Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Dimas menatap Bu Susi dengan marah.
"Maaf Bu Susi. Aku nggak terima, dengan fitnah Ibu. Apa Ibu pernah melihat aku dan Amira berjalan berdua, hanya berdua? Atau Ibu sudah menangkap basah kami yang lagi berbuat yang nggak pantas? Kenapa Ibu mempermalukan menantu Ibu sendiri. Aku cuma mengucapkan syukur Alhamdulillah, warga kampung ini, nggak ada yang termakan fitnah Ibu. Jadi stop Bu, mempermalukan diri Ibu sendiri."
"Saya nggak fitnah, itu kenyatannya. Kalian sering pergi berdua berboncengan, mau mengelak apa lagi?"
"Astaghfirullah hal'azim."Semua beristighfar, mendengar bantahan dari bu Susi.
"Heiii Bu Susi, Dimas itu tukang ojek di kampung ini. Wajarlah kalau dia memboncengi Amira. Lahhh...Amira itu kan penumpangnya Dimas. Emangnya semua perempuan langganan Dimas yang diboncengnya, semuanya menjadi selingkuhannya. itu kan yang ada di otak busuk mu itu Bu Susi."Balas Bu RT dengan sengit.
......................
Suasana ruang tamu Bu Susi, sudah mulai tenang. Setelah Pak RT, Bu Sinta dan Dimas berhasil menenangkan Bu Susi yang sempat histeris, karena rencananya gagal tota. Andika, tidak mau menuruti perintahnya, menceritakan Amira. Dan itu sangat tidak disukai oleh Bu Susi. Entah ada dendam kesumat apa, hingga membuat Bu Susi sangat membenci Amira.
"Bu Susi sudah mendengar sendiri bukan? Kalau Andika menolak bercerai dari istrinya. Jadi masalahnya sudah selesai. Sekarang kami pamit ya Bu. Saran saya, hidup baik-baik lah dengan anak mantunya Bu Susi. Siapa tahu, menantu Ibu yang Ibu sia-siakan ini, yang akan mengurus Ibu kelak, kalau Ibu sudah terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur."
Bu Susi cuma diam menunduk. Ucapan Pak RT, seperti angin yang menghembus. Hilang begitu saja.
"Ayo semua kita pulang, udah mau Magrib!"Ajak Pak RT, kepada mereka semua.
"Ehhhh....tunggu dulu. Jadi kalian panggil kami kesini untuk apa? Sisa-sisa kami datang, tapi nggak menghasilkan apa-apa."Tiba-tiba Pak Sobari menghentikan pergerakan Pak RT, yang hendak bangkit dari duduknya.
"Bukan kamu yang dipanggil, tapi Dimas. Kenapa juga kamunya harus ikut?"Jawab Pak RT enteng. Lalu kembali melanjutkan gerakannya, bangkit dari tempat duduk.
Pak Sobari, bermuka masam. Dia sedikit jengkel dengan ucapan pria yang sekarang menjadi RT, sekaligus temannya itu.
"Ayo Bu kita pulang!"Lanjutnya mengajak sang istri. Lalu Bu RT, juga ikut berdiri.
"Ayo Mir...Ibu pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Ibu. Kamu juga harus pulang. Kasihan Alif, sudah terlalu lama kamu tinggalin."Kata Bu Sinta, penuh perhatian. Amira sampai terharu di buatnya.
"Iya Bu, makasih untuk semuanya..makasih banyak ya Pak RT, Bu, Pak Sobari, Mas Dimas. Maaf ya sudah merepotkan kalian semua."
"Tidak apa-apa nak Mira, ini sudah tugas Bapak selaku RT."
"Iya Mir..aku juga minta maaf, gara-gara menjadi langganan ojek aku, kamu mendapat masalah seperti ini. Tapi kamu tenang saja. Aku selalu berdiri di pihak mu. kamu nggak pernah salah."
Amira tersenyum. "seharusnya aku yang minta maaf, sudah melibatkan Mas Dimas, dalam masalah aku."
"Ahhh.. padahal Paman sudah berharap Dim, Amira bercerai dari Andika. Paman akan melamar Amira untuk mu, hari ini juga, seandainya Andika benar-benar menceraikan Amira tadi."
"Puk....."
Suara tangan Pak RT melayang di punggung Pak Sobari, dengan keras.
"Kamu apaan sih...mendo'akan orang bercerai. Apa otakmu kurang waras hahhh...lamaran, lamaran. Lamaran gundulmu itu. Sinting."
