Apa jadinya bila mencintai seseorang yang tidak seharusnya? Perjalanan asmara gadis bernama Sacha Nessa yang jatuh cinta dengan kakak iparnya sendiri. Mengantarkan perempuan itu pada cinta yang salah pada Gama Hardiyoga.
Aku tahu hubungan ini salah, tapi untuk mengakhirinya pun tidak semudah itu.
Entah dipersatukan atau tidak
Entah rasa ini sampai kapan?
Entah hubungan ini sampai kapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Keesok paginya, There terlihat tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya saat Nessa bergabung di meja makan.
"Pagi Kak, tumben sudah rapi?" sapa Nessa sambil menarik kursi.
"Iya, sarapan Ness," jawabnya ramah.
"Kakak ada pemotretan lagi?" tanya Nessa ngobrol pagi.
"Sementara nggak nerima job, mau fokus sama rumah," jawab There tersenyum.
"Owh ... bagus itu," ujar Nessa manggut-manggut. Ibu juga terlihat lega mendengar keputusan putrinya.
"Mas, nanti bisa antar kan?"
"Iya, tapi tidak bisa menemani."
"Nggak pa-pa," jawab There terlihat sedih.
"Sekalian saja aku berangkat ke kantor," ujar Gama menyarankan.
Sebenarnya ia kasihan membiarkan istrinya konsultasi sendirian, tapi pekerjaan dan juga pikirannya yang tidak bersahabat membuatnya bersikap demikian.
"Nessa, bareng sekalian aja!" ujar Gama menyarankan.
"Tapi Mas, kita kan mau konsul dulu."
"Eh, nggak usah, aku bisa bawa motor, atau naik ojol, gampang berangkat aja."
"Aku cuma nganter, Sayang. Kamu bisa mandiri kan?"
"Mas, ini kan demi kebaikan kita, kenapa nggak luangkan waktu kamu sebentar saja."
"Oke, aku antar," ucap Gama mengalah.
Keduanya bertolak ke klinik, sementara Nessa langsung ke kantor. Sebenarnya apa yang terjadi dengan masalah kakak iparnya? Jujur Nessa sedikit kepo, namun ia berusaha untuk tidak ikut campur.
Semenjak hari itu, Nessa dan Gama jarang terlibat obrolan. Baik di rumah maupun di kantor. Jujur Gama merasa ada yang hilang, ia semacam merindukan hal-hal kecil yang sengaja mereka ciptakan.
Beberapa hari ini ia tidak begitu berkonsentrasi. Nessa benar-benar telah menguasai seluruh pikirannya. Bahkan saat di rumah, ketika istrinya meminta untuk dilatasi berbantu, yang ada dalam pikirannya hanya Nessa dan Nessa.
Sepertinya ia sudah mulai gila, karena saat bersama There pun, pikirannya tertuju pada Nessa. Sementara gadis itu terus menghindarinya. Membuat batin Gama semakin tersiksa bila tidak melihat senyumannya.
"Bay, tolong panggilin Nessa ya, suruh beliin makan siang buat aku," titah pria itu menjelang istirahat.
"Siap Pak!" jawab Bayu bergegas.
Pria itu langsung mendatangi meja Nessa, sesuai dengan perintah atasanya.
"Siap Pak!" jawab Nessa tanpa menyela. Walaupun sebenarnya ia ragu untuk mengantarkan ke ruangannya. Sejenak ia pun mendapat ide cemerlang.
"Pak, tidak mengurasi rasa sopan saya, bisa minta tolong Bapak saja yang mengantar ke ruangan Pak Gama, kebetulan saya udah ditunggu makan siang bareng teman-teman," ujar Nessa sengaja ngeles.
Bukan apa-apa, ia takut orang kantor akan menaruh curiga dengan dirinya yang sering dipanggil ke ruangan pimpinan padahal statusnya anak bawang. Ia pun harus mulai menjaga diri dari desas-desus kecemburuan sosial yang bisa tercipta antar karyawan. Walaupun sejauh ini masih aman, setidaknya harus mempunyai kenangan yang bagus selama masa internship.
"Kenapa Ness, bukanya kalian deket ya?" ujar Bayu menimpali. Pria itu tahu kalau keduanya ada hubungan saudara. Walau yang ia tahu saudara jauh, namun kedekatannya tidak tabu baginya.
Nessa hanya menatap dengan wajah memohon, membuat pria itu mau tidak mau akhirnya mengiyakan.
"Maaf Pak, pesanan Bapak!" ujar Bayu memasuki ruangan.
"Nessa mana? Saya kan nyuruh kamu buat Nessa yang beli, kok jadi kamu," protes Gama terlihat kesal.
"Hmm, tadi cuma beli aja Pak, setelahnya minta tolong ke saya buat nganter ke Bapak, katanya udah ditunggu anak-anak makan siang."
"Berani bener tuh anak, ya sudah makasih Bay," ucap Gama gemas sendiri.
Benar saja saat Nessa tengah menikmati makan siang bersama anak-anak lainnya. Pria itu menghubungi Nessa setelah mengirim pesan tak kunjung mendapat balasan.
"Iya Kak, kenapa?" tanya Nessa sedikit gugup menerima panggilan itu.
"Sengaja ya? Balik ke kantor, udah berani sekarang bantah perintah, jangan mentang-mentang karena kamu adik aku, seenaknya aja ya?" omel Kak Gama di sebrang sana.
"I-iya Pak, saya segera ke sana," jawab Nessa mendadak deg degan. Tidak biasanya pria itu marah-marah, apalagi di telepon.
Sebenarnya Nessa sengaja tidak ke ruangannya karena merasa trauma disuguhkan dengan kehadiran Mbak There. Entar ujung-ujungnya jadi obat nyamuk mereka berdua.
"Lho, mau ke mana Ness? Makanan kamu belum habis!"
"Iya Mbak duluan ya, ada yang penting," ujar gadis itu lalu.
Dengan cepat balik ke kantor dan langsung melesat menuju ruangan pria itu. Ia membuka pintu setelah mengetuk terlebih dahulu.
"Maaf Pak, perlu saya?" tanya Nessa takut-takut. Mendadak ia seperti bekerja di bawah tekanan.
"Aku kan nyuruh kamu, kenapa jadi nyuruh Bayu?" omel pria itu menatapnya serius.
"Iya maaf Pak, saya tadi terburu-buru," ujar Nessa gugup.
Gama memperhatikan perempuan di depannya dengan tatapan kesal sekaligus gemas.
"Apa kamu berniat menghindar dari aku?" tuduhnya sensi.
"Kakak kenapa sih, ini kan jam istirahat, aku hanya makan bersama teman-teman. Lagian ini di kantor, seharusnya kita punya batasan."
"Aku merasa kamu berniat menghindariku," ucap pria itu sembari mengikis jarak hingga membuat Nessa mundur teratur terduduk ke kursi. Kedua tangan pria itu menumpu pada lengan kursi, mengurungnya posesif.
"Aku ... hanya sedang berusaha mengembalikan apa yang bukan menjadi hak aku," ujar Nessa gugup.
"Kita memang sepakat untuk itu, tapi bukan berarti kamu harus menghindar, bahkan menghilang tanpa tanggung jawab."
"Ayolah Kak, Kakak sudah berjanji, jangan membuat keadaan ini semakin rumit. Lagian Mbak There juga sepertinya melayani kakak dengan baik. Kalian pagi tadi terlihat mesra."
"Kamu cemburu?"
"Aku tidak berhak untuk cemburu. Walaupun aku mencintaimu," ucap gadis itu jujur.
Cup
Gama langsung menyambar bibir mungil itu tanpa permisi.
"Kak, ini di kantor, bagaimana kalau ada orang yang masuk."
"Mungkin kita akan terciduk," jawabnya santai.
"Ngeselin!" Nessa menimpuk dadanya. Bisa-bisanya pria itu sesantai itu.
"Minggir Kak, aku harus balik ke mejaku!" ujar gadis itu menekan dada Gama yang bergerak semakin dekat.
"Ness!"