah karena gua ya. atau dia malas ketemu gua lagi karena malam itu?.. Ih kenapa jadi begini sih.
eh gua baru sadar kalo tadi ray lagi gak pake antingnya, setau gua dia selalu pake antingnya selain di sekolah. ahhh, isi pikiran ara semakin banyak, ia memasang earphone mendengar musik sambil melihat suasana sekitar sampai cukup lama.