"Ya...siapa tau saja, Andika mengikuti permintaan gila Ibunya. Terus kita benarkan saja gosip perselingkuhan itu..nggak baik lama-lama menjanda. Iya kan nak Mira? Kamu akan dijadikan ratu di rumahnya Ibu mertua baru kamu. Saya yang akan menjamin itu."Pak Sobari kembali berseloroh.
Raut wajah Amira seketika merona merah. Malunya bukan main.
"Paman, ayo pulang, bikin malu saja."
Dimas menarik paksa lengan pamannya. Dia benar-benar dibuat malu, oleh pamannya sendiri. Bagaimana bisa pamannya, mau melamar istrinya orang. Gila....
Bu Sinta dan Bu RT, cuma bisa menggelengkan kepala. Bu Susi melirik Pak Sobari dengan kerlingan mata membunuh.
Dan akhirnya mereka semua pamit, keluar dari rumah Bu Susi. Ibu-ibu yang di teras juga sudah bubar, setelah di usir Pak RT mereka. Kini tinggal Amira dan Ibu mertuanya. Amira menatap Ibu mertuanya, dengan perasaan campur aduk. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Bukan salahnya kalau Andika tidak ingin bercerai.
......................
Kini tinggal Amira dan Bu Susi sendiri di ruang tamu. Suasana terasa sunyi, setelah beberapa saat lalu, terdengar suara perdebatan, Ibu mertuanya dan Bu RT.
Amira duduk di sofa. Sesekali ekor matanya, melirik ke arah Ibu mertuanya, yang duduk dengan posisi tubuh menyamping. Lalu desahan napas terdengar keluar dari rongga mulut Amira. Matahari makin condong ke barat. Tapi Amira belum beranjak dari rumah Ibu mertuanya.
"Bu."Panggil Amira pelan. Bu Susi bergeming. Dia tetap diam di tempat duduknya, menatap lantai di bawah kakinya. Entah apa di dalam pikirannya. Amira tidak tahu. Kembali desahan panjang dia keluarkan.
"Apa Ibu bahagia kalau aku sama Mas Dika berpisah?"Tanya Amira masih dengan suara pelan.
Satu detik, dua detik, tiga detik, tidak ada pergerakan sama sekali dari Bu Susi. Amira tersenyum pahit.
"Bu...tolong jawab aku dengan jujur, alasan Ibu ingin aku dan Mas Dika berpisah itu apa? Itu saja Bu, tolong kasih tau aku alasannya. Karena aku juga nggak tau, kenapa Ibu ingin sekali aku sama Mas Dika bercerai. Padahal aku sama Mas Dika sepanjang pernikahan kami, kami baik-baik saja. Nggak ada masalah. Ibu juga nggak pernah dengar kami bertengkar, atau aku meninggikan suara di depan Mas Dika. Perasaan aku sudah menjadi istri, Ibu dan menantu yang baik. Mengurus suami, mengurus anak, bahkan mengurus Ibu. Jadi apa kesalahan aku Bu? Tolong katakan Bu, jangan diam saja."
Bu Susi menoleh menatap tajam ke arah Amira. Sorot matanya memancarkan bara api yang siap menyala.
"Keluar dari rumahku sekarang. Aku tidak sudi melihat wajah sialan mu di rumahku. Kamu mau tau kenapa aku sangat membenci mu? Hahhh...dengar baik-baik perempuan pembawa sial. Sampai mati pun aku tidak merestui pernikahan kalian. Karena apa? Ini semua karena kamu Amira, karena kamu. Andai dulu Andika tidak mengenal kamu, dia sudah menikah dengan perempuan pilihan saya. Perempuan kaya, berpendidikan, seorang wanita karir, dari keluarga baik-baik. Tapi kehadiran kamu, membuat Andika membantah semua perkataan ku. Dia menolak di jodohkan. Dia memilih kamu, perempuan miskin, yatim-piatu, sebagai istrinya."Cerca Bu Susi, membuat Amira tercengang.
Dia tidak pernah tahu. Dan Andika juga tidak pernah bercerita, sebelum menikah, dia pernah dijodohkan oleh Ibunya.
"Tapi Bu, bukan salah aku, kalau Mas Dika memilihku dari pada wanita pilihan Ibu."
"Itu salah kamu Amira, salah kamu. Kamu sudah merayu anak saya, kamu sudah menggodanya. Makanya dia sudah termakan rayuan murahan kamu. Ohhh..jangan-jangan kamu main dukun, kamu pelet anak saya Amira? Hahhh, ayo ngaku, perkataan ku benar kan? Kamu sudah pelet anak saya."
Bersambung......
.
Jd gmes bcanya bkin emosi
Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya